Thanks for this day.. May God bless us everyone and everywhere..
Diberdayakan oleh Blogger.

Sabtu, 11 Juni 2011

kotak rindu

Kemarin aku menyimpan obat kangen ini di kotak obat yang kunamakan Kotak Rindu.

Telah berbutir-butir aku menyimpan obat di Kotak Rindu ini sebagai pertolongan pertamaku jika aku kangen padamu.

Setiap hari, aku harus meminumnya paling tidak sekali saja, agar gumpalan kangenku ini lumer bersama darah di dalam tubuhku.

Belum berapa lama ini, aku sempat kehilangan Kotak Rinduku. Aku sangat lemah dan sedih karenanya.

Aku bingung karena hanya aku yang cukup mengerti seberapa takaran dan dosis yang harus aku minum, untuk melumerkan gumpalan-gumpalan kangenku agar mencair menjadi darah dalam semangat di tubuhku, dalam menghadapi segala aktivitasku.

Aku bingung harus mencari kemana? Sementara obat itu sangat khusus dan eksklusif tersedia hanya buat tubuhku saja.

Aku sempat panik dan meradang! Aku sempat kehilangan keseimbangan juga karenanya.

Cemburu buta! Itulah penyakit pertama yang merebak sebagai efek dari kehilangan Kotak Rinduku itu.

Over sensitive berkepanjangan yang sungguh menyiksa batinku, karena menjalar ke hal lain menjadi negative thinking dan hipertensi.

Selama beberapa waktu, aku bergumul dengan kehidupanku tanpa obat rinduku. Sampai akhirnya kau datang dan tersenyum membawakan Kotak Rinduku.

Aku peluk sang pembawa kotak rinduku, dan kau pun berbisik, "Aku tak menyangka kau bisa seperti ini tanpa kotak ini,"

Aku memukul manja dadamu sambil berkata pula, "Sesungguhnya, jika kau bisa lumer dalam darah di tubuhku menjadi semangat di sepanjang hidupku, aku tak kan pernah lagi membutuhkan kotak itu..."

Lalu, kau memelukku hingga aku bersembunyi di dadamu yang wangi, setelah kau kecup bibirku beberapa lamanya dengan lembut.

Jumat, 10 Juni 2011

KIRI-KIRI (to the left, to the left)

Sore itu pulang kantor, naek angkutan kota membelah Jl. Cihampelas yang sekarang ini lagi musim macet parah karena hampir masa liburan. *Baru hampir aja udah macet parah, apalagi kalo pas liburan* Banyak bus pariwisata dari berbagai daerah parkir di sepanjang Cihampelas di depan toko-toko yang berjejer di sana.

Ada satu peristiwa sederhana yang baru aku alami, saat aku hendak turun dari angkot.

Aku lalu bilang, "Kiri.. Kiri," Aku memang tidak berteriak. Tapi bisa aku pastikan, kalo suaraku ( seharusnya ) bisa terdengar oleh sang sopir angkot. *Di Bandung kalo naek angkutan umum dan minta berhenti angkotnya, diwajibkan bilang KIRI.. Ga tau kalo di daerah laen sama, atau kudu bilang apa ya..:D

Entah karena sedang melamun atau terlalu konsentrasi ke jalanan, suaraku ini ternyata tak dapat didengarnya. Aku ulangi lagi dengan bilang, "Kiri..Kiri.." Sampai berkali-kali. Namun, angkot terus melaju hingga sekitar lima ratus meter, sampai akhirnya semua penumpang angkot itu berteriak dengan kencang, membentuk satu nuansa koor, "Kiri..Kiri.."
Dari kaca spion, aku melihat sopir angkot itu tampak kaget, dan ia segera menepikan angkotnya sambil berkata, "Maaf.. Maaf ya..."
Aku hanya tersenyum menjawab permintaan maafnya itu, sambil aku berikan ongkosnya. Mungkin ia menyangka aku marah, karena kejauhan sehingga menyebabkan aku harus berjalan kembali sejauh itu. Tapi karena aku tersenyum padanya sebagai tanda bahwa aku tak keberatan diturunkan di situ, maka ia pun lantas tersenyum penuh kelegaan.

Sederhana, tetapi tetap memberikan keindahan. Lewat senyum ada komunikasi. Bahkan bisa melegakan seseorang tanpa berkata-kata. Tersenyumlah untuk berbagi keindahan.
Hihihih.. Jadi inget lagu yang judulnya Irrepleceable - Beyonce. Lagunya easy listening. Aku menyebut lagu itu sebagai Lagu Angkot, meski lyriknya bukan tentang transportasi, tentunya, walau ada kemiripan dikit bangetttt... *ditoyor masal*

Selamat mendengarkan Lagu Angkotku yaaaa :))

Selasa, 07 Juni 2011

IF : LDR Cases Vol.1



1. "Jarak bukan masalah, sayang. Karena cinta tak mengenal jarak," ucap Givan pada Riri saat di bandara ketika ia hendak meninggalkan Riri di kota ini. Riri hanya meneteskan air matanya saat Givan kembali berujar, "Tenang, sayang... Kamu kan bisa hubungi aku kapan pun juga, dan jika kamu belum sempat menghubungiku, aku pasti akan selalu kasih kabar koq,"

2. "Meski kita belum pernah bertemu, tetapi entah mengapa hatiku berdebar setiap aku melihatmu online. Miss you," ucap Riko di seberang sana ketika ia menelepon Bella dengan senyum renyahnya.
Mereka baru pertama kali saling bertukar suara.

***

Waktu terus bergulir, segala peristiwa menimbun yang pernah ada, tak terkecuali dengan sepenggal kisah dua pasang kekasih yang tengah mengubah getar menjadi debar, dengan apa adanya.

