Thanks for this day.. May God bless us everyone and everywhere..
Diberdayakan oleh Blogger.
Tampilkan postingan dengan label kopi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kopi. Tampilkan semua postingan

Senin, 22 Agustus 2011

Masih Tentang Kopi : Akhir Sebuah Petualangan Vera Bersama Kopi

Bicara tentang kopi, dan berhenti di Vol.2, ternyata masih ada kisah lain tentang kopi. Tapi mungkin apa yang aku share ini kali akan ada manfaatnya buat temen-temen sekalian, yang kebetulan baca di blog ini. Jadi aku pikir tak ada salahnya juga jika bikin lagi satu postingan tentang kopi. *Lagian sapa yang bakal nyalahin :P
Semoga ga bosen ya :D

***

Jumat minggu kemaren setelah kami mengadakan acara buka bersama di sebuah resto makanan sunda, Vera yang memang sudah merasakan tenggorokannya ga enak sejak siang itu akhirnya pas hari Senin, dia ga masuk kerja. Dia batuk berkepanjangan, dimulai dari hari Jumat malem sehabis pulang dari acara bukber.
Hari Selasa, dia juga masih belum bisa masuk. Dia juga bilang bahwa dia ga bisa dateng buat upacara tujuh belasan di kampus, esok harinya.

Cerita tentang 'liburannya' yang hari Rabu itu, seperti biasa, dia nyeduh kopi 4 gelas. Lalu di sela-sela batuknya, dia merasakan lambungnya seperti kebakar; panas banget, menjalar sampai ke mulutnya. Lalu, ia juga muntah-muntah.

Hari kamisnya, dia berencana mau masuk kerja. Udah mandi dan mau dandan. Tapi tiba-tiba, dia merasakan pusing banget, katanya sih barang-barang yang diliatnya kaya kebalik semuanya. Nama penyakitnya vertigo. 

Pergi ke dokter deket rumah, pas pusingnya agak reda. Waktu diperiksa, stetoskop itu dipasang. Belum lagi perutnya ditekan oleh dokter muda itu, dokter itu langsung mengatakan, "Aduh, ibu... Maagnya parah ni,"

"Koq tau, dok?" Tanya Vera.

"Tau dong bu. Stetoskopnya langsung bunyi KRUUUKKKK keras banget, padahal masih disentuhkan, belum sampai ditekan tangan saya" Kata dokter itu dengan lembut.

"Gas lambung ibu tinggi sekali, nah waktu ibu batuk, kan perutnya bergejolak. Jadinya ibu muntah-muntah. Tolong ibu jangan makan dulu : nasi goreng, duren, sayuran ijo kaya kacang panjang, kangkung, dan kol. Mie dan kopi juga jangan ya bu," Lanjut dokter itu.

Wew, semua makanan kesukaan Vera dilarang semua, kecuali sayuran, karena dia memang ga doyan yang namanya sayuran. Terlebih lagi dengan KOPI.

"Vertigo itu bukan penyakit. Dia itu efek. Misalnya penyakit darah rendah, darah tinggi, efeknya adalah vertigo. Maag juga. Terus, dari mata juga bisa. Terus migrain. Vertigo gampang sekali nyerang kita, jika kita lagi migrain. Saran saya ya bu, mendingan berhenti total dengan yang namanya minum kopi. Karena sekali saja atau sedikit saja pencetus itu dimakan, misalnya nasi goreng, maka akibatnya bisa fatal. Itu kalo ibu masih saja minum kopi. Nanti nyesel lho bu....." Papar dokter itu panjang lebar.
Sejak saat itu, Vera bener-bener kapok. Ia berjanji tak akan pernah lagi minum kopi. Kopi yang dicintainya, kopi yang disayanginya. Ia harus rela melepaskan cafein itu, dan ia sadar bahwa ucapan dokter itu akan diturutinya; selamanya.

"Aku mau nyari kopi luwak ah..." Celetuk Vera.

"Jangan ah. Apa kamu ga kapok?" Ibunya berkata dengan sedikit membentak.

Minggu, 14 Agustus 2011

Kopi : Vol.2 | End of Vol.2

Kopi dan Virus Bandel

Kopi memang membuat segar bagi para pecandunya. Klop dengan Vera, Widya bisa ngabisin 3 gelas kopi dalam sehari, bukan kopi hitam. Di sini Vera memiliki teman sepecanduan :D
Bedanya, selain mempunyai penyakit maag yang suka kambuh gegara minum kopi, Widya mempunyai penyakit darah tinggi yang dibawa dari neneknya.

Suatu ketika, penyakit maagnya Widya kambuh.

"Dokter, saya udah nyoba buat ga minum kopi selama 3 hari. Tadi saya minum kopi lagi. Sekarang maag saya kambuh lagi sakitnya. Bahkan yang kali ini dibarengi sama diare..." Keluh Widya menerangkan apa yang dirasakannya.

"Nah tuh...! Udah tau ibu bakal sakit maag. Tapi masih saja minum kopi. Sekarang saya cuma mau kasih obat 1 strip (sepuluh tablet) saja buat ibu," Ujar sang dokter tanpa menyembunyikan kekesalannya pada Widya.

