Thanks for this day.. May God bless us everyone and everywhere..
Diberdayakan oleh Blogger.
Tampilkan postingan dengan label air. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label air. Tampilkan semua postingan

Kamis, 13 Januari 2011

Gerimis Pagiku dan Fatamorgana yang Tak Bertepi

Pagi yang menyembul di antara gerimisnya
Membawa dingin dan fatamorgana di sebelah kanannya
Aku tercekat memandangnya
Terkesima melihat keindahanmu yang terekam di bulir-bulir air yang menyertaimu

Gerimis pagiku kali ini membawa fatamorgana dan kilat-kilatnya yang cantik
Penuh pesona dan unik...?
Benarkah kau hanya fatamorgana yang tak bertepi...?
Tidak...! Bukan...!
Kau bukan fatamorgana...!

Sesaat kau terdiam
Beku dengan jubah birumu
Bermahkotakan gerimis pagiku
Di antara pilar-pilarnya kau berlindung

Sejenak kuayun langkahku ke arahmu
Menembus jutaan pilar gerimis pagiku
Ingin kupeluk tubuhmu di sana
Di antara rinai-rinai gerimis pagiku yang menghujam tubuhku

Perih bagai jutaan duri yang melukaiku
Tubuhku berdarah...
Gerimis pagiku memerah
Mengalirkannya ke arahmu

Namun kau tetap tak bergeming
Dingin menambah sayatan di sekujur tubuhku
Entah mengapa aku tetap ingin berlindung di tegapnya dirimu
Berlindung di dadamu yang bidang dan teduh untuk sejenak menghindari terpaan dari hujaman gerimis pagiku

Tinggal satu langkah lagi saat aku hendak menggapaimu
Aku kembali tercekat
Tertegun mendapati kau tak ada di sana
Aku menangis sambil menengadahkan wajahku
Biar duri-duri itu menerpa wajahku
Biar wajahku berdarah pula dengan kepalanya

Luruh...
Adalah kata terindah yang paling indah
Letih tubuhku kan kusandarkan pada bumi dan air yang mengantarkan ribuan cc darahku
Dan tetap membiarkanku terbaring di sana
Dengan fatamorgana yang sepi dan akhirnya menghilang
Seiring berlalunya gerimis pagiku kali ini...

Rabu, 22 Desember 2010

Lihat dan Kecaplah

Sayang,
Lihat padu padan dari langit dan laut itu
Mereka sungguh sangat serasi
Sama-sama memiliki keluasan yang tak terhingga
Sama-sama berwarna biru
Lihat pantulan lautan di langit biru itu
Lihat pantulan langit di air laut itu

Sayang,
Lihat dedaunan yang bergoyang mesra itu
Lincah dan santun mengiringi setiap gerak sang angin
Kecaplah kesegaran angin yang menerpa ragamu
Ia kan selalu menjadi udara segar bagimu
Ia kan selalu menjadi nafas bagimu

Sayang,
Lihat bintang-bintang yang bersinar di malam ini
Semarak seindah geriap surgawi
Bersama rembulan ia kan menemani
Dalam malam-malam di antara mimpi-mimpimu

Sayang,
Lihat matahari yang bersinar di setiap pagi yang kau selami
Ia selalu memberi kehangatannya
Sesaat setelah sang embun berlalu kembali ke langit
Sudah berapa juta ton buah dihasilkan karena sinarnya
Dan berapa jenis tumbuhan dan hewan yang tumbuh sempurna karenanya

Sayang,
Tak terhitung semua hutang kita pada alam semesta raya ini
Segala pepohonan telah menghasilkan pakaian bagi kita
Segala sinar telah menentramkan hidup kita
Segala air telah menghidupi; menjawab segala kebutuhan kita
Segala udara telah terhirup hingga kita kembali padaNya

Berapakah hutang kita pada alam semesta ciptaanNya ini...?
Tak kan pernah terhitung sudah...
Bagai hutang kita pada air susu yang telah ibu keluarkan
Tak kan pernah sanggup kita membalasnya

Maka
Kecaplah itu sebagai sebuah anugerah yang tiada bandingnya...
Karena tanpa kita minta mereka telah memberikan bagi kita
Karena kita tak kan pernah bisa melunaskannya sampai kapanpun
Hanya dengan santun dan rendah hati
Kita rawat apa yang telah kita kecap
Sebagai sebuah lestari yang abadi...


