Thanks for this day.. May God bless us everyone and everywhere..
Diberdayakan oleh Blogger.
Tampilkan postingan dengan label kasih. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kasih. Tampilkan semua postingan

Rabu, 23 Februari 2011

Desah Jiwaku : keajaiban dan cinta

Dalam larutku di sebuah lautan renungku
Aku semakin mengerti mengapa Sang Waktu mempertemukan kita
Aku ingat betul saat sebuah malam menyanyikan rindunya dengan wangi cempaka dan kenanga
Saat itulah pertemuan yang berpadu segala rasa hingga daun-daunpun mengeluarkan wewangiannya bersama bunga-bunga itu

Aku menyayangimu hingga air mataku meleleh membentuk sungai ke muaranya
Aku mencintaimu hingga ragaku terkulai
Aku mengasihimu hingga jantungku sesaat berhenti berdegup
Aku merindukanmu hingga sakit perih terasakan begitu kental sampai menghentikan aliran darahku pada setiap nadiku

Kau telah membuatku rela menyambut luka dengan memar lebamnya hanya demi senyummu
Kau telah membuatku mendesah sendu saat rindu mulai menggerogoti hingga ke tulang sumsumku
Di lesung pipimu aku kecupkan harapan
Di manis bibirmu aku pagutkan sejuta doa
Di belah dagumu aku sentuhkan lidah mesraku
Di dadamu aku sembunyikan keluguanku

Keajaiban itu cinta
Keajaiban itu pertemuan
Keajaiban itu rindu
Desah jiwaku, adalah cinta dan keajaiban
Dengan kisahnya yang mengharu biru
Telah mengantarkanku pada jelmaan mimpi-mimpiku; pada beningnya kalbuku serupa kristal embun yang luruh di kuncup bebungaan dan dedaun rerumputan




*Terima kasih atas hadirmu di hidupku...

Sabtu, 19 Februari 2011

saat senja tanpamu

Kasih...
Terpekur saat senja yang berlabuh
Aku sendiri bertelut di heningnya yang ikut membiru

Saat kau ada di sampingku
Saat-saat paling indah bagiku adalah saat kau mendaraskan doa-doa
Berdzikir dan meniupkan nafas doa bagiku
Dan... Aku ada di pangkuanmu

Kasih...
Senja tanpamu semakin membiru dan hampa
Sekali lagi kubertelut menghembuskan doa-doa bagimu
Agar senantiasa terengkuh oleh sayang dan tatapan mataNya dimanapun kau sedang berada
Terlindungi dari segala gangguan dan tetap sanggup menghadapi segala tantangan dengan tutur kata, sikap, dan pekerti yang bening rendah hati
Itulah doaku bagimu, yang aku taburkan dengan setulus hatiku seperti kau melakukannya untukku di sana

Kasih...
Sebentar malam kan menjadi larut
Tenggelamkanlah di dalam heningnya
Rasakanlah hadirku di sana
Dengarkanlah detak jantungku saat kau melakukan apapun itu
Pulanglah dengan membawa cinta kasih dan sehatmu
Dan aku menantimu dengan sabar dan ikhlas




* Ada atau tidak ada sinyal satelit itu, hatiku kan selalu tetap ada memantaumu dengan senyum termanisku.. Pls be careful, beibs....:D

Jumat, 11 Februari 2011

sebuah restuku

Riak gelombang di laut lepas ini

Atau gumpalan-gumpalan awan di langit biru lepas itu

Selalu menyambut hadirmu
Saat kau mengecup hormat bumi yang kau pijak

Mereka selalu merestuimu apapun yang kau lakukan

Tak terkecuali aku
Kan selalu merestui setiap langkahmu, senyummu, dan tutur katamu

Melangkahlah, sayang
Jangan pernah kau ragu...!

Apapun dan bagaimanapun itu, kumohon...

Biar kau bahagia dengan membiarkan mereka bahagia

Biar kau menangis karena mereka menangis

Biar kau membantu meringankan penderitaan mereka

Karena kau ada untuk dunia, dan itulah sebuah restuku bagimu...




