Thanks for this day.. May God bless us everyone and everywhere..
Diberdayakan oleh Blogger.

Kamis, 02 Desember 2010

Tertunduk : Saat Kata Monarki Terucap

Aku tertunduk lemah dan enggan berkata apapun juga
Saat mendengar Ngayogyakarta Hadiningrat digugat keistimewaannya

Aku memang bukan siapa-siapa
Apalagi seorang bangsawan dari trah Mataram
Aku juga bukan ahli, bukan pakar dari sebuah ilmu

Aku hanya rakyat biasa yang tak mengerti dunia ini, 
Yang hanya bisa berusaha untuk mensyukuri hal-hal kecil yang terjadi di depanku
Yang hanya mengerti bahwa hidup itu penuh perjuangan
Bekerja dari pagi hingga petang
Memaparkan cinta yang mengejawantah dariku bagi dunia; setidaknya bagi dunia sekitarku, di mana aku bernaung di dalamnya

Monarki...
Apa itu monarki...?
Aku tak bisa jelas mengertinya
Mengapa satu kata monarki menjadi satu kata yang marak saat ini...???
Untuk apa dia ada dan menyertai Yogyakarta tercinta?
Mengapa saat dahulu kala kata monarki tak pernah terdengungkan untuk Yogyakartaku...?
Mengapa saat Merapiku menghentikan semburannya, baru terucap gugatan itu...?

Sabda Pandita Ratu; Tahta Untuk Rakyat...
Itulah yang kutahu sejak dulu dari Yogyakartaku...

Katamu, bahwa ucapanmu itu telah membuat rakyat Yogyakarta salah mengerti, miss communications, salah paham, atau apalah itu namanya...
Tidakkah kau tahu, bahwa ucapanmu itu telah melukai hati Yogyakarta...?
Kau lukai Yogyakarta hanya dengan satu kata yang meluncur dari mulutmu...!
Justru dari perkataanmu itulah Yogyakarta itu disebut istimewa

Aku hanya tahu bahwa sejarah tak bisa direkayasa, tak bisa diulang kembali...
Itulah salah satu bentuk kekayaan Indonesiaku yang wajib dilestarikan

Demokrasi...
Apa itu demokrasi...?
Aku hanya tahu bahwa pemilihan yang dikembalikan kepada rakyat, itu yang disebut demokrasi...
Sebuah pemilihan yang belum tentu juga jujur, belum tentu juga membawa kebahagiaan bagi rakyat
Belum tentu juga bersih dari yang katanya money laundring...!
Memaparkan berbagai janji dan program yang bertebaran indah sesaat sebelum pemilihan...
Tak peduli nantinya akan terpenuhi atau tidak
Tak jarang pula demokrasi malah membawa petaka, saat seorang kecewa akan hasilnya...
Tulisanku ini merupakan salah satu wujud dari demokrasi...
Inilah makna demokrasi yang kutahu...

Semakin letih aku melangkah...
Semakin gontai membawa tubuhku
Aku semakin tertunduk dan sedih
Memikirkan kebingunganku tentang negeriku tersayang ini
Akankah berlaku kembali warisan penjajahan ini; devide et impera...?
Persatuan yang kokoh selama ini; yang dibangun dengan susah payah ternyata bisa hancur dengan sikap ini; melalui kalimat yang sepertinya bukan keluar dari mulut seorang pemimpin

Tak ada ayoman bagi rakyat seluruhnya
Malah melukai hati rakyat di dalam bagiannya sendiri
Referendum menjadi sebuah kata indah sebagai reaksi dari ucapanmu
Itukah yang kau mau...?

Tertunduk... Pening, gundah...
Aku hanya bisa memandang bumi semakin dalam dan dalam lagi
Tak bisa kunikmati pantulan langit di atasnya
Hanya ada gelap dan pekat menyelubungi dan setia menyertai langkah...!


* Jika boleh aku meminta, biarkanlah Yogyakarta dengan keistimewaannya, termasuk sejarah yang terpendam di sana.. Menjaga dan merawatnya, melestarikan dengan ketulusan dan senyum yang terindah.. Masih banyak urusan lain yang urgent yang harus ditangani..

11 komentar:

Wawank mengatakan... [Reply Comment]

Jangn tertunduk terus..!! Ayo Semangat..!! :D

Langit mengatakan... [Reply Comment]

Pintaku sama seperti pintamu sahabat,,,
biarkanlah Yogyakarta tetap dengan keistimewaannya,

kr banyak sejarah bangsa lahir disini, yogyakarta

* sepertinya negeri ini tlah mengabaikan sejarah bangsanya...

Ferdinand mengatakan... [Reply Comment]

Menurutku ini gak lebih dari pengalihan Kasus Gayus, terbukti 2 hari ini Gayus gak diberitain sama sekali padahal hari ini dia sidang kan....

dan buatku menggugat Yogya kayanya hal yg salah.. soalnya klo mau menggugat ke monarkiannya, coba SBY bercermin dlu menyanyikan lagu ciptaannya dan memberikan Souvenir tentang keluarganya apa itu gak lebih monarki??

dasar Pak BeYe haha...

Semangat n happy blogging :p

Antoninilez mengatakan... [Reply Comment]

Flower, ini puisi paling demokratis yg pernah kubaca...bukankah kita tahu bahwa Yogya lebih dulu berdiri drpd NKRI? apakah pemerintah lebih suka mengalahkan orang sendiri, drpd mengalahkan musuh asing?

*masih menunggu antologi puisimu terbit, flower...
ada buku yg aku baca, mengatakan bahwa raja2 jawa berasal dr sunda...menurutmu?

Antoninilez mengatakan... [Reply Comment]

boleh minta twitterx, flower?

Belantara Indonesia mengatakan... [Reply Comment]

Presiden Lebay Indonesia...SBY...pencitraan trus yg di urus..

windflowers mengatakan... [Reply Comment]

@wawank..hehe..pasti dong, aku kan semangattt terus..! :d

@langit..iya mas..sejarah yg tak bisa mati begitu aja..

*tega banget kl ampe sejarah yg telah ada ini dilupakan..

@ferdinand..ya..itulah sby si dasar itu fer..ahaha

@antoninilez..hehe..thx anyway..jd puisi demokratis dong judulnya :d
sm musuh asing mah malah takut kali...:d

*antologi puisiku kayanya masi lama terbitnya mas..hehehe..
bener mas..

@belantara indonesia..lebay bin alay ya..mmhh pencitraan yg kaya apalagi tuh..?

Antoninilez mengatakan... [Reply Comment]

kan udah banyak tuh puisi...

*pemerintah indonesia ma ngekor sm merek2 asing, supaya dpt duit, orang sendiri dibikin susah...
itu kaya freeport, dll

windflowers mengatakan... [Reply Comment]

@antoninilez..iya, udah banyak..tp aku pengen nunggu yg ikhlas dan berkenan bwt menerbitkannya...:)

*tp duitnya jg ga jelas kemana perginya..:(

penghuni60 mengatakan... [Reply Comment]

bagiku Yogyakarta akan ttp istimewa slamanya meski aku bkn terlahir disana, meski aku bkn tinggal disana.

I Love Yogya
I Love Indonesia

windflowers mengatakan... [Reply Comment]

@penghuni60..bener mas..selamanya yogya tetap istimewa..tak kan pernah hilang keistimewaannya ampe kapanpun..!

Luv yogya and luv indonesia, too!!!

Poskan Komentar

[[ Form mobile comments ]]