* Inilah bait-bait tulusku bagi bumi dan seluruh alam yang telah memberi dan memberi bagi penyelenggaraan kehidupan ini


#30haripuisi #Day19 : Hutang

Senin, 20 Desember 2010

aku dan punggungku

Rembang petang ini
Ketika hujan dengan tanpa basa basi mengguyur kota
Mempersembahkan percikan-percikan penuh warna kelabu
Melaju dalam satu lintasan yang kupilih

Aku ingin segera pulang
Hingga aku korbankan magnumku
Demi percikan air hujan ini
Deras... Menciptakan geriap ke bumi...

Punggungku menyambut kehadiranmu
Kubiarkan percikanmu membasahi punggungku
Menimpa di sekujur lurusnya

Pukulan-pukulanmu halus, tapi kadang membuat perih punggungku
Dingin, beku...
Letih aku menyangga setiap derai pukulanmu
Hingga sisa perjalananku ini terasa panjang dan melelahkan

Sabarlah, wahai jiwaku...
Tataplah jalanan kelabu di depanmu
Tetap tersenyumlah seiring langkahmu
Sebentar, pelangi senja kan menaungimu hingga kau terlelap dalam teduhnya...

Rabu, 20 Oktober 2010

Gamang

Dadaku...
Mengapa terasa perih...?

Melihat beban bumi yang semakin berat...

Lihatlah, betapa hujan tak kunjung berhenti...

Hujan...
Aku mencintaimu dengan segenap hatiku

Tapi kumohon...
Hentikanlah cucuran airmu dari langit luas ini sekejap saja

Bumimu sepertinya tak sanggup lagi untuk menahan deraianmu

Hujan...
Layaknya padamu, aku juga mencintai bumi

Lihatlah panen di kebun seluas itu, padi di hamparan itu, tak bisa lagi menampakkan keceriannya bagi kami...

Apakah kau marah pada kami, wahai elemen air...?

Selasa, 19 Oktober 2010

Pagi, Kutitipkan Rinduku Pada Embunku

Embun,
Apa kabarmu...setelah kau curahkan air-airmu di segala penjuru bumi...?

Embun,
Apa kabarmu...setelah susah payah kau sejukkan bumi dan segala isinya...?

Embun,
Apa kabarmu...setelah kau dibawa sang angin dan mentari yang menguapkanmu...?

Kuharap kau baik-baik saja
Kuharap kau tak jenuh untuk mencurahkan segala yang kau miliki bagi seluruh bumi
Kuharap kau tak kenal lelah untuk tetap menjadi kristalnya sebuah pagi

Pagi yang berlanjut hingga dia berada di genggaman semburat senja
Selalu berkarya dengan kebeningannya
Membuka hari dengan berseri-seri
Diikuti wangi kembang yang kian semerbak

Dan akhirnya...
Kutitipkan rinduku pada embunku, Pagi...
Karena engkau akan segera berlalu
Menjadi sebuah hari yang teramat cantik dengan membawa serta embunku...

Sabtu, 16 Oktober 2010

hujan sexy

Saat kuterjaga karena senandungmu
Di pagi ini yang kelabu
Tampak air-airmu sedang bermain bersama embun pagiku
Di balik tirai jendela yang kusibak dengan penuh senyum
Menyambut pagi yang berwarna hujan...