* Aku percaya padamu sepenuh hatiku

Senin, 17 Januari 2011

Beningku

Beningku sewarna rinduku
Yang melayang mengiringi angin yang berhembus di empat penjuru bumi
Menerawangkan segenap senyum tulus di bibirmu
Merebak mengecup dedaunan cintaku, untuk kusapa dalam setiap mimpiku

Beningku sewarna air mataku
Yang mengalir memenuhi bejana kepasrahan dan kepedihanku
Membuyarkan rindu yang sempat terekam di dalamnya
Menggamit sukma dalam cinta sedepa

Langitku...
Benarkah beningku ini adalah warna cintaku...?
Yang menguap dan terbang bersama angin, menghiasi awan-awanmu...
Benarkah beningku ini adalah warna rinduku...?
Yang diturunkan kembali dalam percikan-percikan kesejukan di dedaunan dan rerumputan dalam sebuah pagi penuh seri...

Langitku,
Aku ingin senantiasa mengabadikan keindahan sosoknya dalam rupa yang paling sederhana
Saat dia berbisik mesra sebelum aku terlelap
Saat dia mengecup bibirku penuh kelembutan
Saat dia menebarkan doa-doanya bagiku

Langitku,
Warna beningku ingin kupersembahkan padanya
Sebagai bening cintaku pada keikhlasannya mengasihiku, menyayangiku, dan mendengarkanku
Biarlah rindu dan cintaku ini tak seindah warna pelangi
Namun ia akan tetap cantik seindah kristal bening melingkupi kasihnya padaku
Karena bening itulah tahta dari cintaku dalam jarak yang membelah kau dan aku...






#30harimenulispuisi-Vol.2 - #Day1 : Warna

Rabu, 12 Januari 2011

ketika embun cemerlang berkenan jatuh di hidungku

Embunku,
Waktu telah beranjak petang
Namun kau masih singgah menyegarkanku di sepanjang hari ini
Pesonamu masih demikian lekat di setiap lintasan pikiranku dan helai nafasku

Embunku,
Malam telah berada di puncaknya ketika cemerlangmu menyentuh hidungku
Berdebar nyaman jantungku memompa aliran darahku
Memadukan senyummu dan senyumku yang paling manis ke setiap pandanganku

Embunku,
Aku ingin rebah dalam kesejukanmu
Meredakan segala letih dan lelahku
Kecuplah hidungku dan apapun yang kau mau
Dengan butiran-butiran cemerlangmu agar segarlah batinku

Embunku,
Siramilah aku dengan percikanmu
Agar bisa menyamarkan tangisanku, menenggelamkan segala kepedihan, kegundahan dan lukaku yang pernah ada
Buatlah aku untuk selalu tersenyum dalam hari-hariku
Karena kasih tak kan pernah mengenal masa...






* Embun pagiku, ijinkan aku untuk selalu merindukanmu dalam segala suasanamu dan suasanaku...
Ingatlah padaku, saat kau dengar senandung itu...:)

Rabu, 05 Januari 2011

Tiga Hal

Ada tiga hal yang tidak pernah kembali
Waktu, Kata-kata, Pengalaman

Ada tiga hal yang menghancurkan
Marah, Sombong, Serakah

Ada tiga hal yang tidak boleh hilang
Kasih, Suka cita, Damai Sejahtera

Ada tiga hal yang tidak kekal
Harta, Jabatan, Cinta Kepada Manusia

Ada tiga hal yang membuat kita berharga
Komitmen, Rendah Hati, Jujur

Ada tiga hal yang membuat kita bertahan dalam hidup
Iman, Pengharapan, Kasih

Dan yang paling tinggi adalah : KASIH






* Didapat dari SMS seorang teman...
Terima kasih setulusnya... Semoga quotes ini bisa terus menjadi inspirasi bagiku dan juga bwt temen-temen terkasihku yang telah berkenan membacanya...

Sabtu, 01 Januari 2011

KASIH ITU BERNAMA CAHAYA

Tak terbayangkan jika dunia ini gelap gulita
Lengang dengan suhu yang teramat dingin
Lembab, kosong, dan sunyi
Diam tak bergerak
Hampa berkepanjangan dalam setiap waktu yang merayap perlahan

Maha Agung Sang Ilahi
Menciptakan dan memberikan seberkas cahaya bagi bumi untuk seluruh makhlukNya
Semua inti dari kehidupan yang bermula dari cahaya
Menerangi dengan kecantikannya yang mengharukan

Tanpa cahaya tak kan pernah ada kata dan bahasa
Tanpa cahaya tak kan pernah lahir alam ini
Tanpa cahaya tak kan pernah ada kehidupan ini
Tanpa cahaya tak kan pernah lahir warna warni dunia berikut keindahannya

Hanya karena kasihNya semua dihadirkan dengan caraNya sendiri
RencanaNya teramat agung untuk diselami
Kasih itu awal mula dari segala yang telah ada
Dan... Kasih itu bernama cahaya...




