Thanks for this day.. May God bless us everyone and everywhere..
Diberdayakan oleh Blogger.
Tampilkan postingan dengan label Yogyakarta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Yogyakarta. Tampilkan semua postingan

Jumat, 21 Oktober 2011

Kisah Seputar Merapi

Tampak dari atas, tempat tinggal Mbah Maridjan dalam peringatan 1 tahun meninggalnya Mbah Maridjan


Beberapa hari di Yogyakarta, bagiku sangat berkesan. Meninggalkan jejak yang ga bisa aku lupain seumur hidupku. Saat itu, kami makan malam di sebuah angkringan pendopo, kami diajak sang tuan rumah makan malam di sana. kami bertujuh dijamu makan malam yang bagiku sangat spesial. Bukan karena dijamu lho, acara makan malam itu menjadi berkesan...hehehe, yang kebetulan saat itu pas tanggalnya aku lahir ke dunia ini.






Selain menu spesial yang dipilihkan sepasang tuan rumah ini, diantaranya wedang bledug yang isinya rempah-rempah : gula jawa segandu, sereh, kayu manis, jahe, cengkih, dan... ah, itu yang sanggup aku ingat. Sangat nikmat diminum untuk tubuh yang penat dan lelah, setelah seharian tadi, seusai bertugas, kami pergi ke Lava Tour di Desa Kinah Rejo.

Ternyata, ada kisah yang menyelubungi terkait dengan meninggalnya saudara-saudara kita yang tinggal di sekitar Gunung Merapi. Dikisahkan bahwa abu vulkanik itu menutupi seluruh area. Saat itu, pasca meletusnya Gunung Merapi, para sanak saudara mencari kerabat-kerabatnya yang sudah tidak mungkin lagi bisa ditelusur karena tebalnya abu yang mengubur hidup-hidup mereka. Tetapi, kejadian aneh itu dapat menjadi petunjuk orang-orang yang mencari saudara-saudaranya yang hilang.

Petunjuk itu berupa suara yang berkata, "Aku neng kene, aku neng kene..." yang artinya "Aku di sini, aku di sini..."
Benar saja, setelah menemukan asal suara itu, dan kemudian dibongkar, maka diketemukanlah jenazah saudaranya yang telah meninggal.

Petunjuk lainnya adalah, adanya seekor ayam yang makan di atas tanah itu. Dari mana gerangan ayam itu? Sedangkan kehidupan belum lagi ada, terutama pohon-pohon, apalagi ayam. Bahkan semak belukar pun belum lagi bertunas. Dengan feeling yang dimiliki, di bekas berdirinya ayam itu kemudian dibongkar. Akhirnya, diketemukanlah mayat yang sulit diketemukan itu.

Kisah ini memang tak bisa dimengerti dengan akal dan pikiran kita. Namun, melalui hal itu, Tuhan telah menunjukkan kasih sayangNya, kekuasaanNya kepada umatNya. Memang, tidak semua korban bisa diketemukan dengan cara seperti ini, yang hilang dan belum diketemukan masih sangatlah banyak. Tetapi menurutku setidaknya, alam pun telah turut bersimpati dan berempati kepada manusia dengan caranya sendiri.

Senin, 04 Juli 2011

Ternyata Kamu Masih Manis, Sayang

Lekuk tubuhmu
Pusar menyibak anggun
Sepanjang malam
Aku jelajahi tubuhmu
Sepanjang waktu
Aku nikahi jiwamu

Raga lunglai jiwa menyesap intimu
Galau sempat tertinggal di situ
Air mata menggenang riang
Bersahutan tak kenal subuh, pagi, siang, sore, dan malam
Aku pacu segenap rindu menjadi kenangan bersamamu

Yogyakarta,
Belum habis aku merekam jejak
Di seluas Laut Kidul
Di sepanjang Kali Opak
Di dalamnya bumi Merapi
Debumu pun aku bawa, bungamu aku sematkan di rambutku

Yogyakarta,
Belum habis aku mengecup tubuhmu
Dedaun dan bebatu yang menyimpan berjuta sejarah
Belum habis aku menyantap keindahanmu
Menyetubuhi air-airmu; sungguh aku belum puas!

Aku luruh dalam pelukan yang tak tersentuh
Aku tenggelam dalam senyum yang samar tak teraba mata
Aku rebah dalam kecupan demi kecupan yang tak terjamah
Aku merasakan udaramu menghembus
Sungguh aku sanggup mengecapmu
Ternyata kamu masih manis, Sayang...

Jemputlah aku di bawah pohon asoka itu, saat aku kembali...
Menjelajahi cinta dan jiwamu dalam deru ombak, dan belai sang bayu...

Sabtu, 02 Juli 2011

Kosong Tak Berarti Hampa

Kubuka mataku perlahan
Borobudur tiba-tiba telah berdiri di depan mata
Tak jauh dari tempatku berada kini
Perlahan kurebakkan senyum, memeluk pepohonan dan udara yang kureguk

Kulangkahkan kaki, kutebarkan pandangan
Kupijak dengan mesra bumi di atasku
Setitik air mata jatuh membasahinya
Ini yang menyambutku; ini yang membuatku semakin mencintaimu

Telah habis nyawa leluhurku di sini
Kosong, namun tak hampa
Kering, namun tak kerontang
Pedih, namun tak menyayat

Masih ada sepotong jiwa yang menyambutku
Ada energi baru yang perlahan mengisi satu bejana jiwaku
Ada semburat senyum yang diam-diam menjadi hadiah bagiku
Yogyakarta, kau merengkuhku selamanya meski sudah tak ada lagi yang bersisa
Menyentuhku dengan udaramu; dengan sejatimu untukku

Jumat, 01 Juli 2011

Ngayogyakarta Hadiningrat, I'm Coming

Yeay..!! Akhirnya aku bakalan ketemu lagi sama Malioboro, sama Jogja yang sangat istimewa.

