Thanks for this day.. May God bless us everyone and everywhere..
Diberdayakan oleh Blogger.
Tampilkan postingan dengan label reflection. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label reflection. Tampilkan semua postingan

Selasa, 31 Juli 2012

Kalau Salah, Saya Marah Lho!

Menjadi 'pelayan' atau lebih tepatnya melayani orang lain memang gampang-gampang susah. Ada kalanya emosional dari orang yang dilayani tersebut lebih dominan ketimbang rasa pemaklumannya. Entah karakternya yang demikian, atau hanya keinginan sesaatnya yang ingin disebut bahwa dia berada di level yang lebih tinggi daripada yang melayani, aku tidak boleh berburuk sangka.

Namun, yang aku alami ketika aku bertugas sebagai salah satu penerima tamu di sebuah acara wisuda Sabtu lalu, yang dimulai sejak pagi hingga siang menjelang sore, aku seperti merasa diancam oleh salah satu tamu undangan yang kebetulan berkomunikasi denganku.

Ucapan "Kalau salah, saya marah lho...." yang keluar dari bibir seorang bapak itu, membuatku berkerut kening. Saat itu, ia masuk ke tempat acara dari pintu yang salah. Karena para tamu undangan yang hadir harus mendaftar dengan memperlihatkan kartu undangannya, untuk mendapatkan kotak snack, maka mereka harus masuk melalui pintu yang ada di selasar barat, yang artinya, dia memang harus balik lagi dari arah dimana dia tadi muncul. Setelah aku beri petunjuk secukupnya, maka ia pun pergi sambil berkata, "Kalau salah, saya marah lho!"

Aku tentu saja heran. Aku sudah memberi dia arahan untuk masuk ke pintu yang seharusnya dia lewati dengan keramahan yang wajar. Tetapi koq aku mendapatkan ucapan yang menurutku tak perlu diucapkan oleh bapak itu. Ah, tapi sudahlah. Mungkin dia tidak bermaksud seperti itu. Ngapain mikirin hal yang tidak jelas itu. Maka, aku segera kembali melakukan apa yang menjadi tugasku : melayani tamu-tamu lain yang memerlukan bantuanku.

Beranjak siang menuju sore, acara telah menemukan puncaknya. Saatnya aku juga bersiap-siap ke satu ruangan untuk mengambil tasku bersama teman-temanku. Di satu lorong, aku bertemu dengan bapak yang tadi pagi mengancam hendak memarahi aku. Tak disangka dan tak diduga, ia pun tersenyum sambil menganggukan kepalanya padaku. Tentu saja aku membalas tersenyum padanya. Toh untuk tersenyum tidak memerlukan biaya, lagi pula senyum juga tidak akan meruntuhkan harga diri seseorang. Aku tak mempertanyakan mengapa dia tersenyum padaku, karena aku telah menganggapnya sebagai bentuk permintaan maaf darinya kepadaku atas ucapannya tadi pagi.

Alangkah indahnya berbagi senyum. Maka, marilah kita tersenyum :)

Rabu, 06 Juni 2012

Sedikit Cerita Dibalik Myasthenia Gravis dan Pengaruhnya Bagiku




Sebenarnya, aku bingung mau nulis apa tentang Myasthenia Gravis. Setahuku, Myasthenia Gravis itu adalah penyakit yang berhubungan dengan auto imun. Yayasan yang menaunginya adalah http://www.mgindonesia.org.  Bagi yang ingin mengetahui lebih lanjut, silakan kunjungi webnya. 

Nah, pada postingan ini, aku ga akan bercerita tentang apa itu Myasthenia Gravis, bagaimana gejala-gejalanya, dan bagaimana pengobatannya. 
Di sini, aku justeru ingin menulis cerita tentang dibaliknya. Cerita yang sungguh manis, setidaknya menurutku. Cerita yang menurutku juga bukan cuma cerita biasa. Ini merupakan sebuah keajaiban buatku. Adalah lewat dunia blogging aku mengenal apa dan bagaimana penyakit yang disebut Myasthenia Gravis itu, lewat seorang gadis manis yang mandiri, dan aku telah mencoretkan rangkaian kata-kata yang aku persembahkan buatnya. Jika teman-teman ingin menengoknya, bisa dilihat di sini. Dan jika teman-teman ingin mengetahui lebih jauh dan mendalam lagi tentang Myasthenia Gravis, bisa menengok tulisan Ari Tunsa di sini dan tulisan Mbak Keke di sini sebagai bentuk dari kepedulian untuk para MGers. Semoga bermanfaat bagi kita semua. Amin.

Tak ada sesuatu yang kebetulan di dunia ini, sehingga aku bertemu dengan sahabatku ini. Banyak hal yang telah terjadi antara aku dan dia, meski belum pernah bertemu muka. Banyak kesamaan feeling yang seperti kataku tadi, bahwa buatku ini merupakan keajaiban-keajaiban kecil, dan keajaiban itu masih terus berlangsung sampai hari ini. Satu pola pikir dan nyambung banget saat ngobrol, mulai dari hal-hal sederhana sampai hal-hal yang berat sekali pun. Baru kali ini aku mengalami hal ini.

Aku bersyukur bisa mengenalnya, karena sosoknya yang ceria, mandiri dan penuh motivasi, selalu berpikir positif. Dan aku akui hal itulah yang aku serap darinya. Aku banyak belajar darinya tentang apa itu bersyukur. Menikmati pagi adalah sesuatu yang sungguh-sungguh aku syukuri. Dan aku juga penikmat dari doa-doa yang keluar dari hatinya yang tulus. Makasi banget ya de...

Ari peduli, Mba Keke peduli, dan aku juga ingin peduli, meski hanya lewat tulisan. Namun aku berharap, semoga para MGers dapat selalu memupuk dan menghirup setiap harapannya.

By the way, Selamat Ulang Tahun yang pertama buat YMGI, semoga senantiasa ceria dan semakin berkembang dengan harapan-harapan indahnya. Amin...



Senin, 21 Mei 2012

Kepada Langit dan Bintang di Atas Gunung Salak

Gunung Salak...
Tak miriskah dirimu saat ada yang menganalogikan dirimu sebagai kuburan pesawat terbang?
Harusnya semua tak pernah terjadi lagi; sejak kejadian beberapa waktu yang lampau
Tapi, entah mengapa kau seolah suka dengan sebutan itu?

Langit di atas Gunung Salak...
Saksimu menjadi saksi kepedihan segala jiwa
Adakah lagi yang akan bersemayam dalam bentuk luka yang sama?
Seperti hari kemarin dan hari-hari sebelumnya

Duhai bintang-bintang yang berkeriapan di atas cadas pegunungan itu
Tak bosan-bosankah kalian menyaksikan perih-perih dan luluh lantak yang sama?
Hingar bingar sesaat kemudian menjadi puing-puing yang tak berarti lagi
Tubuh dan jiwa yang sesaat meregang, lantas lesap menuju semak-semaknya bumi

Langit, birumu memohonkan ampunan bagi jiwa-jiwa fana yang telah musnah seketika
Langit, awanmu meneriakkan kata-kata belasungkawa



Gunung Salak, 9 Mei 2012

Rabu, 02 Mei 2012

Selamat (Memperingati) Hari Pendidikan Nasional

Waw... Sekarang tanggal 2 Mei, yang diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional. Sebenarnya, apa sih makna dari peringatan tersebut? Mungkin sebagian besar dari teman-teman sudah merayakannya dengan upacara bendera di lingkungannya masing-masing.

Terlepas dari upacara bendera dan upacara-upacara lainnya mengenai peringatan Hari Pendidikan Nasional ini, aku jadi ingin lebih memaknainya kepada hasil dari pemerataan pendidikan yang ada di Indonesia.