#30haripuisi - #Day29 : Cahaya

Minggu, 26 Desember 2010

Setiaku

Huruf demi huruf telah terikat menjadi kata
Entah sudah berapa lembar kertas yang kubutuhkan
Hanya sekedar menulis tentangmu
Bait demi bait senantiasa tersaji hanya untukmu

Sedianya lembar demi lembar ini
Cukup mewakili setiap rasa dan limpahan rindu
Gumpalan asa cukup membumbungkannya hingga ke langit maha luas itu
Hanya asaku dan asamu yang terbentuk indah di sana

Segala mimpiku tentangmu telah membuatku terkulai lemah
Segala senyumku telah menebarkan parasmu
Segala hasratku telah tertimbun hanya kepadamu
Segala sikap dan doaku telah menjadi tutur kata dalam cerminmu

Semua itu...
Telah membuatku beku
Beku dan tak kan pernah bisa menjadi cair kembali
Bahkan...
Setiaku padamu pun membuatku beku
Bagai sebuah gletser yang indah terbentuk sangat cantik di sebuah savana sejuk
Biru beku kaku namun sekaligus lembut

Terik mentari tak kan pernah sanggup mengubahkannya
Bahkan angin dari timur itu malahan semakin membuatku dingin
Terhadap gelombang hangat dan terpaan ekstrim cuaca apapun kali ini

Inilah sebuah gletser indah dariku bagimu
Kuharap kau suka
Sebagai sentuhan persembahan setiaku padamu
Hingga sang raga terpisah dari rohnya...




#30haripuisi - Day21 : Beku

Kamis, 23 Desember 2010

Warna Warni Cemara : Natal Ceria

Kenangan saat pertama kita berjumpa
Di bawah sinarnya warna warni cemara di malam itu
Syahdu dengan udara yang dingin menghentak raga
Di antara ritual dan pujian agung megah ini

Kau tersenyum penuh makna
Lagi-lagi di antara warna warni Cemara Natal ceria tersambut bersama sosokmu
Menambah semaraknya malam yang bertabur bintang ini
Ah, indahnya...
Aku bagai merasakan terang seterang-terangnya
Merasakan getaran-getaran yang tak kumengerti, namun aku sungguh mencintainya...

Kini...
Cemara Natal yang berwarna warni itu semakin bersinar terangnya
Kau berdiri di altar itu
Elegan sekaligus penuh kharisma
Dengan sesungging senyuman yang sangat aku kenal dan pernah aku rindukan; dulu...

Warna warni Cemara Natal hari ini telah berbeda
Karena kau menyusunnya dengan baktimu yang sempurna
Biarlah cemara Natal ceria ini kan selalu menjadi saksi
Akan keindahan hati kita yang bersatu untuk tetap menjadi yang terbaik
Di ladang yang telah tersedia bagi kita di garapan yang berbeda dan dengan cinta berikut getaran-getarannya yang hanya bagi Tuhan...

Biarlah Cemara Natal ini kan selalu menjadi saksi
KehadiranNya
Bagi kau dan aku; bagi kita semua yang menghadapNya
Sebagai persembahan terindahku bagiNya
Melalui perantaraanmu...

Terima kasih, kau pernah ada di hidupku
Memberi yang terbaik bagiku
Aku kan mengingat selalu setiap perkataanmu sebagai sebuah untaian doa bagiku
Aku bangga padamu dan aku sangat mencintai pilihanmu...



* Mengucapkan Selamat Hari Natal 2010 bagi sahabat-sahabatku terkasih yang merayakannya...
Menjadi seorang pembawa damai lebih berarti daripada hanya sekedar mencintai damai...




#30haripuisi #Day20 : Cemara Natal

Minggu, 12 Desember 2010

setitik kasih

Kuingin selalu ada di dalam kasih ini, meski hanya setitik saja, walau harus menderita karenanya...

