Thanks for this day.. May God bless us everyone and everywhere..
Diberdayakan oleh Blogger.
Tampilkan postingan dengan label alam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label alam. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 27 Agustus 2011

ISSEMU Bandung : Indonesia Seven Summits Expedition Mahitala UNPAR

Kenapa ya aku koq berasa terharu dengan petualangan empat anak muda ini. Mereka adalah mahasiswa Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) - Bandung yang tergabung dalam Mahitala (Mahasiswa Pencinta Alam).

Ada rasa bangga yang sungguh menyelinap saat aku melihat mereka di acara Kick Andy hari Jumat malam kemarin. Kesederhanaan masih terpancar di wajah mereka. Bersahaja.

Adalah sang ketua kelompok : Sofyan Arief Fesa (Ian-28th), tapi aku pengen panggil dia Fesa :D
Fesa adalah mahasiswa Magister Management Unpar, 2009.
Ada juga Broery Andrew Sihombing (mahasiswa Jurusan Fisika 2006, 22th), Xaverius Frans (mahasiswa Jurusan Akuntansi 2005, 24th), Janatan Ginting (mahasiswa Jurusan Akuntansi 2007, 22th).

Ada beberapa hal yang menarik bagiku ketika Fesa, Broery, Frans, dan Atan berkisah tentang pengalaman mereka saat mendaki tujuh gunung tertinggi dunia. Tujuh atap dunia. Tujuh tiang dunia.

Puncak Carztensz Pyramid - Indonesia

Dia merupakan jenis gunung kapur dan curam. Mendakinya harus pake teknik climbing dengan menggunakan fixed rope, semacam tali.
Ada empat puncak yang belum dikasih nama, yang akhirnya puncak-puncak itu diberi nama oleh mereka, karena merekalah yang pertama kali menggapai puncak-puncaknya. Nama-nama puncaknya yaitu : Puncak Merah Putih, Puncak Garuda, Puncak Mahitala, dan Puncak Unpar.

Saat di Aconcagua - Argentina

Mereka harus menghadapi Badai El-Viento Blanco, badai putih semacam badai jet strim. Pada saat tiba di gunung ini, ada semacam kengerian, namanya juga Aconcagua, yang artinya devil. Gunung setan yang mencekam. Norman Edwin dan Didik, para pendaki legendaris itu harus menghembuskan nafasnya di sini; di sebuah pendakian yang dijalaninya.

Kemudian saat di Elbrus - Rusia

Pertama mendarat, di sana ga ada yang bisa berbahasa inggris. Beruntung wkatu itu ketemu sama warga negara Indonesia, sehingga bisa banyak bertanya dan memperoleh informasi tentang Elbrus.
Mereka berhasil membuka jalur pendakian baru lewat utara, dan jalur itu dinamakan Indonesian Route.

Saat di Vinson Massif - Antartika
.
Ke camp pertama menggunakan pesawat, dan harganya mencapai 250 juta untuk per orangnya. Gile mahal sangat :D
Ga sembarang pendaki yang bisa mendaki ke gunung yang satu ini. Selain karena tempat ini terisolir, Vinson Massif hanya membatasi 200 pendaki saja per tahunnya. Tujuannya adalah agar kondisi pegunungan tetap lestari dan tetap terjaga.

Saat buang air besar ga boleh di tempat sembarangan *bukan cuma di Antartika saja yang ga boleh sembarangan :D
Artinya, kalo di tempat lain kan bisa pup di balik batu. Nah, di Antartika, kalo mau pup, pupnya itu harus ditempatin di kantong plastik (kantong plastiknya sudah disediain di sana), dan ga boleh ditinggal di sana. Harus dibawa pulang! Kata Atan, yang pasti, bawaan makin berat. Tapi ga bau koq :D
Kalo pipis, itu harus ditampung dulu di botol, kemudian harus nyari semacam lubang di sana, dan baru deh kalo udah nemu lubangnya, isi dari botol itu ditumpahin.

Di Antartika matahari bersinar 24 jam. Mereka pake jam waktu Chile. Jadi kalo pas jam sebelas malem, ya mereka bobo meski matahari bersinar dengan terang. Suhu bisa nyampe minus 30 derajat (dua kali suhu freezer di kulkas kita).

