Thanks for this day.. May God bless us everyone and everywhere..
Diberdayakan oleh Blogger.
Tampilkan postingan dengan label asa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label asa. Tampilkan semua postingan

Selasa, 28 Februari 2012

Hidup ini TERLALU Indah



Ya, hidup ini memang terlalu indah. Tak bisa disamakan saat kita dapat meraih sebuah pencapaian hidup yang kita inginkan. Ia terlalu agung untuk disamakan dengan cita-cita yang kita miliki dan berhasil kita raih sekali pun. Memang indah, tapi kehidupan ini letaknya jauh di atas cita-cita kita. Apapun itu, dan bagaimanapun bentuknya!

Kebersamaan yang dilandasi oleh kepercayaan masing-masing individu. Foto di atas, bukan contoh sebagai gambaran seorang lelaki beristeri empat *sigh* :D
Melainkan kebersamaan yang cukup erat tanpa melihat faktor lainnya, selain kebersamaan itu sendiri. Nilai sebuah kebersamaan yang sederhana, tetapi sanggup menunjang rasa percaya diri di saat-saat salah satu pribadi ini lemah dan terpuruk.


Bentuk kepedulian ada dan sesungguhnya bisa diperoleh di mana-mana. Meskipun kita berada di tempat yang asing dan tak saling kenal, penuh perbedaan, tetapi dengan kepekaan yang kita miliki, kita bisa merasakan bahwa sesama kita sesungguhnya peduli terhadap diri kita, dengan apa adanya. Tak peduli jarak, waktu, dan tempat.


So, pandanglah langit biru itu. Jadilah burung-burung yang tanpa ragu untuk terbang melintasi udara! Langit seolah kepunyaannya. Laut dan bumi seolah tempat berpijak baginya. Menjangkau langit, menjejak bumi. Semua sudah demikian sempurna diatur oleh Sang Maha Wenang. 

Siapa pun kamu. Jika saat ini tengah merasakan kegalauan yang sangat amat dan kau anggap kegalauan itu telah berhasil membuatmu menderita. Untuk kamu di mana pun kalian berada. Jika saat ini merasakan kekecewaan yang teramat dalam. Untuk kamu yang ditinggalkan pacar, dengan benih di rahimmu. Untuk kamu yang saat ini baru merasakan diputusin oleh kekasihmu, sehingga merasakan bahwa dirimu tak pernah punya arti lagi. Untuk kamu, yang ibu bapaknya harus menjalani perceraian. Untuk kamu yang sakit lahir batinnya.


Lihatlah kebersamaan itu. Lihatlah kepedulian itu. Lihatlah langit itu, yang senantiasa menyampaikan berjuta kata untukmu. Memberi berjuta sinar keindahan positif buatmu. Jangan tatap kegelapan itu, selagi kau tak mampu. Jangan kau menoleh ke belakang selagi kau masih menangis jika kau menengoknya. Kau sangat berarti bagi duniamu. Bangunlah kebersamaan itu, jika kau telah menganggapnya hilang. Jadilah bunga Morning Glory yang selalu mengagungkan pagi dengan segala kecerahannya. Hiruplah harapan baru bagimu yang tersembunyi lewat udara yang setiap detik kau hembuskan. Genggamlah pelangi yang merebak ke dalam tanganmu. Ia ada untukmu. Khusus, hanya untukmu. Jangan biarkan ia lewat! Luruhkanlah hatimu; terimalah dan berdamailah dengan dirimu sendiri. Dan, bersyukurlah, tundukkanlah kepalamu sedalam-dalamnya demi Dia yang telah memberimu hidup. Sebab, hidup ini TERLALU indah!






* Bagi jiwa-jiwa mereka yang telah tega membunuh dirinya sendiri...Semoga tidak bertambah lagi...

Senin, 13 Februari 2012

Menyerahkan Nyawa dan Tubuh Kepada Narkoba

Belajar dari kematian Sang Diva : Whitney Houston, yang meninggal karena diduga mengkonsumsi narkotika dan obat-obat terlarang lainnya. Sang Diva yang telah menjalani rehabilitasi. Sang Diva yang kekayaannya ludes karena narkoba. Duh, sungguh amat disayangkan. Berjuta penggemar bagai tiada artinya. Berbagai penghargaan baginya seolah sepi. Memburu sesuatu yang memabukkan dan konon membuat sang pemakai dapat melayang-layang di udara, bagai layangan putus. Perlahan tetapi pasti, layangan itu akhirnya luruh, tak berdaya. Dan yang pasti : SIA-SIA.

Aku jadi pengen bilang....... Bagi generasi muda dan yang masih merasa muda terus yang sedang dalam tahap mencoba dan mencari jati diri maupun yang sudah mapan. Jadilah seseorang yang membanggakan hatimu, hati kedua orang tuamu, agamamu, dan bangsa negaramu. Hendaknya rasa labilmu dilampiaskan kepada hal-hal yang bersifat positif.

Narkoba jelas akan merenggut nyawamu dengan cepat; karena itulah yang dia pinta. Maka, janganlah menyerahkan nyawa dan tubuh kepada narkoba. Tetapi serahkanlah ia kepada hal-hal yang sederhana tetapi mulia. Bergegaslah menuju alam. Menelusuri sungai-sungainya. Menghirup udara segar sebebas-bebasnya dan berbagi bersama banyak sesamamu. Di sanalah sari pati alam akan kau nikmati sebagai sesuatu yang indah tiada bandingnya, sehingga membuatmu selalu dapat bersyukur dalam suka dan duka.


