Pada saat Indonesia masih belantara, gelap pekat dengan hutan-hutannya yang sangat lebat dan tanpa berpenghuni. Belum bisa untuk dilewati, apalagi untuk dapat dijadikan pemukiman yang bisa dihuni dan ditinggali, khususnya di Tanah Jawa.
Berawal dari sanalah sang pecinta kehidupan ini hadir untuk membangun sebuah kehidupan baru agar bisa dihuni oleh manusia. Dengan penuh kewaskitaan dan kharisma, mereka mendirikan perkampungan, ladang, kebun, sawah, bahkan kerajaan-kerajaan dengan candi-candinya sebagai saksi sejarah pada masa itu.
Bukan tanpa resiko mereka membangun semua itu, karena sang gaib yang tinggal di sana sangatlah sangar, banyak dan kuat. Sehingga untuk dapat menembus barisan sang gaib yang sangar dan kuat serta banyak tadi, diperlukan keseimbangan antara kekuatan otak, batin, dan lahirnya. Banyak para tokoh yang akhirnya bisa berkomunikasi dengan alam jin dan bangsa gaib lainnya untuk mewujudkan niat mulia itu. Bahwa Indonesia, harus bisa ditinggali dengan nyaman sehingga bisa tercipta kedamaian, adil, sentosa, dan makmur.
Berkomunikasi dengan para gaib di masa itu, bukan bermaksud untuk menyembah mereka. Tetapi hal itu dilakukan agar terbentuk rasa saling menghargai di antara dunia yang berlainan alam ini.
Untuk membentuk sebuah komunikasi dengan alam lain ini, tentu diperlukan suatu ilmu. Karena, ilmu tanpa keyakinan tidak akan bermakna. Demikian juga sebaliknya, keyakinan tanpa ilmu yang cukup tetap tidak akan berguna.
Menghargai alam semesta Indonesia yang tercakup di dalamnya adalah gunung-gunung dan lautan, serta tempat-tempat lainnya. Nenek moyang kita telah melakukan itu; bagaimana harus bersikap dengan mereka, sang alam.
Telah terbentuk sebuah komunikasi antarduadunia. Dunia nyata dan dunia gaib. Mereka ingin alamnya yang berlainan itu tetap terpelihara dengan maksud untuk saling meyelaraskan diri.
Mungkin jika digambarkan, tak jauh beda dengan dunia nyata dan dunia maya. Sebaiknya tetap saling menghargai. Karena di sana sama-sama terdapat jiwa yang bernafas, berilmu, berakal. Dengan cara berpikir masing-masing untuk tetap menghadirkan yang terbaik bagi sesamanya di manapun berada.
Dari sana para leluhur kita memulai kehidupan baru. Sebuah awal yang membuat negeri ini kaya dengan kebudayaan serta keberagamannya dengan berbagai makna pula yang tersirat, juga terdapat ilmu pengetahuan, dengan ilmu untuk batinnya pula.
Cara pandang bahwa kita memuja gunung atau laut adalah salah besar. Adalah sebuah bentuk syukur jika setiap tahun misalnya diadakan Pesta Syawalan di setiap laut yang merupakan pesta bagi para nelayan pula. Sekali lagi, BUKAN untuk menyembah mereka : sang gaib yang ada di sana. Tetapi menghargainya, seraya bersyukur pada Tuhan Yang Maha Kasih atas rejeki yang telah dilimpahkanNya. Hanya SANG MAHA GAIB saja yang kita sembah dan puja.
Karena, mau tidak mau, atau suka tidak suka, kita hidup berdampingan dengan dunia itu. Sebuah dunia yang telah diciptakan oleh Tuhan, yang menciptakan kita pula.
Jadi, menurutku seorang pemimpin di negeri ini, haruslah mempunyai ilmu tersendiri untuk menyimak dunia gaib itu. Sanggup memimpin bukan hanya bagi rakyatnya saja, tetapi sanggup meyelaraskan apapun yang telah diciptakan oleh Tuhan; manusia, alam, dan alam lainnya, dengan menghargai karena mereka memang ada.
Tengoklah misalnya pada masa pemerintahan Pak Karno dan Pak Harto, terlepas dari gaya kepemimpinannya. Jarang sekali ada bencana kan? Karena di dalam masa kepemimpinannya, mereka menghargai dunia gaib itu sehingga menjadi selaras dengan manusia untuk menghasilkan yang terbaik sebagai warisan leluhur bangsa ini.
Kekuatan otak, kekuatan lahir belumlah cukup untuk bisa memimpin Indonesia Raya ini. Ada tuntutan lain yang diperlukan untuk menjadi seorang pemimpin sejati di negeri ini, adalah kemampuan batin yang mumpuni untuk mendukung keselarasan antara dua dunia, dan alam, demi rakyat dan negeri tercinta ini.
Sadar bahwa terbentuknya negeri ini berbeda dengan negeri lain. Tidak bisa disamakan dengan negeri lain yang hanya mengandalkan kemampuan logisnya saja.
Itulah warisan leluhur kita yang membuka Indonesia dengan segenap kemampuannya. Ada baiknya kita memeliharanya agar tercipta Indonesia Raya yang sesungguhnya, sehingga sanggup menjadi mercusuarnya dunia!




