Thanks for this day.. May God bless us everyone and everywhere..
Diberdayakan oleh Blogger.

Rabu, 06 Juli 2011

HTS : Hubungan Tanpa Status

"Raka, aku minta kepastian tentang hubungan ini," Ujar Tika saat mereka duduk di taman kampus di dekat kantor mereka sore itu.

"Kenapa kamu minta kepastian? Koq hubungan harus pake kepastian segala," Jawab Raka dengan entengnya.

Tika terdiam. Ia tak mengerti sama sekali dengan hubungan yang ia jalani. Dibilang pacar bukan. Tapi kalau dibilang bukan pacar juga tidak. Di antara mereka ada kedekatan khusus. Debar jantung pun menjadi berbeda saat mereka bertemu.

"Ya sudah. Terserah kamu deh. Tapi jangan ngambek ya kalau suatu saat nanti aku punya pacar," Papar Tika sambil bangkit dari kursinya dan pergi meninggalkan Raka yang masih duduk di situ.

"Tikaaaa, tunggu!" Panggil Raka. Terlambat. Tika sudah menghilang di tikungan jalan itu.

Tika memang berhak menanyakan kejelasan hubungannya dengan Raka, karena hubungan ini telah hampir satu tahun berjalan. Namun, Raka tak pernah memproklamirkan perasaannya pada Tika. Tika sadar juga, bahwa cinta tak perlu diucapkan, namun cukup dengan sikap yang menunjukkan bahwa Raka mencintainya. Tapi akibat atmosfir yang dibuat oleh Raka atas dirinya, itu membuat Tika ragu untuk melangkah ke depan. Tak berlebihan juga jika Tika menginginkan kepastian itu. Setidaknya ia bisa meletakkan rasa cemburunya (jika ada) pada Raka. Setidaknya ia bisa meluruhkan segenap perasaannya dengan utuh, menyandarkan rindunya pada Raka dengan indah. Karena ia tak mau bertepuk sebelah tangan.

***

Hubungan tanpa status marak terjadi. Ini disebabkan berbagai faktor yang mempengaruhinya. Bisa karena keragu-raguan mengikatkan komitmen *kebanyakan cowok yang ga mau terikat, tapi cewek juga ada sih :D* Alasannya klasik; belum siap untuk ke jenjang selanjutnya. Bisa juga karena perbedaan agama.

Kasus seperti Tika tak sedikit. Tapi tak sedikit pula yang merasa enjoy dengan hubungan tanpa status ini. Jika kuat dan menganggap hubungan ini ga wasting time, silakan diteruskan. Tapi jika hubungan ini dirasa terlalu membebani, mending cepat ambil sikap, sebelum terlambat. Sebelum rasa sayang dan cinta mengubur hidup-hidup dirimu atas dirinya.

Hidup itu pilihan. Bukan hidup yang memilihmu...

A True Happiness From LDR : LDR cases Vol.3

Penggalan sebelumnya *masih case one* :

Riri sebenarnya sudah mulai capek. Riri letih. Setidaknya itulah yang dirasakannya karena sudah berkali-kali Givan membatalkan janjinya untuk bertemu Riri.

***

"Riri sayang, maafin aku ya. Please keep longing. Aku bukannya ga kangen sama kamu. Aku kangen banget. Tapi kerjaanku ga bisa ditinggal..."

"Iya, aku ngerti mas. Tapi sampai kapan kamu ingkari janji kamu untuk ketemu aku?"

"Oke, sabar ya... Semoga minggu depan aku bisa luangin waktu untuk ketemu kamu," Ujar Givan yang tak bisa menutupi rasa bersalahnya.

"Iya mas... Kamu hati-hati ya, jaga sehatnya. Kamu jangan terlalu mikirin aku. Pikirin aja bisnismu. Biar papi juga seneng dan bangga ngeliat kerjaan anaknya," Ujar Riri lembut dan tegas namun terdengar rapuh. Ia berusaha meredam gejolak yang ada di tungku hatinya. Antara sedih, kecewa, marah, gelisah, dan sedikit cemburu.