Sudah meratakah pendidikan di Indonesia? Lantas, apakah kurikulumnya sudah memenuhi standar pendidikan yang ada di Indonesia? Apakah diperlukan penataan kembali kurikulum di Indonesia?
Apakah pantas menceritakan tentang isteri simpanan di dalam LKS?

Berapa banyak sekolah yang sulit dijangkau oleh para murid?
Berapa banyak sekolah yang hampir roboh dan rapuh terkena banjir setiap kali hujan datang?
Berapa banyak sekolah yang sudah dibangun kembali dari puing-puing?

Pantaskah penghargaan terhadap para guru, terutama bagi para guru yang mendedikasikan hidupnya untuk mengajar di daerah-daerah terpencil di Indonesia, bahkan di pulau-pulai terluar di Indonesia?
Penghargaan bukan semata uang. Penghargaan bisa datang dari pengakuan.

Sekali lagi....
Selamat (memperingati) hari pendidikan nasional. Buatlah para pahlawan pendidikan tersenyum bangga atas kerja kerasnya yang lalu diteruskan dengan sebaik-baiknya oleh generasi-generasi bangsa yang katanya lebih keren-keren dan lebih berpendidikan ini....

Sabtu, 21 April 2012

Kartini yang Menginspirasi, Kartini yang Agung

Duhai pemilik jiwa nan peka dan agung 
Aslinya bangsa Indonesia 
Berbudi luhur, berbudaya tinggi dengan keindahan hati yang rendah 
Penuh takwa dan senyum kesahajaan 

Kaulah kembang seni yang terwujud sepanjang zaman 
Aku mencintaimu tanpa batas waktu
Aku mengagumimu hingga nafasku tercerai dari tubuhku 
Aku menyayangimu dibalik inspirasi-inspirasi yang tertaburkan 
Aku ingin menyebutmu pula sebagai Bunga Akhir Abad! 

*** 

Lamunanku seketika menerawang jauh ke alam lampau. Dimana Kartini masih berkiprah, berjuang mewujudkan cita-citanya. Penderitaan pingitan yang mengawali pemikiran-pemikiran dan gagasan-gagasannya mengenai bangsanya yang tertindas. Perjuangannya bukan semata hanya untuk kaumnya saja. Tetapi secara luas, bagi seluruh rakyatnya. Penderitaan rakyat Indonesia yang amat dicintainya itu telah Kartini ketahui sejak kecil, saat sang ayah membawanya ke desa terpencil, saat bertemu dengan anak penggembala sapi yang sedang mencari rumput hingga tubuhnya tak terlihat. Kartini selain seorang penulis handal, ia juga ternyata bisa melukis, membatik. Karena tulisan-tulisannya, Kartini terkenal hingga ke manca negara.

Semua yang agung dan indah dalam hidup adalah puisi. Cinta, kesungguhan, kesetiaan, kepercayaan, seni - semua yang meningkatkan jiwa, yang memuliakan dan memperindah adalah puisi. Rakyat Jawa dan puisi sangat erat berkaitan. orang Jawa yang paling rendah pun masih puitis.

*Penggalan surat Kartini kepada Stella, 15  Agustus 1902.

Kartini yang lembut..... 
Namun dibalik kelembutannya, tersimpan sebuah batu karang yang megah dan kokoh. Pendiriannya begitu mantap. Ia ingin kesusahannya menjadi abdinya. Meskipun ia sangat menolak poligami, tetapi ia tak bisa menolak saat ia harus hidup serumah dengan 3 garwa ampil.

Kartini yang mulia......
Ia selalu rendah hati. Ia tidak akan pernah mau jika ada orang yang lebih tua merangkak di hadapannya! Gagasan-gagasannya tetap hidup hingga sekarang. Ia pelopor perjuangan bangsa. Perintis persatuan bangsa. Ah... Dibalik kesederhanaannya, sungguh tersimpan mutiara yang indah.

Kartini bukan sekadar pelopor pejuang wanita. Lebih daripada sebutan sebagai pahlawan emansipasi wanita. Dialah sang perintis ide persatuan sebelum Budi Utomo. Ia mengagungkan kesejajaran, tetapi ia pula yang mengajarkan tentang kodrat sebagai seorang wanita. Dialah sang penggagas "Keluarga Berencana" Di dalam kutipan suratnya kepada Ny. Abendanon, 3 Januari 1902 : "... Bahwa orang tidak berhak membuat anak, kalau ia tidak sanggup membiayai hidupnya..."

Kartini, damailah kau dengan keadilan hakiki di sana. Sebab, di sanalah kau akan menemukan keadilan yang kau dambakan itu. Di dunia ini kau sudah jemu dengan ketidak adilan dan kesewenang-wenangan.... Bahagialah seperti yang pernah kau ucapkan. Amin...

Semoga kau senantiasa hidup di dada para wanita-wanita Indonesia! Tetap menjadikanmu sebagai inspirasi dalam kehidupannya; selamanya.... Amin...

Selasa, 17 April 2012

Tentang Sebuah Prinsip

Prinsip itu semacam nafas. Ia  merupakan sesuatu yang sangat dibutuhkan dalam kehidupan ini. Ia adalah pegangan hidup, panduan langkah untuk menjaga diri dari setiap peristiwa yang menghampiri, berseliweran pada setiap waktu.

Bahwasanya telah terjadi banyak pergeseran nilai dalam kehidupan ini. Jika jaman ibu bapakku dulu, pacaran itu adalah jalan bareng tanpa sentuhan fisik. Jalan bareng naik sepeda masing-masing sepulang dari kantor. Tak perlu banyak cakap. Hanya bareng, sudah membuat jantung berdebar lebih daripada biasanya, dan itu, sudah lebih dari cukup buat mereka.

Bukan zaman yang berubah, memang. Manusia sendirilah yang telah andil mengubah semua yang telah ada. Tidak menyalahkan siapa pun juga. Karena mungkin memang Sang Waktu telah menuliskannya demikian untuk kita yang hidup di era sekarang ini.

Tadi pagi, aku ngobrol dengan katakanlah adekku. Ia sedang menyusun skripsi. Tinggal sebentar lagi, ia akan meraih gelar sarjana hukum. Sebelum pagi tadi, beberapa waktu lalu ia sudah bercerita padaku tentang kegalauannya. Galau; mau terus pacaran sama Dion atau tidak. Adekku ini sangat cantik. Rika membeberkan segala kelebihan yang dimiliki Dion. Dibanding kelemahannya, Dion ternyata punya banyak lebihnya. Oleh karena itulah, adekku ini masih melanjutkan hubungannya dengan Dion. Aku, sebisa mungkin memberikan pandanganku kepadanya. Bahwa, cowok sekarang ini udah jarang banget yang baik. Jika Rika mau pindah ke lain hati, tolong liat lagi kebaikan Dion, karena jumlah cowok seperti Dion itu sekarang udah langka banget. Belum tentu nanti setelah Rika punya yang baru, akan sebaik Dion. Rawatlah Dion, sebelum Rika yakin memutuskannya. Jujur, waktu itu ada semacam perasaan tidak rela kalo Rika harus putus dari Dion.

Dan, pagi ini pun menjadi saksi putusnya Rika dengan Dion. Rika menilai bahwa Dion telah melanggar prinsip yang selama ini menjadi nafas buat Rika dan Dion pun mengetahui prinsip itu. Sebelumnya Rika telah memaparkan dengan gamblang, saat ia menerima cinta Dion, dan Dion menyanggupinya. Tahun ketujuh inilah, Dion rupanya sudah tidak tahan menutupi hasratnya, sehingga prinsip Rika dilabraknya begitu saja.

