Thanks for this day.. May God bless us everyone and everywhere..
Diberdayakan oleh Blogger.
Tampilkan postingan dengan label api. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label api. Tampilkan semua postingan

Rabu, 22 Desember 2010

Lihat dan Kecaplah

Sayang,
Lihat padu padan dari langit dan laut itu
Mereka sungguh sangat serasi
Sama-sama memiliki keluasan yang tak terhingga
Sama-sama berwarna biru
Lihat pantulan lautan di langit biru itu
Lihat pantulan langit di air laut itu

Sayang,
Lihat dedaunan yang bergoyang mesra itu
Lincah dan santun mengiringi setiap gerak sang angin
Kecaplah kesegaran angin yang menerpa ragamu
Ia kan selalu menjadi udara segar bagimu
Ia kan selalu menjadi nafas bagimu

Sayang,
Lihat bintang-bintang yang bersinar di malam ini
Semarak seindah geriap surgawi
Bersama rembulan ia kan menemani
Dalam malam-malam di antara mimpi-mimpimu

Sayang,
Lihat matahari yang bersinar di setiap pagi yang kau selami
Ia selalu memberi kehangatannya
Sesaat setelah sang embun berlalu kembali ke langit
Sudah berapa juta ton buah dihasilkan karena sinarnya
Dan berapa jenis tumbuhan dan hewan yang tumbuh sempurna karenanya

Sayang,
Tak terhitung semua hutang kita pada alam semesta raya ini
Segala pepohonan telah menghasilkan pakaian bagi kita
Segala sinar telah menentramkan hidup kita
Segala air telah menghidupi; menjawab segala kebutuhan kita
Segala udara telah terhirup hingga kita kembali padaNya

Berapakah hutang kita pada alam semesta ciptaanNya ini...?
Tak kan pernah terhitung sudah...
Bagai hutang kita pada air susu yang telah ibu keluarkan
Tak kan pernah sanggup kita membalasnya

Maka
Kecaplah itu sebagai sebuah anugerah yang tiada bandingnya...
Karena tanpa kita minta mereka telah memberikan bagi kita
Karena kita tak kan pernah bisa melunaskannya sampai kapanpun
Hanya dengan santun dan rendah hati
Kita rawat apa yang telah kita kecap
Sebagai sebuah lestari yang abadi...


* Inilah bait-bait tulusku bagi bumi dan seluruh alam yang telah memberi dan memberi bagi penyelenggaraan kehidupan ini


#30haripuisi #Day19 : Hutang

Minggu, 12 September 2010

siang teduh

Dalam jiwa bersambut, ketika siang mulai menyapaku...

Embun pagiku sudah sekian lama pergi meninggalkanku
Menyusuri alam raya di depanku bersama sang angin yang mengantarkannya kembali ke langit
Bersama bantuan sinar mentari yang berkenan membawa embun pagiku menuju singgasananya kembali
Meski ia telah pergi meninggalkanku yang bagai pergi begitu saja, namun sesungguhnya ia telah meninggalkan jejak yang sangat berarti bagiku...

Ia telah membuat siangku amat teduh
Meski mentari dengan garangnya hendak membakar kulitku
Ia telah membuat siangku tak menyilaukan
Memancing gairahku untuk tetap menikmati siang ini tanpa berkedip barang sedetikpun...!!

Siangku yang masih sejuk segar
Dengan langitnya yang biru bersih
Dihiasi serpihan cumulus nimbus nan cantik

Aahhhh...
Indahnya kemilau siang ini dengan segala aktivitas yang memikat pula
Lagi-lagi angin menyapaku dengan semilirnya...

Sehabis aku berlama-lama bercanda dengan sang pengawal hari yang semerbak pagi itu...
Kini, aku ingin memasrahkan diri dan segenap batinku pada sang tengah hari yang kian bersahabat ini...



