Thanks for this day.. May God bless us everyone and everywhere..
Diberdayakan oleh Blogger.

Jumat, 17 Juni 2011

Lengser Wengi

Hendra baru saja duduk di kursi kesayangannya, ketika ponselnya berdering.

"Pak Hendra, kita ngobrol yuk. Ada beberapa masalah kantor yang ingin aku obrolin sama bapak. Kita ketemu di Madtari ya, biar nanti aku yang bayarin," Cerocos Yanto di seberang sana.

"Oke, tunggu paling lama lima belas menit ya," Ujar Hendra kemudian.

Madtari, sebuah tempat seperti pujasera ini menyediakan aneka makanan dan minuman. Roti bakar beraneka rasa, ada mie instant rebus, biasanya yang dipake adalah indomie (tidak bermaksud promosi lho - red.) Jika pesen indomie rebus di sini, selain mie tentunya, isi di mangkoknya ini pasti menggunung karena di atas mie itu ditaburi keju chedar parut yang berlimpah ruah. Begitu juga dengan roti bakarnya. Dijamin blenger deh...

Di tempat ini jarang sekali sepi pengunjung. Selalu rame. Kebanyakan mahasiswa UNPAD atau ITB yang nongkrong di sana. Murah meriah, itu alasan mereka memilih Madtari.

Terlihat Hendra dan Yanto tengah berbincang serius ditemani roti bakar rasa strawberry-cokelat, keju-kacang. Setelah agak lama roti itu mereka habiskan, akhirnya mereka bangkit dari tempat duduk mereka dan berjalan beriringan. Saat itu waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam.

"Makasih ya pak, atas waktunya. Aku sekarang udah plong," Ujar Yanto sambil tersenyum.

"Sama-sama, To. Kamu ati-ati di jalan ya, Jl. Soekarno-Hatta jauh lho dari sini," Timpal Hendra.

Sepulang dari tempat makan itu, Yanto memang mau pergi lagi ke kantor, untuk inspeksi pengiriman barang. Dari situ, ia melewati Astana Anyar, daerah pekuburan umum.

Tiba-tiba ponselnya berdering. Ia menepikan sepeda motornya ke pinggir jalan. Saking asiknya, ia tak menyadari kalo ia berhenti di tengah area pekuburan itu.

Setelah selesai berbincang dan bersiap menghidupkan mesin motornya, entah mengapa ia ingin sekali menengok ke belakang.

Terjawab sudah, mengapa ia ingin menengok ke belakang. Ternyata ia melihat pemandangan yang belum pernah ia jumpai sebelumnya. Ia tak pernah mengenal Kuntilanak. Tetapi, ia yakin bahwa ia kini sedang melihatnya berjalan dari arah pekuburan menuju ke tempat Yanto berdiri. *Mungkin dia mau maen kali ya... :D*

Bergaun putih, rambut panjang ke depan, sehingga ia selalu tak menampakkan wajahnya.
Menyadari itu semua, tanpa berlama-lama di tempat itu, Yanto langsung tancap gas, tak mempedulikan apa-apa lagi.

"Aku bilang juga hati-hati. Ini kan malem Jumat," Kata Hendra kalem. Suara Hendra di telepon sangatlah lirih bagi Yanto. Mungkin, ini adalah tanda-tanda Yanto mau pingsan.

"Iya pak... Jika aku tau dari tadi kalo ini malem Jumat, pasti aku ga akan lewat jalan itu. Masih untung aku bisa nyampe kantor pak," Ujar Yanto lemas.

Berat Sebelah

1. "Ma, minggu depan aku kan harus dinas ke Singapura. Aku bisa pinjem uangmu ga?" Tanya Doni kepada isterinya, Susi.

2. "Ma, kalo nanti ada debt collector yang ke sini, tolong bilangin kalo aku lagi keluar kota ya," Ujar Gilang lagi kepada Mira, isterinya suatu saat.

3. "Ma, aku butuh laptop ni, buat ngerjain tugas-tugas kantorku. Kamu bisa pinjemin uang ga?" Pinta Dedi kepada Ria sewaktu mereka berjalan-jalan ke sebuah mal.