Saat di Everest - Nepal

Ada beberapa bahaya jika mendaki ke Gunung Everest ini.
Yang pertama itu adalah bahaya ice fall, akan banyaknya rekahan batu, jurang salju, frossbite, trus penyakit yang disingkat AMS yang bisa nyerang ke paru-paru : bisa kerendem air (hace), dan menyerang ke otak, karena ada semacam cairan masuk ke otak (hape).

Frossbite biasanya menyerang ujung jari tangan, ujung hidung, ujung telinga. Gejala awalnya ujung-ujung jari terasa dingin banget yang menyebabkan pembuluh darah menyempit ga bisa mengalirkan darahnya ke ujung-ujung jari-jari tersebut, sehingga membusuk dan harus diamputasi. Tidak ada pengobatan lain!
Pencegahannya dengan aklimatisasi atau penyesuaian terhadap udara dan lingkungannya. Dengan naik ke gunung itu, kemudian turun lagi, dan besoknya naik lagi hingga ke puncaknya.

Denali - Alaska

Di sini, para pendaki harus membawa beban masing-masing seberat 50kg. Saat landai, beban bisa ditarik dengan tali, sedangkan saat curam, beban harus dibawa di pundak.


Kendala lain saat mendaki Puncak Denali, dimana kakinya beneran setengah napak saat mendakinya. Bayangin, 70 derajat! Belum lagi white out *ga tau nulisnya bener apa ga :D
White out itu, ga bisa ngebedain antara salju atau awan. Fatal banget kan kalo salah satu dari mereka ada yang nginjek awan? Jadi beneran harus extra super hati-hati deh pokoknya.



***

Kira-kira seperti itulah, yang bisa aku tangkap dari kisah mereka di acara Kick Andy.
Mmhhh... Setelah menyimak kisah di atas, aku seperti mendapatkan sebuah wawasan tentang sebuah petualangan yang mempertaruhkan nyawa. Sebuah petualangan yang berawal dari mimpi -bahkan untuk bermimpi pun tak berani- karena tak ada duit :D

Kini, berkat para sponsor yang peduli, mereka telah berhasil mengibarkan bendera merah putih di atap-atapnya dunia. Biaya pendakian yang menghabiskan sekitar 7M itu tidak sia-sia. Mereka telah kembali pulang dengan selamat dan sehat sentosa. Kembali ke kampus dengan membawa pengalaman yang sangat berharga. Mereka tetap rendah hati, seperti yang pernah aku lihat, Fesa dan Frans ngobrol dengan ramahnya bersama seorang pekarya di salah satu koridor fakultas di kampus.

Teruslah berjuang pahlawanku, dan tetaplah rendah hati. Mendakilah ke gunung-gunung dengan cinta dan kerendahan hatimu. Bukan dengan kata-kata menaklukan alam, tetapi dengan kesungguhanmu bahwa kau berani mencintainya dengan sepenuh hati, agar kau dapat lebih santun dalam segala hal, dan terutama lebih dekat lagi dengan Tuhan Sang Empunya Alam Raya ini.
Sekali lagi, jejakkanlah kaki-kakimu demi cinta dan pengetahuan. Gaungkanlah Indonesia Raya dimana-mana :)

Salam Lestari!
I'm very proud of you, and I love you very much...



* Buku petualangan mereka yang pertama adalah Sudirman Range Trail - 99rb.
Buku kedua mereka : Pucuk Es di Ujung Dunia - 125rb.
Moga aku bisa beli bukunya :D

Jumat, 22 Juli 2011

Tali Rasa : Ikatan Alam Semesta Raya [IASR] | Thanks to Nature




Satu ikatan yang hingga kini tak bisa lepas; bahkan tak boleh dilepas dan terlepas meski untuk sedetik saja...

Jangan dikira air di sungai-sungai dan lautan itu mati *kecuali Laut Mati. Ia selalu bergemuruh meluapkan segenap perasaannya untuk dimengerti yang akhirnya akan memberikan timbal balik sesuai dengan kapasitas pengertian manusia kepadanya.