*but... I'm still missing you...more and more, my dew...:)

pagi semerbak

Kulihat siluet pegunungan nun jauh di sana...
Gunung gemunung yang terlihat dekat dan berjajar
Tangguh...!! Gagah...!!
Mempesonakan setiap mata yang melihatnya
Dengan cakrawala yang masih gelap hendak melahirkan sang mentari

Di ufuk timur inilah, kurebahkan segenap pandangan mataku
Pagi semerbak...dengan angin yang membawa wangi bunga
Entah wangi bunga apa saja yang tersebarkan menuju indera penciumanku ini
Yang pasti...semerbaknya tiada tara
Menerbangkan imajiku...
Membuat bius bagi otakku...
Melahirkan candu yang demikian tak bisa kuhindari

Hening, sunyi, dan agung...
Embun pagiku menatapku manja...mesra...dan berwibawa
Angin yang masih semilir...
Membawa sejuknya embun pagiku...
 
Aaahhh......
Semuanya ini telah berhasil membawaku menuju puncak syukurku yang tertinggi
Tiba-tiba aku terduduk, dan bersimpuh...
Bertelut di bawah suasana pagi semerbak ini

Bersama embun pagiku...
Bersama angin sejukku...
Bersama sinar ceriaku yang sebentar lagi nampak...
Bersama seluruh auranya pagi ini...
Entah berapa lama lagi aku bermain-main bersama pagi semerbak ini.........



* I'm still miss you much....my dew...

Jumat, 13 Agustus 2010

Resapilah



Sayang...
Apa yang kau gusarkan tentang Tuhan?
Lihatlah sekumpulan awan yang berarak itu, kemudian dia mampu basahi bumi yang tandus dan gersang dari tempat yang sangat jauh dan tinggi dengan butiran-butiran lembutnya yang luruh penuh kesantunan. Dapatkah kau bayangkan seberapa jauhnya dan mampukah kau mengukurnya?

Sayang...
Apa yang kau ragukan tentang Tuhan?
Lihatlah burung-burung di angkasa, cermatilah sarangnya...
Siapakah yang membuatnya, selain naluri yang telah Tuhan berikan pada mereka?
Mereka mampu bertahan hidup dalam segala musim, dengan makanan yang telah disediakanNya, dengan baju hangat yang telah dibuatNya.
Lihatlah bunga-bunga yang cantik dan penuh pesona itu.
Siapakah yang mendandaninya dengan warna-warni eloknya?
Siapakah yang memberinya parfum, sehingga bunga-bunga itu jika bermekaran sanggup mempersembahkan wewangian terindahnya dengan tulus? 
Bahkan wanginya wangi itu sanggup kita hirup dengan atau tanpa angin yang membawa keharumannya

Sayang...
Apa yang kau sangsikan tentang Tuhan?
Lihatlah lautan yang berombak itu...
Siapakah yang membendung air-airnya hingga ia tidak tumpah ke daratan?
Berapa meter kubikkah air yang terkumpul di sana?
Sanggupkah kau untuk memberi rasa asin di seluruh airnya?
Sanggupkah kau menyelami luasnya?
Menyelamlah hingga ke dasar samuderanya...!
Hitunglah pula pasir-pasirnya...!
Siapakah yang menanam ikan-ikan dengan berjenis-jenis dalam keindahannya tersendiri?

Sayang...
Apa yang kau kesalkan tentang Tuhan?
Lihatlah bintang-bintang yang gemerlap di malam hari.
Layaknya pasir-pasir putih di pantai itu...
Sanggupkah kau menghitungnya?
Sanggupkah kau membentuk rasi bintang sesuai kehendakmu?
Sanggupkah kau meretas ikatan rasi yang ada di langit luas itu?
Siapakah yang mengatur bulan agar bercahaya, meski dia kadang sabit, sepotong, dan saat dia utuh?
Siapakah yang mengatur waktu, sehingga bulan itu berganti dengan bola api raksasa yang siap menyinari hari-harimu dari atas sana untuk setiap pagi yang menjelang?

Sayang...
Apa yang kau keluhkan tentang Tuhan?
Lihatlah gunung-gunung tinggi menjulang, dengan hutan-hutannya yang asri menyegarkan, buah-buah ranum pada setiap musimnya, sungai yang mengalirkan air-airnya ke lautan
Sanggupkah kau menelusuri  sungai-sungainya?