Meliuk-liuk aku lihat engkau
Menari-nari menyiram bumi dengan penuh kasih tulus
Kau halangi sejenak mentari pagi yang tersenyum
Untuk sekedar aku nikmati hadirmu
Selalu dan selalu...
Kau ingin terlihat eksis dengan menghalangi senyum mentari dengan awan-awanmu yang membuatmu luruh ke bumi

Airmu cintaku
Aku tengadahkan wajahku ke atas...
Aku nikmati bulir-bulir airmu dengan sepenuh hati
Aku ingin bersahabat denganmu, wahai hujan
Aku ingin bermain-main denganmu saat ini

Liukkanlah terus badan airmu sesuka hatimu...
Agar senantiasa kunikmati harummu
Bersama senyum embun pagiku
Yang kian merona bagai mutiara kristal yang cantik
Senantiasa mengajakku tersenyum

Liukkanlah selama engkau suka
Dengan jemarimu yang lembut membelai bumi
Menabur kedamaian dan kesegaran
Sebagai pengobat rinduku padanya.....



* Menikmati hujan yang sexy di kala pagi, sambil menikmati pula kue serabi hangat setelah puas menengadahkan wajah ke langit....
setelah beberapa hari Bandung panas...dengan sinar mentari yang menyengat...:)

Jumat, 08 Oktober 2010

genangan...

Air itu...
Masih menggenang...
Di sisa hujan sore itu...
Saat mentari mulai enggan menyinari bumi ini

Air itu...
Masih menggenang...
Di pagi buta ini...
Perihpun ikut menyertainya...

Akankah sinar matahari dengan tulus menguapkan genangan air itu...?
Air mata tulus dan penuh keindahan...
Mengalir dari hati yang putih...
Sebening embun yang selalu dirindukannya....

Kamis, 07 Oktober 2010

hujan penuh warna

Sayang,
Pernahkah kau lihat betapa hujanpun memiliki warna?
Warna-warni alami yang sangat agung dan istimewa?

Sayang,
Pernahkah kau lihat betapa hujanpun sanggup memercikkan bunga api yang eksotis menghias dirinya di antara rinainya yang tak terbendungkan oleh angin sekalipun?

Sayang,
Pernahkah kau dengar nyanyian hujan itu sendirian; tanpa alas kau injak air-airnya di bumimu, dan tanpa tudung kepala kau tengadahkan wajahmu menyambutnya?

Sayang,
Pernahkah kau perhatikan betapa hujan turun dengan riang tanpa beban dan kesakitan, menjatuhkan dirinya ke bumi demi sebuah damai sehabis gejolak panas yang membara?


Sayang,
Pernahkah kau merasakan bahwa di balik hujan itu ada setangkup cinta yang sanggup menyemaikan ketulusan dan kesetiaan sampai nanti?

Hujan ini...
Indah karena kehadiranmu

Semua warna warni, kedamaian, nyanyian merdu, berikut keheningan dan bahkan cinta ini ada karenamu...

Hujanpun sanggup mengantarkan wajahmu yang menawan dengan senyum memukau hadir di hadapanku untuk segera kubelai dengan penuh kerinduan...



* Masih bencikah kau pada sang hujan?

Sabtu, 25 September 2010

saat hujan reda

Ketika kembali pulang
Dalam senja berbalut rinai hujan
Tak berapa lama hujan itu reda
Hilang...musnah, seiring kehadiranmu

Siapakah kau...?
Yang selalu memberi kedamaian jiwa
Yang selalu membuatku tersenyum
Mengembang, indah, dan tulus dalam detik-detikku...

Ingin kunanti lagi
Saat hujan reda
Agar aku kembali menemukanmu
Dari balik tirai air yang tercurah dari langit luas ini...

Minggu, 12 September 2010

sore wangi

Ketika siang teduhku merangkak menjadi sebuah sore...yang wangi...menyegarkan...

Memang, sore wangi ini kali terbalut hujan dengan angin yang menyertainya...

Membawa wangi air dan angin itu sendiri

Mengirimkan keteduhan dan kedamaian seusai hujan reda...

Kunikmati segala suasana ini berikut hujan-hujan yang memercikkan airnya ke bumi ini

Sore wangi...
Sebuah sore yang menyambut senja...