Jumat, 03 Desember 2010

Selamat Malam, Cintaku

Selamat malam, cintaku...
Kau yang senantiasa bersemayam di hati
Menorehkan jejak kenangan yang paling cantik dalam setiap kulum senyumku

Lihatlah...
Hari telah mulai pekat
Kabut malampun telah datang diiringi suara malam lainnya
Membuatku terpukau atas ketulusan dan kesabaranmu di sepanjang hari ini

Lihatlah...
Rinai hujan mulai membasahi tapak-tapak ini
Mulai meneteskan satu demi satu rindu yang tak kan pernah berujung
Kuharap, kau akan kuat bertahan menanggungkannya, demi seutuh-utuhnya jiwamu

Mentari telah lama mengaso
Di balik daun nyiur itu, di antara daun-daun pakis, daun-daun pinus, dan daun-daun cemara ini
Sinarnya telah benar-benar luruh meninggalkan pekat yang kian kelam

Di batasnya air laut, yang sebentar lagi pasang
Sinarnya memerintahkan burung-burung itu untuk kembali ke sarangnya memenuhi instingnya untuk kembali bertemu dengan yang kerkasih...
Perlahan larutlah keremangan ini bersama hitamnya gelap

Hanya ada dian dan teplok di sudut ruang ini; juga di sudut kamar ini
Sinar obor yang mobat mabit tertiup angin di beranda hati
Selalu mencoba untuk mempertahankan apinya sekedar menerangi dan menemani malam hingga pagi merebak

Akankah rembulan teduh menyulutkan sinarnya yang biru?
Setidaknya bersinar malam ini, setelah rinai hujan itu mereda...

Akankah pelangi menyembulkan bias-bias warnanya ke atas langitnya malam ini...?
Mungkinkah...?
Sedang, mentari tengah terlena dalam mimpinya saat ini

Selamat malam, cintaku...
Cukup sudah perjalananmu untuk satu hari ini berikut kesulitan-kesulitannya...

Pejamkanlah matamu sejenak
Untuk menikmati letihmu; menikmati segala penatmu dalam bersusah payah
Biarkanlah esok dengan kesulitannya sendiri

Tak usahlah kau hiraukan apakah akan datang pelangi, atau bintang timur itu, atau jingganya ungu di senja ini
Karena, kaulah awal mula dari segalanya
Dari semangat demi semangat yang terukir indah di kalbu
Membentuk karya tercantik apapun juga dan diperuntukkan bagi siapapun

Ciptakanlah sel-sel baru bagi jiwa dan tubuhmu
Agar kau selalu berseri menemani hatiku
Senantiasa berbinar tatap mata bagi sesama
Untuk hari ini, hari esok, dan hari-hari selanjutnya...




* Selamat malam, cintaku...
Berpendarlah terus bagai bintang kejora, agar kau dapat senantiasa memelukku dalam seluruh suka duka hidupku sekelam apapun itu...agar sanggup berkarya bagi Tuhan dan sesama di setulusnya jiwa...

Senin, 22 November 2010

embun pagi : guruku yang paling menyejukkan

Embun pagi...
Kau telah berhasil mendidikku
Dengan logika dan pengertian yang amat lembut

Dengan senyum dan gelak tawa kau mengajariku
Hingga tak bisa kuhitung lagi berapa derai tawa yang telah terdengarkan
Berapa kembang senyum yang kemudian menghilang di udara

Cintamu tulus menghapus dahaga pengetahuanku
Menembus dinding wawasan baru bagiku

Kasihmu bening, jernih siap untuk direguk dengan penuh kerinduan
Paparanmu lugas, hingga aku tahu kesalahanku

Tanpa menyalahkanku, kau bisa menyadarkanku bahwa aku salah
Tanpa kau jawab segunung pertanyaanku, namun kau yakin bahwa aku tahu jawabannya

Kaulah gelora kesejukan saat aku terdiam dalam panasnya kebodohanku
Kaulah percikan kesegaran saat aku terpuruk dalam kenaifanku

Ah, embun...
Aku selalu mengagumimu
Bahkan hingga mentari menyapumu
Membawamu kembali ke awan-awan putih

Lambaian tanganmu selalu dapat kulihat
Di balik kabut yang berseteru hendak melemparkanmu
Wajahmu selalu kukenang sebagai wajah terindah yang pernah aku lihat

Kau bersahabat bersama bintang-bintang, awan-awan di langit biru, angin tanpa musim

Tanpa kecuali dengan bumi, saat kau dengan rendah hati menyapanya, menyapa dedaunan dan rerumputan

Kau tak pernah memusuhi matahari, yang jelas-jelas selalu menguapkanmu...

Aku ingin selalu belajar denganmu, wahai embunku yang terkasih
Kerendahan hatimu akan selalu kukenang di sepanjang hidupku
Kesabaranmu mendidikku akan terpatri indah di relung kalbuku
Genggamlah jabat erat jemariku, dan dengarkan bisikanku, "aku menyayangimu; selalu..."