* RIP Whitney Houston (1963 - 2012)

Jumat, 11 Februari 2011

sebuah restuku

Riak gelombang di laut lepas ini

Atau gumpalan-gumpalan awan di langit biru lepas itu

Selalu menyambut hadirmu
Saat kau mengecup hormat bumi yang kau pijak

Mereka selalu merestuimu apapun yang kau lakukan

Tak terkecuali aku
Kan selalu merestui setiap langkahmu, senyummu, dan tutur katamu

Melangkahlah, sayang
Jangan pernah kau ragu...!

Apapun dan bagaimanapun itu, kumohon...

Biar kau bahagia dengan membiarkan mereka bahagia

Biar kau menangis karena mereka menangis

Biar kau membantu meringankan penderitaan mereka

Karena kau ada untuk dunia, dan itulah sebuah restuku bagimu...




* Aku percaya padamu sepenuh hatiku

Sabtu, 01 Januari 2011

Tirai

Kusibak tirai jendela kaca ini
Kubuka dengan perlahan dalam kesunyian subuh ceria
Sesaat lalu, langit begitu cerahnya
Dengan warna warni kembang api yang semarak diselingi tiupan terompet

Cakrawala di pergantian tahun yang disambut dengan sukacita
Ah, betapa indahnya sukacita di langitnya malam itu...!
Membuat langit penuh bunga dengan suara dentuman yang berbeda-beda desibelnya

Aku menyambut seri awal hari ini dengan segala doa
Agar tirai langit membukakan segenap harapku untuk kujadikan suluh dalam tiap detik yang harus kulampaui
Aku menyambut tautan lembaran ini dengan senyum merebak
Agar tirai karya-karyaku terasa indah dan lebih bermakna

Mungkin masih banyak tirai yang harus kusibakkan
Agar aku lebih dewasa dan bersyukur menjalani hari-hari
Semoga Tuhan senantiasa menyertai dalam setiap kebaikan dan niatku
Dalam setiap sikap dan tutur kataku
Dalam setiap bakti dan cintaku bagi sesama
Menjadi doa tulus paling indah yang menghiasi detik-detikku...

Sabtu, 18 Desember 2010

Menggapai Bintang Kejora

Hai Langit...
Kumohon cerahkan halamanmu
Terangilah seluk beluk awan-awanmu
Sibakkanlah mendung yang menghalangi wajahmu
Aku ingin menggapai bintangmu
Aku ingin mengecup bintang kejoramu; bintang yang paling bersinar itu...

Hai Langit...
Tolong ajarkan aku untuk selalu berharap
Kumohon ijinkanlah angin-anginmu membawakan segala doa-doaku
Agar terpancarkanlah paparan pelangi harapanku di langit luasNya
Gambarkanlah sayap-sayap malaikat pembawa doa-doaku

Aku kan tetap menanti di sini; di bumi yang penuh dengan lintasan perjuangan
Aku kan tetap berharap bahwa segenap doa-doaku kan menjelma menjadi keajaiban termanisku di tempatku berpijak kini
Aku yakin dan pasti dengan harapan terbaikku yang telah tersimpan di langit
Kutunggu tebaran asaku ini kembali turun kepadaku dengan senyum merekah
Sebagai tanda baktiku dan tanda syukurku kepada Sang Ilahi; Pencipta Langit dan Bumi...




* Selama bumi masih berputar sesuai takdirnya...
Selama raga masih terisi jiwa...
Maka selama itu pula harapan terindah akan selalu ada; kapanpun waktunya, apapun harapan itu, dan bagaimanapun caranya...




#30haripuisi #Day15 - Harapan

Kamis, 28 Oktober 2010

Berderak Patah

Pesona kemilau ditempa mentari senja yang perlahan kan memudarkan harinya menjadi kelam

Menggumamkan keindahan alami tiada tara
Tidak hujan, tidak cerah
Kau selalu menampakkan diri dengan keceriaan yang terang

Dua hati di dalam senja itu
Mengemas hari-harinya dengan keindahan cinta
Bersenda gurau di sepanjang harinya

Pucuk-pucuk kebahagiaan terasa bagai nafas bagi setiap helaannya
Mengisi hidup di tiap-tiap detiknya yang berlalu di hadapannya

Namun

Waktu telah mengubah segalanya
Keindahan pelangi yang melengkung di atas mereka itu tiba-tiba meredup
Perlahan namun pasti

Hingga akhirnya berderak dan patah...!

Tak ada lagi pelangi itu
Satu senyumpun enggan untuk tertinggal di sana
Keindahan berikut bahagianya, tak bisa dipertahankan lagi

Kini
Hanya masing-masing cinta yang tersisa, untuk dipersembahkan bagi ketulusannya sendiri...

Minggu, 12 September 2010

pagi semerbak

Kulihat siluet pegunungan nun jauh di sana...
Gunung gemunung yang terlihat dekat dan berjajar
Tangguh...!! Gagah...!!
Mempesonakan setiap mata yang melihatnya
Dengan cakrawala yang masih gelap hendak melahirkan sang mentari

Di ufuk timur inilah, kurebahkan segenap pandangan mataku
Pagi semerbak...dengan angin yang membawa wangi bunga
Entah wangi bunga apa saja yang tersebarkan menuju indera penciumanku ini
Yang pasti...semerbaknya tiada tara
Menerbangkan imajiku...
Membuat bius bagi otakku...
Melahirkan candu yang demikian tak bisa kuhindari

Hening, sunyi, dan agung...
Embun pagiku menatapku manja...mesra...dan berwibawa
Angin yang masih semilir...
Membawa sejuknya embun pagiku...
 
