Thanks for this day.. May God bless us everyone and everywhere..
Diberdayakan oleh Blogger.
Tampilkan postingan dengan label rekonsiliasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label rekonsiliasi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 05 April 2011

Mengampuni Diri Sendiri




Pengampunan...
Betapapun menyakitkan
Namun alangkah damainya jika itu bisa dilakukan

Saat menyadari sepenuhnya *dengan roh yang sudah terkumpul utuh, bukan saat bangun tidur*
Bahwa diri ternyata telah bersalah *bisa karena ditipu, dibohongi, dikecewakan, dan lain sebagainya*
Kurang hati-hati atas apa yang menjadi hak diri sepenuhnya

Tiba-tiba harus kehilangan hak itu; siap atau tidak siap
Maka...

Kecewa, sedih, kesal, mangkel, dan tak percaya atas apa yang telah terjadi
Semua wajar dirasa
Semua sangat manusiawi

Proses...
Harus dilalui dengan kondisi yang tak menyenangkan
Susah payah memendam segala rasa negatif agar tak terpancarkan keluar
Merusak aura!

Hingga suatu saat karena doa, Tuhan meniupkan roh kebijaksanaan di atas kepasrahan
Berkenan membantu mendamaikan diri dari kesalahan yang pernah dibuat
Berdoa dan selalu mengupayakan pengampunan bagi diri

Mengampuni diri sendiri
Bukan penghiburan bagi diri sendiri
Bukan sesuatu damai yang sesaat

Jika telah benar-benar sanggup mengampuninya
Ikhlas kan diraih
Bagai jutaan percikan embun pagi jatuh di atas kepala
Menyelimuti dengan kesejukan dan kedamaian

Berjuta bintang pun akan ikut tersenyum
Membagi pandu bagi jiwa yang bening
Bersama rembulan malam menyambut mentari pagi dengan diri dan jiwa yang telah menjadi baru

Ah, embun... Betapa keindahan selalu mengikutimu... Aku sungguh mencintaimu :)

Senin, 12 April 2010

pelangi


sore itu di antara kepenatan otak dan raga setelah seharian menyelesaikan tanggung jawab dengan sepenuh cintaku.
setelah sekian jam berkutat dengan segala permasalahan yang ada, tak ada sesuatu yang terkecilpun yang dapat aku lupakan.
aku ingin menyelesaikan segalanya dengan sempurna, atau setidaknya tidak ada yang tercecer...semua bisa terselesaikan saat itu juga.

kemacetan kota yang lumayan padat, karena saat sore itu adalah saat-saat di kebanyakan instansi juga memberlakukan jam yang sama
dengan saat aku pulang.
letih dan lelah masih harus aku jalani...sepanjang jalan pulang, aku selalu menggenggam hp, hanya untuk sekedar mengisi kepenatanku, aku biasanya browsing, atau mendengarkan musik dari mp3-nya.

mendung yang mengiringiku ketika itu...aku rasakan cukup lumrah untuk kotaku tercinta ini..
kondisi cuacanya yang susah ditebak, dengan bahasaku, cuaca yang manja, karena semuanya ga bisa diprediksi. sebentar panas, tapi sebentar langsung mendung, dan tak lama kemudian hujan...
mendung sehabis hujan yang tak terlalu deras...masih di jalan yang aku lalui.....

ternyata aku mendapatimu di sana, dari arah timur seolah kau tengah memperlihatkan semyummu padaku...aku tak menyangka...
rasa penat dan letih tiba-tiba hilang, setelah melihat larik-larik cahaya di atas langit kotaku tersayang ini...
lima larik warna warni cahayamu yang terpancar, meski tak utuh. dengan lengkunganmu..telah membuatku benar-benar bahagia.
bahagianya seperti bertemu orang yang paling terkasih yang sudah sekian lama tidak berjumpa....

senyumku mengiringi keindahanmu, meski aku melihatmu di tengah kota yang padat, saat orang-orang juga bermaksud sama denganku, pulang ke rumah dengan selamat..
kepadatan di jalan itu beserta hiruk pikuknya, tak mengurangi keindahanmu barang setitikpun
engkau tetap menyimpan keabadian indahmu, terangmu, agungmu, dan tulusmu.

aku menyadari, bahwa hadirmu hanya sesaat, bahkan hanya sangat sesaat lalu, karena setelah aku sampai di pintu rumah, kau telah melebur kembali bersama duniamu di atas sana.

dengan sederhana aku abadikan moment ini sebisa mungkin, agar terbentuk satu kenangan dan ikatan batin antara kau dan aku...
aku menganggapmu sebagai anugerah, karena aku dapat melihatmu dengan salah satu inderaku, dan terlebih lagi karena engkau salah satu tanda kekuasaanNya, yang turun dari langit, meski secara ilmiah, engkau hanyalah titik-titik air yang tersinari oleh matahari..
engkaulah tanda bagiku bahwa DIA masih mencintaiku dengan apa adanya diriku dan mengampuniku, juga seluruh umat manusia di bumi ini...