Syukurku lagi-lagi tergores, terlantun dengan penuh jiwaku...

siang teduh

Dalam jiwa bersambut, ketika siang mulai menyapaku...

Embun pagiku sudah sekian lama pergi meninggalkanku
Menyusuri alam raya di depanku bersama sang angin yang mengantarkannya kembali ke langit
Bersama bantuan sinar mentari yang berkenan membawa embun pagiku menuju singgasananya kembali
Meski ia telah pergi meninggalkanku yang bagai pergi begitu saja, namun sesungguhnya ia telah meninggalkan jejak yang sangat berarti bagiku...

Ia telah membuat siangku amat teduh
Meski mentari dengan garangnya hendak membakar kulitku
Ia telah membuat siangku tak menyilaukan
Memancing gairahku untuk tetap menikmati siang ini tanpa berkedip barang sedetikpun...!!

Siangku yang masih sejuk segar
Dengan langitnya yang biru bersih
Dihiasi serpihan cumulus nimbus nan cantik

Aahhhh...
Indahnya kemilau siang ini dengan segala aktivitas yang memikat pula
Lagi-lagi angin menyapaku dengan semilirnya...

Sehabis aku berlama-lama bercanda dengan sang pengawal hari yang semerbak pagi itu...
Kini, aku ingin memasrahkan diri dan segenap batinku pada sang tengah hari yang kian bersahabat ini...



*but... I'm still missing you...more and more, my dew...:)

pagi semerbak

Kulihat siluet pegunungan nun jauh di sana...
Gunung gemunung yang terlihat dekat dan berjajar
Tangguh...!! Gagah...!!
Mempesonakan setiap mata yang melihatnya
Dengan cakrawala yang masih gelap hendak melahirkan sang mentari

Di ufuk timur inilah, kurebahkan segenap pandangan mataku
Pagi semerbak...dengan angin yang membawa wangi bunga
Entah wangi bunga apa saja yang tersebarkan menuju indera penciumanku ini
Yang pasti...semerbaknya tiada tara
Menerbangkan imajiku...
Membuat bius bagi otakku...
Melahirkan candu yang demikian tak bisa kuhindari

Hening, sunyi, dan agung...
Embun pagiku menatapku manja...mesra...dan berwibawa
Angin yang masih semilir...
Membawa sejuknya embun pagiku...
 
Aaahhh......
Semuanya ini telah berhasil membawaku menuju puncak syukurku yang tertinggi
Tiba-tiba aku terduduk, dan bersimpuh...
Bertelut di bawah suasana pagi semerbak ini

Bersama embun pagiku...
Bersama angin sejukku...
Bersama sinar ceriaku yang sebentar lagi nampak...
Bersama seluruh auranya pagi ini...
Entah berapa lama lagi aku bermain-main bersama pagi semerbak ini.........



* I'm still miss you much....my dew...

Kamis, 09 September 2010

rinai hujan tercantik malam ini

Hujan tercantikku...
Yang tercurah saat malam yang sepi
Kehadiranmu sungguh dapat mengingatkanku padanya
Pada segala yang telah lalu...

Saat aku dan dia berjalan di pematang sawah itu
Duduk di bawah pohon rindang yang meneduhkan
Bercerita tentang keindahan saat capung-capung bertebaran, bercanda dengan lincah bersama kawanannya
Sambil kau genggam tanganku yang karenanya sungguh sangat menggemuruhkan jantungku...!

Menikmati terang bulan di lincak depan rumah
Seutuhnya hati terjerembab kelu
Ditemani kedip ribuan kunang-kunang yang seolah berkata, "di bawah sinar rembulan ini, aku menjadi saksi dari kemesraan kalian..."

Menjadikan kita utuh tersiram hujan sepanjang siang itu
Hingga hari berbalut malam, rinainya masih saja kita nikmati
Hujan, memiliki kasihnya tersendiri untukmu dan untukku
Ia sanggup membuat kita semakin saling mengenal
Saat pertama kali kau kecup keningku
Dengan belaian angin nan lalu
Lagi-lagi ia seolah berkata, "di bawah rinai hujan ini, aku ingin menjadi bagian dari kemesraan kalian..."

