Aku tertunduk lemah dan enggan berkata apapun juga
Saat mendengar Ngayogyakarta Hadiningrat digugat keistimewaannya
Aku memang bukan siapa-siapa
Apalagi seorang bangsawan dari trah Mataram
Aku juga bukan ahli, bukan pakar dari sebuah ilmu
Aku hanya rakyat biasa yang tak mengerti dunia ini,
Yang hanya bisa berusaha untuk mensyukuri hal-hal kecil yang terjadi di depanku
Yang hanya mengerti bahwa hidup itu penuh perjuangan
Bekerja dari pagi hingga petang
Memaparkan cinta yang mengejawantah dariku bagi dunia; setidaknya bagi dunia sekitarku, di mana aku bernaung di dalamnya
Monarki...
Apa itu monarki...?
Aku tak bisa jelas mengertinya
Mengapa satu kata monarki menjadi satu kata yang marak saat ini...???
Untuk apa dia ada dan menyertai Yogyakarta tercinta?
Mengapa saat dahulu kala kata monarki tak pernah terdengungkan untuk Yogyakartaku...?
Mengapa saat Merapiku menghentikan semburannya, baru terucap gugatan itu...?
Sabda Pandita Ratu; Tahta Untuk Rakyat...
Itulah yang kutahu sejak dulu dari Yogyakartaku...
Katamu, bahwa ucapanmu itu telah membuat rakyat Yogyakarta salah mengerti, miss communications, salah paham, atau apalah itu namanya...
Tidakkah kau tahu, bahwa ucapanmu itu telah melukai hati Yogyakarta...?
Kau lukai Yogyakarta hanya dengan satu kata yang meluncur dari mulutmu...!
Justru dari perkataanmu itulah Yogyakarta itu disebut istimewa
Aku hanya tahu bahwa sejarah tak bisa direkayasa, tak bisa diulang kembali...
Itulah salah satu bentuk kekayaan Indonesiaku yang wajib dilestarikan
Demokrasi...
Apa itu demokrasi...?
Aku hanya tahu bahwa pemilihan yang dikembalikan kepada rakyat, itu yang disebut demokrasi...
Sebuah pemilihan yang belum tentu juga jujur, belum tentu juga membawa kebahagiaan bagi rakyat
Belum tentu juga bersih dari yang katanya money laundring...!
Memaparkan berbagai janji dan program yang bertebaran indah sesaat sebelum pemilihan...
Tak peduli nantinya akan terpenuhi atau tidak
Tak jarang pula demokrasi malah membawa petaka, saat seorang kecewa akan hasilnya...
Tulisanku ini merupakan salah satu wujud dari demokrasi...
Inilah makna demokrasi yang kutahu...
Semakin letih aku melangkah...
Semakin gontai membawa tubuhku
Aku semakin tertunduk dan sedih
Memikirkan kebingunganku tentang negeriku tersayang ini
Akankah berlaku kembali warisan penjajahan ini; devide et impera...?
Persatuan yang kokoh selama ini; yang dibangun dengan susah payah ternyata bisa hancur dengan sikap ini; melalui kalimat yang sepertinya bukan keluar dari mulut seorang pemimpin
Tak ada ayoman bagi rakyat seluruhnya
Malah melukai hati rakyat di dalam bagiannya sendiri
Referendum menjadi sebuah kata indah sebagai reaksi dari ucapanmu
Itukah yang kau mau...?
Tertunduk... Pening, gundah...
Aku hanya bisa memandang bumi semakin dalam dan dalam lagi
Tak bisa kunikmati pantulan langit di atasnya
Hanya ada gelap dan pekat menyelubungi dan setia menyertai langkah...!
* Jika boleh aku meminta, biarkanlah Yogyakarta dengan keistimewaannya, termasuk sejarah yang terpendam di sana.. Menjaga dan merawatnya, melestarikan dengan ketulusan dan senyum yang terindah.. Masih banyak urusan lain yang urgent yang harus ditangani..