Thanks for this day.. May God bless us everyone and everywhere..
Diberdayakan oleh Blogger.

Jumat, 14 September 2012

Riangku

Pangeranku,
Sekian waktu kita telah menjelajahi waktu, mengelana di dalamnya. Tidak. Kita bukan membunuh waktu. Kiasan membunuh bagiku teramat sangat mengerikan. Waktu telah tersedia bagi kita. Waktu juga yang mempertemukan kita dengan caranya sendiri. Sejenak, marilah kita mencoba merenunginya sebagai sesuatu yang paling berharga bagi kita. Kita telah ditahbiskan oleh Sang Waktu sebagai insan-insan yang berbahagia dengan segala kisah dan perjuangan hidup kita yang dengan penuh syukur kita jalani di dalam Sang Waktu. Dalam kurun waktu.
 
Pangeranku,
Dalam kurun waktu yang kita jalani di salah satu lorongnya, terkadang kita mengalami sebuah peristiwa yang tidak bisa menolaknya untuk tidak dihadapi. Saat aku terpuruk, merasa sesak, dan tak bergairah bergaul dengan waktu. Kau datang dengan bunga-bunga di dadamu. Wangimu memesonakan rasaku. Bunga-bunga di dadamu adalah riangmu yang kemudian menjalar menjadi Riangku, Ringanku. Terima kasihku yang setulusnya bahwa kau tidak memberikan aku seikat kembang cantik dengan dedaunannya yang masih segar. Sebab kau tahu, aku tak akan pernah sekali pun menerimanya. Cukup bawalah aku menuju kebun bunga di dekat pertigaan jalan itu. Kuingin duduk berdua denganmu di sebuah bambu kayu itu. Biar aku nikmati bunga-bunga indah dengan warna-warninya dan segenap keharumannya tanpa memetiknya. Aku ingin membiarkan mereka utuh pada tangkainya yang tersaluri sari makanan dari akar-akarnya. Membiarkan wanginya menyejuki hati kita.
 
Pangeranku,
Sederhana tentang kembang itu sudah menjadi pelipur laraku. Di sana kan kau sibak segala perkataanmu tentang beban hidupku. Tentang sikap yang harus aku sikapi. Tentang pemikiranmu yang santun namun tegas. Saat-saat kau ajak aku ke kebun bunga itu adalah saat-saat terindah kau mengajariku. Kaulah Riangku, Ringanku. Kaulah laut bagiku. Embun bagi jiwaku. Ketulusanku kepadamu akan mengaliri setiap senyum yang terpapar di beningnya matamu. Kau peluk aku dalam rimbanya hatimu. Kau rengkuh aku dalam seluasnya batinmu. Maka, ijinkan aku menjadi sebuah nyamanmu dalam bening hening wajahmu pada saat-saat sesakmu. Wahai Riangku, Ringanku. Aku ingin menjadi Riangmu, Nyamanmu. You know, that you always make it easier when life gets hard…


5 komentar:

@yankmira mengatakan... [Reply Comment]

keren banget mba tulisannya :)

armae mengatakan... [Reply Comment]

WHaowww...
Semoga pangeran segera membacanya... :)

Iskaruji dot com mengatakan... [Reply Comment]

semoga pangeran itu, suatu saat nanti bisa menjadi raja, yang mampu memimpin kerajaan menuju kehidupan yang mawaddah wa rahmah...

BlogS of Hariyanto mengatakan... [Reply Comment]

laut bagiku, embun bagi jiwaku...sungguh kata yang sarat makna :)

tour and travel surabaya mengatakan... [Reply Comment]

kapan yah aku menemukan pangeranku.

Poskan Komentar

[[ Form mobile comments ]]