Helai demi helai benang berwarna warni tanpa disadari telah terajut menjadi sebuah untaian untuk dijadikan sebuah pematang bagi kehidupanmu, juga kehidupanku

Keramahan alam ini, cinta kasih ini ingin kusimpan selalu di seluasnya samudera hatiku, di kedalaman palung sukmaku
Karena... aku menghormati jiwamu, menghargai ragamu

Jumat, 13 Agustus 2010

Resapilah



Sayang...
Apa yang kau gusarkan tentang Tuhan?
Lihatlah sekumpulan awan yang berarak itu, kemudian dia mampu basahi bumi yang tandus dan gersang dari tempat yang sangat jauh dan tinggi dengan butiran-butiran lembutnya yang luruh penuh kesantunan. Dapatkah kau bayangkan seberapa jauhnya dan mampukah kau mengukurnya?

Sayang...
Apa yang kau ragukan tentang Tuhan?
Lihatlah burung-burung di angkasa, cermatilah sarangnya...
Siapakah yang membuatnya, selain naluri yang telah Tuhan berikan pada mereka?
Mereka mampu bertahan hidup dalam segala musim, dengan makanan yang telah disediakanNya, dengan baju hangat yang telah dibuatNya.
Lihatlah bunga-bunga yang cantik dan penuh pesona itu.
Siapakah yang mendandaninya dengan warna-warni eloknya?
Siapakah yang memberinya parfum, sehingga bunga-bunga itu jika bermekaran sanggup mempersembahkan wewangian terindahnya dengan tulus? 
Bahkan wanginya wangi itu sanggup kita hirup dengan atau tanpa angin yang membawa keharumannya

Sayang...
Apa yang kau sangsikan tentang Tuhan?
Lihatlah lautan yang berombak itu...
Siapakah yang membendung air-airnya hingga ia tidak tumpah ke daratan?
Berapa meter kubikkah air yang terkumpul di sana?
Sanggupkah kau untuk memberi rasa asin di seluruh airnya?
Sanggupkah kau menyelami luasnya?
Menyelamlah hingga ke dasar samuderanya...!
Hitunglah pula pasir-pasirnya...!
Siapakah yang menanam ikan-ikan dengan berjenis-jenis dalam keindahannya tersendiri?

Sayang...
Apa yang kau kesalkan tentang Tuhan?
Lihatlah bintang-bintang yang gemerlap di malam hari.
Layaknya pasir-pasir putih di pantai itu...
Sanggupkah kau menghitungnya?
Sanggupkah kau membentuk rasi bintang sesuai kehendakmu?
Sanggupkah kau meretas ikatan rasi yang ada di langit luas itu?
Siapakah yang mengatur bulan agar bercahaya, meski dia kadang sabit, sepotong, dan saat dia utuh?
Siapakah yang mengatur waktu, sehingga bulan itu berganti dengan bola api raksasa yang siap menyinari hari-harimu dari atas sana untuk setiap pagi yang menjelang?

Sayang...
Apa yang kau keluhkan tentang Tuhan?
Lihatlah gunung-gunung tinggi menjulang, dengan hutan-hutannya yang asri menyegarkan, buah-buah ranum pada setiap musimnya, sungai yang mengalirkan air-airnya ke lautan
Sanggupkah kau menelusuri  sungai-sungainya?

Sayang...
Apa yang kau gelisahkan tentang Tuhan?
Rasakanlah angin sepoi ini dengan tebaran keikhlasanNya...
Sanggupkah kau melihatnya, selain kau pasrahkan dirimu pada kuasa seluruh inderamu, pada yang menciptakanMu? 
Biarkanlah DIA dengan kekuasaanNya, membingkai dirimu dan hidupmu dengan seutuhnya, menyeka air matamu yang tak henti berderai, menggendong dirimu saat kau terjatuh, dan  bahkan susah untuk bangkit kembali
Biarkanlah pula DIA hadir pada saat-saat bahagia kita...
Sayang...
Resapilah Tuhan... DIA selalu tak henti membuat keindahan dan berbagai keajaiban bagimu. Bahkan, saat sehelai daun jatuh dan mengenai kepalamu sekalipun...
 