Sebenarnya, sebelum dokter itu memarahi Widya, Wina juga pernah negur Widya agar ga kebanyakan minum kopi. Tapi, bisa ditebak, kalo teguran Wina selalu ga diwaro (dianggep-red.) sama Widya. Begitu pun dengan Vera yang juga sudah ditegur berkali-kali oleh ibunya tentang kebiasaannya minum kopi, tapi tetep ga mempan. Buktinya, Vera masih saja minum kopi sampai detik ini.

"Tapi bentar lagi aku kan pulang sore, Na. Aku mau minum kopi lagi ah..." Ujar Widya di sela-sela dia bercerita tentang kemarahan dokter itu padanya.

"Ya terserah sih. Kan yang ngerasain sakitnya juga bukan aku koq," timpal Wina dengan senyumannya, tapi membuat Widya langsung terdiam, tak bisa berkata-kata lagi akibat ucapan Wina.

Memang, kopi itu bener-bener candu ya. Ia bisa menghadirkan sekaligus menguatkan 'virus kebandelan akut' bagi para 'pengikutnya' agar mereka tetap minum kopi.



Kopi dan Prestige

Waktu Wina ke UI Depok, ia melihat satu bangunan di seberang danau, yang dikasih 'judul' branded yang berhubungan dengan kopi. Namanya S**r***k. Temen-temen tau kan huruf-huruf yang tersembunyi dibalik bintang-bintang itu? Pasti tau dong, harus tau :D
Tempat itu selain bisa buat belajar dan nongkrong, bisa sambil minum kopi branded itu. Wina ga tau berapa harga dari secangkir kopi yang disajikan di situ, karena Wina kan ga suka kopi, jadi ga mampir ke dalemnya :D

Bicara tentang S**r***k, Vera pernah bercerita tentang pendetanya yang studi di USA. Pendetanya itu sempet heran dengan harga secangkir kopi yang disajikan di sana. Kalo dirupiahin, waktu itu harganya sekitar tujuh puluh lima ribu rupiah (Vera ga cerita tahun berapa pendetanya belajar di USA, mungkin kalo sekarang harganya bisa jauh lebih mahal lagi).

Pendeta itu menikmati setetes demi setetes kopi itu. Karena ia juga bertujuan untuk menikmati fasilitas hotspot yang ada di kafe itu. Kebayang aja minum secangkir kopi buat seharian penuh :D

Keheranan pendetanya Vera memang cukup beralasan, karena ia tau seluk beluk kopi yang disajikan di kafe itu. Bahwa, kopi yang branded itu, berasal dari Brastagi! Pohon kopi setinggi pohon teh itu hidup dan terhampar indah di sepanjang Jalan Brastagi, dengan udara dingin dan sejuk yang keharuman dan kenikmatannya bisa dinikmati hampir di seluruh dunia. Kopi yang mau ga mau, diakui atau tidak, bisa menaikkan prestige bagi para penikmatnya; siapa pun dia. Ehm... Bangga kan? Kalo aku sih bangga... Dan itu, pasti!

Jumat, 12 Agustus 2011

Kopi : Vol.1

"Aku selalu minum kopi pada pagi hari pas bangun tidur. Segelas (200 ml) dari satu sachet kopi, tapi bukan yang kopi hitam... Cara nyeduhnya ga melulu air panas. Tapi dicampur air dingin, jadi hangat-hangat kuku, lalu langsung deh glek glek glek sampai tandas... Abis itu aku bikin lagi, dengan air panas murni, tanpa campuran air dingin. Itulah yang aku sebut sebagai 'kopi sruput' untuk gelas keduaku. Aku minum kopi keduaku sambil melakukan aktivitas di dapur, menyiapkan segala sesuatu yang rutin pada pagi hari dan untuk nemeni sarapan roti..." Papar Vera menceritakan kebiasaan ngopinya.

"Nah, abis pulang kantor, aku ngopi lagi. Sore-sore ditemani makanan ringan. Trus malem sebelum tidur aku minum kopi lagi. Jadi total sehari bisa sampai 4 gelas..." Lanjut Vera.

***

Itulah Vera yang sudah kena candu kopi. Ia amat sangat bergantung pada kopi. Jika tak minum kopi sehari saja, ia akan merasa lemas tak bergairah. Bahkan, ia tak bisa jika sehari hanya minum satu gelas saja.

Akibat kopi, maagnya kena. Ia sakit dan akhirnya ke dokter. Lalu dokter menyarankannya agar tak minum kopi lagi.

"Untuk berapa lama dok, saya harus berhenti minum kopi?"

"Dua tahun...." Jawab dokter singkat.

Mulai dari sana ia mencoba mengikuti saran dokter dengan berhenti minum kopi sama sekali, namun ia hanya bisa bertahan untuk tidak minum kopi selama dua minggu saja.

***

Sebetulnya bagi pecinta kopi, ada kopi yang konon KATANYA tidak akan menyebabkan sakit maag meski kita kerap mengkonsumsinya. Adalah kopi Aroma, yang kopinya disimpan bertahun-tahun dengan biji kopi pilihan. Biji kopinya disortir hingga yang bener-bener baguslah yang diambil. Tapi maaf, aku belum mencoba ke tempatnya Kopi Aroma di Jl. Banceuy, karena aku mah ga suka kopi. Minum kopi cuma kalo lagi pengeeennnnnn banget :D