Itulah Riri. Ia tak boleh marah, setidaknya di depan Givan melalui ucapan dan sikap. Ia harus bisa berperan menjadi yang terbaik bagi Givan dan bagi dirinya sendiri dengan bersikap anggun dan hati-hati, demi menjaga hubungan ini. 

Sempat terlintas di benak Riri untuk mengakhiri hubungan ini. Selain karena jarak, ia juga minder dengan strata sosialnya. Givan anak seorang yang kaya raya, sedangkan ia hanya anak seorang pegawai negeri sipil yang sederhana. Namun, dengan ketelatenannya Givan berhasil meyakinkan Riri terlebih soal kesenjangan sosial yang merebak di antara mereka. Meski tak mudah, namun setidaknya hal itu bisa membuat Riri kembali berani bersikap untuk tetap menjaga hubungan ini hingga akhir nanti.

Riri seperti  disadarkan kembali akan resiko berhubungan jarak jauh seperti ini. Ia harus percaya apa yang dikatakan Givan padanya. Seperti saat ini, Riri harus percaya bahwa Givan berhalangan pergi ke kotanya karena urusan pekerjaan. Tak ada yang lain. Givan sibuk. Titik. Bukan ia berpacaran dengan mantannya yang tempo hari ia ceritakan kepada Riri lewat telepon.
Saat itu Givan tak sengaja bertemu mantannya di sebuah bank dan mereka akhirnya pergi untuk makan malam bersama. Ada resah. Namun ditahan keras oleh Riri. Givan tak mungkin melukainya, meski pun sang mantan sering menghubungi Givan.

***

Hari-hari berlalu dalam balutan peristiwa-peristiwa yang menyenangkan, menegangkan, mengharukan, menjenuhkan, dan lain sebagainya khususnya di kehidupan Riri.

Tak terasa menjelang lima tahun sudah ia menjalani LDR.

"Ri, papi mami pengen ketemu kamu tuh. Aku pengen kamu ke Jakarta ya. Bulan depan adikku Lisa juga datang dari Amerika. Sisca juga udah pengen ketemu kamu katanya," Ujar Givan di suatu siang di balik ponselnya.
Riri terperangah. Riri terkejut. Tak bisa dibayangkannya jika ia bertemu keluarga Givan. Rasa minder kembali menderanya. Namun di lain sisi, inilah moment yang ditunggu-tunggu. Selama lima tahun berhubungan dengan Givan, baru sekarang ia ke tempat cowoknya, Givan. 
Dengan keberanian yang ada, Riri pergi dengan dijemput Givan. Pertemuan yang mendebarkan dalam sepanjang hidupnya. Belum lagi masalah fashion yang harus dikenakannya.

***

Semenjak pertemuan dengan kedua orang tuanya Givan, Givan semakin sibuk. Ia benar-benar tenggelam dalam pekerjaannya. Sementara Riri masih menunggu dengan setia. Di kota ini dengan balutan kepercayaan dan positive thinking yang harus ia bangun dengan sekuat tenaga.

Segala pengorbanan waktu dan jiwanya rupanya tidak sia-sia. Air mata yang tertumpah kini mengembalikannya dengan senyum yang merekah. Riri dilamar, dan kini sedang menentukan hari pernikahannya. Air mata Riri kembali merebak, saat ada namanya tertulis di kartu itu; kartu undangan yang sebentar lagi disebar. Ada debar aneh saat menatap namanya di sana. Nama lengkapnya bersanding dengan nama lengkap Givan. Sebentar lagi, ia akan meninggalkan kota ini, dan hidup di kota tempat Givan bekarya. Riri tak mau lagi menempuh LDR dalam sepanjang hidupnya yang telah berstatus Ny. Givan ini. Ia akan menyesuaikan diri dengan sekuat tenaga, tanpa henti demi keharmonisan rumah tangganya.

Air mata itu kembali menitik. Air mata LDR. Persembahan dari LDR untuk Riri. Jika bukan karena Givan yang bisa meyakinkannya untuk tetap berdiri di atas kesabaran, kesetiaan, ketabahan, dan rasa percaya yang tinggi. Maka dari dulu sudah rubuh, luruh, dan terkapar. Namun karena kekuatan cinta jua yang mempertemukan mereka di pelaminan. Meski pedih, namun dengan kesabaran dan upaya-upaya yang positif, akhirnya air mata itu dapat menggantikannya dengan kebahagiaan sejati.

