Thanks for this day.. May God bless us everyone and everywhere..
Diberdayakan oleh Blogger.
Tampilkan postingan dengan label sikap. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sikap. Tampilkan semua postingan

Selasa, 31 Juli 2012

Kalau Salah, Saya Marah Lho!

Menjadi 'pelayan' atau lebih tepatnya melayani orang lain memang gampang-gampang susah. Ada kalanya emosional dari orang yang dilayani tersebut lebih dominan ketimbang rasa pemaklumannya. Entah karakternya yang demikian, atau hanya keinginan sesaatnya yang ingin disebut bahwa dia berada di level yang lebih tinggi daripada yang melayani, aku tidak boleh berburuk sangka.

Namun, yang aku alami ketika aku bertugas sebagai salah satu penerima tamu di sebuah acara wisuda Sabtu lalu, yang dimulai sejak pagi hingga siang menjelang sore, aku seperti merasa diancam oleh salah satu tamu undangan yang kebetulan berkomunikasi denganku.

Ucapan "Kalau salah, saya marah lho...." yang keluar dari bibir seorang bapak itu, membuatku berkerut kening. Saat itu, ia masuk ke tempat acara dari pintu yang salah. Karena para tamu undangan yang hadir harus mendaftar dengan memperlihatkan kartu undangannya, untuk mendapatkan kotak snack, maka mereka harus masuk melalui pintu yang ada di selasar barat, yang artinya, dia memang harus balik lagi dari arah dimana dia tadi muncul. Setelah aku beri petunjuk secukupnya, maka ia pun pergi sambil berkata, "Kalau salah, saya marah lho!"

Aku tentu saja heran. Aku sudah memberi dia arahan untuk masuk ke pintu yang seharusnya dia lewati dengan keramahan yang wajar. Tetapi koq aku mendapatkan ucapan yang menurutku tak perlu diucapkan oleh bapak itu. Ah, tapi sudahlah. Mungkin dia tidak bermaksud seperti itu. Ngapain mikirin hal yang tidak jelas itu. Maka, aku segera kembali melakukan apa yang menjadi tugasku : melayani tamu-tamu lain yang memerlukan bantuanku.

Beranjak siang menuju sore, acara telah menemukan puncaknya. Saatnya aku juga bersiap-siap ke satu ruangan untuk mengambil tasku bersama teman-temanku. Di satu lorong, aku bertemu dengan bapak yang tadi pagi mengancam hendak memarahi aku. Tak disangka dan tak diduga, ia pun tersenyum sambil menganggukan kepalanya padaku. Tentu saja aku membalas tersenyum padanya. Toh untuk tersenyum tidak memerlukan biaya, lagi pula senyum juga tidak akan meruntuhkan harga diri seseorang. Aku tak mempertanyakan mengapa dia tersenyum padaku, karena aku telah menganggapnya sebagai bentuk permintaan maaf darinya kepadaku atas ucapannya tadi pagi.

Alangkah indahnya berbagi senyum. Maka, marilah kita tersenyum :)

Rabu, 07 Desember 2011

Seandainya Ini Kertas Biasa


Sebagai salah satu pengelola warung mungil, maka aku mempunyai tugas untuk menyortir uang-uang yang menurutku sudah tak layak lagi untuk diedarkan kembali; dijadikan kembalian untuk para pembeli di warungku. Aku ga pernah menolak uang seburuk apapun yang dibawa oleh para pembeli. Asal nomor seri uang itu masih utuh, aku ga bakal menolaknya. Tapi entah mengapa, aku selalu merasa ga tega untuk memberi kembalian dengan uang kertas yang sudah lecek, bau, sobek sana sini dan lembek lepet itu. Oleh karenanya, aku memutuskan untuk menyetorkannya ke bank.

Ada rasa sungkan dan malu juga saat aku menyetorkannya ke bank. Bukan gengsi lho!

Sungkannya, aku ga enak sama pegawai banknya. Dia harus hitung manual (karena saking lepetnya uang itu, jadi udah ga bisa dihitung pake alat penghitung uang). Lagian kan uang-uang kertas lepet dan berbau yang kusetorkan itu  nominalnya kebanyakan seribu rupiah dan dua ribu rupiah yang bentar lagi mungkin pecahan yang kusetorkan itu menjadi setara Rp.1,- dan Rp.2,- (redenominasi).

Trus malunya, aku ngerasa bahwa akulah penyebab antrian panjang di belakangku (nunggu petugas bank ngitungin manual). Aku malu sama nasabah lain yang ngeliatku mejeng di paling depan dan mendapatiku: si biang kerok antrian panjang itu.

Tetapi, di lain sisi aku sangat bersyukur memiliki rejeki yang demikian ini. Inilah rejeki aku, meski dia kucel, bau, lepet, penuh debu, bahkan kadang uangnya sudah berubah warna, bagiku dia tetap cantik. Bagaimanapun bentuknya, dialah harta titipan dariNya yang akan kujadikan lagi menjadi modal. Jika sudah demikian, aku lupa dengan rasa sungkan dan malu. Meski terkadang perasaan itu muncul lagi, tapi menurutku itu masih wajar, ga berlebihan.

Aku pernah bilang ke petugas banknya gini, "Mas, maaf ya.... Aku selalu bawa uang-uang cantik ini yang udah bikin repot mas. Seandainya ini kertas biasa, pastinya udah kubuang mas..."
"Oh, gapapa bu. Saya bahkan pernah lho nerima uang-uang yang lebih lecek daripada ini, dan blom ditata sama penyetornya. Kalo ini kan udah diatur, jadi sayanya gampang ngitungnya...." Jawab petugas bank itu sambil tersenyum.
"Wah, ya makasih mas kalo gitu. Masa juga sih ga saya aturin dulu uangnya. Ini aja saya udah ngerasa kalo ngrepotin mas..." Timpalku lagi sambil tersenyum.

Nah, itulah aku si penyetor uang guladig. Guladig dalam bahasa Sunda berarti dekil dan sebangsanya. Pencitraan uang guladig mungkin sudah menempel. Tapi, itu semua kulakukan demi kepuasan para pelanggan warung mungilku. Ya, seandainya ini kertas biasa........ :D