Komatsu... Itulah yang sempat aku baca di kaos yang digunakannya. Haha..ga tau juga tuh apa itu Komatsu... Yang pasti, mungkin itu sejenis merk atau sebuah perusahaan alat berat kayak traktor, genset buat perusahaan, molen, dan sebangsanya.
Dari namanya, mungkin dia termasuk perusahaan Jepang...
Hihihi.. Sekali lagi, aku mohon maaf untuk ketidak tahuanku ini.
Satu yang aku tahu, bahwa saudaraku ini kerja di sini.
Ia baru saja pulang dari Australia, setelah ia pulang dari Cina, dan Singapura untuk belajar lebih jauh tentang segala sesuatu mengenai pekerjaannya, tapi tak jarang pula malah merekalah yang banyak bertanya kepada sodaraku ini. Tugas di luar jawa ia sudah sering, termasuk juga ke negara tetangga yang selalu bikin kisruh ini.
Mmhhh, diem-diem ni, aku bangga banget sama dia. Di tengah miringnya berita tentang Indonesia ni, ternyata investasi kita di luar negeri banyak juga lho, juga untuk tenaga ahlinya terutama di Singapura. Eh, atau mungkin karena di Indonesia tenaganya ga dihargai kali ya (baca : suudzon hihi). Seperti misalnya dokter ahli bedah kita di Singapura, yang ternyata berasal dari Indonesia.
Kembali pada sang kejujuran yang setahuku sudah mulai tak terdengar gaungnya ini, ternyata kini terdengar di telingaku sendiri... Membuatku bagai merasakan setetes embun jatuh saat aku berada di gurun sahara.
Dalam sebuah proyek, yang memerlukan pemikiran dan advisnya sebagai seorang kepala, ia telah menganggarkan sejumlah dana yang telah dibuatkan proposalnya ke kantor pusat. Namun setelah proyek itu berakhir, ada sisa dari kabel jenis yang luar biasa besar (hahaha..sori lagi ya, karena aku ga tahu jenis-jenis kabel seperti ini..pokoknya kabel yang guede banget, yang di dalemnya berisi tembaga yang luar biasa padetnya).
Oleh karena itulah, salah satu anak buahnya melaporkan tentang hal ini kepadanya.
"Pak, semua telah beres, tapi ternyata masih ada sisa kabel. Itu semua terserah pada bapak, kabelnya mau diapain..."
"Oke... Sekarang gini aja. Tolong kamu hitung ada berapa meter sisa kabel itu, kemudian timbanglah, semuanya ada berapa kilo..." Jawab sodaraku itu.
Pagi harinya, anak buahnya melaporkan lagi kepada sodaraku tentang hasil penghitungannya. Kemudian, setelah mendengar laporan dari anak buahnya, bapak kepala yang bijaksana ini menghadap ke pusat, dan diutarakan dalam sebuah rapat pimpinan di perusahaan itu.
Apa yang terjadi....?
Setelah sang atasan mendengar laporan dari sodaraku ini, ia langsung tersenyum, dan berkata, "Kenapa tidak bapak jual aja..? Ga papa koq pak..."
Tapi sodaraku ini dengan lugas berkata, "Tidak, pak. Jikapun sisa kabel ini harus dijual, bukan saya pak yang menjualnya."
Mmhh..bisa aja sih sang atasannya itu ngetes dia, pura-pura bilang ga apa-apa jika sisa kabel itu dijual oleh sodaraku.
Akhirnya, sisa kabel itupun dijual, dan karena kejujurannya, ia pun diberi tanda kasih dari atasannya ini, dan iapun tak lupa untuk memberikan sebagian rejeki yang telah didapatnya kepada seluruh anak buahnya, sebagai bentuk penghargaan untuk kerja samanya...
Jujur, aku kagum dan salut sama dia. Ternyata juga, sodaraku ini sangat susah untuk disuap, dan tak jarang ia langsung turun ke lapangan untuk langsung pula mengerjakan sesuai kapasitasnya. Itulah salah satu bentuk rendah hatinya. Pernah juga, karena kejujurannya, ia telah membuat malu seseorang, karena biaya yang dibutuhkan ternyata lebih kecil dari pada yang telah diusulkan oleh seseorang itu. Maka tak heran jika ia begitu disegani sekaligus disayangi oleh siapapun juga. Di atas kebenaran, ia mencoba untuk belajar dan tetap eksis dengan yang namanya jujur. Dan dengan caranya ini, tak pernah satu sen pun rejekinya hilang. Malah sebaliknya. Ia tak pernah kekurangan, bahkan boleh dibilang berlebih, meski gajinya tak sebesar yang pernah kubayangkan...
* Aku yakin, banyak pribadi-pribadi yang demikian ini...semoga selalu dan semakin bertambah saja, agar embun sejuk yang jatuh di gurun sahara ini, semakin dapat memberikan kesejukan sejati dari yang pernah ada...amin...