Thanks for this day.. May God bless us everyone and everywhere..
Diberdayakan oleh Blogger.

Senin, 04 Oktober 2010

semua sayang kamu : akhirnya senyum itu terbenam dalam pelukanku

Pagi ceria menyapaku dengan segenap ketulusannya...
Tatkala kulihat wajahnya ada di antara senyum yang merekah di bibirnya...

Kupanggil namanya...
Bergetar bibirku mengucapkannya...

Dalam sekedip mata, senyumnya segera mengembang dan terbenam dalam pelukanku...

Kuurai air mataku...

Menandakan sebentuk cinta buatnya, yang mungkin tak pernah terselami olehnya dalam rentang waktu sekian ratus hari...



* terima kasih ochie...kamu udah kembali pulang...dengan senyum mengembang indah...:)

Minggu, 03 Oktober 2010

Berdenyut, Berdesir, Berdarah!

Dengarlah jantung nadiku yang berdenyut...
Detaknya yang memompa ke setiap urat syarafku di bagian-bagian yang halus...
Semua mengalirkan kasihmu...

Dengarlah jantung nadiku yang berdesir...
Desirannya sanggup memburu hingga ke seluruh penjuru tempat yang gelap dan sempit sekalipun...
Semua mendesirkan kasihmu...

Lihatlah bentuk dan wujud diriku...
Hatiku yang terluka, hingga berdarah dan bernanah...
Sanggup mematikan ragaku...
Namun, tak kan pernah sanggup mematikan cintaku padamu...!!!

Jumat, 01 Oktober 2010

KESAKTIAN PANCASILA : masih saktikah...?

Pancasilaku...
Masihkah kau sakti...?
Lihatlah rakyatmu...
Berlomba-lomba saling berebut...
Entah memperebutkan apa...

Semua sedang sibuk
Menyemaikan ego di hati orang-orang
Keakuan yang membentuk perilaku yang anarkis
Marak, bagai sebuah trend yang sayang jika dilewatkan begitu saja

Pancasilaku...
Masihkah kau ada di hati rakyatmu...?
Sementara orang-orang berlomba untuk korupsi
Mengambil sesuatu yang bukan haknya
Membunuh yang bukan merupakan haknya pula...

Pancasilaku...
Masih banyak pula rakyatmu yang tak bisa mengingat tiap butir-butir di tubuhmu...
Apalagi untuk mengamalkannya...
Negeri yang sudah kau jaga untuk rentang waktu yang lamapun
Tak bisa merasuk dan tertanam megah di hatinya...

Aku..
Tak bisa berkata apapun lagi...
Aku...
Hanya ingin kau tetap berkharisma, tetap bergaung
Di dalam kehidupan rakyatmu
Di dalam sehari-harinya, di manapun berada...

Dan...
Akupun hanya bisa tertunduk lunglai...
Terbakar oleh senyummu yang semakin menyayat...

kolaborasi antara sang jabang bayi dengan seekor anjing

Dikisahkan dua orang kakak beradik yang tinggal berlainan kota. Sang kakak bernama Tina telah bekerja di Kota Bandung, sedangkan adiknya Tini masih tinggal bersama kedua orang tuanya di Yogyakarta, yang telah lulus SMU, dan atas anjuran orang tuanya, maka Tini pun hendak kuliah di Bandung dan tinggal masih di rumah orang tuanya yang ada di sebuah kawasan elit di Bandung Utara bersama kakaknya.

Pagi yang cerah menyambut Tini di Kota Kembang ini, dan setelah tiba di rumah kakaknya, ia terkejut melihat seorang pria dengan kaos oblong dan celana hawainya keluar dari rumahnya, ikut menyambut Tini.
"Siapa laki-laki ini?" pikir Tini, namun ia tak banyak tanya kepada kakaknya, Tina.

Ia hanya kangen pada kakaknya dan Doggy, anjingnya yang lucu. Sewaktu dibawa kakaknya ke Bandung, Doggy masih sangatlah kecil.
"Kak, Doggy udah gede ya," ujar Tini pada kakaknya sambil membelai kepala Doggy dan ngeloyor masuk ke kamarnya. Tina hanya tersenyum.

Malam belumlah larut, ketika Tini hendak membasuh wajahnya di wastafel. Samar-samar ia mendengar satu suara tangisan bayi. Tapi ia tak menghiraukannya, meski hatinya bertanya-tanya: anak siapa yang menangis malam-malam begini.

Ia pun kemudian membasuh wajahnya di wastafel. Namun sesaat ketika badannya berbalik, ia melihat sesosok bayangan putih dengan rambut yang panjang terurai menutupi wajahnya, dengan menjinjing kepala seperti janin di tangannya. Ia pun tersentak kaget, namun ia masih bisa menguasai diri, sehingga ia tak sampai pingsan dan malah sosok bayangan itupun selintas berlalu.

Belum lagi reda rasa kagetnya, tiba-tiba datang Doggy, menatap tajam ke arahnya dan ia pun lari ke halaman belakang. Ia duduk di situ dan tak pernah mau beranjak dari tempatnya.
Tina yang tiba-tiba datang, dengan keras menendang Doggy hingga ia menjerit dan akhirnya beranjak dari tempat dimana ia duduk.

***

Pagi kembali datang dengan sinar mentarinya yang menghangatkan. Tini kaget setelah melihat ada sejumlah orang berkumpul di halaman belakang, dan serta merta melihat kakaknya menangis. Ada seorang dokter hewan di sana. Ternyata, Doggy telah mati dan dikuburkan di halaman belakang. Tini hanya bisa terdiam kelu...

Hari bergeser menjadi malam. Malam yang kian larut. Tinipun merebahkan tubuhnya. Selintas, ia kembali mendengar suara tangis bayi dan lolongan anjing. Entah ada kekuatan dari mana, sehingga ia berani mencari asal suara itu. Langkahnyapun tertuju ke halaman belakang rumahnya. Taman yang asri dan sejuk itu menjadi sebuah dingin yang menyayat, saat kedua tangannya dengan mendadak menggali tanah-tanahnya hingga kuku-kuku dan jemari tangannya terkelupas seluruhnya. Kedua tangannya perih, nyeri dan berdarah-darah. Tapi Tini tak sanggup menghentikannya. Ia terus saja mengais-ngais tanah itu.

Hingga saatnya, penggaliannya selesai juga. Di akhir pencarian dengan kedua tangannya itu, ia menemukan bungkusan berwarna putih, dan begitu dibuka betapa kagetnya ia, karena bungkusan itu berisi janin bayi. Ya, telah berbentuk seorang bayi.

Dengan kesadaran penuh, pagi harinya, kemudian Tina mengakui semua yang telah dilakukannya. Bahwa janin yang dikuburkan di halaman rumah itu adalah anak yang dikandungnya dari hasil hubungan di luar nikahnya bersama pacarnya; sang pemakai kaos oblong plus celana hawai yang pernah dijumpai Tini beberapa hari lalu.

Dan...Doggy, sang anjing yang sempat hendak menunjukkan sesuatu kepada Tini, juga telah dibunuh oleh Tina. Tina membunuhnya karena gelagat dari Doggy, sehingga ia takut bahwa segala yang telah dilakukannya akan ketahuan oleh orang lain, khususnya oleh adik dan keluarganya.

Ternyata, seekor anjing dengan instingnya dapat menunjukkan sebuah kenyataan bukan hanya saat ia masih bernyawa. Hingga ia matipun, Doggy masih sanggup menunjukkan sebuah kebenaran dengan berkolaborasi bersama janin tersebut.



* Inspirasi kisah ini diambil dari Nitemare Sidenya Ardan FM