Thanks for this day.. May God bless us everyone and everywhere..
Diberdayakan oleh Blogger.

Senin, 30 Mei 2011

Rancu Kembang Mawar

Raut wajahmu nanar memandangiku
Entah apa yang berkecamuk dalam benakmu
Saat kudapati kau ingkar dari pelita janjimu
Kau tiup perlahan dari sekian kekuatanmu untuk memadamkan api janjimu

Senyumku segera menantang tatap matamu
Dua puluh menit yang lalu, tatapanmu seteduh rembulan biru
Kini, matamu bagai api yang berkobar liar
Ingin melumat tubuhku dengan sadis

Sayang, aku berkata padamu
Bahwa aku lebih memilih kau memilihnya
Camkanlah bahasa senyumku ini sebagai perdamaian antara kau dan aku
Meski dibalik senyum ini telah tercipta luka bakar paling perih dan menganga dengan darah segar yang tak kunjung usai

Baiknya, aku lebih memilih kau memilihnya; bukan memilih aku
Membiarkan pena ini berhenti menuliskan kisah tentangmu; saat berdua duduk di bangku tua menikmati malam dengan terang seadanya
Inilah ujung dari pejalananku
Setelah sekian waktu aku mengenalmu, memanjakanmu, berada dalam pelukanmu

Inilah kekuatanku yang paling tabah; membiarkan kau pergi
Inilah awal mula air mataku; mecipta senyum manis terakhirku buatmu
Inilah rancu kembang mawar itu; kehilangan duri rindunya untuk tetap menancap di hatimu
Inilah kegetiran itu; cinta yang sesungguhnya telah aku selami
Dan bagiku, inilah yang kusebut intisari dari kasih

4 komentar:

Djangan Pakies mengatakan... [Reply Comment]

saya merasakan sebuah kesabaran yang mendalam terhadap apa yang teralami.

funnie mengatakan... [Reply Comment]

uhh.....sendu sekali puisinya...lg galau ya..

Adit Mahameru mengatakan... [Reply Comment]

oot: test komentar, anonim apa gak..hehehe

ismi ida mengatakan... [Reply Comment]

wuih....puisinya keren mba' pengen belajar sm mba.

Sukses yaaa

Poskan Komentar

[[ Form mobile comments ]]