Thanks for this day.. May God bless us everyone and everywhere..
Diberdayakan oleh Blogger.
Tampilkan postingan dengan label apatis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label apatis. Tampilkan semua postingan

Selasa, 09 November 2010

Sekrup Kecil Dari Sebuah Entitas Sistemik Besar

Sering aku bertanya : siapa aku sebenarnya...?

Mengapa, dan untuk apa aku ada...?

Lingkunganku, keluargaku, hidupku, pekerjaanku, hal-hal baik dan buruk yang terjadi...

Untuk apa sebenarnya semua itu...?

Konsumsi siapa...?

Komoditas macam apa...?

Jika benar, aku adalah sekrup kecil dari sebuah entitas sistemik besar yang menggerakkan denyut kehidupan jagad ini...

Apakah aku juga bagian dari absurditasnya...?

Jika aku tidak mau lagi menjadi seperti itu, akankah aku mempunyai hak tolak...?

Cukup beranikah aku meneriakannya di depan sebegitu tumpang tindihnya ukuran dan timbangan capaian hidup...?

Benarkah parameter itu melibatkanku dalam kelahiranku...?

Entahlah...

Aku merasa tidak pernah bersetubuh dengan sistem yang melahirkan dadahisme ini...!

Tapi, aku minum air dari sistem itu, dan adalah benar juga bahwa aku makan dari apa yang ia hasilkan...

Bajingan...!

Keparat...!

Bangsat...!

Atau pisuhan apapun yang bisa kuciptakan yang esensi nilai kebusukannya melebihi ekspresi kebencian yang ada di jagad ini...

Akankah mereka bermakna dan membantuku menemukan sebuah jawab dari pertanyaan : aku dijebak atau aku menjebak diriku sendiri...?

Atau...

Jangan-jangan aku memang menyetubuhi kebusukan itu sendiri dengan suka rela dan bahkan penuh nafsu, sampai-sampai aku hamil dan melahirkan jiwa ini...?

Sumarah macam apa lagi yang bisa aku lakukan...?

Semeleh sing kepriye maneh sing kudu tak gujer...?

Ya ampun to Gusti...

Mbok kulo niki nggih direncangi nyambut damel manggihi sejatining karingkihaning gesang...

Mbok Njengandiko niku nggih paring welas asih matemah kawulo Panjenengan niki sageto uwal saking sinthingipun...

Mbok Sampeyan niku ampun sak kepenake dhewe ngoten to Gus... Wong Gusti koq klepyan...
Hanjuk kulo pripun...?

Gusti, kulo kesel
Pun nggih
Kulo tak leren rumiyin
Lha niku, kancane kulo nggih pun pamit bobo

Eh Gusti...
Kulo mbok disangoni to Gus...
Disangoni kawaskitan...
Diparingi kawiyaran...
Diseseli kasagetan...
Dipunjungi kekiyatan...
Kajenge kulo saged ngladosi kersane Njenengan...
Amrih kulo saged ngabekti dhumateng sesami...
Nggih Gus, nggih...
Tenan lho Gus...ampun ngapusi...hehe

<>lewat tengah malam ini...


* Gi belajar bahasa jawa...maaf kalo banyak salah di tulisannya...:P

Minggu, 19 September 2010

teringat

Saat kumelihat senyumnya di antara kerumunan orang malam itu

Aku teringat dirimu

Saat kumelihat wajahnya di antara peri-peri kecilnya malam itu

Aku teringat dirimu

Saat kumelihat gaya bicaranya yang terceloteh di antara gumaman orang-orang malam itu

Aku teringat dirimu

Saat kumendengar suaranya yang tergetar dari balik pita suaranya malam itu

Aku teringat dirimu

Saat kulihat sosoknya yang berjalan di antara lalu lalang di pesta kecil malam itu

Aku teringat dirimu

Semua yang kulihat dan kudengar akan dirinya, membuat lukaku terkuak kembali

Dirimu yang telah membuatku apatis, putus asa, dan tak pernah mau ku memandangmu lagi...

Namun, tidak buat malam itu...!

Karena kau seolah nyata hadir di depanku dengan pengayoman yang utuh, seperti yang sempat aku rasakan darimu, meski hanya sepintas lalu...



* Untuk kamu yang sempat membuatku apatis hingga kini...
Aku tulus berdoa untukmu, dan dendam tak kan pernah terlintas sedikitpun di batinku...

Rabu, 25 Agustus 2010

suddenly...

Saat hari kian dingin dan atis
Seusai hujan badai sore ini...

Aku terkapar sendiri, di antara keletihanku dalam remangnya dian di dinding kamar

Gelap yang bercelah sinar gemintang, sangat redup...