Aaahhh......
Semuanya ini telah berhasil membawaku menuju puncak syukurku yang tertinggi
Tiba-tiba aku terduduk, dan bersimpuh...
Bertelut di bawah suasana pagi semerbak ini

Bersama embun pagiku...
Bersama angin sejukku...
Bersama sinar ceriaku yang sebentar lagi nampak...
Bersama seluruh auranya pagi ini...
Entah berapa lama lagi aku bermain-main bersama pagi semerbak ini.........



* I'm still miss you much....my dew...

Selasa, 07 September 2010

Tentang Kita : Semuanya Akan Teramat Indah, Tepat Pada Waktunya...

Tak ada yang luar biasa...
Semua serba sederhana dan tampak biasa

Bahkan jarak yang semu inipun berbisik lugas, "tak ada yang istimewa tentang kalian..."

Tapi aku tak yakin dengan perkataan jarak yang semu itu
Karena, tak jarang aku sanggup untuk merindukannya tanpa henti, tanpa batas...

Benarkah aku ada untuk dia, dan dia ada untukku?
Ribuan mil nun jauh di sana,
Ada namanya yang kian bergelayut di dada,
Ada nadi yang kian berdenyut,
Ada jantung yang kian berdetak,
Ada nafas yang kian mendesah, dan....
Ada sebuah senyum yang senantiasa mengembang, tersungging indah bagiku...

Haruskah kulewatkan...? Jika ada pertanyaan: Sekarang, atau Tidak Selamanya...?
Aku jelas memilih Sekarang...!!
Namun, aku ingin balik bertanya, ada apakah gerangan dengan Sekarang...?
Akupun bingung untuk menjawabnya...

Biarlah semua terjadi mengalir bagai air yang mengalir dari intinya hidup ini...

Biarlah semua mengalun apa adanya, bagai sebuah simfoni indah menyejukkan jiwa, selamanya...

Karena aku yakin, semua telah tersedia bagiku, dan semuanya akan teramat indah, tepat pada waktunya...


Rabu, 25 Agustus 2010

suddenly...

Saat hari kian dingin dan atis
Seusai hujan badai sore ini...

Aku terkapar sendiri, di antara keletihanku dalam remangnya dian di dinding kamar

Gelap yang bercelah sinar gemintang, sangat redup...

Tiba-tiba...entah angin apa yang membawa suasana ini

Begitu menyayat, pedih, parau suaraku tercekat...

Mataku seperti ingin menumpahkan air-airnya

Tapi entah apa yang menahannya sehingga ia tak pernah tertumpah setitikpun

Hati meradang, sesak di dada melengkapi aroma kepedihan yang tak beralasan ini...

Mengapa rasa ini tiba-tiba muncul dengan air mata yang tertahan di dadaku..?

Mengapa pula air mataku tak sanggup untuk menebar balik aroma kepedihan itu...?

Mengapa...tiba-tiba akupun terkulai jatuh, tersuruk, tumbang,dan akhirnya benar-benar kolaps....???

Entahlah...
Aku hanya ingin sejenak diam di titik ini
Agar doaku jelas mengusik pada  tiap detik-detikku...

Rabu, 11 Agustus 2010

INDONESIA seven summits expedition



Ada rasa haru yang menyelinap kuat, ketika aku tak sengaja melihat satu kegiatan di sebuah pelataran
Ada rasa bangga yang begitu mendalam, ketika aku tahu kegiatan itu



Demi mencatatkan nama bangsa, kamu pergi...
Demi keharuman bangsa, kamu ada untuk ekspedisi yang bertaraf internasional ini
Berbaur dengan bangsa-bangsa lainnya...

Kibarkanlah Sang Saka Merah Putih tercinta kita
Di puncak-puncaknya dunia, dengan gagah berani...!

Aku, hanya sanggup temangu dan berdoa
Untuk ekspedisi mulia ini


jawara-jawara yang berangkat

Tentunya, kau akan....

Lebih mendekatkan diri pada alam dan Sang Penciptanya
Lebih merendahkan hati, sikap, dan ego dengan mampu mencapai puncak-puncaknya dunia
Lebih sanggup merasakan betapa Tuhan itu Maha Segalanya
Hingga kita tak sanggup lagi untuk memungkirinya
Bahwa...
Tanpa DIA kita bukan apa-apa...!!



Selamat mendaki... 
Perjalananmu amatlah panjang, dan pasti sangat melelahkan bagimu
Tolong tanamkanlah cintamu pada mereka
Tolong sebarkanlah senyum tulusmu di sana
Ukirlah segala rindumu di sana
Dengan rendah hati dan penuh kasih sayang dan niat yang jujur
Kontemplasimu di sana akan membangun kehidupan jiwa dan ragamu sampai selamanya...