Sayang...
Apa yang kau gelisahkan tentang Tuhan?
Rasakanlah angin sepoi ini dengan tebaran keikhlasanNya...
Sanggupkah kau melihatnya, selain kau pasrahkan dirimu pada kuasa seluruh inderamu, pada yang menciptakanMu? 
Biarkanlah DIA dengan kekuasaanNya, membingkai dirimu dan hidupmu dengan seutuhnya, menyeka air matamu yang tak henti berderai, menggendong dirimu saat kau terjatuh, dan  bahkan susah untuk bangkit kembali
Biarkanlah pula DIA hadir pada saat-saat bahagia kita...
Sayang...
Resapilah Tuhan... DIA selalu tak henti membuat keindahan dan berbagai keajaiban bagimu. Bahkan, saat sehelai daun jatuh dan mengenai kepalamu sekalipun...
 
Sayang...
Resapilah Tuhan... DIA selalu ada untukmu, DIA ada di setiap deraian nafasmu. DIA tak pernah jauh darimu, kecuali jika kau tak menyadari kehadiranNya.
DIA hadir lewat hal yang paling sederhana...
DIA ada lewat senyum termanis dan terbaik, serta ketulusan dari sesamamu; siapapun dia, orang-orang sekitarmu yang mencintaimu dengan apa adanya, karena bagaimanapun adanya dirimu, kaupun terlahir dalam nama cinta....

Jumat, 06 Agustus 2010

memaafkan dan meminta maaf : filosofi embun pagi


Luka batin akibat merasa disakiti, dibohongi, ditipu, dikecewakan, dan berbagai macam bentuk "di" lainnya, pastinya akan memberi pengajaran pada kita untuk lebih bijaksana, dewasa, dan berhati-hati lagi dalam menghadapi kehidupan kita sehari-hari.

Karena berbagai faktor, orang lain yang sudah kita percayai, kadang bisa membuat luka di batin kita, yang menurut kita sukar untuk disembuhkan.

Jika saat ini kita termasuk orang yang sedang dilukai batinnya... 

Apakah kita harus egois, angkuh, congkak, sombong, arogan, dengan apa yang sedang kita rasakan? Haruskah kita terus tenggelam dalam perasaan-perasaan atas luka-luka batin kita, sementara setiap orang sudah memiliki jalan hidupnya sendiri-sendiri?

Memaafkan, kemudian menjadi salah satu aktivitas yang sangat merugikan bagi kita... Padahal, kemuliaan insan terletak pada aktivitas yang satu ini. 

Tak sayangkah kita pada hati kita sendiri, dengan memendam dendam berkepanjangan, dengan membiarkan rasa sakit terus larut di dasar lubuk hati kita...? 
Lalu pertanyaannya adalah...Inikah kita?

Pun jika saat ini kita termasuk orang yang melukai hati orang lain, kita ternyata dengan tanpa sadar telah menyakiti hati orang lain, yang dekat dengan kita. dan yang  kita sudah kita percayai.
Apakah kita akan tetap arogan dan egois dengan segala kesalahan kita? 
Lalu pertanyaannya adalah...Inikah kita?

Meminta maaf menjadi sebuah aktivitas yang menurut kita akan menjatuhkan harga diri kita. Padahal, meminta maaf dan menyadari kesalahan kita sebagai manusia biasa ini, adalah merupakan bentuk kerendah hatian kita, menghormati orang lain dan memohon berkah dari orang yang telah kita sakiti, meski kita tak bermaksud menyakitinya. Menjaga hati orang lain, mulia bagi kita, menuntun langkah kita ke depan agar kehidupan kita menjadi lebih baik lagi.

Belajar pada embun pagi yang selalu setia datang ke bumi meski awan tebal menyertainya, meski hujan dan badai sedang bergemuruh, meski kelak matahari tak sanggup meluruhkan sinarnya ke bumi karena awan yang menghalanginya, meski angin kian berderak kencang menggoyangkan pohon-pohon hingga ke rumput yang paling bawah sekalipun...

Dia, selalu datang ke bumi dengan ketulusannya, berniat menyegarkan dan meyejukkan hari ini, dan hari-hari kita selanjutnya. Ada atau tidak ada matahari yang kelak menguapkannya. Ada atau tidak ada angin, yang kelak menyapu bersih setiap butir-butir beningnya. Dengan rendah hati pula, embun turun tanpa kita tahu kehadirannya. Yang kita rasakan adalah kesejukan yang dibawanya; ciri khasnya yang teramat indah... Bagai kristal cantik dengan kualitas sempurna. Embun akan selalu datang tak peduli kita bisa menikmati keindahannya atau tidak. Namun satu yang pasti, bahwa sang embun mempunyai niat yang baik, menyatakan kesegaran dan kebeningan alamiahnya yang eksotis.