Jangan dikira bumi ini mati. Ia bahkan acap kali menggoyangkannya untuk memperlihatkan eksistensi dari kekuatannya.

Jangan dikira angin ini mati. Ia sanggup menyapa dedaunan, rerumputan. Bahkan menjadi topan dan badai. Apalagi jika ia telah berkolaborasi bersama hujan. kekuatannya akan mampu merobohkan pohon-pohon besar hingga tercerabut dari akarnya!

Jangan dikira api itu mati. Ia sanggup menghanguskan apa pun yang ingin dihanguskannya. Jika ia berkehendak, ia bisa memercikan dirinya melalui petir! 
Matahari yang menjadikan pepohonan berbunga dan berbuah.

Alam telah memberikan semuanya bagi kita. Melalui empat elemen yang menghidupkan kita. Tak inginkah kita menjaganya?
Menyeimbangkannya menjadi sebuah keindahan tiada tara. Harmonisasi antara alam dan manusia.

Jumat, 10 Desember 2010

Aku dan Bivak : Pemeliharaan Tuhan dan Keindahannya


Teringat saat harus tidur di tempat seperti itu di alam bebas... Bukan bermaksud menyaingi Belantara Indonesia, hehehehehe... Tapi aku ingin sedikit share tentang bivak yang satu ini...

Membuat bivak hasil karya sendiri, yang sambungan dari ranting ke rantingnya harus diikat oleh benang kasur *benang berwarna putih* yang terbuat dari kapas, sehingga bisa diurai kembali dengan cepat setelah ia luruh dan menyatu dengan tanah.

Di gambar itu, benangnya kehabisan, yang ada harus menggunakan tali rafia. Tali rafia terbuat dari plastik, sehingga dia sangat memakan waktu yang lama untuk bisa diurai kembali. Dia musuhnya bumi. Jadi, setelah kami selesai menggunakan bivaknya, dan pada saat bivak itu dibongkar, maka harus dilepas kembali tali-tali rafia itu dan harus dibawa pulang. Sungguh diharamkan, tali rafia ditinggal begitu saja di sana, di butan, di tanah tempat kita pinjam untuk berteduh dari dingin dan hujan selama beberapa malam ini.

Makanya, aku sangat aneh dan heran, jika mendengar yang katanya pecinta alam sangat tega membuang sampah sembarangan seperti botol minuman atau yang lainnya. Pecinta alam gadungan kali yaaa...

Bisa terbayangkan bagaimana suasananya saat tidur di tempat seperti itu. Apalagi saat itu hujan. Meski gerimis, namun air hujan itu sanggup menerobos pohon-pohon besar di bawahnya dengan adil dan merata. Setelah seharian berkegiatan, aku pun tidur. Saat hendak tidur, aku melihat ada anak kodok yang singgah di dalam bivakku. Aku tidak mengusirnya. Namun aku langsung saja masuk ke sleeping bag yang telah tersedia dari kemarin malam. Aku berdoa agar aku tak menemukan rintangan yang cukup berarti, meski saat itu tidur di bawah hujan beratapkan dedaunan dan beralaskan tanah saja.

Suara malam kian terdengar. Berbagai hewan yang aku tak pernah tahu sebelumnya, kini bisa aku dengar dengan jelas... Indahnya... Seandainya hari tidaklah hujan, maka aku bisa memandang bulan dan bintang dengan jelasnya seperti malam kemarin. Suara malam yang dipersembahkan sang alam sungguh indah, bagaikan simfoni yang dipersembahkan oleh Sebastian Bach, bahkan mungkin suara yang satu ini lebih indah daripada yang pernah aku dengar.

Pengalaman yang sangat luar biasa yang pernah aku alami. Aku bersyukur bisa menikmatinya. Aku tak akan pernah lupa akan sapaan alam yang aku singgahi selama beberapa malam dan beberapa siangnya. Aku sangat merasakan pemeliharaan Tuhan yang sangat indah. Bahwa dengan bersatu dengan alam, maka kita akan senantiasa merasa dekat dengan makhluk ciptaanNya yang lain. 



* I will miss you always, Cicaruk...:)