Jumat, 19 November 2010

Tak Berdaya

Tuhan, aku tak berkuasa apapun atas lepasnya helai-helai rambutku, apalagi hingga menyakiti diriku sendiri

Aku tak berkuasa atas daun-daun jatuh, apalagi untuk mencerabutinya dan memusnahkannya

Tuhan, aku tak berkuasa atas debu tanah ini, selain karena kasih sayangMu aku boleh hidup dan berpijak di atasnya

Aku tak berkuasa atas hewan-hewan kecil itu, selain membiarkannya tetap hidup saat ia terkapar

Tuhan, aku tak berkuasa atas air-air yang selalu kubutuhkan, selain menggunakannya dengan penuh syukur dan bijak

Pun dengan udara yang kuhirup memenuhi paru-paru hingga ke otakku untuk menyeimbangkan segenap darah di seluruh tubuhku

Dari mana aku mendapatkan pakaian sebagai penutup tubuhku, untuk menjaganya dari debu dan angin, juga matahariMu, dan rasa malu

Semua aku dapatkan berkat kasihMu yang tulus dan tak berkesudahan

Semua karena pemeliharaanMu padaku, hingga aku temukan orang-orang yang sangat aku hormati dan aku cintai yang sebagian telah menghadapMu...

Berkat kasihMu, aku boleh berjumpa dengan teman-teman yang terbaik bagiku; dimanapun mereka berada, tak terkecuali dari dunia maya ini...

Terima kasih Tuhan, selaksa jiwaku memujiMu; sekarang dan selama-lamanya...




Ciloto, 19 November 2010

Senin, 08 November 2010

orang-orang terkasih

Bencana...lagi-lagi bencana...
Entah mengapa, aku saat-saat ini begitu larut memikirkannya...

Aku hanya ingin para korban bencana bisa memaknai semua ini
Termasuk aku, termasuk kita bangsa Indonesia...

Wahai, orang-orang terkasih yang tengah tertimpa bencana...
Aku ingin bilang mohon sabar ya...
Jangan pengen pulang balik ke rumah...
Hanya sekedar memberi makan ternak...
Nyawa kalian semua lebih berharga daripada hewan ternak itu, juga harta benda yang tertinggal...

Kera-kera telah lama turun gunung...
Burung-burung pun telah lama terbang jauh entah kemana...
Sangat disayangkan...jika makhluk yang paling mulia ini tak menghargai nyawanya sendiri dibanding dengan hewan yang hanya diberi insting oleh Tuhan...

Bantulah juga para relawan dan relawati...
Mereka ada untuk kalian...
Dengan tenaga, pikiran, dan waktu yang mereka persembahkan bagi kalian...
Tahukah kalian, bahwa aku menulis ini masih ditemani dengan air mataku yang demikian deras mengalir...?

Empati dan doaku selalu ada...
Saat nulis ini, bandung gelap banget...


*Jika ada yang masih saja menggunakan kesempatan di tengah duka ini
Aku ingin berdoa padaNya, agar yang melakukan itu ga pernah tenang hidupnya...

Minggu, 17 Oktober 2010

Yang Muda Yang Mulia

Satu sosok tersenyum dengan bibir merahnya, dan pipi yang merona dalam kebahagiaan materinya. Ia tak pernah melupakan kodratnya, bahwa berbagi adalah sebuah kodrat mulia; teramat mulia. Berbagi kasih, dan berbagi perhatian pada kaum yang lemah, tak berdaya. Terlindas oleh beban kehidupan yang demikian menghimpitnya.

Senyumnya semakin melebar, ketika ia bisa mengadopsi seorang bayi perempuan mungil yang lucu, cantik, dan sehat. Ia tak kan pernah menyesal bahwa keputusannya, karena merawat bayi ini akan membuatnya semakin dewasa dan mengerti akan kehidupan yang keras ini.

Materi tentu bukanlah hal yang sulit baginya. Ia bahkan berkelimpahan, meski tak sebanyak para pejabat atau pengusaha kelas kakap lainnya. Dari uang jajan yang diperoleh dari orang tuanya, ia simpan dan kemudian lama kelamaan ia pun bingung, hendak diapakan uang sebanyak *menurut ukuran dia* itu. Maka, terlintaslah ide mulia itu. Yaitu mengadopsi seorang bayi yang berasal dari keluarga yang tidak mampu.