Mampukah kita seperti embun pagi? Dengan kehadirannya yang sederhana tapi memikat setiap mata yang memperhatikannya. Lihatlah butiran-butiran embun di dedaunan itu, atau di atas kembang yang berwarna warni, atau di rerumputan itu... Cantik bukan...? Dia selalu menawarkan dan memberikan sejuk dengan damainya merata bagi seluruh bumi.
Menguak harapan baru di setiap hari-hari baru kita pada detik-detiknya.
Meski dia datang dari langit, dia tak akan pernah lupa dari mana dia berasal...


* memaafkan dan meminta maaf memang menuntut adanya keikhlasan, kebeningan, dan kerendah hatian dari jiwa kita...

Kamis, 15 Juli 2010

langitku malam ini

Ketika matahari tak berkenan membagi cahayanya pada rembulan

Ada setitik gundah kutemukan di senyumnya malam kali ini

Cahaya bintang yang meredup, terlihat sangat rapuh seiring awan yang berarak tak tentu arah; begitu pasrah di bawa sang bayu

Langitku malam ini berkisah tentang kepedihannya yang sangat mendalam, meski tak ada mendung yang membuat hujan sebentar lagi turun

Malamku...begitu sempurna merayu gelap dan sepi; hingga akupun tak kuasa untuk bertutur kata, walau hanya dengan berbisik sekalipun

Kau membiarkan angin membawa udaranya yang dingin, dengan kabut pekat yang khas dan membuat helai-helai dedaunan itu melayang dan rubuh seiring takdirnya diiringi suara jangkrik dan suara-suara malam lainnya

Wahai langitku yang mulia dan tak berbatas, maafkan kami yang selalu memberikan segala bentuk polusi buatmu

Mungkin itukah yang membuatmu murung?

Sehingga bintang-bintang begitu memudar, dan rembulanpun kau sembunyikan jauh-jauh di balik punggungmu...

Semoga kau tak menyembunyikan pula setiap tetes embun yang harus luruh ke bumi dengan rendah hati berikut kesejukannya yang tiada tara...

Minggu, 27 Juni 2010

lepas sesaat

Berbaring di atas rerumputan, bersandar pada bumi yang ada di bawahnya

Memandang langit luas; biru tersaput awan-awan putih

Mereguk indahnya pagi berseri bersama udara yang mengantarkan ribuan wangi bunga

Bersama embun pagi yang cemerlang, bak percikan air surgawi yang diturunkan ke bumiku

Bermain bersama kupu-kupu yang hinggap di daun

Bersama alunan gemericiknya air sungai bening yang menimpa bebatuannya

Aku enggan beranjak dari tempat ini
Beranjak dari keagungan alam yang telah berkenan memberikan seluruh aromanya...
Rerumputan, dedaunan, mentari berikut kehangatannya yang teduh dan mesra, angin yang tak henti mencumbu dedaunan dan menyapaku penuh senyum...

Aahh...memukau jiwa, membangkitkan syukurku

Aku ingin menanam cinta kasih dan keramahannya

Di sini, di padang rumput ini

Di bawah rerimbunan pohon yang menjulang tinggi

Aku ingin lepas sesaat dari hingar bingarnya dunia

Menyepi dengan kesenyapan alam dan bahasanya yang santun

Dia senantiasa berbisik manja untuk mengajakku selalu bersyukur dalam pelukan rinduku bagi alamku tercinta...


*selamat pagi......
Meski kemarin sore di dalam hitungan detik, bumiku sedikit bergoyang dalam 6.3 SR di kedalaman 34 km dengan pusat gempa di Tasikmalaya.
Semoga syukur tulusku saat ini sampai ke lapisan bumimu terdalam, untuk kau simpan di setiap lapisanmu dan sanggup membuatmu tersenyum kembali...

Senin, 21 Juni 2010

Nikmatilah...!