Titip salam hangat dan cintaku pada alam yang menaungimu di sepanjang perjalananmu
Aku harap, kamu dapat kembali pulang dengan selamat
Dengan senyum yang tulus menggugah jiwa
Dengan cintamu pada Tuhan, alam, dan sesamamu

Kabarkanlah tentang berjuta keindahan yang telah kau hampiri
Ceritakanlah saat-saat kau mendekat dan sanggup menyentuh awan itu
Ceritakanlah saat-saat kau mendekati bintang gemintang dan rembulan
Seolah kau sanggup menyentuh mereka dengan seluruh kasih sayangmu


SEMANGAT...!!




* pelepasan team ekspedisi mahitala (mahasiswa pencinta alam) UNPAR, 30 Juli 2010
waktu itu, kebetulan aku lewat ke arah-arah tempat ini, dan...akhirnya aku beraniin diri untuk minta ijin fotoin hihi...
aku postingin ini karena aku merasa bahwa ini adalah event yang baru aku temui, entah kapan lagi aku bisa melihat acara seperti ini...jadi, kupikir ga ada salahnya juga aku memberi support lewat doaku dan menulis tentang mereka, meski aku ga tau banyak kegiatan mereka seperti apa..hehehe.. piss ah...:)

Selasa, 10 Agustus 2010

Perjuangan Yang Tak Pernah Sia-sia

Suasana jalanan di malam itu sudah sedikit lengang, ketika Risty dan Hendy melintas dengan motornya. Mereka telah menikmati acara malam Minggu mereka di sebuah resto yang amat romantis di kawasan Bandung Utara.

Risty Rafika seorang mahasiswi semester 6 Jurusan Hubungan Internasional di sebuah universitas ternama di Bandung. Wajahnya cantik, kulitnya putih, dan agak kenes. Rambutnya yang tergerai sebahu, membuat gadis ini semakin manis dan cantik, dengan kebiasaannya menggunakan pakaian yang sporty. Dia banyak disukai oleh teman-teman di kampus, karena dia termasuk mahasiswi yang selain cerdas, dia juga luwes dan ramah.

Sedangkan Hendy Rianto, cowok ganteng dengan kumis tipis menghias di bibirnya ini, yang dipacarinya sejak 5 tahun lalu itu, telah bekerja di salah satu provider yang ada di negeri tercinta ini. Hendy bukanlah sosok cowok yang romantis bagi Risty. Dia selalu bicara seperlunya, tapi dia termasuk cowok yang humoris. Itulah sifat yang disukai Risty, selain karena Hendy selalu mengalah atas setiap keinginan Risty. Risty bagai seorang puteri raja jika sedang berada di dekat Hendy. Meski demikian, Risty sebenarnya sudah mulai bosan dengan hubungan ini, karena  tidak ada tantangannya. Entah tantangan apa yang dimaksud Risty. Risty pintar sekali menyembunyikan rasa bosannya pada Hendy. Di depan Hendy dan semua orang, Risty selalu menampilkan kemesraan yang terbaik. Tak jarang pula ibunya Hendy selalu menanyakan tentang pernikahannya dengan anak sulungnya itu, namun Risty selalu menghindar dengan halus, bahwa Risty ingin berkarir terlebih dahulu, dan berkata bahwa dia tak ingin menikah muda. Ah, Risty memang keras kepala. Tak ada yang bisa meluluhkannya, bahkan orang tuanya sekalipun.

Disertai suara malam yang kian merebak, mereka melaju dengan kecepatan sekitar 40 Km/jam. Mereka yang kebetulan sedang tertawa lepas, berderai bagai tak ada beban. Padahal, Risty sedang mumet-mumetnya nyusun skripsi. Dialah mahasiswi pertama yang memecahkan rekor lulus tercepat dari ilmu yang diambilnya itu.

Derai tawa dari dua insan yang sedang melaju di atas motor ini tiba-tiba terhenti, setelah motor yang dikendarai Hendy tak bisa menghindari jalan yang berlubang. Hendy terlempar dari motornya, dengan kaki yang tertimpa badan motor. Sementara Risty jatuh tertelungkup, dan dia menderita luka-luka ringan di sekitar kaki, pergelangan tangannya, dan kedua sikutnya.
Tak berapa lama mereka telah berada di sebuah rumah sakit yang tak jauh dari tempat kejadian, dengan bantuan beberapa pengendara yang melintasi jalan itu.

Kecelakaan di malam itu, telah membuat kaki Hendy menjadi lumpuh permanen, karena ternyata badan motor itu telah mengenai dan mematikan beberapa titik urat syaraf kakinya, sehingga kedua kakinya menjadi tak bisa digerakannya sama sekali. Namun, Hendy tak mempedulikan keadaannya. Sekarang dia sudah tak bisa lagi mengendarai motornya. Di otak dan benaknya hanya satu yang dia takutkan : yaitu kehilangan Risty, wanita yang dicintainya. Kekuatiran itulah yang akhirnya membuat Hendy shock dan terpuruk.

Hari berganti hari dengan detik-detiknya yang berlalu tanpa ampun. Kini Risty telah lulus dengan predikat summa cum laude, dan bergelar Sarjana Sosial di belakang namanya. Seiring dengan kelulusannya itu, Risty menjadi sulit untuk dihubungi Hendy. Terlebih saat Risty telah bekerja di sebuah perusahaan bonafid, masih di kota ini. Di tempatnya bekerja, Risty tak jarang harus pulang hingga larut malam, karena tanggung jawabnya sebagai sekretaris.

