Thanks for this day.. May God bless us everyone and everywhere..
Diberdayakan oleh Blogger.
Tampilkan postingan dengan label 15harimenulisdiblog. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 15harimenulisdiblog. Tampilkan semua postingan

Rabu, 26 Oktober 2011

Timelinemu Adalah Hatimu yang Terbaca untukku dan Bagi Mereka

Pernah aku berpikir
Saat kau tak menuliskan sesuatu di sana
Mungkin pasti, aku tak pernah mengenalmu
Linimasamu adalah hatimu, inspirasi bagiku

Tuturmu yang terpapar di sana
Elegan, membuatku tersenyum
Menyadari, bahwa hari-hari teramat indah penuh warna
Melebihi sakit penyakit dan kesedihan

Lewat timelinemu kau menaruh hatimu
Menaruhnya dengan lembut dan santun
Penuh ilmu, penuh makna
Timelinemu adalah hatimu yang terbaca untukku dan bagi mereka; terima kasih

Rabu, 19 Oktober 2011

Hilang

Kasih, aku sadari bahwa kamu tak kan selamanya ada di sampingku
Beragam peristiwa dan keindahan dunia lainnya mungkin akan meracunimu; cepat atau lambat
Ini bukan jeritan putus asa
Bukan pula dinamakan tak hendak mencintai sebuah perjuangan
Namun, aku berusaha untuk memahami dirimu

Saat kau berkata aku bukan sesiapa lagi bagimu
Maka saat itulah aku kan menghilang
Jejaknya hanya ada buatmu, jika kau berkenan mengenangnya
Menghiasi di setiap kisi-kisi batinmu; tersenyum di antara pigura kehidupanmu
Kenangkanlah aku, jika kau mau; dan aku tak kan pernah memaksamu

Sebab ketahuilah, sayang
Di saat aku menghilang dari hadapanmu bukan berarti aku tak ada
Untukmu, aku akan selalu ada
Dalam bentuk doa, cinta, dan udara yang kau hirup; selamanya
Untukmu, yang telah mencintaiku meski hanya sekelebatan masa

Selasa, 18 Oktober 2011

Telur Dadar dan Jodoh

Aku hendak menikmati makan siangku di sebuah warung nasi sederhana yang tak jauh dari kantorku. Sebuah warung nasi yang baru dibuka. Mungkin launchingnya sekitar 3 hari yang lalu. Aku melihat lewat kaca, terdapat banyak menu makanan. Semuanya menerbitkan selera makanku. Namun, ada satu lauk yang begitu mencengangkanku, dan membuat mataku berbinar melihatnya. Jantungku terasa berdesir demi melihat telur dadar itu. Aku pun langsung memilih menu nasi dengan lauk telur dadar.

Telur dadar bertaburkan sayuran. Agak sedikit pedas. Bukan dari cabe. Hanya sedikit saja rasa pedas itu. Ada irisan bawang goreng di sana. Mmhh.. harumnya tak terkira. Benar-benar membuat hidungku kembang kempis. Aku suapkan satu potongan kecil pertama dari telur dadar itu dengan hati yang semakin tak menentu. Membuat jantungku kian tak beraturan detaknya. Telur dadar yang tebal dan sarat dengan rempah-rempah dan sayuran. Aku menikmatinya dengan Dewi Sri Putih yang hangat. Menikmatinya hingga aku terasa melayang terbang ke awan biru dan di dalamnya bisa kujumpai bintang-bintang yang nanti malam bertugas untuk menjaga malam. Sebentar ada wewangi bunga dan daun dengan tiupan angin yang lembut. Aaah. Telur dadar ini sungguh membuatku rileks.

Aku jadi ingat, saat pertama kalinya menikmati telur dadar ini beberapa tahun lalu. Aku pernah berjanji, jika kelak aku menemui dan merasakan lagi telur dadar yang seperti ini, maka aku akan segera menikahi orang yang membuat telur dadar itu. Karena hanya satu orang saja yang bisa membuat telur dadar seperti ini. Bukan hanya tampilannya saja, namun rasanya yang khas, yang hanya aku saja yang tahu. Itu berarti, aku telah bertemu kembali dengan seseorang yang hilang.