Sayang...
Resapilah Tuhan... DIA selalu ada untukmu, DIA ada di setiap deraian nafasmu. DIA tak pernah jauh darimu, kecuali jika kau tak menyadari kehadiranNya.
DIA hadir lewat hal yang paling sederhana...
DIA ada lewat senyum termanis dan terbaik, serta ketulusan dari sesamamu; siapapun dia, orang-orang sekitarmu yang mencintaimu dengan apa adanya, karena bagaimanapun adanya dirimu, kaupun terlahir dalam nama cinta....

Jumat, 06 Agustus 2010

memaafkan dan meminta maaf : filosofi embun pagi


Luka batin akibat merasa disakiti, dibohongi, ditipu, dikecewakan, dan berbagai macam bentuk "di" lainnya, pastinya akan memberi pengajaran pada kita untuk lebih bijaksana, dewasa, dan berhati-hati lagi dalam menghadapi kehidupan kita sehari-hari.

Karena berbagai faktor, orang lain yang sudah kita percayai, kadang bisa membuat luka di batin kita, yang menurut kita sukar untuk disembuhkan.

Jika saat ini kita termasuk orang yang sedang dilukai batinnya... 

Apakah kita harus egois, angkuh, congkak, sombong, arogan, dengan apa yang sedang kita rasakan? Haruskah kita terus tenggelam dalam perasaan-perasaan atas luka-luka batin kita, sementara setiap orang sudah memiliki jalan hidupnya sendiri-sendiri?

Memaafkan, kemudian menjadi salah satu aktivitas yang sangat merugikan bagi kita... Padahal, kemuliaan insan terletak pada aktivitas yang satu ini. 

Tak sayangkah kita pada hati kita sendiri, dengan memendam dendam berkepanjangan, dengan membiarkan rasa sakit terus larut di dasar lubuk hati kita...? 
Lalu pertanyaannya adalah...Inikah kita?

Pun jika saat ini kita termasuk orang yang melukai hati orang lain, kita ternyata dengan tanpa sadar telah menyakiti hati orang lain, yang dekat dengan kita. dan yang  kita sudah kita percayai.
Apakah kita akan tetap arogan dan egois dengan segala kesalahan kita? 
Lalu pertanyaannya adalah...Inikah kita?

Meminta maaf menjadi sebuah aktivitas yang menurut kita akan menjatuhkan harga diri kita. Padahal, meminta maaf dan menyadari kesalahan kita sebagai manusia biasa ini, adalah merupakan bentuk kerendah hatian kita, menghormati orang lain dan memohon berkah dari orang yang telah kita sakiti, meski kita tak bermaksud menyakitinya. Menjaga hati orang lain, mulia bagi kita, menuntun langkah kita ke depan agar kehidupan kita menjadi lebih baik lagi.

Belajar pada embun pagi yang selalu setia datang ke bumi meski awan tebal menyertainya, meski hujan dan badai sedang bergemuruh, meski kelak matahari tak sanggup meluruhkan sinarnya ke bumi karena awan yang menghalanginya, meski angin kian berderak kencang menggoyangkan pohon-pohon hingga ke rumput yang paling bawah sekalipun...

Dia, selalu datang ke bumi dengan ketulusannya, berniat menyegarkan dan meyejukkan hari ini, dan hari-hari kita selanjutnya. Ada atau tidak ada matahari yang kelak menguapkannya. Ada atau tidak ada angin, yang kelak menyapu bersih setiap butir-butir beningnya. Dengan rendah hati pula, embun turun tanpa kita tahu kehadirannya. Yang kita rasakan adalah kesejukan yang dibawanya; ciri khasnya yang teramat indah... Bagai kristal cantik dengan kualitas sempurna. Embun akan selalu datang tak peduli kita bisa menikmati keindahannya atau tidak. Namun satu yang pasti, bahwa sang embun mempunyai niat yang baik, menyatakan kesegaran dan kebeningan alamiahnya yang eksotis.

