Thanks for this day.. May God bless us everyone and everywhere..
Diberdayakan oleh Blogger.
Tampilkan postingan dengan label citra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label citra. Tampilkan semua postingan

Kamis, 08 April 2010

i b u

Seluruh fase di dalam hidupmu telah kau alami seiring sempurnanya masa di dalam hidupmu sendiri.
Dari masa kanak-kanakmu hingga ke masa dimana secara alamiah engkau dipanggil ibu, karena kau mampu menjadi ibu bagi anak-anakmu dengan taruhan hidupmu sendiri. Kau tak peduli dengan semua yang kau rasakan, yang terpenting bagimu adalah bagaimana kau bisa melahirkan kami dengan selamat, sehat, dan sempurna.
Bukan suatu hal yang mudah agar bisa menjadi seorang ibu yang baik. Dengan kesabaran yang tiada batas, kau jalani itu semua dengan keikhlasan di seluruh detik-detiknya. Demi melahirkan kami agar terlahir sempurna, seribu mitos dan pantangan kau jalani. Misalnya ni ya, wanita yang sedang hamil ga boleh keluar rumah setelah azan maghrib. Ga boleh makan serabi, ga boleh makan salak, ga boleh makan kerupuk kulit, trus kalo ngeliat hal-hal yang aneh, harus berbisik "amit-amit jabang bayi", ga boleh membunuh binatang meski kecil sekalipun, dan masih banyak larangan-larangan lainnya. Pokoknya ribet banget deh. Ga gampang lho melakukan itu semua.

Hingga pada saat yang telah ditentukan olehNya, akhirnya anakmu lahir dengan selamat. Tangis harupun menyeruak disertai senyum tulusmu. Perjuangan yang begitu mendebarkan telah dilalui dengan baik. Kau telah berhasil menjadi media buat sebuah ciptaan baru di bumi ini.

Perjuanganmu ga sampai di sini. Kelahiran anakmu adalah merupakan awal bagi perjuangan-perjuanganmu yang lain. Bahwa kau senantiasa merawat dan mendidiknya dengan kebijaksanaan pengetahuan yang kau miliki. Aku inget akan ucapanmu padaku, pada saat prasekolah. Engkau pernah bilang bahwa jika kamu ga mau dicubit, maka kamu jangan pernah sekali-sekali mencubit temanmu. Karena rasanya dicubit itu sakit, dan jika temanmu mencubitmu, kamu jangan membalasnya..mending kamu pulang ke rumah. Tapi apa yang terjadi, aku malah sering dicubit temanku. Padahal aku kan ga pernah nyubit dia. Mungkin karena waktu aku kecil, aku lucu kali ya..menggemaskan hihihi..narsisnya keluar deh hehe.

Hingga aku dewasa, perkataan ibuku selalu aku ingat. Aku jadikan pelita bagi hidupku. Meski kadang aneh juga. Aku yang ga pernah nyubit aja, malah suka dicubit. Lantas apa kabar ya bagi mereka yang suka mencubit? Pasti bisa dilihat deh dari kuali va nya.

Ibu, dengan ketulusanmu, di dalam linangan air matamu, dan dengan jiwamu, engkau telah membuatku ada. Dengan doa-doamu, telah menjadi nafas buatku di dalam menjalani seluruh kehidupanku. Dengan kesederhanaanmu, engkau telah mengajariku hal apapun yang pernah terselami olehmu. Ga ada kesan mewah, namun terlihat bagai bintang yang selalu bersinar tak lelahnya berpijar indah di kehidupanku. Engkau telah mendidikku dengan menyerahkannya kembali kepada alam yang menaungiku. Karena engkau menyadari, bahwa aku bukan milikmu., seperti kata Kahlil Gibran dalam bukunya Sang Nabi. Aku adalah milik kehidupanku sendiri, dan kau hanyalah perantara yang membuatku lahir, ada di muka bumi ini. Menghiasnya dengan ribuan intan permata dan kilauan sinar alaminya.
Dengan cintamu engkau membasuh setiap sakit dan lukaku, tanpa aku mengeluh padamu, engkau telah mengertinya.
Dengan kesabaranmu engkau telah membuatku tumbuh seirama sang waktu yang diberikanNya kepadaku..betapa sempurnanya.
Dengan senyummu, engkau telah memberi kesejukkan bagi seluruh suka duka hidupku.

