Sayang,
Lihat padu padan dari langit dan laut itu
Mereka sungguh sangat serasi
Sama-sama memiliki keluasan yang tak terhingga
Sama-sama berwarna biru
Lihat pantulan lautan di langit biru itu
Lihat pantulan langit di air laut itu
Sayang,
Lihat dedaunan yang bergoyang mesra itu
Lincah dan santun mengiringi setiap gerak sang angin
Kecaplah kesegaran angin yang menerpa ragamu
Ia kan selalu menjadi udara segar bagimu
Ia kan selalu menjadi nafas bagimu
Sayang,
Lihat bintang-bintang yang bersinar di malam ini
Semarak seindah geriap surgawi
Bersama rembulan ia kan menemani
Dalam malam-malam di antara mimpi-mimpimu
Sayang,
Lihat matahari yang bersinar di setiap pagi yang kau selami
Ia selalu memberi kehangatannya
Sesaat setelah sang embun berlalu kembali ke langit
Sudah berapa juta ton buah dihasilkan karena sinarnya
Dan berapa jenis tumbuhan dan hewan yang tumbuh sempurna karenanya
Sayang,
Tak terhitung semua hutang kita pada alam semesta raya ini
Segala pepohonan telah menghasilkan pakaian bagi kita
Segala sinar telah menentramkan hidup kita
Segala air telah menghidupi; menjawab segala kebutuhan kita
Segala udara telah terhirup hingga kita kembali padaNya
Berapakah hutang kita pada alam semesta ciptaanNya ini...?
Tak kan pernah terhitung sudah...
Bagai hutang kita pada air susu yang telah ibu keluarkan
Tak kan pernah sanggup kita membalasnya
Maka
Kecaplah itu sebagai sebuah anugerah yang tiada bandingnya...
Karena tanpa kita minta mereka telah memberikan bagi kita
Karena kita tak kan pernah bisa melunaskannya sampai kapanpun
Hanya dengan santun dan rendah hati
Kita rawat apa yang telah kita kecap
Sebagai sebuah lestari yang abadi...
* Inilah bait-bait tulusku bagi bumi dan seluruh alam yang telah memberi dan memberi bagi penyelenggaraan kehidupan ini
#30haripuisi #Day19 : Hutang
Selamat Jalan, Mas Stafaband!
1 hari yang lalu



