Terang aja Rika sewot. Sekarang, Rika bener-bener udah ga mau lagi pacaran sama Dion! Segala kelebihan yang Dion punya hilang semua. Keputusannya udah bener-bener bulet buat ninggalin Dion. Udah ga pake galau-galau lagi deh pokoknya. Karena Dion ingin melakukan yang belum semestinya dilakukannya. Rika bilang, meskipun sekarang gaya pacaran bebas *kayak gaya renang aja :D* seperti itu udah ga aneh lagi, tapi aku tetep ga mau. Dion udah melanggar prinsipku yang paling prinsip! Begitu kata Rika. Bagi Rika, keinginan Dion itu udah ga bisa ditolelir lagi.

"Jujur, aku sedih mba... Tapi sedihku bukan karena putusnya hubungan kami. Lebih karena aku menyayangkan, koq tega-teganya Dion melanggar prinsip itu. Aku cuma ingin, kalo nanti Dion udah punya pacar lagi, dia ga akan lagi memperlakukan ceweknya seperti kepadaku" Papar Rika di sela-sela curhatnya.
"Bukannya aku sok suci mba. Aku juga nyadar koq kalo aku punya dosa. Tapi hal itu udah menjadi prinsipku, dan aku ga mau melanggarnya." Ujarnya lagi.
Jawabku, "Iya, udah mah kita teh punya banyak dosa ya Ri, ngapain nambah-nambah dosa lagi dengan melanggar prinsipmu itu...."
"Iya mba, jangan dikaitkan dengan larangan agama dulu deh. Sebelum mengaitkannya, aku juga udah ga mau koq berbuat itu"
"Sipppp, dan aku bangga sama kamu....."

Wew, ternyata ya.... Cowok yang udah dinilai baik pun, masih seperti itu... Hadeehhh cape deh... Sekarang, aku justru mendukung Rika untuk putus dari Dion yang sebelumnya aku tak merelakannya.

Senin, 02 April 2012

Tentang Memberi

Seorang pengamen jalanan menghampiri angkot yang aku tumpangi. Ia berselendangkan gitar, dan bernyanyilah ia di muka pintu angkot. Suaranya ga bagus, tapi juga ga pas di dalam iringan gitarnya. Cukup membuat telinga ga nyaman, memang. Tetapi dengan percaya diri, ia tetap bernyanyi untuk para penumpang angkot.

Seseorang di sampingku mengeluarkan koin dari dompet recehannya, dan ia berikan pada pengamen itu setelah ia menyelesaikan lagunya yang masih menyisakan penggalannya. Ia menganggukkan kepala dan mengucapkan terima kasih. Penumpang di sampingku itu hanya tersenyum saja. Pastinya, seseorang itu memberikan kepadanya sebuah koin, tak lebih karena ia hanya ingin memberikannya. Itu saja. Tak peduli apa yang ia nyanyikan dan bagaimana suaranya. Sepertinya ia menghargai pengorbanannya menembus rintik-rintik hujan. Terus terang, aku belajar dari penumpang mulia di sampingku ini...

Terkadang, aku heran dengan orang-orang yang menghakimi pengamen yang suaranya tak layak diperdengarkan. Bilang suaranya fals dan itulah alasan mengapa ia tak memberikan koin yang ia miliki. Menurutku sih, jika ga akan memberi, ya sudah diem aja. Ga usah bilang apa-apa. Prinsipku, jika aku mau ngasih, ya ngasih. Kalaupun aku ga mau ngasih, ya aku akan diem, ga akan ngomong apapun mengenai performance nya. Kalau aku sih, pengennya ngasih yang agak banyak, jika pengamennya nyanyinya asik dan menggunakan biola atau keyboard hehehe.

Kamis, 29 Maret 2012

Bersiap untuk Terlupakan

Tak pernah aku bayangkan, jika aku mempunyai sahabat yang sungguh sangat menghargai dan menyayangi aku tanpa melihat ras dan strata sosial. Aku juga sungguh bangga telah mengenal dia dan memilikinya sebagai sahabat. Bagaimana tidak? Dia yang setiap detik berhadapan dengan kemewahan, tetapi mau bersahabat dengan seorang sederhana sepertiku.

Hari demi hari telah melewatkan aku dan dia pada sebuah perjalanan yang sukar sekali dilupakan. Buatku, ia seorang sahabat yang mengesankan. Tak ada cacat cela menghampirinya. Dia selalu mengajari aku untuk tetap mempunyai pikiran yang positif dalam setiap kejadian, apalagi jika aku sudah demikian memperlihatkan sikap keminderanku di hadapannya. Jika sudah begini, ia dengan susah payah akan memberikan pemahaman dan pengertian yang akhirnya bisa membuatku untuk mengalah dengan meminta maaf kepadanya.

Malam itu pukul sembilan malam, ia bercerita tentang kekasihnya. Setelah sekian lama ia menghilang dariku. Ia menghubungi dengan suara kepedihan yang mendalam, bahwa ternyata kesetiaan itu susah didapat. Ia telah disakiti oleh kekasihnya. Di sinilah aku mulai merasa bahwa aku memiliki arti buatnya. Aku selalu menghiburnya dengan kasih yang aku punya. Mengerti dan memakluminya dengan ketulusan yang aku punya. Aku berdoa untuk kebahagiaan dan kesuksesannya, seperti saat ia lulus dari pasca sarjana dengan predikat summa cum laude.  Aku sungguh terharu karena doaku untuknya telah terkabul. Tak terasa air mataku menitik perlahan, saat aku melihat ia mengenakan toga kebesarannya.

Kembali ia menghilang. Bisa dipastikan, bahwa ia sudah kembali berbahagia dengan kehidupan yang dijalaninya. Hingga ia kembali datang dengan membawa kepedihannya, aku kembali melakukan apa yang telah kulakukan kepadanya. Menghiburnya dan memulihkannya dengan ketulusanku. Berulang kali ia melakukan ini kepadaku. Datang dan pergi.

Kesabaran, ketulusan, dan doaku tak pernah berhenti buatnya. Sampai kapan pun! Sebab, ia telah membuatku cukup memiliki arti, setidaknya aku telah menyadarinya sampai detik ini bahwa inilah kekuatanku. Darinya aku telah belajar tentang makna kesabaran dan ketulusan. Dan itu, akan terus berakar di dalam hatiku, hingga aku tak merasakan kecewa dan kesakitan saat aku terlupakan.

Terima kasih atas pembelajaranmu, sahabat. Walau kini telah lama berlalu, namun tak akan pernah aku lupakan, meski kau sekarang telah melupakanku. Demi ketulusanku, aku tak ingin kau ingat. Aku hanya ingin bahwa kau tak kan pernah melupakan Tuhan Sang Pencipta alam semesta raya ini.



Rabu, 28 Maret 2012

Monolog : Kebutuhan atau Keinginan

Dalam banyak kasus, aku beneran ga bisa membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Manusia yang bernama perempuan; khususnya aku *entah kalo perempuan lain, aku belum melakukan riset :D, selalu saja ga bisa menahan mata jika melihat tas atau selop, dan kadang sepatu kerja. Ga cukup punya satu. Padahal, pemakaiannya pun ga bisa dibarengin kan? Masa bawa tas kerja dua, dan pakai sepatu juga dua pasang sekaligus. Ini yang dinamakan keinginan. Selalu berbenturan dengan kebutuhan. Sebenernya ga butuh, tapi suara hati tentang kebutuhan langsung raib, dan aku langsung kepikiran untuk membeli tas atau selop atau sepatu yang aku anggap cantik itu.

Sekarang, hape ku sudah mulai ga bisa diajak kompromi. Dalam sehari, ia harus di hard restart berulang-ulang. Komunikasi lumayan agak terganggu, khususnya kalo aku pengen ngeblog lewat hape, dan sekalian berkunjung ke temen-temen blogku, meski dengan tanpa meninggalkan komentar. 