Mampukah kita seperti embun pagi? Dengan kehadirannya yang sederhana tapi memikat setiap mata yang memperhatikannya. Lihatlah butiran-butiran embun di dedaunan itu, atau di atas kembang yang berwarna warni, atau di rerumputan itu... Cantik bukan...? Dia selalu menawarkan dan memberikan sejuk dengan damainya merata bagi seluruh bumi.
Menguak harapan baru di setiap hari-hari baru kita pada detik-detiknya.
Meski dia datang dari langit, dia tak akan pernah lupa dari mana dia berasal...


* memaafkan dan meminta maaf memang menuntut adanya keikhlasan, kebeningan, dan kerendah hatian dari jiwa kita...

Kamis, 15 Juli 2010

langitku malam ini

Ketika matahari tak berkenan membagi cahayanya pada rembulan

Ada setitik gundah kutemukan di senyumnya malam kali ini

Cahaya bintang yang meredup, terlihat sangat rapuh seiring awan yang berarak tak tentu arah; begitu pasrah di bawa sang bayu

Langitku malam ini berkisah tentang kepedihannya yang sangat mendalam, meski tak ada mendung yang membuat hujan sebentar lagi turun

Malamku...begitu sempurna merayu gelap dan sepi; hingga akupun tak kuasa untuk bertutur kata, walau hanya dengan berbisik sekalipun

Kau membiarkan angin membawa udaranya yang dingin, dengan kabut pekat yang khas dan membuat helai-helai dedaunan itu melayang dan rubuh seiring takdirnya diiringi suara jangkrik dan suara-suara malam lainnya

Wahai langitku yang mulia dan tak berbatas, maafkan kami yang selalu memberikan segala bentuk polusi buatmu

Mungkin itukah yang membuatmu murung?

Sehingga bintang-bintang begitu memudar, dan rembulanpun kau sembunyikan jauh-jauh di balik punggungmu...

Semoga kau tak menyembunyikan pula setiap tetes embun yang harus luruh ke bumi dengan rendah hati berikut kesejukannya yang tiada tara...

Minggu, 27 Juni 2010

lepas sesaat

Berbaring di atas rerumputan, bersandar pada bumi yang ada di bawahnya

Memandang langit luas; biru tersaput awan-awan putih

Mereguk indahnya pagi berseri bersama udara yang mengantarkan ribuan wangi bunga

Bersama embun pagi yang cemerlang, bak percikan air surgawi yang diturunkan ke bumiku

Bermain bersama kupu-kupu yang hinggap di daun

Bersama alunan gemericiknya air sungai bening yang menimpa bebatuannya

Aku enggan beranjak dari tempat ini
Beranjak dari keagungan alam yang telah berkenan memberikan seluruh aromanya...
Rerumputan, dedaunan, mentari berikut kehangatannya yang teduh dan mesra, angin yang tak henti mencumbu dedaunan dan menyapaku penuh senyum...

Aahh...memukau jiwa, membangkitkan syukurku

Aku ingin menanam cinta kasih dan keramahannya

Di sini, di padang rumput ini

Di bawah rerimbunan pohon yang menjulang tinggi

Aku ingin lepas sesaat dari hingar bingarnya dunia

Menyepi dengan kesenyapan alam dan bahasanya yang santun

Dia senantiasa berbisik manja untuk mengajakku selalu bersyukur dalam pelukan rinduku bagi alamku tercinta...


*selamat pagi......
Meski kemarin sore di dalam hitungan detik, bumiku sedikit bergoyang dalam 6.3 SR di kedalaman 34 km dengan pusat gempa di Tasikmalaya.
Semoga syukur tulusku saat ini sampai ke lapisan bumimu terdalam, untuk kau simpan di setiap lapisanmu dan sanggup membuatmu tersenyum kembali...

