Diberdayakan oleh Blogger.
Thanks for this day.. May God bless us everyone and everywhere..

Jumat, 16 Maret 2012

Kupu-kupu merah dan biru

Lapang hati, penuh duka
Burung prenjak melintas perlahan
Ia seolah hendak menikmati langit biru dan menyelusup ke awan putih itu

Lapang hati, penuh suka
Ketika kupu-kupu merah dan biru hinggap di lengan kananku
Ia seolah hendak mewartakan penantian rindu ini

Lapang hati, seluas alam raya
Ia sanggup menampung segala rasa dan peristiwa pada setiap bejananya
Tak akan sirna ditelan hari demi hari
Dan, kepadanya gelap dan terang ia tersembunyi...

Rabu, 14 Maret 2012

Aku Tetap Sayang Kamu Hingga Waktu yang Tak Bisa Ditentukan

Dear Anakku,

Rasanya tak berlebihan jika aku memanggilmu dengan sebutan 'anakku'. Toh, jika nanti kau menikah dan punya anak, tak urung juga, aku akhirnya dipanggil Eyang oleh anakmu.
Setelah kejadian itu. Adakah ini dinamakan pengorbanan bagimu? Untuk sekadar menggeserkan sedikit saja badanmu. Beranjak tak perlu jauh dari tempat itu demi orang yang mencintaimu, kau sungguh tak bisa? Aku tantemu sendiri. Baiklah. Jika ini dinamakan pengorbanan menurut kata hatimu, lantas bagaimanakah sikapmu terhadap orang yang baru kau kenal selintas saja, terhadap orang yang membencimu, terhadap orang yang kau benci (jika ada), bahkan orang yang tak mengenalmu, yang kebetulan harus berurusan denganmu?

Anakku,
Mengertikah kau bahwa hidup di dunia ini tak sendirian? Banyak teman yang harus kau pedulikan. Banyak yang membutuhkan perhatianmu dimana pun dan siapa pun itu!

Aku mencintaimu. Aku ingin kau sempurna, setidaknya sesempurna titik-titik air yang jatuh ke bumi. Perlakukanlah orang lain dengan sikap sederhanamu. Sederhana saja. Sangat sederhana! Jangan kau pikir tiap orang akan sama keadaannya dari hari ke hari. Jagalah itu sebagai bentuk perhatianmu. Jika kau menghadapi seseorang yang sangat tahan banting hari ini, maka tak selamanya jiwanya akan tahan banting seperti bayanganmu. Suatu saat jiwanya akan rapuh juga. Kau tak kan pernah tahu, kapan jiwanya rapuh. Nah, itulah yang harus kau jaga, Nak...

Anakku,
Jangan kau biarkan dirimu melukai mereka. Melukai dia, terlebih orang yang telah memikirkanmu dan berjuang bagimu. Jangan kata orang tuamu. Orang lain yang telah dengan susah payah berbagi untukmu, kau sudah sepatutnya menghormatinya. Balik mencintainya. Itu bukan kehendakku, bukan pula kehendak orang tuamu untuk mendapatkan sedikit saja penghormatan darimu. Itu sudah menjadi kodrat alam. Bukankah kedua orang tuamu dan juga aku, sudah mengajarkannya padamu? Ah, jangan dulu muluk-muluk. Orang tulus yang menghadapimu ini tak butuh sanjungan, tak butuh timbal balik. Hanya sikap yang luwes bersahaja dan sederhana. Sesederhana kau menggeserkan pantatmu saat kau berada di angkutan umum demi penumpang lain yang baru masuk.

Anakku,
Mungkin surat ini akan membuatmu galau bahkan sedih, atau kau hendak marah padaku? Tulisanku ini memang lugas dan terkesan menyakitkan. Kau sudah beranjak dewasa. Namun, kau tak boleh seperti ini terus. Sebentar lagi, duniamu akan berubah. Kau akan bergaul dengan dunia yang penuh dengan cabik-cabik luka. Kau harus tetap kuat. Aku percaya, setelah permintaan maafmu semalam kepadaku, aku anggap kau sudah mengerti tentang kesalahanmu, dan kau telah menyadarinya sehingga kau tidak akan mengulanginya lagi di lain waktu. Aku percaya, bahwa kau akan tetap membuka pikiranmu tentang pelajaran ini.


Tulisan ini diikutkan pada GIVEAWAY Aku Sayang Saudaraku yang diselenggarakan oleh Susindra.