Aku sedang berpikir bahwa kebutuhanku akan hapeku yang sudah rusak ini apakah memang relevan dengan kebutuhanku? Aku takut, ini hanya keinginanku semata. Namun, ada satu bisnis kecilku yang mungkin agak terhambat jika aku tak memiliki hape jenis yang satu ini.  Jika aku membeli hape yang sesuai dengan keinginanku, selain dia masih mahal, aku masih saja ragu. Apakah aku memang membutuhkannya??? Memang sih, jika aku memiliki benda ini, aku berencana akan memaksimalkannya, mengembangkan bisnisku. Tapi tetep aja, aku masih ragu dengan keinginanku sendiri.

Kemudian aku pergi ke Mega Cell yang terletak di Jl. Pajajaran. Kabarnya, ia merupakan pusat penjualan merek hape yang aku inginkan terbesar di Asia Tenggara. Mmhhh... Kata penjaga tokonya, meskipun belum Grand Opening, tapi transaksi udah bisa dilakukan. Tapi masalahnya, apakah toko itu bisa menerima pembayaran menggunakan kartu debit? Tanya-tanya, tapi ga ada hasil memuaskan. Akhirnya pembelian ditunda. 

Seminggu kemudian, aku pergi ke toko yang sama; Mega Cell. Uang cash udah aku bawa. Tetapi, hape yang aku incer itu kosong! Mmmhhh... Ini tanda-tanda, pikirku. Tanda-tanda bahwa aku harus berpikir lebih pasti lagi dengan keinginanku membeli hape baru.
Aku juga menyempatkan untuk pergi ke gerai-gerai lain mencari hape cita-citaku. Tetep kosong! Gerai demi gerai yang aku tanyai, tidak memiliki hape yang aku inginkan itu.

Ini, bukti bahwa aku harus tetap bertahan dengan hape jadul jebot itu. Namun aku tetap bersyukur bahwa aku pernah memiliki hape itu, hadiah dari seseorang saudaraku. Terima kasih Ko... :D Tapi gara-gara dirimu, aku jadi kena imbasnya ni. Aku jadi addicted sama benda yang telah kau perkenalkan 3 tahun yang lalu.

TORCH 2 Putih, aku tak pernah tahu apakah kamu bakal kumiliki atau tidak. Satu yang pasti, aku sekarang sudah menunda untuk memilikimu. 3 tahun menabung, akankah aku buang dalam waktu sekejap???
Aku tanyakan pada embun pagiku, ia pun tak tahu. Ia tak pernah mengenal hape yang pernah kumiliki ini. Ah, mungkin ia memang tak tertarik memilikinya. Ia tetap bening dan teguh dengan kesejukannya.

Rabu, 14 Maret 2012

Sibuk Ambe Urusane Dhewe-dhewe

Aku saiki pengen curhat. Tapi koq aku pengen nganggo Basa Jawa yo; iso Basa Jawa Tengah, iso Basa Jawa Barat. Wis, pokoke sakarepku wae yo. Hehehe.... Embuh iki, koq tetumbenan aku pengen nulis koyo ngene. Ben yo, sekali-sekali wae koq. Ora bakal sering-sering. Tenan :D

Ngene. Aku agek nyadar, koq kahanane wong-wong awake dhewe koq dadi podho ora nggenah ya. Ono sing sibuk dadi pendukung sepak bola, nganti bandhem-bandheman koyo ngono. Durung maneh ono sing nantangi ben digantung. Ono sing sibuk arep bagi-bagi be el te, sautoro be be em soyo munggah regane. Koyo ora ono alesan seje; rego minyak dunyo munggah, terus ora ono maneh solusi liane kecuali regane melu diunggahke. Ono maneh sing sibuk nyolong dhite embuh sopo. Akeh banget ketoke nek sing sibuk neng bidang iki. Ono maneh sing sibuk nyalonke dadi pemimpin daerah. Ono maneh sing sibuk dolanan narkoba. Ora tanggung-tanggung. Sing jarene aparat negara yo sibuk neng dunyo koyo ngono; lanang wedok podho wae. Lah kepiye nek wis koyo ngene iki, coba? Aku ngantek sedih, terus dadi luwe. Hah, ora nyambung yo.... Durung maneh kedadian liane sing akeh banget nek ditulis neng kene.

Terus sing mesake ki sing arep mbunuh awake dhewe. Lha koq malah ndilalahe ki tetep urip, tapi wis ora duwe sikil, mergo loro-lorone sikil sing duwe ketabrak mobil pas tibo landing seko terjun bebas. Wingi banget, ono pemuda sing markirke motore neng cedhak jembatan layang. E, lha koq langsung terjun soko kono, mbuh, nibani kendaraan sing neng ngisore jembatan kuwi opo ora. Aku tekan saiki isih ora iso mikir, ngopo yo koq bunuh diri saiki soyo ngetrend. Kayane ki wis dijamin mlebu suargo loka nek iso tegel ngilangke nyawane dhewe. Jiiiaannn.... Heran tenan aku...
Kahanane awake dhewe ora iso dianggep remeh temeh lho. Koq iso yo bongso iki ngalami ora mung musim paceklik. Tapi musim tabrakan. Ngalami musim kesurupan. Ngalami musim bunuh diri. Weee lah.... Yake setan-setan saiki podho sakti yo. Bener-bener iso apik lan rapi njalanke tugase, ngejaki wong-wong ben egois, ben kacau.

Sepanjang pengamatanku *halaaahhhh pengamat kedaden hihihi* kabeh sing wis tak sebut kuwi mau ki mergo sing neng dhuwur ki ora patek peduli marang wong-wonge. Kabeh podho sibuk ambe urusane dhewe-dhewe. Ming mikir kepentingane dhewe. Sing penting ki seneng awake dhewe. Ah embuhlah. Aku saiki yo lagi mikir ongkos angkot nek mengko dadi munggah. Moga-moga ora ono sing bunuh diri mergo kenaikan iki. Utowo, malah akeh yo mengko? Mrinding tenan mbayangke kuwi.

Wis ah, curhate cekap semanten kemawon. Senajan basaku pating pecotot, terus bahasan-ne wis ra mutu sisan, tapi sing penting aku wis usaha dening tulisanku iki ben ora lali ambe basa leluhurku.  *Dadi kelingan Panjebar Semangat :D
Wis yo, tak tutup ambe sirah ngelu, godek-godek ra jelas. Mata kunang-kunang, weteng soyo luwe, mata ngantuk. Piye karepe wis ra nggenah. Hihi.. Ra popo yo, sing penting ki tetep waras, sehat lahir batine....

Duh Gusti..... Paringono sabar, tawakal, kuat iman.


Mohon maaf yang setulusnya, bagi pembaca yang kebetulan baca postingan ini, dan tidak mengerti isinya, soalnya aku tidak menyediakan terjemahannya. Hehehe... Keep on your nice smile yaaa... :D

Senin, 12 Maret 2012

Damai




Aku menatap langit kala pagi belum menyembul. Bahkan sinarnya yang gilang gemilang itu masih jauh dari langit yang memayungiku. Mataku tak pernah lepas dari wajah rembulan itu. Sudah tidak utuh lagi, seperti hari kemarin namun ia masih saja menawan segenap inderaku. Angin menambah riasan rasa di pagi terang ini.

Satu kata : Damai.

Alam telah menyediakan begitu banyak fitur bagiku, bagimu, baginya, dan bagi mereka. Untuk apa cemburu dan iri pada satu sama lainnya?

Lantas, aku ingin berdamai dengan hatiku, sedamai pagi buta ini. Ditingkahi semerbak bunga kemuning dan kenanga. Cempakaku belum lagi berbunga. 
Damailah, wahai hatiku.... Bentuklah oase bagi ragaku. Aku ingin tegar, setegar siluet pegunungan itu.... Alirilah masa laluku dengan bening rindunya. Aku ingin memaknai damai yang sesungguhnya. Memaafkan dan dimaafkan oleh masa lalu. Lantas move on demi masa depan. Ternyata tak semudah dibayangkan. Untukmu yang sedang berjuang untuk move on, memang harus terus tetap berjuang. Bisa-bisa perjuanganmu panjang melebihi perkiraanmu. Jatuh bangun, bangun jatuh dan bangun lagi. Sepertinya, hanya doa-doa yang layak menemani perjuanganmu.