Berkali-kali Hendy mencoba menghubungi kekasihnya ini untuk bertemu dengannya, namun selalu tak berhasil, seperti satu malam itu, saat Hendy meneleponnya.
"Risty, bisa ga kamu ke rumahku? Aku kangen kamu," pinta Hendy dari balik ponselnya.
"Aduh... Maaf sayang... Aku ga bisa. Malam ini aku ada meeting, untuk program baru di perusahaan ini," jawab Risty sambil mengetik di keyboard komputernya.
"Oh, ya sudah... Maaf aku udah mengganggu kerjamu. Nanti kamu pulang sama siapa? Udah malem lho..." tutur Hendy dengan nada yang sabar. Dia masih saja sanggup menelan kegetirannya, padahal bukan sekali ini saja Risty menolak permintaan Hendy, dengan alasan pekerjaan. Sudah sering banget. Tapi dia cepat tersadar dengan keadaannya. Sekarang, dia tak bisa menjemput kekasihnya, tak bisa membahagiakannya, dan tak bisa menuruti keinginan Risty seperti dulu. Hendy bahkan dapat merasakan bahwa dia akan membuat malu dan menyusahkan Risty dengan keadaannya yang sekarang.
"Biasa, tar aku dianter sama Deny... Kamu kan udah tahu," jawab Risty seringan kapas, tak mempedulikan apa yang berkecamuk di hati Hendy. Betapa dia minder di hadapan Risty. Antara cinta dan minder menyatu di seluruh jiwa dan pikirannya, ditambah lagi dengan sosok Deny, yang memang sempat Risty ceritakan hanya sebatas teman biasa saja.
"Oke, kamu hati-hati ya," jawab Hendy sambil menekan tombol merah di ponselnya. Hendy menelan ludah. Ada sebersit cemburu di hatinya, tapi dia tak berdaya. Sekarang, semakin jelas sudah, bahwa keterpurukannya itu memang beralasan. Tak ada lagi harapan sedikitpun.

Diam-diam Hendy mengikuti perilaku Risty yang semakin hari semakin tak memperlihatkan kasih sayang dan kesetiaannya, juga hubungannya dengan Deny. Hendy menggertakkan rahangnya. Dia merasa bahwa Risty telah memperlakukannya dengan tidak adil. Kemesraan antara Risty dan Deny yang dilihatnya beberapa waktu lalu setelah dia menelepon Risty, sangat menyakitkan hatinya. Tak bisa dipungkiri lagi, bahwa pemandangan yang telah direkamnya itu sangat meninggalkan luka yang dalam di batinnya. Lima tahun... Hanya sejauh inikah perjalanannya? Hanya sebatas inikah cinta yang ada di diri Risty? Perlahan tapi pasti, Hendy berniat mundur dari kehidupan Risty. Pedih dan perih ditahannya. Dia akan berusaha menikmati setiap luka-lukanya, hingga dia terbiasa dan bersahabat di kesehariannya. Dia tahu diri. Dia tak mungkin mendapatkan cinta tulus Risty seperti yang dulu. Dengan perasaan jengah, Hendy mulai membenahi hati dan hidupnya untuk melupakan Risty dengan segenap dayanya, dengan rasa optimis yang seadanya saja. Saat ini hal yang paling terindah bagi Hendy adalah bisa melupakan Risty, berikut kenangan-kenangan terindah yang sempat dikecapnya bersama Risty. Berat memang. 5 tahun bukanlah waktu yang singkat dalam membina sebuah hubungan. Telah banyak suka dan duka yang dilalui mereka berdua. Apalagi kedua orang tua mereka telah menyetujui hubungan mereka. Tapi dia harus berjuang untuk itu dan bangkit kembali melawan keminderan yang sekarang masih saja menyelubunginya.

Lagi-lagi waktu berlalu dengan sangat cepat. Tak terasa, hati Hendy kini telah terbiasa dengan keadaan yang dikecapnya. Dia masih diterima bekerja di perusahaannya yang dulu, karena reputasinya yang sangat baik, sehingga tenaga dan pikirannya masih diperlukan oleh perusahaan itu. Tiap hari Hendy pergi ke kantor dengan diantar jemput oleh adiknya. Tak pernah lupa pula, kuk selalu dibawanya. Ternyata, waktu yang tanpa ampun itu telah membuatnya belajar dan bisa menyembuhkan luka batinnya. Waktu jugalah yang telah berhasil membantunya untuk melupakan Risty. Waktu pula yang menunjukkan bagaimana hubungan yang sesungguhnya antara Risty dan Deny. Risty ternyata lebih memilih cowok yang menurutnya menyenangkan dan penuh tantangan, dibandingkan dengan Hendy yang selalu mengalah. Kini, keceriaan telah tersambut di hati Hendy, dan dia berteriak... "Aku akan mengalahkan dunia dengan sang waktu...!"

Saat ini juga, ketika cinta sudah mulai menghilang dari hatinya untuk seorang Risty, Hendy telah menemukan satu hati pelipur lara yang mau menerima dirinya dengan apa adanya. Parasnya yang ayu dan lugu, dengan kulit sawo matang. Penampilannya sederhana, tapi matanya jernih menunjukkan kecerdasannya, dengan senyum manis penuh ketulusan. Wanita itu bernama Santi Yulia. Wanita yang diperkenalkan oleh Ridwan, teman sekantornya yang pernah menemaninya melihat kemesraan antara Risty dan Deny ini, benar-benar telah membuat relung hati Hendy kembali berbunga-bunga. Matahari paginya telah terbit, di tengah musim semi yang indah tiada tara. Hendy tak kan pernah lupa untuk bersujud penuh syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Penyayang.