Dengan kasih sayang yang tulus, meski ia masih kuliah, ia dengan sabar dan telaten mengurus bayinya dengan riang. Meski dia masih berstatus wali untuk anak itu (karena ia belum menikah, sehingga orang tua angkatnya masih memakai nama kedua orang tuanya).

Sekarang, bayi itu telah tumbuh menjadi seorang batita yang sehat dan cerdas. Kesabarannya tak sia-sia. Ia telah menunjukkan betapa berharganya bila bisa berbagi. Dengan kesederhanaan jiwanya, meski ia memiliki materi yang berlimpah, namun ia tetap bisa peka dengan keadaan lingkungannya. Lingkungan yang kini membesarkannya. 

Satu pelajaran yang berharga yang diperoleh dari obrolan ringan sore itu. Berbagi bagai setitik embun turun bagi orang yang benar-benar membutuhkannya. Berbagi membuatnya bahagia, karena ia bisa membahagiakan sesamanya dengan berbagi, sesuai dengan kapasitas dan kemampuannya.


* Pastinya, banyak di antara kita yang telah mengadopsi anak yang berasal dari keluarga yang tidak mampu. Ini bukanlah satu-satunya guru, namun telah dapat membuka pintu salutku buat dia, karena aku mengenalnya. Salam salut pula bagi teman-teman yang telah menjalani hal ini... Tuhan pasti membalas segala kebaikan kita dengan berkatNya yang tak pernah pudar...:)

Selasa, 05 Oktober 2010

cinta remuk redam

Seberapa tahankah untuk bisa selalu tersenyum, jika menjalani cinta yang tak berbalas?

Seberapa jauhkah perjalanan, jika ternyata dengan mencintai hanya berbekas kecewa, luka, dan sakit?

Seberapa bejanakah air mata yang harus dialirkan dari mata air abadinya, jika mencintai ternyata hanya membawa kepedihan yang mendalam?

Seberapa lamakah menjaga hati agar tidak patah, tidak layu, dan kehilangan sejatinya, jika dengan mencintai ternyata harus bertubi-tubi terpelanting, terjerembab, dan harus bangkit lagi meski dengan tertatih-tatih, terhuyung, dan terseok-seok?

Seberapa sabarkah jika telah memberi kasih, namun tak lama kemudian terlupakan, bahkan tak dipandang dengan sebelah mata?

Sanggupkah untuk selalu memberi dan memberi kasih, meski tak pernah diindahkan, meski dengan mengasihi akan menimbulkan luka yang berdarah dan bernanah yang menimbulkan infeksi, hingga dijauhi bagai seorang sakit kusta?

Cinta remuk redam...
Menjadi sebuah perjuangan hidup tanpa henti...
Ia tak kan pernah berhenti untuk mencintai...
Ia akan tetap memilih untuk mencintai daripada dicintai...
Ia akan tetap sabar menunggu dan menunggu, meski sampai pada saatnya ia harus mati...

Seberapa bebaskah jika merasa dicintai...?

Seberapa senangkah jika merasa dicintai?

Seberapa banggakah jika merasa dihargai?

Seberapa pentingkah diri ini jika merasa disayangi, dipuja, disanjung, dan diperhatikan?

Semua itu tak kan pernah berarti apa-apa jika tanpa kepekaan untuk melihat cinta dan kasih dari sudut manapun...

Karena cinta tak kan pernah mati, meski ia remuk redam, tetaplah dinamakan cinta, sampai kapanpun juga...

Kamis, 19 Agustus 2010

Tuhanku...

Tuhanku...
Betapa waktu telah berlalu, dan telah Kau sediakan bagiku berikut suka dan dukaku...

Tuhanku...
Betapa aku bersyukur atas segala yang Kau berikan padaku; aku bangga punya orang tua dan saudara-saudara, dan semua kerabat yang mengasihiku dengan tulus,
bahkan saat-saat yang manis,
saat-saat yang Kau berikan padaku atas kebersamaan yang indah ini...

Tuhanku...
Betapa aku tak sanggup menahan air mataku; saat-saat penuh keajaiban bahwa Kau berkenan mempertemukan aku dan dia dalam sebuah keadaan yang sangat alami dan penuh keunikan tersendiri dengan sentuhan rasa yang sangat istimewa di dalamnya...