Aku pun harus mengakui, bahwa banyak orang dan warung nasi yang bisa membuat dan menyajikan telur dadar seperti ini. Namun, hanya karena cinta, aku sanggup meyakini dan menyadari kehadirannya untuk menjadikannya sahabat, pengayom bagi seluruh hidupku dan aku akan berbakti kepadanya dengan setulus hati hingga ajal menjemputku.

Rabu, 12 Oktober 2011

... Dan Aku Ga Bakal Bisa Lupain Kamu

Sayang, telah jutaan kalimat terlahir untukmu
Itu karena kau adalah rahim inspirasiku
Kau tebar pesonamu ke setiap penjurunya jangkauanmu
Tak apa, karena memang penjuru itu siap kau taburi pesonamu dan mereka tak berhak menyalahkanmu

Sayang, aku hanya ingin menuangkan semua bentuk kebaikanmu
Menuangkannya dengan mengucapkan pesan ini kepada Tuhan
Dia bukan pesan singkat, bukan email, bukan YM, bukan juga lewat telepon dan media sosial pesan ini akan kau dapatkan
Namun, lebih jauh daripada itu semua; pesan ini akan langsung aku kemas dalam bentuk doa-doa tulusku sehingga kau tak kan pernah terusik karenanya

Biarlah doaku ini menjadi nafas bagi udara yang kau hirup
Mengalirkannya menuju ke hati, pikiran, tutur kata, dan otakmu melalui aliran darahmu
Biarlah doaku ini menjadi penyemangat bagi segala aktivitasmu
Menjadikannya kebahagiaan sejati untuk seluruh raga, indera, dan batinmu

Tak ada sesuatu yang lebih indah, selain kau selalu mengingatNya pula
Karena DIA adalah pokok-pokok cintamu
Yang akan membuatmu tumbuh, berbunga, dan berbuah bagi orang-orang di sekitarmu
Itulah pesan-pesan buatmu yang kusampaikan lewat DIA
Dan aku, ga bakal bisa lupain kamu

Selasa, 11 Oktober 2011

Kelabu


Sebuah kelabu dalam pesona hujan
Tak ada lagi dirimu yang menungguku di sana
Sesosok badan tegap itu kini telah menemukan jati dirinya
Pergi merebut kehidupan yang menantangnya

Aku memang tak menantang
Setidaknya untuk adrenalinmu
Karena kesetiaan yang menyelimutiku
Karena kepasifanku menunggumu

Dulu, di tengahnya hujan kau menungguku
Menungguku yang setia menunggu
Tak pernah lama aku membuatmu menunggu
Namun, itu ternyata telah membuatmu resah, bahkan sedikit murka
Dibalik senyum dan tutur katamu kau sembunyikan itu semua

Di bawah hujan kini
Aku sendiri
Bertemankan kelabu
Diam membeku tanpa kehadiranmu
Tetapi hujan ini tetaplah sebuah berkat bagiku, sampai kapanpun!

Kamis, 06 Oktober 2011

Kejutan Manis

Rangga mengulurkan tangannya dengan sigap. Amelia menyambutnya dengan malu-malu dan bahkan terkesan malas. Amelia mendengus sambil tersenyum menyebutkan namanya, seiring Rangga menyebutkan namanya pula. Sebuah perkenalan baru saja terjadi. Perkenalan yang tak terelakkan. Amelia tak habis mengerti, mengapa Rangga begitu ingin mengenalnya, sementara Amelia sudah sering memergoki Rangga jalan bareng Mia, sahabat dekatnya. 

Mia memang tak pernah bercerita tentang kedekatannya dengan Rangga. Tapi Amelia bisa menyimpulkan, bahwa kebersamaan antara Rangga dan Mia, bukan kebersamaan yang biasa-biasa saja. Amelia bisa melihat kemesraan di antara mereka. Ada sebuah rasa yang tiba-tiba menyelusup di hati Amelia, jika ia melihat Rangga dan Mia tertawa-tawa di kantin, atau saat mereka melangkah bersama. Ya, cemburu! Amelia cemburu karena ia telah lama menaruh hati pada Rangga. Ingin sekali ia menghilangkan perasaan itu, namun ia tak sanggup. Bahkan, seringkali ia lepas kontrol, memperlihatkan perasaannya saat ia harus bersama dengan mereka berdua. 

