Thanks for this day.. May God bless us everyone and everywhere..
Diberdayakan oleh Blogger.
Tampilkan postingan dengan label borderline. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label borderline. Tampilkan semua postingan

Rabu, 29 Februari 2012

Tentang Bunuh Diri

Tulisan ini merupakan turunan dari Hidup ini TERLALU Indah. Dalam banyak kasus, sekarang ini sepertinya bunuh diri adalah merupakan sebuah penyelesaian akhir yang dianggap indah. Selain itu, tulisan ini juga lahir setelah aku dengar ada seorang mahasiswa yang terjun bebas dari lantai atas kostannya di bilangan Jl. Ciumbuleuit Bandung. Ia seorang mahasiswa ITB, 23 tahun. Usia yang terlampau muda dan tergesa untuk pergi dari dunia ini. Menurut kabar dari orang-orang sekitar, ia terjun bebas setelah diputusin sama pacarnya. Sesuatu yang tidak seimbang. Cinta telah ia salah gunakan, rupanya. Ia tak kuat menerima didikan cinta yang memang terkadang menyakitkan. Saat ngobrol-ngobrol tentang kejadian itu, aku berseloroh kepada temanku. "Seandainya anak itu kenal sama kamu, mungkin dia ga bakalan bunuh diri deh, Neng. Hehehe..." Ujarku kepada temanku yang berapi-api menceritakan tentang kejadian itu. Temanku sangat mengecam bunuh diri. So do I!

Aku ga akan menulis tentang bagaimana cara Tuhan memandang tentang manusia yang sudah nekat mengakhiri hidupnya dengan membunuh dirinya sendiri. Menurutku, Tuhan sudah demikian mencintai kita, sehingga DIA menghadirkan kita ke dunia ini sebagai manusia sempurna. Bukan sebagai hewan atau makhluk hidup ciptaanNya yang lain. DIA sudah menghabiskan cintaNya sehabis-habisnya demi berlangsungnya siang dan malam, yang berporos pada bumi yang diciptakanNya sendiri. Menghadirkan kemegahan lainnya agar manusia ciptaanNya ini betah dan mengelola alam raya seluas ini dengan sebaik-baiknya dan penuh tanggung jawab. Masakan kita kalah hanya karena putus cinta? Lalu, dianggap apakah penyelenggaraanNya selama ini??? Lantas, di mana akal, otak, dan hati nurani yang telah diberikanNya kepada kita semenjak kita lahir itu???

Jika masalah keluarga dan perekonomian menjadikan alasan untuk bunuh diri, itu pun sungguh tak seimbang. Tuhan sudah demikian bersusah payah mengatur kehidupan manusia. Antara lahir, mati, pertemuan, perpisahan, dan tidak lupa rejeki bagi kita. Juga membantu membentuk, membangun sebuah keluarga dan banyak teman untuk kita. Jika iman kita terawat dengan baik, kita akan yakin bahwa pertolongan Tuhan akan segera menjangkau kita. Tidak sayangkah kita terhadap KuasaNYA??? Tidak percayakah kita kepadaNYA??? Harus berapa juta atau bahkan berapa miliar kali Tuhan harus meneteskan air mataNya untuk kita??? Tak maukah kita bersyukur atas segala yang telah diperintahkanNya untuk kita? Rejeki, pasangan, dan segala cita-cita yang DIA bersitkan untuk kita, demi kebahagiaan kita sendiri??? Tidak sayangkah kita pada rencanaNya yang indah untuk kita??? Biarkanlah rencanaNya indah pada waktunya. Jangan dipotong oleh kekuasaan kita sendiri. Berhakkah kita untuk memberhentikan rencanaNya???

Sayang, jangan biarkan setan menggerogoti pikiran kita. Hindarkanlah keindahan sesaat. Narkoba yang akan membunuhmu sia-sia. Juga keinginan bunuh diri yang demikian kuat. Berdayakan teman-teman dan keluarga, ajaklah berdiskusi. Buatlah Tuhan tersenyum. Jangan biarkan DIA menangis terus. Tuhan akan terus bersama kita sampai selama-lamanya, jika kita sungguh-sungguh mau terbuka akan kehadiranNya dalam bentuk sederhana, dimana pun dan bagaimanapun caranya...



* Nah, tuh.... Ada lagi karyawan pendiam yang terjun bebas dari lantai 12! Huffttt

Senin, 18 Oktober 2010

Ketika Keindahan Itu Bernama Bunuh Diri

Menurut penelitian, angka bunuh diri di Indonesia telah mencapai 50.000 orang. Memang tak sebesar angka di Amerika, yang mencapai 900.000 orang. Kejadian bunuh diri di Indonesia , kebanyakan berkisar antara 13 hingga 23 tahun. Biasanya masalah yang sering membuat terpikirkan untuk bunuh diri adalah karena merasa terkekang, merasa terhina, masalah perekonomian, dan masalah percintaan. Tapi, kemarin dijelasin juga lho, kalo anak kelas 2 Sekolah Dasar pun, telah tega membunuh dirinya sendiri, karena terhina oleh kata-kata gurunya.

