Thanks for this day.. May God bless us everyone and everywhere..
Diberdayakan oleh Blogger.

Selasa, 26 Maret 2013

Saujana

Dengarlah irama saujana
Mengalun tak pernah letih
Senandungnya meretas kelam malam
Menempuh ribuan kilo meter
Pedih, saat terasa harapan hanya tersimpan pada saujana
Tanpa pernah mengerti asa kan bertemu tubuh dan jiwa

Saujana
Aku larut dalam secercah cahaya
Yang terpendar melewati lautan 
Merekah menerpa wajah
Angin kan membawaku ke sana

Bait-bait rinduku ada di atas pucuk-pucuk cemara
Di peneduh jalan ini langkahku terhenti
Mendongak langit yang segera mencurahkan airnya
Pada bumi gersang yang letih

Kamis, 21 Februari 2013

Saat Gelap di Sememi



 Sememi dalam siang

Sememi pada suatu malam. Saat seorang teman harus pergi ke sebuah daerah yang bernama Sememi. Malam itu sekitar pukul 11. Jalanan terlalu sepi dan gelap untuk dilewati. Namun apa mau dikata. Seorang teman itu, sebut saja Mas Daniel, harus pergi ke rumah yang berada di satu perumahan di daerah itu untuk suatu keperluan. Bagi yang tinggal di Surabaya, mungkin pernah mendengar nama daerah ini. Sememi, yang masuk di wilayah Surabaya Barat.

Kisah Sememi yang hampir merenggut nyawa Mas Daniel. Kebetulan, rumah yang hendak ditujunya itu melewati jalur rel kereta api. Dalam keadaan gelap gulita - jika pun ada lampu menyala - ia hanya melihat sinar yang remang-remang saja di seberang jalan di mana ia berada saat itu. Karena perlintasan kereta api itu tidak ada  palang pintunya, maka ia mencari seorang kakek yang selalu setia setiap saat berada di sekitar perlintasan kereta api itu. Entah kakek itu ada yang menggaji atau ia bekerja dengan suka rela, tidak ada yang mengetahuinya. Namun Mas Daniel selalu memberi sedikit rejekinya untuk Sang Kakek penjaga perlintasan kereta api,  setiap ia lewat di perlintasan itu. Sekian lama ia mengedarkan pandangannya ke arah kakek itu biasanya berada, tapi ia tidak menemukan kakek berhati mulia itu.

Laju mobil ia jalankan dengan lambat. Lajunya sekitar 5 – 10 Km per jam. Matanya masih mencari sosok kakek penjaga pintu perlintasan itu. Setelah ia yakin bahwa kakek itu tidak ada, maka ia terus melanjutkan perjalanannya untuk menyeberangi lintasan kereta api itu. Namun, alangkah terkejutnya saat ia melihat satu sinar yang semakin lama semakin terang, sementara mobilnya sudah berdiri sekitar 1 meter dari rel kereta api. Ia tentu saja sangat panik. Mau mundur sudah susah. Mau dilanjut untuk maju, juga berisiko jika berhenti di tengah rel kereta api, karena sudah tidak ada ancang-ancang lagi untuk tancap gas. Dengan doa-doa di hatinya, ia pasrahkan jiwa dan raganya hanya kepadaNya.  Kemudian dengan reflek, ia tancap gas. Sambil tancap gas dan berdoa dalam sekejap supaya Tuhan meluputkannya dari maut. Apa yang terjadi kemudian? Ternyata  mobil yang ia kendarai meloncat bagai kodok yang melompat dari satu teratai ke teratai lainnya. Meloncat sekencang-kencangnya! Dan, sesaat mobil yang ia kendarai meloncat sampai di seberang, hanya sepersekian detik saja, kereta api barang meluncur deras di belakangnya. Alangkah bersyukurnya Mas Daniel. Ia tak henti-hentinya mengucap syukur kepadaNya, Sang Pelindung kehidupannya. Apa jadinya jika mobil yang meloncat itu tidak sampai di seberang, dan setengah badan mobil itu ada di atas rel kereta api? Pastinya, pulang hanya tinggal puing-puing yang tersisa.