Selasa, 05 Juli 2011

Selembar Tissue yang Menampar

 Sciences UI - Depok diambil dari ruang seminar terapung

Sebuah obrolan ringan di sela-sela acara seminar di Universitas Indonesia - Depok beberapa waktu lalu, namun sangat membuat aku seperti ditampar berkali-kali. Perkataan yang singkat dan lembut. Tapi telah membuat pipiku merona pula karena malu.

Di Toilet.
Mencuci tangan di wastafel, saling senyum dan bertanya asal lembaga. Kemudian aku melihat ibu itu, yang ternyata ia adalah seorang kepala perpustakaan IPB - Bogor *aku lupa nanyain namanya :D* sudah selesai mencuci tangannya, dan aku berkata, " Ibu, memerlukan tissue? Ini saya ada bu..." Sambil berkata, aku mengeluarkan tissue dari tasku yang kebetulan pula, aku memang hendak memakainya.
"Oh, ga usah bu. Saya punya koq. Saya membiasakan diri untuk selalu membawa sapu tangan," Ujarnya sambil tersenyum

"Kalau kita terus-terusan memakai tissue, nanti hutan kita cepet abis. Jadinya, saya ga pernah membeli tissue. Murah koq bu, selusin sapu tangan hanya sekitar sepuluh ribu rupiah. Minimal saya bisa menguranginya dengan membeli sapu tangan untuk menggantikan tissue," Lanjutnya sambil terus tersenyum.

Ruang seminar terapung UI - Depok

Plaaakkkk!!! Pipiku serasa ditampar keras sekali. Panas dan bertubi-tubi. Aku malu, dan aku hanya bisa tersenyum sambil mengiyakan, menanggapi setiap tuturnya. 
Memang benar apa yang dikatakannya. Tissue berasal dari alam, dan untuk mewujudkannya kayu-kayu yang menjadi korbannya. Aku tersadar dan berniat untuk mengikuti 'jejaknya'. Jika bukan kita, lalu siapa yang menjaga dan melestarikan pohon-pohon itu...?

Well, pelajaran berharga yang menemukan kita pada kesadaran diri tak selalu berasal dari obrolan yang wah, yang formal. Justru di tengah kesederhanaan, kita menemukan satu titik yang amat berharga untuk mengubah cara hidup kita dengan sederhana pula namun dapat memberikan sumbangsih yang sangat berpengaruh.

Senin, 04 Juli 2011

Ternyata Kamu Masih Manis, Sayang

Lekuk tubuhmu
Pusar menyibak anggun
Sepanjang malam
Aku jelajahi tubuhmu
Sepanjang waktu
Aku nikahi jiwamu

Raga lunglai jiwa menyesap intimu
Galau sempat tertinggal di situ
Air mata menggenang riang
Bersahutan tak kenal subuh, pagi, siang, sore, dan malam
Aku pacu segenap rindu menjadi kenangan bersamamu

Yogyakarta,
Belum habis aku merekam jejak
Di seluas Laut Kidul
Di sepanjang Kali Opak
Di dalamnya bumi Merapi
Debumu pun aku bawa, bungamu aku sematkan di rambutku

Yogyakarta,
Belum habis aku mengecup tubuhmu
Dedaun dan bebatu yang menyimpan berjuta sejarah
Belum habis aku menyantap keindahanmu
Menyetubuhi air-airmu; sungguh aku belum puas!

Aku luruh dalam pelukan yang tak tersentuh
Aku tenggelam dalam senyum yang samar tak teraba mata
Aku rebah dalam kecupan demi kecupan yang tak terjamah
Aku merasakan udaramu menghembus
Sungguh aku sanggup mengecapmu
Ternyata kamu masih manis, Sayang...

Jemputlah aku di bawah pohon asoka itu, saat aku kembali...
Menjelajahi cinta dan jiwamu dalam deru ombak, dan belai sang bayu...