Sibuk Ambe Urusane Dhewe-dhewe

Aku saiki pengen curhat. Tapi koq aku pengen nganggo Basa Jawa yo; iso Basa Jawa Tengah, iso Basa Jawa Barat. Wis, pokoke sakarepku wae yo. Hehehe.... Embuh iki, koq tetumbenan aku pengen nulis koyo ngene. Ben yo, sekali-sekali wae koq. Ora bakal sering-sering. Tenan :D

Ngene. Aku agek nyadar, koq kahanane wong-wong awake dhewe koq dadi podho ora nggenah ya. Ono sing sibuk dadi pendukung sepak bola, nganti bandhem-bandheman koyo ngono. Durung maneh ono sing nantangi ben digantung. Ono sing sibuk arep bagi-bagi be el te, sautoro be be em soyo munggah regane. Koyo ora ono alesan seje; rego minyak dunyo munggah, terus ora ono maneh solusi liane kecuali regane melu diunggahke. Ono maneh sing sibuk nyolong dhite embuh sopo. Akeh banget ketoke nek sing sibuk neng bidang iki. Ono maneh sing sibuk nyalonke dadi pemimpin daerah. Ono maneh sing sibuk dolanan narkoba. Ora tanggung-tanggung. Sing jarene aparat negara yo sibuk neng dunyo koyo ngono; lanang wedok podho wae. Lah kepiye nek wis koyo ngene iki, coba? Aku ngantek sedih, terus dadi luwe. Hah, ora nyambung yo.... Durung maneh kedadian liane sing akeh banget nek ditulis neng kene.

Terus sing mesake ki sing arep mbunuh awake dhewe. Lha koq malah ndilalahe ki tetep urip, tapi wis ora duwe sikil, mergo loro-lorone sikil sing duwe ketabrak mobil pas tibo landing seko terjun bebas. Wingi banget, ono pemuda sing markirke motore neng cedhak jembatan layang. E, lha koq langsung terjun soko kono, mbuh, nibani kendaraan sing neng ngisore jembatan kuwi opo ora. Aku tekan saiki isih ora iso mikir, ngopo yo koq bunuh diri saiki soyo ngetrend. Kayane ki wis dijamin mlebu suargo loka nek iso tegel ngilangke nyawane dhewe. Jiiiaannn.... Heran tenan aku...
Kahanane awake dhewe ora iso dianggep remeh temeh lho. Koq iso yo bongso iki ngalami ora mung musim paceklik. Tapi musim tabrakan. Ngalami musim kesurupan. Ngalami musim bunuh diri. Weee lah.... Yake setan-setan saiki podho sakti yo. Bener-bener iso apik lan rapi njalanke tugase, ngejaki wong-wong ben egois, ben kacau.

Sepanjang pengamatanku *halaaahhhh pengamat kedaden hihihi* kabeh sing wis tak sebut kuwi mau ki mergo sing neng dhuwur ki ora patek peduli marang wong-wonge. Kabeh podho sibuk ambe urusane dhewe-dhewe. Ming mikir kepentingane dhewe. Sing penting ki seneng awake dhewe. Ah embuhlah. Aku saiki yo lagi mikir ongkos angkot nek mengko dadi munggah. Moga-moga ora ono sing bunuh diri mergo kenaikan iki. Utowo, malah akeh yo mengko? Mrinding tenan mbayangke kuwi.

Wis ah, curhate cekap semanten kemawon. Senajan basaku pating pecotot, terus bahasan-ne wis ra mutu sisan, tapi sing penting aku wis usaha dening tulisanku iki ben ora lali ambe basa leluhurku.  *Dadi kelingan Panjebar Semangat :D
Wis yo, tak tutup ambe sirah ngelu, godek-godek ra jelas. Mata kunang-kunang, weteng soyo luwe, mata ngantuk. Piye karepe wis ra nggenah. Hihi.. Ra popo yo, sing penting ki tetep waras, sehat lahir batine....

Duh Gusti..... Paringono sabar, tawakal, kuat iman.


Mohon maaf yang setulusnya, bagi pembaca yang kebetulan baca postingan ini, dan tidak mengerti isinya, soalnya aku tidak menyediakan terjemahannya. Hehehe... Keep on your nice smile yaaa... :D

Senin, 12 Maret 2012

Damai




Aku menatap langit kala pagi belum menyembul. Bahkan sinarnya yang gilang gemilang itu masih jauh dari langit yang memayungiku. Mataku tak pernah lepas dari wajah rembulan itu. Sudah tidak utuh lagi, seperti hari kemarin namun ia masih saja menawan segenap inderaku. Angin menambah riasan rasa di pagi terang ini.

Satu kata : Damai.

Alam telah menyediakan begitu banyak fitur bagiku, bagimu, baginya, dan bagi mereka. Untuk apa cemburu dan iri pada satu sama lainnya?

Lantas, aku ingin berdamai dengan hatiku, sedamai pagi buta ini. Ditingkahi semerbak bunga kemuning dan kenanga. Cempakaku belum lagi berbunga. 
Damailah, wahai hatiku.... Bentuklah oase bagi ragaku. Aku ingin tegar, setegar siluet pegunungan itu.... Alirilah masa laluku dengan bening rindunya. Aku ingin memaknai damai yang sesungguhnya. Memaafkan dan dimaafkan oleh masa lalu. Lantas move on demi masa depan. Ternyata tak semudah dibayangkan. Untukmu yang sedang berjuang untuk move on, memang harus terus tetap berjuang. Bisa-bisa perjuanganmu panjang melebihi perkiraanmu. Jatuh bangun, bangun jatuh dan bangun lagi. Sepertinya, hanya doa-doa yang layak menemani perjuanganmu.