Sementara itu, Risty semakin merasa tak nyaman dengan Deny. Kini, sosok yang menurutnya menyenangkan dan penuh tantangan itu ternyata selalu membuat Risty kesal. Deny tipe cowok yang suka menggampangkan masalah, tak pernah berpikir dua kali untuk menentukan sesuatu, dari hal kecil dan sederhana hingga ke hal yang lebih besar lagi. Diapun tak pernah meminta maaf, meski dia telah tahu bahwa dia yang jelas-jelas salah.

Dengan sisa-sisa harapan yang dipungutnya dari dasar hatinya, Risty kembali mencoba menghubungi Hendy. Ada gundah di hatinya. Diam-diam rasa bersalah pada Hendy menyembul dengan kuat di hatinya. Dia baru sadar, bahwa sikapnya telah melukai hati Hendy dengan memperlakukannya tidak adil. Risty ingin meminta maaf pada Hendy, dengan kembali padanya, memperbaiki kesalahan yang telah dilakukannya. Merajut kembali benang-benang yang terputus. Namun setiap kali Risty menghubungi Hendy, maka setiap kali pula Risty selalu gagal. Bahkan banyak SMSnya tak pernah digubris oleh Hendy. Risty menangis. Risty menyesal. Risty limbung dan tak tahu apa yang harus diperbuatnya. Penyesalan memang selalu datang belakangan. Dia bagai lakon terganteng, atau lakon tercantik yang selalu menjadi menang di setiap akhir cerita.



Cerpen ini diikutsertakan dalam lomba yang diadakan oleh Sang Cerpenis Bercerita yang bekerja sama dengan  Vixxio. 
Jika beruntung, saya pilih novel Larasati karya Pramoedya Ananta Toer.

Minggu, 18 Juli 2010

sebuah simpul

Simpul-simpul itu merenggang
Tertiup angin yang selalu menerpanya
Entah datang dari mana angin itu berasal
Mungkin dari utara, selatan, barat, timur...
Mungkin juga dia adalah angin laut dari arah tenggara, ataukah barat daya...?

Aku tak peduli dengan nama angin itu
Apakah dia angin pasat, angin bohorok atau angin muson, atau apapun namanya

Aku, hanya peduli pada simpul itu, yang telah renggang dan mulai terkoyak
Aku sedih...sangat sedih...
Aku terpukul, aku terluka, aku kecewa, aku.........

Sebuah simpul manis, yang telah kubuat selama bertahun-tahun, kini telah mulai terkoyak, hanya karena angin...?

Tidakkkkk...!
Ini tidak mungkin...!

Aku tergugu...aku tersedu, dengan air mata yang tadinya mengembun di kedua kelopak mataku, kini benar-benar berderai...

Aku tersentak dan tak percaya dengan apa yang telah aku lihat
Aku benar-benar tak menyangka sedikitpun, mengapa angin itu tega merusaknya?

Simpul itu, kini luruh ada di tanganku...
Kupandangi dia dengan memelas, pilu, dan penuh rasa yang menyayat
Semua rasaku kian bercampur aduk, hingga aku tak tahu lagi, apa yang kurasakan
Aku tak tahu lagi apa yang harus kuperbuat

Sebuah simpul sederhana namun sangat indah dan cantik bagiku
Sebuah simpul yang sangat berarti bagi hidupku
Dialah tanda kasihku, tanda baktiku, dan tanda tulusku pada satu cinta

Belum sempat kau melihatnya, namun semua telah terlepas...ya...simpul itu telah melepaskan dirinya dari satu sama lainnya

Satu-satunya lagi yang tersisa; hanya blog ini
Akankah lepas juga...?
Tiba-tiba mataku berkunang-kunang dan gelap...
Aku terjatuh bersama simpul-simpul di genggaman ini, dan akhirnya aku tak ingat apa-apa lagi...

Sabtu, 10 Juli 2010

gema nurani

Satu sandaran hati kian terkoyak
Oleh sebentuk dusta dan luka
Silih berganti tak peduli waktu
Mengajarkan padaku tentang kepedihannya yang sangat sempurna

Tak pernah habis kuberpikir
Di antara sayup-sayup melodi sendu yang mengalun, tak ada hentinya
Menambah kehampaan, kehancuran, dan kegamangan hati...rapuh tak bisa tuk kugenggam

Kapankah segala penat kan tergenapkan menjadi sebuah kesejukan penuh cinta?

Entahlah...

Namun satu yang pasti, bahagia kan kureguk meski harus terlalui dengan deraian air mataku; semua karena ketulusanku mencintaimu.....

Rabu, 07 Juli 2010

sudahlah...


Sudahlah...aku menyerah
Di dalam timpukan asa yang melempariku dari jauh di seberang sana
Membuatku semakin sulit untuk mencarimu

Sudahlah...aku pasrah
Di balik kabut ini...ingin kubersembunyi dan terlelap di atas lembut awannya
Di sejauh kaki melangkah, tak kan lagi kusebut namamu
Toh, bunga-bunga yang bermekaran ini masih tergenggam erat dengan segenap aroma wangi di setiap kelopaknya
Menemaniku dalam sepanjang perjalananku mulai saat ini...karena air mata sudah tak sanggup lagi untuk memperlihatkan kepedihannya...

