Thanks for this day.. May God bless us everyone and everywhere..
Diberdayakan oleh Blogger.
Tampilkan postingan dengan label flash fiction. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label flash fiction. Tampilkan semua postingan

Rabu, 15 Februari 2012

Secangkir Kopi dan Bayangmu

Di ambang senja. Sinar mentari masih membias di atas pantai ini. Aku mencoba menikmatinya sendirian. Orang-orang yang berenang-renang di sekitar pantai itu sudah mulai berkurang satu persatu. Dalam remang yang perlahan hadir, kini tinggal aku dan beberapa orang saja yang masih bertahan untuk tetap berdiam diri di pantai, beberapa di antaranya adalah sepasang muda mudi yang sedang memadu pertemuan mereka dengan riang alami. Matahari terasa begitu cepat menenggelamkan dirinya untuk kembali menyinari belahan bumi lainnya. Rembulan menggantikannya dengan megah. Kumainkan jemariku di atas pantai ini dengan menuliskan namamu. Bibirku kelu. Aku dan kamu belum lagi pernah bertemu. Namun, kau seolah menjadi raja diraja untuk seluruh detik-detikku.

Perkenalan pertama lewat udara yang diubah menjadi efek dan warna di jejaring sosial. Ada gambarmu di sana, dan kau yang pertama kali mengajakku berkenalan. Sebuah awal yang klasik memang. Seklasik kopi tubruk kesukaanmu. Semacam Kopi Bali. Tapi, kau sepertinya lebih sering menghirup capucinno. Tidaklah lama menjalin kata per kata lewat jejaring sosial itu. Saling mengagumi dan saling komentar. Mungkin terkesan iseng. Entahlah. Satu yang pasti, jejaring sosial itu hanya mengantarkan aku untuk mengenal lebih dalam tentang dirimu. Udara memang telah beralih bentuk. Ia mengubahnya menjadi getar suaramu. Suatu saat kau meneleponku untuk pertama kalinya. Getar suaramu dapat kutangkap kesan sebagai seorang pribadi yang pemalu. Nomor teleponmu sudah aku dapat. Artinya, kapan pun aku mau, aku bisa menghubungimu. Jejaring sosial itu pun aku tinggalkan.

“Aku ga suka minum kopi.” kataku sesaat setelah aku memberitahukan padamu bahwa aku sedang berada di sebuah café di Jimbaran Bali, sewaktu aku berlibur di Bali untuk beberapa hari lamanya. Saat itu, lewat ponselku, kau menganjurkan aku untuk memesan Kopi Bali di café itu. Aku bersikeras tak mau. Tetapi entah mengapa kau terkesan memaksa.

“Rugi lho, kalo ga nyicipin Kopi Bali. Coba deh, pasti kamu suka,” katamu dari seberang sana. Akhirnya, dengan berbekal penasaran, aku memesan secangkir Kopi Bali. Begitu kopi pesananku datang, aku langsung menghirupnya. Ah, asapnya mengepulkan senyummu. Kopi pekat di dalam cangkir itu berbayang wajahmu. Mmhhh… Kopi ini memang enak. Memikat indera pengecapku. Entah memang kopinya yang enak, atau semua itu hanya karena anjuranmu. Selanjutnya, tak penting aku membahasnya. Aku hanya ingin menikmati kopi ini bersama bayangmu.

Keremangan telah merajai pantai ini. Badanku pun telah letih menahan debur ombak dan angin pantai yang sejak tadi menghambur. Udara sudah mulai dingin, dan aku berniat untuk beranjak dari tempat ini. Meninggalkannya bersama ombak yang berkali-kali menghapus namamu yang aku tulis di sana.

“Coba deh, kopi ini. Pasti kamu suka….” Tiba-tiba sebuah suara menyapaku dari kejauhan seiring debur ombak yang kian menderu. Aku berpaling ke arah suara itu, dan kutemukan satu sosok berjalan ke arahku. Aku termangu menunggu hingga ia mendekat ke arahku. Astaga! Tak salahkah pengelihatanku? Sepertinya aku mengenal sosok ini, yang diam-diam telah menghantuiku selama lima tahun! Hatiku berdebar seketika. Senyum dan suara itu sudah amat lekat di hatiku. Dengan penuh tanda tanya, aku memanggilnya.

“Mas Andre…..!” Teriakku di sela keherananku.

Masih dengan senyummu, kemudian kau jabat tanganku dan berkata, “Iya, Vira. Di dunia ini tidak ada yang kebetulan…”

Rabu, 13 Oktober 2010

Senyuman Itu

Sebuah candle light dinner telah dipersiapkan Dewa untuk Ria sebagai peringatan satu bulan hubungan mereka di sebuah tempat paling romantis di kota ini.

Tapi, sebelum malam itu benar-benar terjadi, Ria menangkap samar sosok Dewa di pertigaan jalan itu. "Tumben, koq Dewa ada di sini," batin Ria. Terlihat oleh Ria, Dewa mengantarkan seorang wanita bersama anak laki-lakinya yang berusia sekitar 3 tahun. Ria segera menyelinap di antara mereka dan penumpang lainnya yang hendak naik angkot itu. Anak kecil itupun segera berteriak sambil melambaikan tangannya, "Daaahhh Papa..."

Ria yang duduk di samping mereka hanya bisa terdiam. Ria lemas seperti mau pingsan. Di tengah kegalauannya, Ria sempat melihat sekilas ke arah wanita di sampingnya ini. "Mmmmhhh... Cantik tapi jutek," gumam Ria.

Ria memejamkan mata, dan tanpa disadarinya bulir air matanya mengalir perlahan. Ria menangis! Sesaat terdengar anak itu berkata, "Mama, koq tante ini nangis...?"
"Kevin...ah...kamu..." kata ibunya tersendat.

Ria memaksakan dirinya untuk tersenyum sambil menatap bening matanya. Ria melihat satu senyum dari Kevin yang amat dikenalnya. Sebuah senyuman seperti yang sering dipersembahkan Dewa kepadanya. Ria tak kuat lagi menahan kepedihannya, dan akhirnya luruh seiring senyum yang tertabur di bibir Kevin.



* Tulisan ini diikutsertakan dalam Flash Fiction Contest - Blogfam MPID.
Ga tau juga, ini termasuk kategori flash fiction atau bukan...hehehe...