Kasus bunuh diri ini tak bisa lepas dari peran orang tua. Orang tua tak boleh merasa capek, jika anaknya ingin bercerita. Karena komunikasilah hal yang paling penting untuk mencegah adanya bunuh diri. Pendidikan moral dan agama memang benar-benar harus ditekan bagi anak-anak generasi muda kita.

Untuk mengurangi kasus bunuh diri ini, telah disediakan layanan masyarakat, namun layanan ini belum begitu dikenal. Ini dia link nya http://www.janganbunuhdiri.net. 

Semoga upaya ini dapat memperkecil kasus bunuh diri yang ada di Indonesia.


* Inspirasi dari acara Kick Andy.

Rabu, 07 April 2010

roaming

Pagiku hari ini benar-benar terasa berbeda...
Aku hanya bisa terdiam dan kelu, tak bisa berbuat apa-apa...
Hanya bisa melihat uraian air mata dan isak tangismu
Hanya bisa mendengar setiap isaknya, di sela-sela paparanmu dari bibirmu yang mungil

Tak kuasa aku untuk tetap tenang...
Aku hela satu tarikan nafas, dan dibuangnya kembali
Agar melebur bersama oksigen yang hendak aku ambil kembali....
Agar aku kuat mendengarkan semua ledakan yang ada di hatimu
Agar aku kuat menahan aliran kesedihan yang teramat sangat...

Ga tau kenapa kamu cerita ini padaku, dalam kapasitas apa kamu mau cerita sama aku, karena ini menyangkut kehidupanmu yang benar-benar sebuah inti dari hidupmu sendiri.. Sementara aku, belum begitu mengerti tentang kehidupan yang sesungguhnya, dan aku sendiri tengah belajar untuk mengertinya.
Satu dimensi pembelajaran kembali harus aku simak.... Biarlah aku kau anggap sebagai air yang kau butuhkan buat kamu minum... atau apapun istilahnya, aku ga keberatan.
Perbedaan usia yang fantastis, karena aku juga bisa memanggilmu ibu...


Berawal dari sebuah harapan untuk menambah keuangan keluarga, semua ini terjadi. Dengan bisnis yang ga jelas itu, tapi selalu saja dilakoni, karena iming-iming keuntungan yang besar, sementara modalnya boleh dibilang tak ada.
Lontaran-lontaran logis yang keluar waktu itu, pada saat menjalani bisnis ini, tak dihiraukan. Bahkan suaminya sendiri tak didengarkannya.

Entah bagaimana awalnya, tiba-tiba segudang kewajiban harus dipenuhi, sementara pemasukan hanya segitu-gitu aja....
Ada rasa yang tak biasa...saat aku dengar, bahwa rumah akan disita, karena sudah beberapa bulan menunggak kewajibannya. Aku shock...tapi aku tak bisa berbuat apa-apa...
Belum lagi kewajiban yang dipikulnya dari lintah darat. Wajahnya yang semakin tirus, membuktikan bahwa dia sedang depresi.

Sekali lagi kuhela nafas yang panjang... Kusimpan di dadaku, untuk kemudian aku buang lagi dengan pelan dan teratur.
Ini benar-benar keadaan yang sangat menghimpit. Aku pernah juga merasa ditipu, tapi perasaanku tak seberat ini. Padahal apa yang aku dengar ini, jelas-jelas bukan aku yang mengalaminya.

Empatiku benar-benar teruji secara alamiah...wajahku tiba-tiba muram, dan mataku agak berkabut. Meski aku hanya mendengarkannya, tapi di dalam hatiku, aku berdoa untuk dia, agar dia diberi kekuatan untuk menghadapi semua yang terjadi, dan yang akan terjadi padanya. Terlebih, saat dia berpesan pada anaknya, jika terjadi sesuatu atas dirinya, semua catatan ada di tasnya. Secara tersirat, ungkapan itu menunjukkan bahwa dia sudah tidak kuat lagi menghadapi bebannya kewajiban di pundaknya, dan dia akan melenyapkan dirinya sendiri dari muka bumi yang dipijaknya.

Sekali lagi, aku hanya diam. Tak ada kata yang terucap. Lirih hanya aku berkata padanya, bahwa dengan melenyapkan diri dari muka bumi ini adalah bukan jalan yang terbaik. Itu saja rangkaian kata yang keluar dari mulutku. Tak ada kata nasehat, menggurui, atau menghakiminya. Kapasitasku hanya mendengarkannya saja. Tak lebih dari itu, karena akupun tak mau terlibat lebih jauh dengan berkata yang bukan menjadi hakku.