Sudahlah...aku luruh saja...!
Rasanya hanya ini pilihan yang paling tepat bagiku

Berada di bawah titik nadir - meski aku tak bangga berada di dalamnya -
Namun rasanya aku aman dan nyaman tinggal di sana
Bahkan...bisa dipastikan mereka telah sepakat menamaiku putus asa...!

Sudahlah...
Aku tak ingin membuatmu merasa bersalah dan kecewa
Ketimpangan ini telah terlanjur kurajut dengan sendirinya dan tanpa kusadari...
Begitu saja terurai, namun tak bisa kupahami sepenuhnya

Sudahlah...aku mengalah
Aku tak kan mencarimu lagi
Aku berjanji...tak kan pernah...!!!

Maafkan aku...
Yang tak pedulikanmu barang sedikitpun
Yang tak bisa memasungmu dalam pelukanku
Yang tak bisa memenjarakanmu dalam benakku
Yang rela kehilanganmu setelah sekian waktu berlalu; dan aku tak bergeming untuk mempertahankanmu lagi...

Dalam perjalanan panjangku ini aku berbisik lirih, "Tiada penyesalan sedikitpun... Tapi aku masih akan tetap meminta pada Tuhan, bulan, bintang, dan seluas-luasnya hamparan langit dan samudera raya untuk tetap menemaniku; juga menemanimu...meski aku tak tahu lagi di mana kamu berada..."

Senin, 14 Juni 2010

entah untuk siapa segenap kedukaan ini

Perjalanan rasaku; rasa-rasa yang pernah ada
Di antara berlikunya hari yang kulalui ini
Aku terdiam, namun bukan berarti membisu
Aku menundukkan kepala, namun bukan berarti kelu dan menangis

Apakah rasaku telah mati?
Mengapa aku begitu susah untuk merasakan sebuah kekecewaan?
Mengapa aku begitu susah untuk menanggapi perasaan sakit yang menyesak di seluruh hati dan kalbuku?
Mengapa aku begitu bebal untuk merasakan ketidak sabaran?
Mengapa aku hanya terdiam membeku, meski telah tahu ada niatan yang tidak beres di balik perkataannya?

Apakah aku tidak peduli dengan segala rasaku?
Apakah aku tidak ada waktu untuk menyentuh perasaan-perasaan yang demikian ini?
Atau mereka memang tidak ada untukku?

Aku begitu mudah terharu
Begitu mudah menilai dengan kepercayaan yang kupunya
Apakah benar sekarang ini hal yang paling mahal di dunia ini adalah kepercayaan?
Kejujuran yang sejati amat jauh dari jangkauan?
Satu tanyaku jika memang benar demikian....

Mengapa?

Rasaku yang halus
Rasaku yang manis
Haruskah kunodai dengan sakit, marah, dan kecewa?
Tidak... Jangan sampai...!
Terlalu sayang untuk membuat hati ini sakit, marah, dan kecewa.
Apalagi ada kebencian, iri dengki, dan dendam
Itu, bukan bagianku
Itu, bukan rasa-rasaku dari perjalananku ini!

Biarlah ketulusan ada di atas kedukaan
Biarlah keceriaan ada di atas setiap luka
Biarlah malaikat-malaikat dan peri-peri pelindungku tetap menjaga seluruh rasaku
Hingga, aku selalu berkata,"entah untuk siapa segenap kedukaan ini..."

my way...

Jatinangor, I will come to you...
Please don't make me hurt hehehe...
For sumedang sky, please don't treat me bad...!
Please keep your waters in your eyes first
Please keep your weather for me...

Give me your sweetest smile for me, and I will be happy...
Thanks, see you there!

indahku

Aku luruh di pagi ini
Dengan sujud termanisku, ingin kuucapkan selamat pagi buatmu
Ditemani pekatnya pagi ini
Yang membawa butiran-butiran embun turun.

Ah, embun pagiku, kekuatanku
Kau adalah indahku
Tolong, temani aku hari ini
Untuk perjalananku yang satu ini

Adakah hari ini adalah hari indahku?
Tolong berikan senyumanmu yang hanya buatku
Untuk kubawa dalam perjalananku ini kali
Perjalanan yang akan membawaku menggapai cita-citaku.

Sanggupkah aku menjadi indah bagi diriku sendiri?
Tolong, temani aku di perjalananku hari ini... Agar indahku dapat menjadi indahmu pula...
Agar citaku dapat kuwartakan bagimu...!


* embun pagiku, tolong segarkanlah aku selalu...

kutukan siwa...?

Di dalam kesejukan pagi dengan udaranya yang khas, di antara warna warni kembang, di sini di tempat ini dia sempat berucap dengan lugas dan lantang namun ada suatu getaran yang tak bisa disembunyikannya...

"Kutukan Siwa masih ampuh... Tujuh panah Sang Arjuna berbalik ke 'bumi'... Tinggal tiga panah menunggu nasib. Tragis..."

Sejenak aku tertegun dengan segenap ucapannya. Ucapan yang tergambar di atas awan, di udara yang bertiupkan angin. Di tengah keindahan bak suargaloka ini, dia masih sempat berujar seperti itu. Kemirisan hatinya segera dapat kutangkap. Kegetiran di dalam langkahnya terasa seperti dawai yang sangat sumbang.
Tertegun untuk sebuah makna di balik ucapannya. Toh, dia telah sanggup menghadapi kekritisan di setiap suasana yang sempat tergambar di seluruh kehidupannya. Tersirat di dalam luka hatinya yang mendalam.