Tuhanku...
Betapa Kau sangat mengenal wajahku berikut detilnya, 
saat dia sanggup membuatku tersenyum bahkan tertawa lebar, terbahak dengan segenap ketulusanku dan ketulusannya, 
saat dia sanggup membuat pipiku merona bagai buah tomat yang ranum, 
saat dia sanggup menggetarkan seluruh sanubariku di segenap kedalamannya, saat dia sanggup membuatku menangis penuh haru atas perhatian dan kasih sayangnya yang sederhana namun terasa meneduhkan dan bermakna bagiku...

Tuhanku...
Betapa Kau ciptakan wajah yang teramat bening buatnya; senyumnya, keningnya, matanya, alisnya, pipinya, hidungnya, kupingnya, dagunya, rambutnya, jemari tangannya, dan....hingga membuat sosoknya demikian membayang lekat di pelupuk mataku...

Tuhanku...
Betapa hati ini sanggup untuk mencemaskan dia saat  harus pergi untuk karyanya, betapa hati ini sanggup merindu bahkan hanya sekedar membaca barisan-barisan huruf darinya dan mendengar suaranya, tawanya...

Tuhanku...
Betapa saat ini aku mengasihi dia dengan berdiri di atas ketulusanku;
tak ada rasa cemburu di sana,
tak ada rasa negatif sedikitpun di sana...

Tuhanku....
Betapa syahdunya hati ini saat aku mengingatnya,
betapa bangganya aku akan dirinya...
Betapa.......
Aahhh..betapa indahnya Kau menciptakan dia untukku...



* embun pagiku...aku menyayangimu di sepanjang musim yang telah disediakanNya bagiku

Senin, 16 Agustus 2010

Tataplah Aku



Kumenatap di kedalaman matamu dengan mesra. Di antara jemari yang saling bertaut ditemani cahayanya senja yang sebentar luruh menjadi pekat.

Mata teduhmu kini benar-benar ada di depanku. Kau tatap aku dengan sinar kasih yang mengayomi diri, menendang jantungku hingga dia bergemuruh. Tak sanggup aku untuk terus menatapnya. Kaupun tersenyum penuh keindahan dan rendah hati.
Aaahh aku suka itu...!

Namun, dalam sekedip mata, perhatianmu tak utuh lagi. Kau bagi tatapanmu untuk sebuah getar lain, yang mengusikmu. Dengan sigap, getar itu kau raih dalam genggamanmu, kau baca setiap kata yang tertera di antara cahayanya yang terpantul di matamu.

Simpan saja dulu alat komunikasimu itu. Tidakkah selama ini kita sering menggunakannya, ketika jarak memaksa kita untuk terpisah?
Siapakah di balik barisan kata-kata yang ada di genggaman tanganmu, di antara cahaya yang berpendar itu?

Simpan saja dulu tatap matamu hanya untukku, jangan kau bagi dengan yang lainnya, apapun itu.
Tidakkah kau rindu padaku?
Lantas untuk apa aku ada di sini jika kau masih saja asyik dengan duniamu?

Kumohon... Lepaskanlah dulu dunia kecilmu itu. 
Aku tahu, mungkin semua itu sangat berarti bagimu. 
Tetapi, bukankah aku lebih berarti lagi daripada duniamu itu, setidaknya untuk saat ini saja...?

Saat aku ingin kau manjakan, dengan mengecup keningku penuh rasa hormat. 
Saat aku ingin kaupeluk dan kau genggam tanganku dengan sepenuh hatimu. 
Saat aku ingin kau menatapku penuh kasih dan keteduhan seperti tadi... 
Toh, aku tahu, kau dan aku tak kan lama di sini...
Sebentar lagi waktu akan kembali mengusir kita dengan kejamnya. Tak peduli dengan rindu yang masih menggumpal keras tak tercairkan hanya dengan beberapa saat saja kita saling menatap.

Tataplah aku, di sedalam-dalamnya mataku.
Tataplah aku, hingga wajahku benar-benar utuh tinggal di matamu.
Tataplah aku, sebelum waktu kita benar-benar beranjak pergi...

Jumat, 06 Agustus 2010

memaafkan dan meminta maaf : filosofi embun pagi


Luka batin akibat merasa disakiti, dibohongi, ditipu, dikecewakan, dan berbagai macam bentuk "di" lainnya, pastinya akan memberi pengajaran pada kita untuk lebih bijaksana, dewasa, dan berhati-hati lagi dalam menghadapi kehidupan kita sehari-hari.

Karena berbagai faktor, orang lain yang sudah kita percayai, kadang bisa membuat luka di batin kita, yang menurut kita sukar untuk disembuhkan.