Jumat, 02 Maret 2012

Tentang Doa

Di dalam hidup, pastinya kita pernah minta didoakan oleh teman-teman kita. Oleh keluarga, dan oleh tetua agama kita. Sangat tidak mungkin, jika kita belum pernah meminta bantuan doa dari mereka. Minimal, satu kali dalam usia tertentu, kita pernah memintanya.

Meminta bantuan doa, tidak berarti kita tidak bisa berdoa sendiri. Ada beberapa yang berpendapat, bahwa berdoa sendiri tanpa bantuan orang lain juga bisa, ngapain minta bantuan orang lain supaya mendoakan kita.
Emang bisa, bahkan sangat bisa. Tetapi dukungan doa dari orang-orang terdekat, teman dan siapapun yang bisa kita minta bantuannya, menurutku sungguh-sangat penting. Kenapa penting? Di bawah ini, aku tulis beberapa ciri yang dapat dirasakan saat kita mendapatkan dukungan doa.

Ciri-cirinya bila orang lain ikut mendoakan kita adalah perasaan damai yang LEBIH daripada biasanya. Menghadapi hari-hari tanpa keluh kesah. Banyak senyum kepada setiap orang yang kita jumpai. Itu, merupakan salah satu cirinya. Selain itu yang bisa terasakan adalah tentang kesehatan. Kesehatan yang kita miliki saat ini amat rentan dari penyakit. Penyakit, kapan saja bisa masuk ke dalam tubuh kita tanpa permisi. Dengan dukungan doa yang kita peroleh, maka kesehatan kita akan tetap terjaga. Juga, terhindar dari segala gangguan.Jika pun harus sakit, tetapi kita tetap kuat; seakan diberi kekuatan, dan kekuatan itu dapat dirasakan masuk perlahan ke dalam tubuh kita.

Pengalaman temanku yang merasa didoakan adalah dengan terhindarnya dia dari kecelakaan maut, saat ia harus mengendari mobilnya ke luar kota.

Barangkali ada pengalaman yang lain, boleh ditulis di kotak komentar :D

Kamis, 01 Maret 2012

Polisi Ganteng dan Media

Foto diambil dari Iskaruji dot com


Indonesia kembali heboh oleh (lagi-lagi) seorang polisi ganteng yang bertugas di Bandung. Terus terang, philips terang, aku pengen ketawa jadinya. Hehehe... Punten pisan. Maaf seribu maaf. Dengan peristiwa ini, koq sepertinya rakyat Indonesia, termasuk media itu belum pernah lihat cowok ganteng gitu. Khususnya polisi. Menurutku sih biasa-biasa aja gitu. Duh, sekali lagi hapunten... Bukannya aku ga suka liat yang ganteng. Tapi kalo sampai diekspos habis-habisan sama media, keliatannya jadi malah norak ya.

Saranku sih (emang ada yang minta saran? :P) sebaiknya media itu bertindak proporsional. Biarlah yang cakep dan indah itu tetap berkarya semaksimal mungkin buat negaranya. Jangan sampai ada Norman Kamaru yang kedua dan seterusnya. Ga ada prestasi yang membanggakan, tapi disanjung setengah dewa hanya karena keindahan fisik semata. Lebih baik konsen pada hal-hal yang lebih bermakna. Fokus pada orang-orang kecil yang tak bisa meneruskan bakat mereka, karena kekurangan uang untuk bisa ikut dibina lebih lanjut  dengan lebih baik lagi, demi mengharumkan nama bangsa ini. Syukur-syukur jika bisa membantu mereka.



* Beuki kadeiu meni jadi asa araraneh kieu da.. :(

Rabu, 29 Februari 2012

Tentang Bunuh Diri

Tulisan ini merupakan turunan dari Hidup ini TERLALU Indah. Dalam banyak kasus, sekarang ini sepertinya bunuh diri adalah merupakan sebuah penyelesaian akhir yang dianggap indah. Selain itu, tulisan ini juga lahir setelah aku dengar ada seorang mahasiswa yang terjun bebas dari lantai atas kostannya di bilangan Jl. Ciumbuleuit Bandung. Ia seorang mahasiswa ITB, 23 tahun. Usia yang terlampau muda dan tergesa untuk pergi dari dunia ini. Menurut kabar dari orang-orang sekitar, ia terjun bebas setelah diputusin sama pacarnya. Sesuatu yang tidak seimbang. Cinta telah ia salah gunakan, rupanya. Ia tak kuat menerima didikan cinta yang memang terkadang menyakitkan. Saat ngobrol-ngobrol tentang kejadian itu, aku berseloroh kepada temanku. "Seandainya anak itu kenal sama kamu, mungkin dia ga bakalan bunuh diri deh, Neng. Hehehe..." Ujarku kepada temanku yang berapi-api menceritakan tentang kejadian itu. Temanku sangat mengecam bunuh diri. So do I!

Aku ga akan menulis tentang bagaimana cara Tuhan memandang tentang manusia yang sudah nekat mengakhiri hidupnya dengan membunuh dirinya sendiri. Menurutku, Tuhan sudah demikian mencintai kita, sehingga DIA menghadirkan kita ke dunia ini sebagai manusia sempurna. Bukan sebagai hewan atau makhluk hidup ciptaanNya yang lain. DIA sudah menghabiskan cintaNya sehabis-habisnya demi berlangsungnya siang dan malam, yang berporos pada bumi yang diciptakanNya sendiri. Menghadirkan kemegahan lainnya agar manusia ciptaanNya ini betah dan mengelola alam raya seluas ini dengan sebaik-baiknya dan penuh tanggung jawab. Masakan kita kalah hanya karena putus cinta? Lalu, dianggap apakah penyelenggaraanNya selama ini??? Lantas, di mana akal, otak, dan hati nurani yang telah diberikanNya kepada kita semenjak kita lahir itu???

Jika masalah keluarga dan perekonomian menjadikan alasan untuk bunuh diri, itu pun sungguh tak seimbang. Tuhan sudah demikian bersusah payah mengatur kehidupan manusia. Antara lahir, mati, pertemuan, perpisahan, dan tidak lupa rejeki bagi kita. Juga membantu membentuk, membangun sebuah keluarga dan banyak teman untuk kita. Jika iman kita terawat dengan baik, kita akan yakin bahwa pertolongan Tuhan akan segera menjangkau kita. Tidak sayangkah kita terhadap KuasaNYA??? Tidak percayakah kita kepadaNYA??? Harus berapa juta atau bahkan berapa miliar kali Tuhan harus meneteskan air mataNya untuk kita??? Tak maukah kita bersyukur atas segala yang telah diperintahkanNya untuk kita? Rejeki, pasangan, dan segala cita-cita yang DIA bersitkan untuk kita, demi kebahagiaan kita sendiri??? Tidak sayangkah kita pada rencanaNya yang indah untuk kita??? Biarkanlah rencanaNya indah pada waktunya. Jangan dipotong oleh kekuasaan kita sendiri. Berhakkah kita untuk memberhentikan rencanaNya???

Sayang, jangan biarkan setan menggerogoti pikiran kita. Hindarkanlah keindahan sesaat. Narkoba yang akan membunuhmu sia-sia. Juga keinginan bunuh diri yang demikian kuat. Berdayakan teman-teman dan keluarga, ajaklah berdiskusi. Buatlah Tuhan tersenyum. Jangan biarkan DIA menangis terus. Tuhan akan terus bersama kita sampai selama-lamanya, jika kita sungguh-sungguh mau terbuka akan kehadiranNya dalam bentuk sederhana, dimana pun dan bagaimanapun caranya...