"Teruslah melesat, wahai tiga panah Sang Arjuna...! Melesatlah menembus setiap lapisan cakrawala yang tebal itu. Lapisan demi lapisan akan mengajarimu tentang banyak hal. Dengan keelokan alam semestamu yang maha indah ini, akan selalu menemani langkahmu yang terkadang letih dengan taburan segala doaku yang tulus. Melesatlah dengan segenap cinta dan sayangmu akan pilihanmu... Ketragisan, bukanlah sebuah pilihanmu bukan...? Kutukan Siwa tak akan berlaku bagi kalian... Kalian telah diruwat dan dirawat oleh sumber kasih Sang Maha Wenang itu sendiri..."

Kini, anginpun menderu di antara tuturku yang kadang tercekat, meski aku setengah berteriak mengucapkannya. Semakin membawa udara yang kian membeku. Sejenak kelam dan mencekam kian berhamburan. Di sanalah, tujuh panah itu berdebam. Luluh lantak...!

Kemilau di pagi hari ini, yang berhiaskan embun pagi yang melankolis, embun pagi dengan cahaya yang dibawanya, cahaya kerendah hatiannya membuat semuanya menjadi cerah kembali...
Senyum tiga panah Sang Arjuna kian merebak, di antara seluruh doaku saat ini. Satu di antara tiga panah itu, terlihat tersenyum penuh keanggunan padaku. Lebih indah dari yang lainnya. Karena sebuah senyum itu adalah milikmu. Penuh kemuliaan, dengan kedua  tangan terkatup di dada.

Satu panah, yang terindah yang pernah kulihat di sini. Di antara keheningan yang terindah pula. Ditemani embun pagiku, akupun tersenyum manis padanya. Suasana sakralpun hadir di sini. Segeralah kau menghambur ke langit luas. Jangan kau tengok lagi bumi ini. Meski air mataku sempat menghias di pipi, namun di baliknya ada sebuah kekuatan doa yang sangat ampuh, melebihi kutukan siwa...



* selamat, untuk kalian bertiga...khusus buatmu, doaku akan senantiasa hadir untuk sebuah ketetapanmu, di sini ditemani embun pagiku...hari ini dan sepanjang minggu ini adalah hari-hari bersejarah bagimu...sambutlah dengan penuh suka cita sebagai langkah awal dari semua karya pelayananmu untuk selamanya...!

Jumat, 11 Juni 2010

bias cahaya


seketika angan kian melambung
menembus ke segala dinding kalbuku
menatap, menyusuri bias-bias yang tersisa
teduh, bagai sinar rembulan utuh yang menimpa dedaunan

kegelapan sementara menghilang
oleh bias cahaya yang terpantul di atasnya
di atas rerumputan, di atas dedaunan
di atas segenap luka dan cintaku....

bias cahaya itu akan senantiasa kubawa
dalam setiap temaramnya senja
atau di kala hari mendadak sirna
gelap tertutup awan berselimutkan hujan

cahaya itu....akan senatiasa menerangiku
berikut biasnya....meski kadang redup
namun dia tetap sanggup menuntunku
meraih mimpi-mimpiku....

semoga.........

Selasa, 08 Juni 2010

mencoba memahami

Pada alur titian kehidupan yang semakin renta dan serba penuh racun ini
Di antara hiruk pikuknya jaman yang semakin tak tentu arah ini
Bahkan pada selembar daun jatuh saja aku tak berkuasa di atasnya
Pada riak-riak air sungai kecil yang tak dapat kuterjang arusnya

Mencoba memahami artiku bagi sekelilingku
Adakah mereka tersenyum dan tertawa karenaku?
Adakah mereka merasa sepi yang berkepanjangan jika tanpaku?
Adakah mereka mencintaiku atau akulah yang mencintai mereka?

Mencoba mengemas hari dengan kesetiaanku yang berlembar-lembar tebalnya
Mengisi setiap helai kepercayaanku dengan satu tekad yang utuh dan penuh
Bahwa inilah jalanku, inilah jalan setapak bagiku, inilah kerangka batinku yang penuh liku, inilah jiwa yang penuh luka itu karena mencoba menerjang segala badai yang pernah ada
Kembali terhempas, tersungkur, dan rebah memeluk bumi

Segala asa sepertinya lari menjauh
Luruh...sepi...dingin...gelap...pengap...lembab...
Mencoba memahami sepotong jiwa yang kaku merasakan semua ini
Di tengah hatiku yang tersirami air hujan di senja ini
Haruskah kuberlari sejauh mungkin?
Haruskah kuhindari apa yang terjadi kini dengan berteriak sekeras mungkin?
Lantas, adakah yang akan mendengar teriakanku?
Di pantai yang maha luas ini bilur-bilur penyesalanku akan berkoloni
Tanpa satu sentuhan senyum sedikitpun!

Ah...kembali jengah menyapaku bahkan merajai segala yang ada di diriku
Tak mungkin aku menyentuh bintang-bintang itu
Tak mungkin aku membelainya dengan penuh keajaiban...sedangkan cahayanya saja tak bisa kutelusuri
Mencoba memahami, dan terus mencoba bertahan
Tidak mudah bagiku memahami apa yang terjadi antara batin dan kerangkanya
Benarkah keadaan ini telah menjadikannya sungguh-sungguh soulmate?