Thanks for this day.. May God bless us everyone and everywhere..
Diberdayakan oleh Blogger.

Jumat, 30 Maret 2012

Rakyat VS Rakyat

Mendengar dan melihat berita akhir-akhir ini aku jadi GALAU. Koq bisa ya, rakyat kita yang katanya adem dan cinta damai, murah senyum penuh keramahan itu tiba-tiba jadi beringas. 
Aku ga tega ngeliat mahasiswa disiksa, dikeroyok sama aparat mereka. Mengerikan, dan aku cuma bisa bilang PRIHATIN. Asli, aku sedih banget. rakyat melawan rakyat. Apakah jadinya? Kalo aku jadi pemimpinnya, apakah sudah cukup cuma bilang prihatin? Aku aja sedih, apalagi pemimpin (harusnya).... bisa memutuskan hal-hal terbaik bagi anak-anaknya. Siapa coba yang awalnya pengen jadi pemimpin di negeri ini, selain dirinya sendiri dan elemen politik?

Coba para koruptor bisa didemo ya. Biar mereka bisa ngembaliin duit-duitnya rakyat. Biar harga BBM tetep stabil, ga keimbas sama harga minyak dunia. 

Coba para ahli di Indonesia ini dihargai. Pasti banyak putera bangsa yang bisa mengolah minyak mentah yang konon melimpah ruah di Bumi Nusantara ini. Mereka pasti akan tetep tinggal dan berkarya di negerinya yang sangat dicintainya itu, daripada harus hidup dan mengais rejeki di negeri orang yang lebih menghargainya.

Duh, jika mental bangsa ini cakep-cakep, pasti ga ada koruptor. Pasti ga ada koruptor. Pasti para ahli bisa lebih dihargai lagi, setara dengan di negeri orang. Pastinya, para pejuang bangsa melalui olah raga juga bisa lebih hidup layak.

Duh... Duh... Duh...

Kamis, 29 Maret 2012

Bersiap untuk Terlupakan

Tak pernah aku bayangkan, jika aku mempunyai sahabat yang sungguh sangat menghargai dan menyayangi aku tanpa melihat ras dan strata sosial. Aku juga sungguh bangga telah mengenal dia dan memilikinya sebagai sahabat. Bagaimana tidak? Dia yang setiap detik berhadapan dengan kemewahan, tetapi mau bersahabat dengan seorang sederhana sepertiku.

Hari demi hari telah melewatkan aku dan dia pada sebuah perjalanan yang sukar sekali dilupakan. Buatku, ia seorang sahabat yang mengesankan. Tak ada cacat cela menghampirinya. Dia selalu mengajari aku untuk tetap mempunyai pikiran yang positif dalam setiap kejadian, apalagi jika aku sudah demikian memperlihatkan sikap keminderanku di hadapannya. Jika sudah begini, ia dengan susah payah akan memberikan pemahaman dan pengertian yang akhirnya bisa membuatku untuk mengalah dengan meminta maaf kepadanya.

Malam itu pukul sembilan malam, ia bercerita tentang kekasihnya. Setelah sekian lama ia menghilang dariku. Ia menghubungi dengan suara kepedihan yang mendalam, bahwa ternyata kesetiaan itu susah didapat. Ia telah disakiti oleh kekasihnya. Di sinilah aku mulai merasa bahwa aku memiliki arti buatnya. Aku selalu menghiburnya dengan kasih yang aku punya. Mengerti dan memakluminya dengan ketulusan yang aku punya. Aku berdoa untuk kebahagiaan dan kesuksesannya, seperti saat ia lulus dari pasca sarjana dengan predikat summa cum laude.  Aku sungguh terharu karena doaku untuknya telah terkabul. Tak terasa air mataku menitik perlahan, saat aku melihat ia mengenakan toga kebesarannya.

Kembali ia menghilang. Bisa dipastikan, bahwa ia sudah kembali berbahagia dengan kehidupan yang dijalaninya. Hingga ia kembali datang dengan membawa kepedihannya, aku kembali melakukan apa yang telah kulakukan kepadanya. Menghiburnya dan memulihkannya dengan ketulusanku. Berulang kali ia melakukan ini kepadaku. Datang dan pergi.

Kesabaran, ketulusan, dan doaku tak pernah berhenti buatnya. Sampai kapan pun! Sebab, ia telah membuatku cukup memiliki arti, setidaknya aku telah menyadarinya sampai detik ini bahwa inilah kekuatanku. Darinya aku telah belajar tentang makna kesabaran dan ketulusan. Dan itu, akan terus berakar di dalam hatiku, hingga aku tak merasakan kecewa dan kesakitan saat aku terlupakan.