Ternyata, kehidupan glamour yang sempat muncul di dalam keluarganya, konsumerisme, hedonisme, dan menjaga sebentuk citra hebat, telah menyeretnya ke dalam keadaan yang sungguh memprihatinkan di masa depannya. Semua dia alami hanya sendiri, terlihat sendiri dengan keterpurukannya. Tak ada yang bisa membantu, menolong, dan mengangkatnya kembali, termasuk keluarganya.



Citra sederhana di jaman sekarang ini sungguh amat jarang ditemukan dimanapun kita berada. Semuanya seperti terseret oleh badai keangkuhan dan semacamnya. Demi gengsi, terkadang kita tak mampu menahan diri untuk hanyut di dalamnya. Tak mau bersusah payah untuk melawan arus yang menerjang kita.
Kehidupan yang sejati telah menambah perbendaharaannya di dalam lubuk hatiku. Akan aku pegang kuat agar apa yang aku rasakan saat ini, tidak aku rasakan dengan sesungguhnya, di masa kini dan yang akan datang.

Minggu, 04 April 2010

ternyata, cinta juga punya konsekuensi

Satu titik yang paling berharga di dunia ini adalah pernah mencinta dan dicinta. Tetapi jika cinta bisa mengakibatkan suatu kondisi yang sangat memprihatinkan bagi yang melakoninya, aku jadi bingung. Sebenernya, cinta itu apa sih?

Satu cerita cinta dari siangnya hari ini...

Seorang pemuda yang terpaksa harus kehilangan pekerjaan, karena sudah empat kali mencoba membunuh dirinya sendiri.

Mmmhh..setahuku, cinta mengajarkan sesuatu yang membuat kita mencintai orang lain. Tapi, mengapa cinta jadi berubah fungsi ya? Benar-benar bertolak belakang. Jangankan mencintai orang lain, mencintai dirinya sendiripun, dia tak sanggup..

Gara-gara perasaan cintanya yang ditanggapi dengan wajar, membuat lelaki ini merasa tak ditanggapi oleh wanita yang dicintainya ini. Padahal hampir seluruh harta bendanya telah dititipkan kepada cewek yang sangat dia sayangi.

Ketika dia mencoba membunuh dirinya sendiri untuk yang pertama kalinya, dia melakukannya di kantornya sendiri. Dengan gagah berani, dia menenggak obat nyamuk cair. Di sini, aksinya ga berhasil, karena temennya mengetahui aksinya.

Untuk kedua kali, dia mencoba menghilangkan nyawanya sendiri dengan mengiris nadi tangannya menggunakan silet. Lagi-lagi dia selamat, karena ada orang yang mengetahuinya.

Untuk percobaan pembunuhan dirinya yang ketiga dan keempat, lagi-lagi dia gagal, karena dia melakukannya di depan umum, kembali dengan meminum obat nyamuk cair.

Hehe..aku sempet heran juga pas denger cerita ini, karena kalo emang dia bener-bener tega menghilangkan nyawanya sendiri, ya mungkin dia tak melakukan usahanya ini di tempat yang mudah dijangkau oleh orang lain.
Tapi bisa jadi juga sih, ini adalah satu cara yang dipakainya, karena dia sebenernya pengen diperhatikan oleh sesamanya. Tak peduli siapapun dia.

Akhirnya dia diberhentikan dari pekerjaannya, setelah empat kali kejadian yang sama dia lakukan.

Kabar wanita yang dia sayangi juga akhirnya pindah rumah, setelah mengetahui hal ini. Malu karena dia merasa telah menjadikan semua ini terjadi, bahwasanya kabar tentang titipan sebagian harta dari cowok itu adalah bukan keinginannya. Melainkan keinginan dari lelaki yang tidak dia sukai dan tidak dia sayangi. Dan orang-orang yang tidak mengetahui secara detil permasalahannya, jadi menyalahkannya. Jadilah cewek ini pindah ke tempat yang jauh.

Cinta, yang seharusnya dinikmati sebagai anugerah yang paling mulia ini ternyata di sisi lainnya terdapat konsekuensinya juga.
Konsekuensi sakit hati dan merasa ditolak merupakan hal yang bukan sembarangan bagi segelintir orang yang merasa keberadaanya tidak dianggap.

Padahal, dengan cinta bisa mengubah gurun pasir menjadi hutan yang lebat, penuh warna-warni bunga dan buah-buah yang manis.
Dengan cinta pula, bisa mengalahkan beribu pasukan perang yang bersenjata lengkap.

Definisi cinta yang amat luas dan kompleks membuatku kelu. Karena cinta memang bukan buat didefinisikan. Cinta cukup sulit buat dimengerti, namun cukup mudah buat dirasakan.

Alangkah bijaknya kita, jika kita dapat menikmati cinta secara proporsional.
Alangkah bijaknya kita, jika kita dapat menyeimbangkan antara perasaan dan logika kita, jika kita sedang jatuh cinta.

Mmmhhh....dapatkah kita melakukannya??



Bandungku, semoga selalu penuh nuansa cinta yang putih dan tulus...