“Malam nanti kamu ada acara ga?” Tanya Rangga kalem dengan senyumnya yang menawan. 
“Mmmhh... Enggak ada. Emang kenapa?” Jawab Amelia sekaligus bertanya untuk menutupi kegugupannya. 

*** 

Dengan hati berdebar, Amelia menanti kedatangan Rangga. Ia gelisah. Mama sampai senyum-senyum sendiri melihat tingkah polah Amelia malam itu. Apa yang akan dilakukan Rangga, Amelia sungguh tak mengerti. Apakah Rangga bertanya demikian itu untuk ngeledek? Begitu batin Amelia. Sabtu malam. Sudah jam tujuh. Jam apel sedunia. 

Akhirnya Rangga datang dengan balutan kaos dilapis kemeja kotak-kotak krem dipadu celana hitam pantalon, tersenyum cerah pada Amelia. Itulah senyum yang paling Amelia sukai. Hampir berhenti jantungnya demi memandang senyum Rangga. 

Rangga mengajak pergi Amelia yang malam itu mengenakan rok bunga-bunga berwarna biru. Sederhana, tapi manis. Ia masih saja berharap Rangga suka dengan performnya malam ini. Meski hatinya terus bertanya-tanya, tetapi ia tetap saja bersedia saat Rangga mengajaknya pergi ke sebuah kafe tenda yang berjajar di sepanjang Jalan Citarum. 

Rangga memilih kafe yang menyediakan menu seafood. Ceria sekali suasana kafe tenda malam itu. Maklum, selain karena malam itu adalah Malam Minggu, langit bersinar cerah menghadirkan jutaan bintang dan sinar rembulan utuh. 

“Amelia, kau tahu kenapa aku mengajakmu?” Tanya Rangga sambil menyeruput teh tawar hangat yang disediakan kafe itu. 
 “Enggak, Ga. Jujur, aku juga bertanya-tanya dari kemaren. Kenapa tiba-tiba kamu muncul di depanku dan....” Ujar Amelia yang tidak bisa meneruskan kalimatnya, karena tiba-tiba saja telunjuk Rangga menyentuh bibir Amelia. 

“Ini semua terjadi karena Mia,” Lembut Rangga bertutur. Membuat kening Amelia kian berkerut. 
“Mia? Kenapa Mia? Bukankah dia pacarmu?” 
“Mia itu sepupu aku. Ia telah bercerita banyak tentangmu.  Dan kau tahu, aku mencintai kamu, Lia...” Papar Rangga. 
Amelia hanya bisa terdiam. Dia malah bingung. Entah harus sedih atau bahagia. Selama ini ia telah salah duga dan sibuk membuat kesimpulan sendiri. Wajah Mia tiba-tiba berkelebat di pelupuk matanya. Terbayang kembali saat ia cemburu pada Mia atas kedekatannya dengan Rangga. Ada rasa bersalah bercampur malu yang cukup mendalam jika mengingat itu. Amelia menerawang. Ia sama sekali tak sanggup berkata apapun saat itu. Lidahnya tiba-tiba kelu. Kepalanya tertunduk dan tangannya sibuk mengocek sambal yang ada di depannya. 
“Kau mau jadi pacarku kan?” Tiba-tiba suara Rangga membuyarkan segalanya. Amelia hanya bisa mengangguk sambil tersenyum manis, semanis malam ini.

Rabu, 05 Oktober 2011

Ciuman Pertama : Sekejap Melayang Menemani Awan

Rona basah membias di wajahku
Setelah rintik kecil itu menyapaku
Kudekap jemarimu yang lekat di jemariku
Hangatnya menjalar perlahan menuju ke atas kepalaku
Mencoba melawan sang rintik yang sedari tadi mengoyakkan kepala dan tubuhku

Hanya ada kau dan aku
Berdua menapaki jalan setapak ini
Senandung kecil hinggap dari bibir kita
Menggumam lirih seiring melodi jiwa 

Sejenak kupejamkan mataku, menikmati alunan suaramu
Mengalun dengan derap rintik yang kian deras memayungi
Tersentakku di antara pilar-pilar hujan
Saat kau mengecupkan kasihmu ke atas bibirku
Ciuman pertama kita di bawah payung air tumpah itu
Sekejap membuatku melayang menemani awan...