Nikmatilah setiap udara yang terhembuskan
Tak usah ragu kau menghirupnya
Semua ini telah tersedia bagimu
Dengan segala kesejukannya

Nikmatilah setiap air yang tercurah bagimu
Dari setiap hujan yang mengaliri lautan luas, dan sungai-sungai
Membentuk titik-titik embun yang cemerlang
Membentuk mata air dan sumur-sumur
Juga air terjun dalam segala keheningan dan kemurniannya
Dengan partikel-partikel yang menyuburkan bagi bumi dan tetumbuhan di atasnya

Nikmatilah segenap cahaya dari sumber api yang bernyala-nyala
Dari jutaan mil jauhnya, yang senantiasa mampu menghangatkan hari-harimu
Penuh warna dan hijau daun yang terciptakan berkat campur tangannya pula

Nikmatilah hasil bumi yang melimpah ruah
Pijaklah bumi yang dengan rendah hati berkenan menghasilkan segala rupa bagi seluruh kehidupanmu
Pijaklah dia dengan suka cita namun tetap santun

Pejamkanlah matamu...hanya dengan memejamkan matamu...
Satukanlah seluruh inderamu; rasakanlah betapa dirimu teramat mulia bagi mereka
Dengan senang hati dan penuh ketulusan, sekali lagi dan sekali lagi, mereka berkenan menyediakan segalanya bagimu
Maka, sepantasnyalah engkau merawat dan mencintai mereka dengan senang hati dan dengan segenap ketulusanmu pula
Unsur-unsur alam yang tak mungkin terpisahkan satu sama lainnya...
Unsur-unsur alam yang senantiasa setia dan jujur......
Merekalah cermin dari setiap perbuatan kita

Selamanya, bumi berputar pada porosnya......


* sungguh Maha Agunglah DIA yang telah menyediakannya bagi kami... siapakah kami ini, hingga Engkau benar-benar mencintai kami...? 

Rabu, 05 Mei 2010

Embun Pagiku : Kemurnian Air Alami, Anugerahku yang Maha Indah


Rasaku pada embunku, yang datang dengan rendah hati, tak dapat diraba dan dilihat, namun dapat kukecap, dan kehadirannya sanggup terasakan oleh inderaku yang lainnya.
Kesejukannya kurasakan bagai air penyambung bagi nyawa dan jiwaku, hingga aku masih ada di sini sampai detik ini.

Tak seperti matahari, yang kehadirannya terkadang terhalangi oleh awan tebal di pagi hari, yang sinarnya kemudian sangat menyengat.

Tak seperti rembulan, yang terkadang bentuknya sabit, sepotong, dan purnama, dan terkadang angin mempermainkannya, dengan menghalau mega hingga menyaputnya, menutupinya, datang dan pergi berlalu...miris, meski masih saja indah.

Tak seperti hujan, yang terkadang disertai badai yang berkepanjangan. Berkolaborasi dengan patahan-patahan es penuh konspirasi.

Tak seperti pelangi, yang sangat indah namun kehadirannya tak menentu dan hanya sesaat saja.

Tak seperti bintangku, yang cahayanya semakin lama semakin redup, pudar, tanpa bisa mengayomi dan memanage sinarnya untuk bumi. Kehadirannya pun seringkali dipengaruhi oleh angin dan awan yamg membuatnya bersembunyi di baliknya, menenggelamkan segala bentuk kerlip cemerlangnya.

Tak seperti musim semiku, yang hanya memberikan senyum di musimnya saja, dan akhirnya menghancurkan pesonanya sendiri di tengah kegundahan yang tak berujung.

Embun pagiku, tak pernah terpengaruh oleh unsur alam lainnya. Embunku malah sanggup memanfaatkannya demi hadirnya. Saat malam mulai larut, dia selalu datang dengan bentuk yang indah bagai permata bening dalam nuansa pagi (bukan acara berita di RCTI lho hehe). Tak peduli hujan, tak peduli angin, tak peduli awan, tak peduli mendung, tak peduli matahari yang kelak membawamu kembali, namun sinarnya sempat membuat embun pagiku menjadi kristal indah. Kebeningan dan ketulusan keindahan yang memancar, membasahi bumi, menyejukkan, dan menentramkan jiwa di dalam keheningannya. Tak ada kata egois. Setiap hari dia selalu berkenan singgah beberapa lamanya bersamaku, bermain, saling tukar senyum dan tawa, bersenda gurau, bahkan bercumbu denganku, hingga dia menghilang di pori-poriku, menyatu dalam tubuh dan jiwaku, serta seluruh pikiranku, seiring mentari yang muncul setelah beberapa saatnya.