Masih dalam kegelapan Sememi, ia mencoba meneruskan perjalanannya ke rumah yang hendak ditujunya dengan perasaan yang tak menentu. Jantungnya berdebar hebat, disertai kaki kanannya yang langsung kesemutan, dan kekagetan yang luar biasa kaget itu membuat lututnya lemah. Tuhan masih menolongnya dalam kegelapan dan sepinya jalanan itu. Akal sehatnya masih bisa digunakannya dengan baik, meski raganya terasa rapuh. Ia terus saja bersyukur atas kelimpahan kasihNya yang tiada terhingga itu. Pasca kejadian ini, seorang Mas Daniel menjadi semakin menyadari betapa ia disayangi dan dilindungi olehNya. Bagaimana caraNya melindungi sungguh terasa, meskipun sampai kini ia masih bergidik jika harus melewati jalanan di daerah Sememi.

Himbauan kepada para pengguna jalan, khususnya yang harus melintasi daerah Sememi, harap berhati-hati. Karena selain tidak ada palang pintu di perlintasan itu, tumpukan bantalan untuk rel kereta api itu disusun sangat tinggi, sehingga dari jarak dekat pun, tidak akan bisa melihat kereta yang akan lewat. Jika dilihat dari suasananya, daerah ini memang sepi sekali seperti tidak ada kehidupan, meskipun pada  siang hari.

Mengapa perlintasan kereta seperti ini tidak ada palang pintunya? Apakah karena bukan stasiun besar? Apakah harus menunggu ada korban terlebih dahulu untuk memerbaiki sesuatu yang menyangkut nyawa manusia? Mungkin, kondisi seperti ini tidak hanya ada di Sememi saja. Bisa jadi, di setiap daerah dipastikan ada. Apa buruknya, setiap jalanan yang harus bertemu dengan kereta api diberi palang pintunya? Apa harus dipasang plang begini : SEMEMI = Seram-seram Medeni? (seram-seram menakutkan – red.)
Dan jika sudah dipasang palang pintu dan penerangan yang wajar, plang itu bertuliskan : SEMEMI = Senyum-senyum Bersemi (lebih sumringah kan).


Selasa, 19 Februari 2013

Perkara Hujan

Pagi,
Hujan kian berlabuh renyah
Tatkala sepotong hati merasakan sayap-sayapnya patah
Ketika asa ditelan langit, dan menumpahkannya dalam hujan

Air yang menitik perlahan...
Membasahi tubuh dan jiwa
Pelan-pelan namun pasti, telah membuat kuyup
Rindu ini, bergelombang

Tenggelam dalam haribaannya bumi
Dalam perkara hujan yang tak pernah usai
Dalam lintas peristiwa yang tak pernah mati
Namun, semua ini tiada abadi



Bandungku hujanku, 19.02.2013

Kamis, 13 Desember 2012

Aceng (Masih) Hangat

Tiba-tiba pengen nulis tentang Aceng. Tadinya aku males nulisnya, tapi...ternyata kesekonyong-konyongan itu seakan memaksaku untuk menuliskannya. Duh, beneran ini mah. Aku kudu bilang WOW sambil koprol, sekalian loncat-loncat, terus maen sapintrong karet di halaman dan nyanyi bagian akhir dari lagu sebuah iklan pewangi. Eh aku lupa iklan sabun atau pewangi ya, soalnya iklan itu udah lama ga tayang. Pokoknya pada bagian akhir dari lagu iklan itu kata-katanya begini : "ada bunga di mana-mana" tapi bunganya diganti dengan kata Aceng. Seperti bunga, demikian pun Aceng. Namun ada satu yang membedakannya, yakni keharumannya. Tau sendiri kan kalo wangi bunga itu bisa dijadikan terapi, karena wewangiannya yang menenangkan. Kalo yang satu ini, memang seperti kembang. Tapi wanginya beda. Hingga CNN dan BBC bahkan media lain di luar sana ikut mengulasnya. Terus jadi bangga? Ya ga juga sih... Aku kan hanya bisa bilang WOW :D

 *** 

Terpujilah Tuhan Yang Maha Agung. IA menciptakan manusia dan makhluk lainnya serta alam semesta raya ini dengan penuh cinta, sebab IA adalah cinta itu sendiri dan kita ini adalah gambaranNya. Hingga IA berkenan memberikan nafas kehidupan bagi kita semua, dengan terwujudnya harapan-harapan kita. Dengan kesuksesan dan pencapaian-pencapaian yang berhasil kita raih. IA begitu fasih mengatur bumi dan seisinya, hubungan antarmanusia dan antarmakhluk lainnya dengan sempurna, serta planet-planet luar angkasa lainnya yang IA ciptakan. Jika IA belum memberi kesuksesan sesuai dengan harapan kita, mungkin ada sesuatu yang salah saat kita memohonkannya. Atau mungkin pula karena waktu yang membedakan antara waktuNya dan waktu kita. Kukira, hanya belum selaras saja antara keinginan kita dan kehendakNya. 