Jika salah satu dari mereka tak pernah lagi membalas setiap sms dan membiarkan ratusan panggilan tak terjawab, apa yang sesungguhnya terjadi?

Jangankan untuk memberi kabar, untuk menjawab sms atau telepon saja, ia sudah tak sanggup...

Jika di antara mereka yang belum pernah bertemu satu sama lain namun salah satu di antaranya mengharap kejelasan tentang hubungan itu, apa yang sesungguhnya terjadi?

Sementara hingga detik-detik berlalu, mereka belum pernah mendaratkan hubungan yang sesungguhnya ke bumi dan masih mengawang di langit biru, yang kadang kelabu...

Ada sekian tanda dari berjuta kejadian. Jika semua tanda itu benar-benar tejadi... Apakah itu pertanda ia ingin menghentikan hubungan yang tengah terjalin? Jawabnya adalah belum tentu.

Semua bergantung pada keyakinan hati. Yakinkan bahwa semua akan baik-baik saja. Hubungan ini sungguh mengandaikan kepercayaan dan positive thinking yang sangat tinggi.
Jika pada akhirnya tak sanggup menjalani semua ini, mundurlah dengan teratur dan elegan.
Yakinkan pula bahwa tak ada waktu yang terbuang sia-sia. Waktu telah berkenan mendidik kita lewat berbagai hal untuk pertumbuhan bagi sebuah kebijaksanaan, kepekaan, dan kedewasaan. Maka, bersyukurlah atas segalanya...
Tidak usah memperparah keadaan diri menjadi demikian terpuruk, apalagi sampai mendramatisir suasana hati.

Jika bukan diri sendiri yang menjaga hati kita, lantas siapa yang harus menjaganya?
Teruslah berupaya dan berkata, "never say never!" karena sesungguhnya kesempatan itu selalu ada, selama kita masih bernafas...



*Untuk yang sedang menjalani LDR... Tak perlu kecil hati dan membandingkan dengan hubungan yang tak berjarak. Kata orang bijak yang pernah aku dengar : Sayangi proses melebihi hasil yang akan didapat :))

di sudut sebuah pagi

Terbangun aku di sebuah sudutnya pagi ini. Pagi masih pekat dan prematur. Ayam-ayam pun masih rabun untuk menyatakan bahwa ini adalah pagi.

Aku mendapatimu terduduk lunglai di suatu sudut pula. Entah sudut mana kau terduduk. Aku coba memicingkan mata demi melihatmu, melihat hatimu dan menciumnya dengan hormat. Aku tak dapat memejamkan mataku kembali. Pikiranku melayang padamu. Terus dan terus. Apalagi setelah aku lihat gerimis turun dengan perlahan dan lembut. Aku semakin salah tingkah dan aku putuskan untuk mengambil pena ini.

Inilah pena hatiku untukmu, yang kemudian aku sebut sebagai cinta.....

Sayang, adakah nelayan yang memberanikan diri untuk terus melaut, sementara gelombang samudera itu; yang dia sebut sebagai tempat bermain sekaligus tempat menggantungkan harapan telah demikian bergejolak, berhamburan, dan tak memberikan arah angin yang jelas baginya untuk beberapa waktu lamanya? Bahkan nelayan itu tak pernah tahu, sampai kapan akhir dari gejolak laut itu. Ia tak percaya lagi pada cuaca yang mengiringi tempat pengharapannya itu. Ia, bahkan sudah lupa bagaimana caranya untuk kembali memercayai laut sebagai sumber nafkah baginya. Sumber kehidupan dan penghidupan baginya.

Koin itu kembali gemerincing dengan kuat. Sangat kuat. Untuk ke sekian kalinya, dua sisi yang dimilikinya itu ingin diakui keberadaannya. Jika diteruskan untuk melaut, maka nyawa taruhannya. Tetapi jika tidak melaut, ia akan mati.

Manakah yang kau pilih jika kau menjadi seorang nelayan?

Pulang kembali ke rumah.
Menikmati sajian seadanya; sesederhana langit saat pagi dan petang. Menikmati cahaya rembulan, adalah hal yang sangat istimewa. Karena cahaya rembulan itu adalah hatinya yang teduh dan biru, yang sempat terlupakan. Namun cahaya itulah yang kan mengantarmu pada cahaya yang sesungguhnya; matahari.

Jika kemarin, kau adalah rembulan; meminjam cahaya dari matahari, kini jadilah kau matahari sejati bagi dirimu sendiri. Pendarkanlah sinarmu sendiri. Tak lama lagi, akan ada yang membutuhkan sinarmu itu!

Pulang kembali ke rumah.
Kemudian memikirkan untuk pindah dari Kampung Nelayan itu, untuk mencari penghidupan lain yang tak akan pernah lagi memangkas kepercayaanmu, seperti pada laut yang pernah kau selami selama sekian waktu namun tak urung memberi badai juga...
Percayalah, seiring doa dan ketabahanmu, tak lama lagi, tangan yang terentang dan siap memelukmu akan terlihat dari jauh. Meski masih samar, ia hanya akan ada buatmu menjadi nyata. Cuma buatmu!



*Namun begitu, pilihan ada padamu. Aku tak berkuasa apa-apa. Move on or go ahead. Tetap menjadi nelayan, atau menjadi sesuatu yang baru dan mandiri. Pulang kembali ke rumah meski kau tahu bakal tersesat tapi pasti sampai di rumahmu atau kau tetap berdiam di sana, hidup dengan sakit dan perih yang sama.
Mohon maaf, jika pena hati ini tak berkenan bagimu. Sayang, Tersenyumlah untukku :)