Embun pagiku, embun kerendah hatianku. Kecerahanku dalam menyambut setiap pagi. Aku banyak belajar darimu. Meski engkau datang dari langit, namun engkau tak pernah hadir dalam arogansi. Engkau tetap menjadi dirimu dengan karakter yang kuat ingin menyegarkan dan menyejukkan bumi dan seluruh isinya. Engkau, anugerah Ilahi yang paling kukasihi, yang paling rendah hati, yang paling aku banggakan dan aku hargai. Kilaumu akan senantiasa membayangiku, selalu dalam sepanjang waktuku.



bandungku, kuharap engkau juga mengasihi embun pagiku, selalu...

Rabu, 28 April 2010

Rindu Awal Musim Semiku


Duh...rasanya kurang asik deh kalo kaya gini. Tiba-tiba kebangun di tengah malam atau seperempat waktu lamanya menuju pagi, dari tidurku yang jenak, walau jenak-ku rasanya hanya beberapa saat saja. Entah mengapa, malam ini tidurku ga bagus, ga berkualitas. Gampang banget terbangun. Padahal, suasana sepi, ga ada yang menggangguku...termasuk secuil gonggongan anjingpun.

Ahh, daripada bengong, mending aku nulis di blogku, dari ponsel jimatku berwarna merah hati. Sambil baring, aku tuangkan kata demi kata ke halaman blogku.
Siippp...udah kelar ni...untung edge-nya ga error, ampe aku selesai nulis. Aku berhasil nerbitin satu entri baru judulnya Aku dan Matahari Cintaku.

Mmmhh...terus ngapain lagi ya....? Duh, ini mataku ngantuk, tapi ga mau merem juga. Ada apa ini sebenernya...
Apakah embun pagiku yang membangunkan aku ya? karena, biasanya sih suka gitu. Dia ngebangunin aku dengan santun penuh kesejukan dan kelembutan. Meski santun dan lembut, kehadirannya mampu membuatku terbangun dan mata menjadi segar. Hingga beberapa mesjid terdengar melantunkan azan awal. Damn it! masih belum bisa tidur juga...! Kemana larinya kantukku ya? Bermain ayunan sama embun pagiku kah? Atau main perosotan.... atau... aahhh... entahlah... Embun pagiku ga kaya gini deh... biasanya kamu manjain aku koq...

Entah mengapa, tiba-tiba aku menangkap seonggok kertas dan buku di sudut kamar dekat lemari. Aku menghampirinya, dan membongkar kertas-kertas dalam plastik bening dengan pelan sekali. Lembar demi lembar aku baca sekilas. Tampak sebuah nama di sudut kertas itu. Dia seakan mengajakku tersenyum dan menggapai tanganku. Mungkinkah aku merindukannya? Ah, masa sih...? Aku ga percaya deh..!

Sejenak, jantungku seakan berhenti sejenak. Musim semiku, apa kabar dirimu? Cerita laluku; awal dari musim semi di dalam hidupku. Dialah yang pertama kali memperkenalkan padaku, apa dan bagaimana cinta yang indah itu, penuh dengan percikan-percikannya. Dia bisa membawaku terbang melampaui tata surya di alam ini... Hingga ke ruang hampa udara sekalipun..!!!
Cinta yang sejatinya memang harus dirasa demikian. Semua terpancar dalam setiap bahasa, sikap, senyum, dan tatapan matanya, yang meluluhlantakkan seluruh isi di kalbuku. Membuatku hampir pingsan demi mengalami keindahannya saat itu.

Namun di balik itu semua, musim semiku juga telah memperkenalkan padaku, apa dan bagaimana sebuah luka yang sesungguhnya...!! Begitu sempurnanya dia mengajarkan padaku. Hingga aku tertatih-tatih dengan seluruh air mataku. Sampai detik ini, aku tak mengerti, apa maksudmu memberi sebuah musim, tetapi sekaligus menghancurkannya sampai serpihan-serpihannya sangat tak tampak lagi. Lumat dengan bumi dan air, juga udara dan panas. Bagai sebuah musim pancaroba yang tiada habisnya, yang anginnya membawa kesakitan dan luka. Diiringi daun-daun yang jatuh berguguran...muram dan kelabu.