Rabu, 23 Juni 2010

butir-butir embun di daun


Butiran embun di daun pagi ini, yang ikut terbawa oleh angin...
Sejuk segarnya bukan sekedar di sebatas mataku saja
Namun, sampai pada ujung hatiku; selalu

Aku tahu, rindu ini selalu saja ada
Setiap saat aku memandang embun pagiku...
Ceria, cemerlang, namun penuh haru
Dalam langkah-langkah nan rendah hati.....


***** Wah...senangnya...hehehehe...akhirnya aku dapet award juga dari Ariya Theonata... Terima kasih atas award ini, dan ini adalah merupakan award pertamaku, yang dinamai oleh Sang Pemberi Award dengan nama Friendly Visitors.

Harapannya, semoga persahabatan ini semakin bisa terjalin dengan lebih baik lagi, dari hari ke hari...

Senin, 21 Juni 2010

Nikmatilah...!


Nikmatilah setiap udara yang terhembuskan
Tak usah ragu kau menghirupnya
Semua ini telah tersedia bagimu
Dengan segala kesejukannya

Nikmatilah setiap air yang tercurah bagimu
Dari setiap hujan yang mengaliri lautan luas, dan sungai-sungai
Membentuk titik-titik embun yang cemerlang
Membentuk mata air dan sumur-sumur
Juga air terjun dalam segala keheningan dan kemurniannya
Dengan partikel-partikel yang menyuburkan bagi bumi dan tetumbuhan di atasnya

Nikmatilah segenap cahaya dari sumber api yang bernyala-nyala
Dari jutaan mil jauhnya, yang senantiasa mampu menghangatkan hari-harimu
Penuh warna dan hijau daun yang terciptakan berkat campur tangannya pula

Nikmatilah hasil bumi yang melimpah ruah
Pijaklah bumi yang dengan rendah hati berkenan menghasilkan segala rupa bagi seluruh kehidupanmu
Pijaklah dia dengan suka cita namun tetap santun

Pejamkanlah matamu...hanya dengan memejamkan matamu...
Satukanlah seluruh inderamu; rasakanlah betapa dirimu teramat mulia bagi mereka
Dengan senang hati dan penuh ketulusan, sekali lagi dan sekali lagi, mereka berkenan menyediakan segalanya bagimu
Maka, sepantasnyalah engkau merawat dan mencintai mereka dengan senang hati dan dengan segenap ketulusanmu pula
Unsur-unsur alam yang tak mungkin terpisahkan satu sama lainnya...
Unsur-unsur alam yang senantiasa setia dan jujur......
Merekalah cermin dari setiap perbuatan kita

Selamanya, bumi berputar pada porosnya......


* sungguh Maha Agunglah DIA yang telah menyediakannya bagi kami... siapakah kami ini, hingga Engkau benar-benar mencintai kami...? 

Jumat, 21 Mei 2010

belaian hujan malam ini


Rinai hujan yang datang di malam ini, bercerita tentang dirinya
Satu persatu tirainya yang lembut sanggup memanjakanku di antara penat dan letihku sepanjang hari tadi
Hangat penuh keteduhan
Ramah memagut jiwa, mencumbu rasa
Damai segera menyebar dalam setiap tetesannya

Siap menyelubungi dengan airmu yang mulia
Di bumi yang gersang, pada segenap tanaman dan pepohonan yang dahaga
Kini kembali segar tersirami rintik-rintikmu yang syahdu dengan romantisnya

Belaianmu menemani saat istirahatku dengan romansa yang sangat cantik
Menidurkanku dalam biusnya yang alami
Membiarkan sel-sel di dalam seluruh tubuhku melakukan regenerasi
Dengan sempurna, penuh kasih sayang

Selamat malam hujan tercantikku
Hujan yang penuh romansa keindahan
Biarkan aku tertidur dalam dekapanmu, dalam pelukanmu
Hingga kau menjadi embun pagiku
Esok, masih dalam pelukanmu...



Bandungku, selamat malam, mungkin masih banyak aktivitasmu di malam hari ini