Mungkin dan semoga tidak ada yang berubah...
Rinduku terlalu luas dan penuh untuk kuceritakan. Moga dia masih mengenalku dan mengasihiku seperti aku mengenal dan mengasihinya.

Semangat di jalan... Tapi sebentar lagi aku mau bobo :D
Biar besok perjalanannya semakin asik dan berkesan :)

Untuk sahabat-sahabatku terkasih, aku pamit dulu ya.. Mohon maaf tidak bisa mengunjungi kalian. Aku mungkin hanya bisa posting aja, dan diam-diam mengunjungi kalian tanpa meninggalkan komentar.
Maklum hape jadul, jadi ga support buat ninggalin komentar; ga semua blog yang aku kunjungi bisa dikomentari :D

Kamis, 02 Desember 2010

Tertunduk : Saat Kata Monarki Terucap

Aku tertunduk lemah dan enggan berkata apapun juga
Saat mendengar Ngayogyakarta Hadiningrat digugat keistimewaannya

Aku memang bukan siapa-siapa
Apalagi seorang bangsawan dari trah Mataram
Aku juga bukan ahli, bukan pakar dari sebuah ilmu

Aku hanya rakyat biasa yang tak mengerti dunia ini, 
Yang hanya bisa berusaha untuk mensyukuri hal-hal kecil yang terjadi di depanku
Yang hanya mengerti bahwa hidup itu penuh perjuangan
Bekerja dari pagi hingga petang
Memaparkan cinta yang mengejawantah dariku bagi dunia; setidaknya bagi dunia sekitarku, di mana aku bernaung di dalamnya

Monarki...
Apa itu monarki...?
Aku tak bisa jelas mengertinya
Mengapa satu kata monarki menjadi satu kata yang marak saat ini...???
Untuk apa dia ada dan menyertai Yogyakarta tercinta?
Mengapa saat dahulu kala kata monarki tak pernah terdengungkan untuk Yogyakartaku...?
Mengapa saat Merapiku menghentikan semburannya, baru terucap gugatan itu...?

Sabda Pandita Ratu; Tahta Untuk Rakyat...
Itulah yang kutahu sejak dulu dari Yogyakartaku...

Katamu, bahwa ucapanmu itu telah membuat rakyat Yogyakarta salah mengerti, miss communications, salah paham, atau apalah itu namanya...
Tidakkah kau tahu, bahwa ucapanmu itu telah melukai hati Yogyakarta...?
Kau lukai Yogyakarta hanya dengan satu kata yang meluncur dari mulutmu...!
Justru dari perkataanmu itulah Yogyakarta itu disebut istimewa

Aku hanya tahu bahwa sejarah tak bisa direkayasa, tak bisa diulang kembali...
Itulah salah satu bentuk kekayaan Indonesiaku yang wajib dilestarikan

Demokrasi...
Apa itu demokrasi...?
Aku hanya tahu bahwa pemilihan yang dikembalikan kepada rakyat, itu yang disebut demokrasi...
Sebuah pemilihan yang belum tentu juga jujur, belum tentu juga membawa kebahagiaan bagi rakyat
Belum tentu juga bersih dari yang katanya money laundring...!
Memaparkan berbagai janji dan program yang bertebaran indah sesaat sebelum pemilihan...
Tak peduli nantinya akan terpenuhi atau tidak
Tak jarang pula demokrasi malah membawa petaka, saat seorang kecewa akan hasilnya...
Tulisanku ini merupakan salah satu wujud dari demokrasi...
Inilah makna demokrasi yang kutahu...

Semakin letih aku melangkah...
Semakin gontai membawa tubuhku
Aku semakin tertunduk dan sedih
Memikirkan kebingunganku tentang negeriku tersayang ini
Akankah berlaku kembali warisan penjajahan ini; devide et impera...?
Persatuan yang kokoh selama ini; yang dibangun dengan susah payah ternyata bisa hancur dengan sikap ini; melalui kalimat yang sepertinya bukan keluar dari mulut seorang pemimpin

Tak ada ayoman bagi rakyat seluruhnya
Malah melukai hati rakyat di dalam bagiannya sendiri
Referendum menjadi sebuah kata indah sebagai reaksi dari ucapanmu
Itukah yang kau mau...?

Tertunduk... Pening, gundah...
Aku hanya bisa memandang bumi semakin dalam dan dalam lagi
Tak bisa kunikmati pantulan langit di atasnya
Hanya ada gelap dan pekat menyelubungi dan setia menyertai langkah...!


* Jika boleh aku meminta, biarkanlah Yogyakarta dengan keistimewaannya, termasuk sejarah yang terpendam di sana.. Menjaga dan merawatnya, melestarikan dengan ketulusan dan senyum yang terindah.. Masih banyak urusan lain yang urgent yang harus ditangani..