Jika saat ini kita termasuk orang yang sedang dilukai batinnya... 

Apakah kita harus egois, angkuh, congkak, sombong, arogan, dengan apa yang sedang kita rasakan? Haruskah kita terus tenggelam dalam perasaan-perasaan atas luka-luka batin kita, sementara setiap orang sudah memiliki jalan hidupnya sendiri-sendiri?

Memaafkan, kemudian menjadi salah satu aktivitas yang sangat merugikan bagi kita... Padahal, kemuliaan insan terletak pada aktivitas yang satu ini. 

Tak sayangkah kita pada hati kita sendiri, dengan memendam dendam berkepanjangan, dengan membiarkan rasa sakit terus larut di dasar lubuk hati kita...? 
Lalu pertanyaannya adalah...Inikah kita?

Pun jika saat ini kita termasuk orang yang melukai hati orang lain, kita ternyata dengan tanpa sadar telah menyakiti hati orang lain, yang dekat dengan kita. dan yang  kita sudah kita percayai.
Apakah kita akan tetap arogan dan egois dengan segala kesalahan kita? 
Lalu pertanyaannya adalah...Inikah kita?

Meminta maaf menjadi sebuah aktivitas yang menurut kita akan menjatuhkan harga diri kita. Padahal, meminta maaf dan menyadari kesalahan kita sebagai manusia biasa ini, adalah merupakan bentuk kerendah hatian kita, menghormati orang lain dan memohon berkah dari orang yang telah kita sakiti, meski kita tak bermaksud menyakitinya. Menjaga hati orang lain, mulia bagi kita, menuntun langkah kita ke depan agar kehidupan kita menjadi lebih baik lagi.

Belajar pada embun pagi yang selalu setia datang ke bumi meski awan tebal menyertainya, meski hujan dan badai sedang bergemuruh, meski kelak matahari tak sanggup meluruhkan sinarnya ke bumi karena awan yang menghalanginya, meski angin kian berderak kencang menggoyangkan pohon-pohon hingga ke rumput yang paling bawah sekalipun...

Dia, selalu datang ke bumi dengan ketulusannya, berniat menyegarkan dan meyejukkan hari ini, dan hari-hari kita selanjutnya. Ada atau tidak ada matahari yang kelak menguapkannya. Ada atau tidak ada angin, yang kelak menyapu bersih setiap butir-butir beningnya. Dengan rendah hati pula, embun turun tanpa kita tahu kehadirannya. Yang kita rasakan adalah kesejukan yang dibawanya; ciri khasnya yang teramat indah... Bagai kristal cantik dengan kualitas sempurna. Embun akan selalu datang tak peduli kita bisa menikmati keindahannya atau tidak. Namun satu yang pasti, bahwa sang embun mempunyai niat yang baik, menyatakan kesegaran dan kebeningan alamiahnya yang eksotis.

Mampukah kita seperti embun pagi? Dengan kehadirannya yang sederhana tapi memikat setiap mata yang memperhatikannya. Lihatlah butiran-butiran embun di dedaunan itu, atau di atas kembang yang berwarna warni, atau di rerumputan itu... Cantik bukan...? Dia selalu menawarkan dan memberikan sejuk dengan damainya merata bagi seluruh bumi.
Menguak harapan baru di setiap hari-hari baru kita pada detik-detiknya.
Meski dia datang dari langit, dia tak akan pernah lupa dari mana dia berasal...


* memaafkan dan meminta maaf memang menuntut adanya keikhlasan, kebeningan, dan kerendah hatian dari jiwa kita...

Selasa, 27 Juli 2010

tak perlu satu kata pun

 

 Aku menunggumu bagai menanti rembulan yang terbit
Utuh penuh sinarnya yang jatuh di antara dedaunan
Teduh, tak menyilaukan mata, melainkan memberi kedamaian dan ketenangan hati

Aku memandangmu bagai melihat kerlip bintang
Indah, dengan geriapnya yang cerdas
Gemerlap menghiasi langit yang bersih dan terang, meski malam kian menjelang

Aku mendengar suaramu bagai mendengar senandung rindu
Penuh kasih berseri memberi satu nuansa yang sangat berbeda
Tanpa ada keraguan bahwa dirimu bagai serpihan surga di genggaman

Semakin aku menyadarinya
Bahwa mencintaimu tak perlu satu kata pun
Biar hening yang tercipta hanya dengan rendah hati
Bagai rembulan dan bintang yang selalu menemani malam hingga dia beranjak...