Sesungguhnya, apa arti sebuah pencapaian itu bagi kehidupan kita? Hanya untuk mengejar kepuasan pribadikah atau pencapaian itu sendiri digunakan sebagai bentuk bakti kepadaNya yang telah memberikan segala sesuatu keinginan kita? Aku tidak sedang menghakimi Bupati Garut itu. Tulisan ini hadir justru karena Bupati Garut itu telah berhasil memberikan pelajaran berharga bukan saja untuk para pejabat, namun berharga pula bagi kita semua, termasuk untukku. Ya, setidaknya ini menurutku, dan ini menjadi bahan renungan pula bagiku. 

Aceng. Sempat aku dengar bahwa nama Aceng itu sesungguhnya adalah semacam sebuah gelar. Di Garut, jika seseorang sudah dipanggil Aceng, itu artinya ia bukan orang sembarangan. Selain ia adalah berasal dari keluarga berada, ilmu agamanya pun dinilai cukup mumpuni di daerah itu. Jadi, sesungguhnya seorang Aceng Fikri itu bukanlah orang biasa-biasa saja. Ia adalah sosok di masyarakatnya. Ia adalah panutan di daerahnya. Makanya ia dicalonkan menjadi bupati oleh masyarakat untuk menjadi pemimpin mereka. Terlepas dari asal usul Sang Bupati, aku jadi berpikir bahwa untuk menjadi seorang sosok itu tidaklah mudah. Mungkin saat proses pencapaiannya ada yang mudah karena latar belakangnya sudah mendukung untuk pencapaiannya, namun justru sangat sulit setelah ia berhasil menjadi sosok, dalam hal ini berhasil menjadi pejabat. 

Menjalankan sosok yang dipanuti oleh masyarakat tidaklah mudah, selama ia tidak kuat dan tabah menghadapi cobaan. Cobaan berhubungan dengan kematangan jiwa seseorang. Jika Sang Bupati itu dewasa dan mengayomi, maka ia tidak akan mencari isteri baru (lagi) yang akhirnya hasil dari pencarian itu gagal total hanya karena alasan bahwa isterinya itu bau mulut dan tidak perawan. Ia kemudian kecewa dan tidak terima. Aku sempat heran dengan pencarian itu. Apa pun alasannya. Apalagi jika aslasannya tidak masuk akal. Terus isteri pertamanya bagaimana? Makanya tadi aku bertanya, untuk apakah pencapaian itu? Jika hanya untuk sekadar sebagai pendukung kenikmatan duniawi semata, alangkah mirisnya. Ini sudah lebih dari sekadar egois. Waktu, tenaga, dan pikiran hanya untuk hal-hal pemuas diri, dan pencapaian itu dijalankannya hanya cukup sejauh itu. Hanya sebatas itukah? Heran habis. 

Sebuah peran kecil akan menjadi besar, jika dijalankan dengan keikhlasan, kerendahan hati, dan cinta. Sebuah peran besar akan menjadi sebutir debu dan tidak bermakna jika dijalankan dengan jiwa kerdil dan egosentris. 

Akhir kata, terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada Bapak Aceng Fikri, yang secara tidak langsung sudah memberikan 'ilmu' bagi masyarakat Indonesia dan bahkan bagi dunia lewat sikap, tindakan, dan ucapan-ucapannya, sehingga kita menjadi cukup tahu dan mengerti tentang sebuah makna yang melekat pada diri seseorang. Ia telah menjadikan dirinya cermin bagi kita semua. Tempat merenung dan introspeksi. 



 *Note : Sapintrong adalah permainan lompat tali seperti skipping, hanya di sini talinya adalah karet-karet yang dijalin.