* Nah, tuh.... Ada lagi karyawan pendiam yang terjun bebas dari lantai 12! Huffttt

Selasa, 28 Februari 2012

Hidup ini TERLALU Indah



Ya, hidup ini memang terlalu indah. Tak bisa disamakan saat kita dapat meraih sebuah pencapaian hidup yang kita inginkan. Ia terlalu agung untuk disamakan dengan cita-cita yang kita miliki dan berhasil kita raih sekali pun. Memang indah, tapi kehidupan ini letaknya jauh di atas cita-cita kita. Apapun itu, dan bagaimanapun bentuknya!

Kebersamaan yang dilandasi oleh kepercayaan masing-masing individu. Foto di atas, bukan contoh sebagai gambaran seorang lelaki beristeri empat *sigh* :D
Melainkan kebersamaan yang cukup erat tanpa melihat faktor lainnya, selain kebersamaan itu sendiri. Nilai sebuah kebersamaan yang sederhana, tetapi sanggup menunjang rasa percaya diri di saat-saat salah satu pribadi ini lemah dan terpuruk.


Bentuk kepedulian ada dan sesungguhnya bisa diperoleh di mana-mana. Meskipun kita berada di tempat yang asing dan tak saling kenal, penuh perbedaan, tetapi dengan kepekaan yang kita miliki, kita bisa merasakan bahwa sesama kita sesungguhnya peduli terhadap diri kita, dengan apa adanya. Tak peduli jarak, waktu, dan tempat.


So, pandanglah langit biru itu. Jadilah burung-burung yang tanpa ragu untuk terbang melintasi udara! Langit seolah kepunyaannya. Laut dan bumi seolah tempat berpijak baginya. Menjangkau langit, menjejak bumi. Semua sudah demikian sempurna diatur oleh Sang Maha Wenang. 

Siapa pun kamu. Jika saat ini tengah merasakan kegalauan yang sangat amat dan kau anggap kegalauan itu telah berhasil membuatmu menderita. Untuk kamu di mana pun kalian berada. Jika saat ini merasakan kekecewaan yang teramat dalam. Untuk kamu yang ditinggalkan pacar, dengan benih di rahimmu. Untuk kamu yang saat ini baru merasakan diputusin oleh kekasihmu, sehingga merasakan bahwa dirimu tak pernah punya arti lagi. Untuk kamu, yang ibu bapaknya harus menjalani perceraian. Untuk kamu yang sakit lahir batinnya.


Lihatlah kebersamaan itu. Lihatlah kepedulian itu. Lihatlah langit itu, yang senantiasa menyampaikan berjuta kata untukmu. Memberi berjuta sinar keindahan positif buatmu. Jangan tatap kegelapan itu, selagi kau tak mampu. Jangan kau menoleh ke belakang selagi kau masih menangis jika kau menengoknya. Kau sangat berarti bagi duniamu. Bangunlah kebersamaan itu, jika kau telah menganggapnya hilang. Jadilah bunga Morning Glory yang selalu mengagungkan pagi dengan segala kecerahannya. Hiruplah harapan baru bagimu yang tersembunyi lewat udara yang setiap detik kau hembuskan. Genggamlah pelangi yang merebak ke dalam tanganmu. Ia ada untukmu. Khusus, hanya untukmu. Jangan biarkan ia lewat! Luruhkanlah hatimu; terimalah dan berdamailah dengan dirimu sendiri. Dan, bersyukurlah, tundukkanlah kepalamu sedalam-dalamnya demi Dia yang telah memberimu hidup. Sebab, hidup ini TERLALU indah!






* Bagi jiwa-jiwa mereka yang telah tega membunuh dirinya sendiri...Semoga tidak bertambah lagi...

Jumat, 24 Februari 2012

Kenyamanan Publik

Di parkiran

Sebuah Toyota Fortuner putih. Ada di depan antrianku saat itu. Cakep. Aku ga ngerti tentang kendaraan, terlebih lagi tentang mobil. Feelingku saja yang mengatakan kalo mobil yang ada di depanku itu bagus, cakep, enak dilihat. Masalah harga, aku ga tau. Gelap! Ga seputih warnanya.

Terlihat dari tempatku, pengendara mobil cakep itu adalah seorang ibu muda. Dengan leletnya, ia mencari kartu parkir. Lamaaaaaa banget. Sampai di belakangnya banyak kendaraan yang antri. Semakin gusar. Klakson pun berbunyi. Hadeeehhh... Itu mobil aja yang bagus, tapi sikap dari pengendaranya ga mencerminkan bagusnya mobil yang dikendarainya. *Ga nyambung ya... :P


Di angkot
 
Namanya juga angkot. Berbagai orang yang menumpang, pasti tujuannya berbeda. Turunnya ga bareng sama kita. Saat ada yang hendak turun duluan, kebetulan ia duduknya di pojok, pastilah memerlukan sedikit jalan di antara kaki-kaki penumpang itu. Ada seorang perempuan yang dengan dinginnya tanpa menggerakkan badannya, apalagi barang bawaannya di lantai angkot.  Ia tak memberikan jalan pada penumpang lainnya yang akan turun. Hadeeehhh... Aku hanya bisa menghela nafas dan terdengarlah seseorang di sebelahku berkata, "Mba, tolong barangnya digeser...." 
Ajaibnya, ia tak mendengarkan teguran itu. Ga peka atau gimana ya orang itu......? Sesaat aku takjub, heran, dan merasakan keanehan ada di dalam dirinya.

Di supermarket

Di kassir, ada seorang yang berbelanja, dan setelah menerima struk pembelanjaannya, ia dengan santai mengecek barangnya di situ sampai benar-benar habis dicek barangnya. Sementara, di belakangnya, pengunjung supermarket yang mau bayar di kasir itu kian bertambah banyak. Halaaahhh...

***

Sebenernya, masih banyak kejadian yang aku alami, aku lihat, dan aku dengarkan mengenai rasa tepo seliro ini. Banyak yang buang sampah sembarangan, dan lain sebagainya. Tapi cukup tiga saja yang terpaparkan di sini, ga usah banyak-banyak... :D
 
Sederhana. Tak perlu banyak tuntutan dari sikap kita saat kita berada di arena publik. Minimal ga menghambat dan merugikan orang lain. Ga membuat orang lain kesal dengan sikap kita yang pastinya menyebalkan banyak orang. Siapakah diri kita, sehingga kita berbuat demikian? Membuat orang lain nyaman saat kita berada di tengah-tengah mereka, merupakan sesuatu yang bisa menunjukkan diri kita yang sebenarnya.