Tiba-tiba...entah angin apa yang membawa suasana ini

Begitu menyayat, pedih, parau suaraku tercekat...

Mataku seperti ingin menumpahkan air-airnya

Tapi entah apa yang menahannya sehingga ia tak pernah tertumpah setitikpun

Hati meradang, sesak di dada melengkapi aroma kepedihan yang tak beralasan ini...

Mengapa rasa ini tiba-tiba muncul dengan air mata yang tertahan di dadaku..?

Mengapa pula air mataku tak sanggup untuk menebar balik aroma kepedihan itu...?

Mengapa...tiba-tiba akupun terkulai jatuh, tersuruk, tumbang,dan akhirnya benar-benar kolaps....???

Entahlah...
Aku hanya ingin sejenak diam di titik ini
Agar doaku jelas mengusik pada  tiap detik-detikku...

Minggu, 18 Juli 2010

sebuah simpul

Simpul-simpul itu merenggang
Tertiup angin yang selalu menerpanya
Entah datang dari mana angin itu berasal
Mungkin dari utara, selatan, barat, timur...
Mungkin juga dia adalah angin laut dari arah tenggara, ataukah barat daya...?

Aku tak peduli dengan nama angin itu
Apakah dia angin pasat, angin bohorok atau angin muson, atau apapun namanya

Aku, hanya peduli pada simpul itu, yang telah renggang dan mulai terkoyak
Aku sedih...sangat sedih...
Aku terpukul, aku terluka, aku kecewa, aku.........

Sebuah simpul manis, yang telah kubuat selama bertahun-tahun, kini telah mulai terkoyak, hanya karena angin...?

Tidakkkkk...!
Ini tidak mungkin...!

Aku tergugu...aku tersedu, dengan air mata yang tadinya mengembun di kedua kelopak mataku, kini benar-benar berderai...

Aku tersentak dan tak percaya dengan apa yang telah aku lihat
Aku benar-benar tak menyangka sedikitpun, mengapa angin itu tega merusaknya?

Simpul itu, kini luruh ada di tanganku...
Kupandangi dia dengan memelas, pilu, dan penuh rasa yang menyayat
Semua rasaku kian bercampur aduk, hingga aku tak tahu lagi, apa yang kurasakan
Aku tak tahu lagi apa yang harus kuperbuat

Sebuah simpul sederhana namun sangat indah dan cantik bagiku
Sebuah simpul yang sangat berarti bagi hidupku
Dialah tanda kasihku, tanda baktiku, dan tanda tulusku pada satu cinta

Belum sempat kau melihatnya, namun semua telah terlepas...ya...simpul itu telah melepaskan dirinya dari satu sama lainnya

Satu-satunya lagi yang tersisa; hanya blog ini
Akankah lepas juga...?
Tiba-tiba mataku berkunang-kunang dan gelap...
Aku terjatuh bersama simpul-simpul di genggaman ini, dan akhirnya aku tak ingat apa-apa lagi...

Selasa, 08 Juni 2010

Aku Memanggilnya Luka


Bergegas aku mengambil ponselku yang bernyanyi di dalam tasku. Kulihat caller id di sana, tertera nama Rona... Aku tersentak kaget. Jantungku berdegup kencang. Ada apa lagi dia menghubungiku. Jujur saja, aku telah lelah dengan segala permasalahan yang dihadapinya. Tapi, tanggung jawabku sebagai seorang sahabat, tak bisa membiarkan dia berjalan sendiri.

Dulu, dia sempat bercerita bahwa dia berpacaran dengan seorang pria yang akhirnya diketahuinya telah mempunyai seorang isteri dan dua orang anak. Pelik... Aku telah berjuta kali mengingatkannya, tapi apa yang aku ucapkan padanya sepertinya tak mendapat tempat di hati dan sikapnya.

Aku kehabisan akal. Akupun kemudian masa bodoh dengan apa yang dia jalani. Walaupun aku sahabatnya, tapi aku tak pernah bertemu dengannya. Kami hanya bertemu jika dia benar-benar memerlukan aku. Bisa dihitung dengan jari. Dia Rona, temanku sedari kecil... Kiprahnya sangat jauh denganku. Dia perokok, katanya karena tuntutan pekerjaannya sebagai seorang waitress di pub. Ah, anak itu memang sulit sekali diberi tahu. Aku yang cerewet begini saja, tak pernah digubrisnya. Sudah berkali-kali aku menyuruhnya ganti pekerjaan, namun berkali-kali pula dia membantahnya. Tapi entah mengapa aku selalu saja peduli padanya, setiap kali dia berkeluh kesah padaku. Selalu ada waktu buatnya, kendati saat aku benar-benar letih sekalipun.