Kini, aku sadar akan arti dari filosofi hidupmu. Bahwa menyakiti apapun dan siapapun, meski terkecil sekalipun, pasti ada efek bagi kita di kemudian hari, yang bisa kita sadari dan tidak kita sadari.
Filosofi hidupmu memberi makna yang sangat mendalam. Luas mencakup seluruh pikiran, tutur kata, kelembutan, kesabaran, cinta, dan perjuangan hidup yang harus aku kecap.

Sembilan tahun sudah aku tak bisa melihat senyum terindah dan termanismu, saat menyambut kedatanganku di rumah. Senyum yang selalu tersungging saat bahagia dan saat kau menjalani deraan hidupmu yang seolah tak ada hentinya. Ini menjadi teladan bagiku. Senyum yang menebarkan sejuta doa bagiku, yang sampai sekarangpun sanggup membuatku bertemu dengan orang-orang pilihan, orang-orang yang baik dan hebat, dimanapun berada. Itulah keistimewaanmu, ibu. Bahwa di dalam segala keterbatasanku, doamu masih kurasakan hingga kini.

Tak terasa air mataku meleleh di pipiku..yang berangsur menjadi isak yang tak mampu kubendung. Sambil menulis, aku terus terisak. Aku rindu semua kasih sayangmu ibu... Aku rindu, bagaimana dirimu pasrah dalam menghadapi cobaan hidup yang datang silih berganti. Aku rindu senandungmu sesaat sebelum aku tidur.

Ibu, aku menyadari bahwa aku sama sekali belum bisa membahagiakanmu semasa hidupmu. Tapi aku yakin, bahwa kebahagiaanmu kini lebih agung dan indah daripada kemampuanku memberikannya. Mungkin saat ini kau sedang ngobrol sama bapak, kakek dan nenek di tempat yang indah, yang bahasa buminya adalah surga.

Meski aku tak bisa lagi memandang wajahmu, melihat senyummu yang berarti pula merupakan doa buatku, dan tak bisa lagi menikmati candamu, tetapi semoga lewat setiap doaku yang kuhunjukkan buatmu, dapat mengirimkannya kembali buatku. Karena aku dapat mengintip kebahagiaanmu di sana, dan aku yakin, kau akan tersenyum memandangku... Engkau ada di saat sepi, saat aku bersujud...
Semangat hidupmu yang menjadikan orang lain berharga dan sempurna, akan selalu ada di dalam kobaran hatiku, hingga aku dapat menemuimu kelak.


Bandungku, kuterkenang ibuku hingga datang kangen yang mengharu biru...
Kamis 02:05 - 04:32
08042010

Rabu, 07 April 2010

roaming

Pagiku hari ini benar-benar terasa berbeda...
Aku hanya bisa terdiam dan kelu, tak bisa berbuat apa-apa...
Hanya bisa melihat uraian air mata dan isak tangismu
Hanya bisa mendengar setiap isaknya, di sela-sela paparanmu dari bibirmu yang mungil

Tak kuasa aku untuk tetap tenang...
Aku hela satu tarikan nafas, dan dibuangnya kembali
Agar melebur bersama oksigen yang hendak aku ambil kembali....
Agar aku kuat mendengarkan semua ledakan yang ada di hatimu
Agar aku kuat menahan aliran kesedihan yang teramat sangat...