Rabu, 22 Februari 2012

Mati Ragaku ini - Di Sini : Doaku untuk Sepanjang Hari ini



Tuhan, 
Kau yang menggenggam bukan saja hati milik kami, umatMu yang tersebar di seluruh bumi
Namun, kau pula yang meletakkan kami pada titik kemuliaan yang tertinggi
Pun kami hanya setitik debu, namun tak pernah sekali pun Kau mengibaskannya
Kau tetap merawat kami, melindungi kami dengan jerih payah kami
Tak satu pun lolos dari pandanganMu
Tetapi, kami selalu tega melukaiMu; mencoba menipuMu; membohongiMu lewat sesamaku di saat-saat lena itu menjerat erat

Duh, Tuhanku...
Betapa berdosanya aku padaMu
Bersimbah kelu air mataku menerjemahkan segala kesalahanku; segala kesombonganku
Kuasa badani begitu merengkuh nafsu duniawiku

Tuhan,
Aku ingin sejenak mencari makna jiwaku bagiMu
Menemukan makna rohku bagi sesamaku; di mana pun aku berada
Meski jauh dari pandangan dan jangkauanku, aku tetap ingin memaknai diriku seadanya menjadi satu manfaat bagi mereka; sesederhana apa pun itu
Tak pernah tahu aku akan mereka, yang bernafas di muka bumi ini
Namun dengan kerendahan hati dan segala ketulusanku, semampuku aku ingin menyentuh mereka; memberi setitik cahaya, sesejuk embun pagi bagi mereka

Tuhan,
Mati ragaku ini - di sini
Tidak sebanding dengan luka-luka yang telah kupersembahkan padaMu
Tidak patut aku menyamakannya dengan kemuliaan yang telah Kau berikan padaku

Setidaknya, bukti kasihku masih ada untukMu, dan aku percaya, Kau mau menerima bukti kasihku padaMu 
Bantulah aku untuk selalu dapat mewujudkannya melalui karya-karyaku, melalui pikiranku, melalui tutur kataku, melalui etis humanisku, melalui doa-doaku yang kuhunjukkan siang dan malamku
Inilah, sebentuk mati ragaku; secuil harapan akan kedamaian dan kebahagiaan sejati
Buatlah aku untuk selalu mampu berbagi dengan sesama kami; di mana pun, siapa pun, bagaimana pun dan apa pun bentuknya dapat aku berikan
Sebagai silih atas segala kekuranganku

Aku melangkah selangkah padaMu, dan Kau berlari menyambutku
Aku ingin memperbaiki, mempermanis persahabatan ini dengan lebih indah lagi; mulai hari ini
Sertailah aku Tuhan, di sepanjang waktuku, hingga aku kembali dalam ketiadaanku

AMIN

Senin, 20 Februari 2012

Jealous Gara-gara Mimpi | Mimpi : Sebuah Petunjuk atau Sekadar Daun-daun Tidur?

Suatu malam, hapeku berlagu. Entah siapa yang membuatnya bernyanyi riang. Tak keburu aku angkat, akhirnya dia mati. Aku masih melayani para pembeli di warung tendaku yang menyediakan hidangan laut. Sampai beberapa kali hapeku berlagu, namun aku tak sempat meraihnya juga. Syukur kepada Tuhan, warung tendaku malam itu memang tak sepi pengunjung. Pergi satu, datang lainnya. Begitu silih berganti. Sampai baru saja mau meletakkan pantatku, terus tak terjadi karena pembeli yang datang lagi. Lumayan gempor juga kaki ini....

Karena kecapekan, malam itu aku langsung tertidur. Sewaktu aku hendak menghubungi si penelepon kemarin malam, sengaja aku cari waktu senggang yang pada saat itu aku hanya sebentar saja  pergi menengok ke warung tendaku, sebab hari ini Ina sudah bisa membantuku kembali. Aku sempet kaget juga, karena orang ini sudah bertahun-tahun ga pernah ngubungin. Sehingga akhirnya, aku SMS orang yang berteriak-teriak lewat hapeku semalam, yang ternyata temen lamaku, yang masih menganggapku sebagai guardian angel baginya. Ah, ga apa-apa sih, dia mau nganggep aku apa, yang penting, antara aku dan dia sudah ga ada cerita apa pun. Itu kisah lama. Aku garis bawahi, itu kisah lama. Lagian, kan sekarang ini, aku  sudah punya kisahku sendiri.

Malamnya, setelah aku SMS ke dia, Harris meneleponku. Ia langsung bercerita tentang sesuatu kejadian aneh perihal mimpi. Mimpi yang dialami oleh kekasihnya. Lantas apa urusannya denganku ya? Batinku saat itu. Aku mendengarkannya terus. Pada awalnya, setelah ia menanyakan kabarku, ia kemudian bertanya kepadaku, "Rin, di minggu-minggu ini kamu pernah mimpi ketemu sama orang yang belum kamu kenal ga?"
"Belum mas. Emang kenapa?" tanyaku heran, karena aku tidak pernah memperhatikan mimpi-mimpiku selama ini. Sejak dulu, kepadanya aku sudah memanggilnya mas, karena ia tidak mau dipanggil Koko, meski ia adalah seorang Cina tulen. Katanya, ia ingin merasakan bahwa ia adalah orang pribumi, orang Indonesia. Tidak membedakan antara aku dengannya. Karena ia berasal dari Semarang, maka aku memanggilnya dengan sebutan Mas.Dan ia cukup senang dengan panggilanku itu.

"Gini, Rin. Cewekku, si Dewi, sekarang lagi ngadat sama aku."
"Gara-garanya dia mimpi aku sama kamu lagi ngobrol berdua, kayak orang yang lagi pacaran gitu lah. Mesra banget gitu katanya. Dia mimpiin kita tuh udah tiga kali berturut-turut,"
"Terus mimpi yang ke dua, katanya aku tuh manggil kamu dengan nama RIN. Masih mesra. Nah mimpi yang ketiga, waktu itu katanya aku sama kamu lagi duduk-duduk gitu, terus kamu dipanggil sama seorang bapak dalam Bahasa Sunda begini: Rin, ke sini, sudah sore dan, mulai dari situ, dia murka sama aku. Aku sampe nyempet-nyempetin cari-cari di internet tentang mimpi. Dan aku Googeling, ga ada satu pun artikel tentang mimpi seperti itu...." cerocosnya tanpa henti. Ga ada dia kasih ruang bicara padaku. Aku masih mendengarkannya dengan tabah.
"Kenapa aku langsung ngubungin kamu, karena ciri-ciri cewek yang ada di mimpi-mimpinya si Dewi itu, mirip banget sama kamu. Aku jadi langsung inget kamu dan langsung telepon kamu kemaren. Eh, ga diangkat juga," imbuhnya.
"Haahahahahha..." ketawaku meledak saat itu juga.
"Lah, koq malah ngetawain.... Ini serius Rin. Dia sekarang ga mau ngomong sama sekali ni sama aku. Ditelepon, dia ga mau ngangkat teleponnya. Padahal jelas-jelas hapenya aktif koq..."
"Ya abis, mau gimana lagi Mas. Namanya juga mimpi. Aku musti bantu gimana coba? Kenal pun aku ga sama dia." Kataku sambil menahan tawa.
"Nah, itu dia Rin. Aku juga sempet bilang kayak gitu sama dia. Sapa tau aja yang di mimpinya itu namanya Ririn, Rina, Rini ato Merin. Bukan kamu, Karin. Lagian kenapa ga ditanyain aja sekalian di mimpinya, siapa maksud dari nama RIN itu. Trus si Dewi bilang, ya mana aku tau. Masa di mimpi bisa nanya-nanya kayak gitu. Gitu Rin jawabannya..." Harris nampak kesal dengan ceweknya yang marah-marah ga jelas hanya gara-gara  mimpi. Tapi aku akui, bahwa Harris adalah seorang yang easy going. Dia cowok yang simpel dan ga neko-neko. Dulu, aku ga pernah bisa marah padanya, saking easy goingnya. Karena, marah pun percuma saja bagiku. Ah, ternyata masih tidak berubah. Mungkin itulah salah satu point dariku buatnya.
"Ya, aku sih ga papa dia mau ngambek kaya gitu sampe kapan pun juga. Tapi aku tuh pengennya dia dengerin dulu penjelasanku." Suaranya kini agak lunak.
"Ya udah, kamu berjuang lagi deh Mas... Bilang aja gini, kalo pun emang bener itu tuh pacarku di mimpimu itu yang bernama Karin, dia itu ga banget deh. Dia itu bukan tipe aku."
"Pokoknya, jelek-jelekin aja aku mas." Lanjutku lagi.
"Ga, Rin. Ga papa. Aku juga pengen tau, sampai dimana dia mau bertahan kayak gitu terus. Satu yang pasti, aku cuma pengen terus jadi sahabatmu. Meski apa pun yang terjadi. Aku ga takut koq sama suamimu."
"Wah-wah...hati-hati ah..." Ujarku.
"Ya udah deh Rin... Aku cuma pengen nanyain itu aja koq. Sapa tau kamu juga mimpi hal yang sama dengan si Dewi. Ga ngerti deh tuh anak. Percaya banget sama mimpi-mimpinya sebagai petunjuk buat dia. Emang bener sih, kita pernah deket. Tapi bukan berarti dia harus menelan mentah-mentah mimpinya itu." Katanya dengan emosi yang hampir memuncak lagi.