Terima kasih atas pembelajaranmu, sahabat. Walau kini telah lama berlalu, namun tak akan pernah aku lupakan, meski kau sekarang telah melupakanku. Demi ketulusanku, aku tak ingin kau ingat. Aku hanya ingin bahwa kau tak kan pernah melupakan Tuhan Sang Pencipta alam semesta raya ini.



Rabu, 28 Maret 2012

Monolog : Kebutuhan atau Keinginan

Dalam banyak kasus, aku beneran ga bisa membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Manusia yang bernama perempuan; khususnya aku *entah kalo perempuan lain, aku belum melakukan riset :D, selalu saja ga bisa menahan mata jika melihat tas atau selop, dan kadang sepatu kerja. Ga cukup punya satu. Padahal, pemakaiannya pun ga bisa dibarengin kan? Masa bawa tas kerja dua, dan pakai sepatu juga dua pasang sekaligus. Ini yang dinamakan keinginan. Selalu berbenturan dengan kebutuhan. Sebenernya ga butuh, tapi suara hati tentang kebutuhan langsung raib, dan aku langsung kepikiran untuk membeli tas atau selop atau sepatu yang aku anggap cantik itu.

Sekarang, hape ku sudah mulai ga bisa diajak kompromi. Dalam sehari, ia harus di hard restart berulang-ulang. Komunikasi lumayan agak terganggu, khususnya kalo aku pengen ngeblog lewat hape, dan sekalian berkunjung ke temen-temen blogku, meski dengan tanpa meninggalkan komentar. 

Aku sedang berpikir bahwa kebutuhanku akan hapeku yang sudah rusak ini apakah memang relevan dengan kebutuhanku? Aku takut, ini hanya keinginanku semata. Namun, ada satu bisnis kecilku yang mungkin agak terhambat jika aku tak memiliki hape jenis yang satu ini.  Jika aku membeli hape yang sesuai dengan keinginanku, selain dia masih mahal, aku masih saja ragu. Apakah aku memang membutuhkannya??? Memang sih, jika aku memiliki benda ini, aku berencana akan memaksimalkannya, mengembangkan bisnisku. Tapi tetep aja, aku masih ragu dengan keinginanku sendiri.

Kemudian aku pergi ke Mega Cell yang terletak di Jl. Pajajaran. Kabarnya, ia merupakan pusat penjualan merek hape yang aku inginkan terbesar di Asia Tenggara. Mmhhh... Kata penjaga tokonya, meskipun belum Grand Opening, tapi transaksi udah bisa dilakukan. Tapi masalahnya, apakah toko itu bisa menerima pembayaran menggunakan kartu debit? Tanya-tanya, tapi ga ada hasil memuaskan. Akhirnya pembelian ditunda. 

Seminggu kemudian, aku pergi ke toko yang sama; Mega Cell. Uang cash udah aku bawa. Tetapi, hape yang aku incer itu kosong! Mmmhhh... Ini tanda-tanda, pikirku. Tanda-tanda bahwa aku harus berpikir lebih pasti lagi dengan keinginanku membeli hape baru.
Aku juga menyempatkan untuk pergi ke gerai-gerai lain mencari hape cita-citaku. Tetep kosong! Gerai demi gerai yang aku tanyai, tidak memiliki hape yang aku inginkan itu.

Ini, bukti bahwa aku harus tetap bertahan dengan hape jadul jebot itu. Namun aku tetap bersyukur bahwa aku pernah memiliki hape itu, hadiah dari seseorang saudaraku. Terima kasih Ko... :D Tapi gara-gara dirimu, aku jadi kena imbasnya ni. Aku jadi addicted sama benda yang telah kau perkenalkan 3 tahun yang lalu.

TORCH 2 Putih, aku tak pernah tahu apakah kamu bakal kumiliki atau tidak. Satu yang pasti, aku sekarang sudah menunda untuk memilikimu. 3 tahun menabung, akankah aku buang dalam waktu sekejap???
Aku tanyakan pada embun pagiku, ia pun tak tahu. Ia tak pernah mengenal hape yang pernah kumiliki ini. Ah, mungkin ia memang tak tertarik memilikinya. Ia tetap bening dan teguh dengan kesejukannya.

Kamis, 22 Maret 2012

Bias yang Menjadi Pekat

Selubungmu perlahan terkuak
Biasmu yang pucat pasi perlahan berubah menjadi pekat
Sekarang, apa kabarmu?
Apa kabar sejatimu....?

Kau telah mengupas inti batinmu!
Terekam dalam guratan nadiku
Mengalir hingga batang ranting pikiranku
Kau sendirilah yang membuat pekat itu

Maaf, jika aku tak mengenalimu lagi
Sebab bagiku, kau; satu bias yang berubah menjadi pekat