Musim semiku, meski engkau adalah cerita laluku, namun aku tidak akan pernah lupa akan segala pengajaranmu padaku. Engkau telah membuatku menjadi insan sempurna, yang masih boleh merasakan segala perjalanan rasa yang terjal, berliku, dan licin...berikut tawa bahagia, senyum, merasakan kasih, dan cinta. Engkau bagian hidupku yang ada di balik jiwaku yang rapuh... Tak ada harapan yang lebih indah, semoga engkau selalu menikmati apapun yang memang harus kau nikmati, seperti diriku.



Bandungku, apakah musim semiku juga tengah mengingatku, di sana di balik bumi ini...?

Minggu, 25 April 2010

embunku : selalu...


Kembali, air mataku menyirami di seluruh tanah batinku, menyentuh segala tetumbuhan yang berkenan tumbuh di sana, dengan lembut.
Aneka bunga berwarna warni, dan dedaunan yang hijau subur seakan tersenyum menyambutnya.
Segera, keharuman yang mewangi menyeruak penuh keanggunan, penuh sensasi. Semerbak wanginya yang eksotis, memicu segenap rasa yang kian penuh haru.

Aku melihat pelangi melengkung melindungi tanaman cintaku, memayunginya dengan serinya yang elegan. Indah, namun tetap rendah hati.
Matahari yang benderang saat itu, cantik dengan kilau yang tak seperti biasanya. Terangnya teduh, tak menyilaukan mata, dan tak membakar kulitku.

Anginpun menyapa ramah seluruh tanaman di batinku, yang masih basah dan kian segar dengan siraman dari mata air abadi. Dia seolah ingin ikut ambil bagian dalam suasana yang romantis dan getaran-getaran halusnya. Diiringi lagu yang tak akan pernah berhenti, bagai sebuah kelompok orchestra yang megah, melengkapi paduan keindahan dari suatu karya beethoven.

Air yang kian mengalir deras dari mata airnya, seolah tak ingin berhenti menyirami tanah dan bagian-bagian yang tak terjangkau olehnya.

Deraian air dari mata air alami ini, akan senantiasa mengijinkan setiap butiran embunnya menemani di setiap malamku, menyelimutiku, dan akan aku biarkan lenyap melalui pori-poriku, membiarkan dia menyatu bersama aliran darahku...menyusuri setiap nadinya, agar memberiku kesejukan dan kesegaranmu...yang senantiasa membantuku di dalam setiap jengkal karya-karyaku yang sederhana ini...
Terima kasih embunku...



Bandungku, semoga embunku selalu segar dan sejuk menjaga diriku selalu...

Sabtu, 03 April 2010

embun pagiku


Engkau datang dari langit
Dalam rupa yang bening dan sejuk

Kemurnian hatimu terpancar kuat

Indah laksana kristal yang tak ternilai


Engkau datang dari langit
Menembus pekatnya malam

Bersama angin yang berhembus damai

Melintasi tidur malamku


Engkau datang dari langit

Bagai percikan air surgawi, yang santun menyegarkan dedaunan,
rerumputan, dan tanah yang kering...

Kau jangkau semua itu dengan kilauan ketulusanmu


Entah berapa lama aku terpaku memandangmu

Hingga kau menghilang seiring luruhnya sinar matahari yang lembut dan hangat

Mengisyaratkan bahwa kau harus kembali ke langit

Berkendara angin yang selalu menyertaimu
Bersenda gurau bersama seluruh tatanan alam
Bersama awan yang melindungimu, bersama bintang gemintang yang berkedip manja


Aku percaya kau akan kembali datang...menyapaku seperti pagi ini, dan di pagi-pagiku selanjutnya

Akan kusimpan setitik kebeningan dan kesejukanmu di dalam luasnya hatiku

Untuk kujadikan mata bagi jiwaku, tutur bagi setiap ucapan dan doaku, dan senyum bagi hari-hariku...


Bandungku, aku cinta embun pagiku hari ini, dan hari-hari berikutnya
03042010 0520