Ga tau kenapa kamu cerita ini padaku, dalam kapasitas apa kamu mau cerita sama aku, karena ini menyangkut kehidupanmu yang benar-benar sebuah inti dari hidupmu sendiri.. Sementara aku, belum begitu mengerti tentang kehidupan yang sesungguhnya, dan aku sendiri tengah belajar untuk mengertinya.
Satu dimensi pembelajaran kembali harus aku simak.... Biarlah aku kau anggap sebagai air yang kau butuhkan buat kamu minum... atau apapun istilahnya, aku ga keberatan.
Perbedaan usia yang fantastis, karena aku juga bisa memanggilmu ibu...


Berawal dari sebuah harapan untuk menambah keuangan keluarga, semua ini terjadi. Dengan bisnis yang ga jelas itu, tapi selalu saja dilakoni, karena iming-iming keuntungan yang besar, sementara modalnya boleh dibilang tak ada.
Lontaran-lontaran logis yang keluar waktu itu, pada saat menjalani bisnis ini, tak dihiraukan. Bahkan suaminya sendiri tak didengarkannya.

Entah bagaimana awalnya, tiba-tiba segudang kewajiban harus dipenuhi, sementara pemasukan hanya segitu-gitu aja....
Ada rasa yang tak biasa...saat aku dengar, bahwa rumah akan disita, karena sudah beberapa bulan menunggak kewajibannya. Aku shock...tapi aku tak bisa berbuat apa-apa...
Belum lagi kewajiban yang dipikulnya dari lintah darat. Wajahnya yang semakin tirus, membuktikan bahwa dia sedang depresi.

Sekali lagi kuhela nafas yang panjang... Kusimpan di dadaku, untuk kemudian aku buang lagi dengan pelan dan teratur.
Ini benar-benar keadaan yang sangat menghimpit. Aku pernah juga merasa ditipu, tapi perasaanku tak seberat ini. Padahal apa yang aku dengar ini, jelas-jelas bukan aku yang mengalaminya.

Empatiku benar-benar teruji secara alamiah...wajahku tiba-tiba muram, dan mataku agak berkabut. Meski aku hanya mendengarkannya, tapi di dalam hatiku, aku berdoa untuk dia, agar dia diberi kekuatan untuk menghadapi semua yang terjadi, dan yang akan terjadi padanya. Terlebih, saat dia berpesan pada anaknya, jika terjadi sesuatu atas dirinya, semua catatan ada di tasnya. Secara tersirat, ungkapan itu menunjukkan bahwa dia sudah tidak kuat lagi menghadapi bebannya kewajiban di pundaknya, dan dia akan melenyapkan dirinya sendiri dari muka bumi yang dipijaknya.

Sekali lagi, aku hanya diam. Tak ada kata yang terucap. Lirih hanya aku berkata padanya, bahwa dengan melenyapkan diri dari muka bumi ini adalah bukan jalan yang terbaik. Itu saja rangkaian kata yang keluar dari mulutku. Tak ada kata nasehat, menggurui, atau menghakiminya. Kapasitasku hanya mendengarkannya saja. Tak lebih dari itu, karena akupun tak mau terlibat lebih jauh dengan berkata yang bukan menjadi hakku.

Ternyata, kehidupan glamour yang sempat muncul di dalam keluarganya, konsumerisme, hedonisme, dan menjaga sebentuk citra hebat, telah menyeretnya ke dalam keadaan yang sungguh memprihatinkan di masa depannya. Semua dia alami hanya sendiri, terlihat sendiri dengan keterpurukannya. Tak ada yang bisa membantu, menolong, dan mengangkatnya kembali, termasuk keluarganya.



Citra sederhana di jaman sekarang ini sungguh amat jarang ditemukan dimanapun kita berada. Semuanya seperti terseret oleh badai keangkuhan dan semacamnya. Demi gengsi, terkadang kita tak mampu menahan diri untuk hanyut di dalamnya. Tak mau bersusah payah untuk melawan arus yang menerjang kita.
Kehidupan yang sejati telah menambah perbendaharaannya di dalam lubuk hatiku. Akan aku pegang kuat agar apa yang aku rasakan saat ini, tidak aku rasakan dengan sesungguhnya, di masa kini dan yang akan datang.