***

Sudah berapa ratus kali para isteri ini 'menghadiahi' banyak hal untuk suaminya. Belum lagi masalah anak-anak yang harus diurus oleh kedua tangan mereka.

Perkawinan amat sakral. Dia bukan hanya sekedar mengubah kata kau, aku menjadi kata "kita". Tetapi konsekuensi dari hubungan ini sungguh mengandalkan suatu kerja sama yang baik, bukan hanya sekedar bekerja sama untuk menghasilkan keturunan saja. 

***

Suami isteri... 
Sepasang kekasih yang mencoba mengepakkan sayapnya ke langit biru
Bersama di dunia fana ini
Menggapai bintang-bintang bersama, tanpa harus ada yang mendominasi
Tanpa ada kata mengalah; tetapi lebih pada kata mengerti
Mencintai seumur hidup..
Saling menepuk tangan; jangan sampai ada yang bertepuk sebelah tangan
Ciptakan nada-nada terindah yang kau suka
Untuk dipersembahkan pada pagi dan petang, juga malam yang menaungimu
Di sepanjang usiamu



* Untuk para suami isteri... :*

Kamis, 16 Juni 2011

Ingin Kugamit JemariMu

Sekian waktuku telah lesap
Beterbangan serupa asap
Entah kemana perginya setiap detik yang pernah kujumpai
Ke gunung, ke sungai, ke langit, ke bumi, atau ke pusaran laut?

Apakah sebagian waktu yang lesap itu terlipat rapi di sebuah tempat yang bernama kenangan?

Apakah sebagian waktu yang lesap itu telah mengubah wujudnya menjadi udara yang hanya bisa kuhirup?

Tuhan...
Demi sebagiannya waktu yang lesap itu
Ingin kugamit jemariMu
Menuntun dan menemaniku mengarungi sebagian lagi sisa waktu yang Kau sediakan

samakah antara kaya dan miskin...?

Kaya...
Mengapa setiap orang di muka bumi ini ingin kaya...?

Kaya lahir; hidup dengan bergelimang harta, bahkan (terkadang) tak peduli bagaimana cara memperolehnya...

Namun, banyak pula orang kaya yang menjadi kaya karena kegigihannya dalam setiap doa dan usahanya

Kaya itu...
Enak memilih. Memilih jenis usaha, selalu mengenakan pakaian halus sejenis kain dari sutera dengan kendaraan paling wah mewah dan eksklusif
Kaya itu...
Enak memilih waktu untuk bersenang-senang. Segalanya merasa bisa dibelinya.
Dengan uang sebagai berhalanya jika ia mau menyuap dan ada yang mau disuap...

Kaya itu...
Makanan berlimpah ruah
Segalanya ada di meja makan hanya dengan telunjuk jarinya...

Kaya itu...
Benar-benar sebuah kemudahan duniawi.


Miskin itu...
Orang yang hidup dari sisa-sisa makanan dari orang kaya; seperti Lazarus.

Ia tak pernah mendapat kesempatan untuk berkembang. Apapun yang dijalankan ndilalah selalu gagal.
Atap rumah bocor, malam kedinginan, dan sandang yang tipis dan sedikit...

Miskin itu...
Tak pernah dipandang sebelah mata. Ke pesta-pesta, ke pasar-pasar, ia selalu merasa tak pantas untuk dilihat dan disanjung...

Jika demikian...

Apakah tidak boleh kaya...?

Apakah orang miskin itu selalu bersikap tulus dan mulia...?!

Jika keadaan orang sudah kaya secara materi, dan dia tak sanggup untuk berbagi...
Maka, untuk apakah seluruh kekayaannya itu?

Jika keadaan orang miskin yang dipercaya untuk membagikan sejumlah sumbangan bagi sesamanya dan ia ternyata hanya menyimpannya saja...
Apakah sikapnya itu lebih mulia daripada orang kaya yang tidak mau berbagi itu...?

Ternyata...orang kaya dan orang miskin itu sama saja, jika di dalam hatinya tidak ada kerelaan untuk saling berbagi; berbagi kasih, berbagi perhatian, dan berbagi pengharapan...


* Kaum bijak pernah berkata, "Orang kaya membantu orang miskin di dunia ini, dan orang miskin membantu orang kaya sebagai bekal di akhirat..."