Akhirnya pembicaraan selesai. Ada sesuatu yang menggelitik hatiku. Bukan hanya dengan persoalan mimpi itu. Mau tidak mau itu memang merupakan petunjuk buatku. Sepertinya, Harris masih menaruh harap padaku, yang akhirnya dia masih mencari-cari sosok sepertiku. Aku yang langka di matanya. Ia begitu menyanjungku sebagai perempuan sederhana yang ga neko-neko, ga matre, dan sebangsanya, yang membuat dia menganggapku sebagai perempuan langka yang harus dilestarikan. Hanya saja, karena strata sosial yang begitu menyolok, aku mundur dari kehidupannya, meski dari awal pertemuan dia begitu heran, karena di jaman sekarang masih ada perempuan seperti aku. Ah, dunia sungguh berwarna. Mimpi oh mimpi.



* Diceritakan kembali dalam bentuk AKU. 
Semoga kedua temanku ini mendapatkan yang terbaik dari masalah ini. Meski aku tahu, Harris cowok easy going itu, pasti akan meninggalkan ceweknya.

Senin, 13 Februari 2012

Menyerahkan Nyawa dan Tubuh Kepada Narkoba

Belajar dari kematian Sang Diva : Whitney Houston, yang meninggal karena diduga mengkonsumsi narkotika dan obat-obat terlarang lainnya. Sang Diva yang telah menjalani rehabilitasi. Sang Diva yang kekayaannya ludes karena narkoba. Duh, sungguh amat disayangkan. Berjuta penggemar bagai tiada artinya. Berbagai penghargaan baginya seolah sepi. Memburu sesuatu yang memabukkan dan konon membuat sang pemakai dapat melayang-layang di udara, bagai layangan putus. Perlahan tetapi pasti, layangan itu akhirnya luruh, tak berdaya. Dan yang pasti : SIA-SIA.

Aku jadi pengen bilang....... Bagi generasi muda dan yang masih merasa muda terus yang sedang dalam tahap mencoba dan mencari jati diri maupun yang sudah mapan. Jadilah seseorang yang membanggakan hatimu, hati kedua orang tuamu, agamamu, dan bangsa negaramu. Hendaknya rasa labilmu dilampiaskan kepada hal-hal yang bersifat positif.

Narkoba jelas akan merenggut nyawamu dengan cepat; karena itulah yang dia pinta. Maka, janganlah menyerahkan nyawa dan tubuh kepada narkoba. Tetapi serahkanlah ia kepada hal-hal yang sederhana tetapi mulia. Bergegaslah menuju alam. Menelusuri sungai-sungainya. Menghirup udara segar sebebas-bebasnya dan berbagi bersama banyak sesamamu. Di sanalah sari pati alam akan kau nikmati sebagai sesuatu yang indah tiada bandingnya, sehingga membuatmu selalu dapat bersyukur dalam suka dan duka.


* RIP Whitney Houston (1963 - 2012)

Kamis, 09 Februari 2012

Diary Pramugari : a Novel by Agung Webe | True Story | Review


Sebuah kisah nyata yang dipaparkan oleh Agung Webe dalam bentuk novel yang berjudul Diary Pramugari menceritakan tentang seorang wanita cantik bernama Jingga yang mengalami trauma sejak ia mengenyam pendidikan Sekolah Menegah Pertama. Karena trauma itu, ia jadi sangat membenci yang namanya lelaki. Ditambah lagi, karena bapaknya bersedia menikah lagi, saat ibunya menganjurkan untuk menikahi wanita lain. Bukan tanpa alasan, mengapa ibunya menganjurkan bapaknya menikah lagi, karena ibunya sakit sehingga menyebabkan ia menjadi firgid.

Pada awal masuk ke dunia pramugari, Jingga bertemu dengan Anya - seorang penganut agnotisisme, kemudian Puri - seorang hiperseks. Kemudian Jingga juga bertemu dengan Alvin sang pilot yang ganteng itu. Jingga adalah seorang perempuan yang taat beribadah. Anya yang berpacarkan Andre, selalu berkata kepada Jingga bahwa di dalam berdoa dan beribadah, hendaknya dilakukan dengan jiwa. Jangan hanya sebagai mekanisme atau kewajiban yang dibawa dari agama saja. Jingga seringkali merasa malu dengan Anya yang tidak beragama itu. Anya demikian mempercayai keberadaan Tuhan, meski tidak beribadah, namun ia telah dianggap guru oleh Jingga. Kepada Puri, Anya menyarankan untuk menuai apa yang telah ditaburnya, saat Puri menghadapi masalah hidupnya, akibat kebablasan dalam berhubungan dengan pacarnya, Igo. Anyalah yang menyadarkan Puri, hingga ia memilih keluar dari profesinya sebagai pramugari, memilih merawat anaknya hingga lahir dan membesarkannya.

Selubung misteri yang melingkupi Jingga, perlahan kian terkuak, berbekal seuntai kalung kristal yang diberikan oleh ibunya yang dititipkan kepada Mbok Kurti. Kalung itu diberikan oleh Mbok Kurti kepada Jingga sesaat setelah pemakaman ibunya Jingga. Lambat laun, Jingga mengerti akan jati dirinya. Itulah yang membuat ia merasa berdosa terhadap bapaknya. Ternyata, lelaki tidak semuanya bisa dibenci. Ada bapaknya. Ada Alvin yang secara perlahan bisa membuat Jingga cemburu saat ia melihat Alvin berjalan dengan perempuan lain.

***
Liku-liku kehidupan seorang Jingga sungguh mempesonakan batinku.  Setidaknya, aku bisa belajar banyak dari kisah ini. Bagaimana membina hubungan kita dengan Tuhan dan sesama. Menurutku pula, Anya adalah seorang yang sangat peka akan keadaan. Ia mampu menetralisir keadaan dengan segera. Pikirannya selalu positif dan jernih. Tetapi, alangkah lengkapnya jika semua itu berpadu di dalam lingkar keagamaan, yang menurut Anya, agama hanyalah sebagai media untuk memperebutkan umat. 

Di buku ini, terdapat banyak nilai filosofi tentang kehidupan. Aku jadi mengerti tentang kehidupan di luar sana. Pelajarannya lagi adalah betapa ditekankan bahwa, apapun yang terjadi harus dihadapi, bukan malah dihindari. Banyak hikmah yang bisa dipetik, namun ada pula yang tidak perlu diambil.

Bukunya asik banget buat dimiliki :D

***

Inilah beberapa perkataan yang berkesan buatku.

"Aku punya cerita sendiri untuk hidupku, kamu juga punya cerita sendiri untuk hidupmu. Buatlah ceritamu itu seindah mungkin"

"Temukanlah jalan itu"

"Sekarang adalah bukalah mata hatimu terhadap segala kemungkinan"

"Jalan itu adalah bagi induvidu untuk memahami dirinya sendiri, karena bagi siapa yang telah memahami dirinya, akan memahami Tuhan"

*** 

Informasi Buku

Judul : Diary Pramugari : seks, cinta, dan kehidupan
Penulis : Agung Webe
Penerbit : Pohon Cahaya
Edisi : Cetakan 5, Januari 2012
Deskripsi fisik : 352p.; 18,5 Cm.
ISBN : 978-602-97133-3-6