Bandungku, hatiku damai dan tenteram setelah melihat pelangimu, dan aku akan terus merindukannya...teruslah kau mewarnai bumimu, laksana pelangi yang sudah menentramkan hatiku...

Sabtu, 03 April 2010

cahaya wajahmu

Sesaat lalu, kulihat wajahmu sekilas namun penuh kemuliaan
Segala masa lalu tak pernah kau lihat lagi
Di dalam kelamnya sebuah gelap, engkau pernah menikmatinya
Kini dengan penuh kemuliaan yang utuh, yang benar-benar sempurna engkau selami

Sebuah tanda yang dulu merupakan satu kehinaan yang sangat nista, kini telah berubah menjadi satu keindahan yang sangat agung...
Berubah menjadi sebuah martabat yang tak ternilai
Engkau hanya bisa dinilai oleh surga..
Engkau hanya bisa dinilai oleh hakikat dari surga itu sendiri

Keagungan dan kemuliaan yang sejatinya kau miliki dengan utuh, tapi kau bagi untuk kami, insan lemah tak berdaya yang kerap jatuh dan tak tahu terima kasih. Namun semua itu tak mengurangi kemuliaanmu, setitik noktahpun..

Kau inginkan kami juga mulia memenuhi hakikat cinta kasih dan pelayanan...

Terima kasih....berkat engkau, kami boleh menikmati suatu karunia yang benar-benar agung
Keajaiban dan keindahannyapun telah kami reguk, berkat pengorbananmu
Bahkan....hingga kini, keajaiban itu selalu kurasakan di tengah hiruk pikuk kehidupan yang semakin renta ini...
Akan kupelihara keajaiban-keajaiban yang telah kau berikan kepadaku ini...
Dengan ucapan syukur yang tanpa batas...


Bandungku, malam ini keajaiban begitu kurasakan...

Jumat, 02 April 2010

cukup satu tatapan saja

Satu tatap dari sepasang mata yang memandangku... Sanggup menggetarkan seluruh gejolak yang telah lama tertidur... Sanggup meluluhlantakkan gelora yang telah lama bersemayam dalam ketidak pantasan... Sanggup membuyarkan kebekuan yang telah lama ada, dalam setiap aliran darahku... Sanggup membuatku lunglai, tak bertenaga, dan rapuh...
Hanya dengan satu tatap saja, dari sepasang mata yang teduh, tak bersalah, tak bernoda...telah sanggup membuat air mataku mengalir dan membuatku bersimpuh di bawah pekatnya malam, yang embunnya tak ada lagi...yang kesejukannya telah sirna...yang ada hanyalah sisa-sisa malam yang masih pekat dan dalam...
Sepasang mata teduh itu...menawarkan hawa baru yang penuh ketulusan dan kesucian, yang membuatku pingsan tak sadarkan diri...
Sepasang mata teduh itu benar-benar lembut, penuh kasih, dan memanjakanku dalam setiap riak gelombang hidupku...
Sepasang mata teduh itu seolah berkata padaku, "mari, ikutlah denganku... Kepadamu, akan kutunjukkan sebuah keindahan yang benar-benar berbeda, sebuah keindahan yang melebihi indahnya dari keindahan itu sendiri..." Ajakannya begitu lirih dan samar... Tak terdengar hanya dengan mendengarkannya saja... Hanya keheningan sajalah yang dapat melihat dan mendengarkan dari pemilik sepasang mata teduh itu... Sepasang mata teduh yang penuh dengan derita, pengorbanan, sesahan, keikhlasan menjalani hidup...
Aku, hanya bisa terdiam dan tertunduk, saat sepasang mata teduh itu menatapku dengan hanya satu tatapan saja...
Satu tatap dari sepasang mata teduh itu, telah menuntunku, bahwa engkau ada...
Selalu menemaniku, meski aku tak pernah tahu...
Lewat satu tatap mata dari sepasang mata teduh itu, aku seolah tersadar bahwa ternyata selama ini, sepasang mata teduh itu selalu menungguku dengan senyum terindahnya...
Bahwa ternyata, telah mengoyakkan kesombonganku, kebodohanku, dan keegoisanku, yang melambangkan kematianku sendiri...