"Kenapa Ka?" Tanyaku di balik ponselku.
"Deni meninggal, Flo..." Katanya sambil terisak.
"Haaaaa? Meninggal kenapa Ka?"
"Dia meninggal karena nabrak pintu kaca toko karena ngejar maling," ujarnya lirih.
"Pecahan kacanya menusuk arteri di paha kirinya, Flo... Aku sedih banget," sambungnya lagi.
"Ya udah, kamu tenang aja ya... Kamu ga usah panik, lagian kan ada isterinya. Udah ada yang ngurus segala macemnya, dan kamu ga usah pergi ke sana..." Nasihatku padanya. Aku bukannya hendak mendukung sikapnya yang masih saja berhubungan dengan pria itu. Tapi aku berusaha mengantisipasi hal yang terburuk jika dia nekat melayat.
"Oke Flo, thanks ya... Sori aku udah ganggu kamu kerja," katanya.

Kuhela nafas panjang setelah mendengar berita itu. Akhirnya, kisah cintanya berakhir tragis. Jalinan selama 2 tahun itu kandas oleh sebuah kecelakaan yang tak bisa diduga. Wajar, jika dia merasa kehilangan dan sangat sedih. Aku mencoba mengerti keadaannya.

Kini, sudah setahun kurang tiga bulan aku tak mendengar kabar dari Luka. Ah, entah mengapa aku ingin memanggilnya Luka. Dia juga telah tahu itu. Mungkin karena dia selalu saja mengalami kepahitan dan keliaran hidup dengan usia yang masih belia. Dunia malam benar-benar sudah tak asing lagi buatnya. Suatu saat dia pernah berkata padaku, bahwa dia akan merasakan apapun juga sebelum dia menikah. Tiba-tiba dadaku terasa nyeri bila memikirkan Luka. Apa kabar ya?

Bagai punya ikatan batin yang kuat, malamnya aku mendapat kabar darinya bahwa dia sudah memiliki pacar lagi. Ini kali aku agak senang mendengarnya karena pria yang bernama Aldo itu belum beristeri. Dia masih sekolah ngambil strata dua di sebuah perguruan tinggi di kota ini. Selain itu, Luka bilang bahwa cowoknya itu termasuk golongan orang tajir. Kudengar nada-nada bahagia di setiap ucapan Luka. Tentu saja aku ikut senang dengan kabar ini. Masa depan cerah buatnya terbentang sudah.

Detik-detik menemani hari yang silih berganti seolah terus berjalan tanpa mengenal ampun. Tanpa mengenal lelah dia terus berputar memenuhi setiap janjinya.
Kini, aku kembali mendengar kabar yang benar-benar membuatku tersentak dan mampu membuat seluruh tubuhku benar-benar kehilangan daya. Di kafe ini, lima menit yang lalu aku mendengar dengan telingaku sendiri dan melihat betapa bergetarnya bibir Luka saat dia berkata bahwa dia hamil. Inilah puncak dari setiap hentakan yang dibuat Luka untukku. Luka, kenapa kamu selalu mempersembahkan kedukaan buatku? Mengapa kebahagiaanmu hanya sekejap saja?
"Luka, kamu ga boleh gugurin kandunganmu. Meski Aldo menyuruh kamu untuk menggugurkannya. Aku mohon, Luka... Bujuk Aldo biar dia mau menikahi kamu," pintaku sambil berurai air mata.
"Floren...maafin aku ya...yang selalu membuatmu susah. Aku sekarang benar-benar kalut. Aku ga bisa berpikir sehat..."
"Luka, jujur, aku sekarang udah ga memikirkan kamu lagi. Aku lebih memikirkan ibumu dan bayi yang ada di dalam kandunganmu. Kebayang kan reaksi mama kamu kalo dia tahu kamu hamil? Dan...nyawa itu..." tuturku tak bisa melanjutkan kata-kataku sendiri.
"Iya Flo...aku ngerti. Aku terlalu sulit menentukan pilihan ini. Tapi aku janji, aku ga akan menggugurkan kandungan ini demi mama dan kamu, dan tentu saja bayiku ini. Jika Aldo tetep menyuruhku menggugurkannya, mungkin aku akan pergi sejauh mungkin dan merawat bayiku sebisanya aku," paparnya dengan kesedihan yang mendalam. Wajahnya yang tirus dan tubuhnya yang demikian kurus itu benar-benar mewakili perasaan dan keletihan jiwa yang dihadapinya. Kebayang kan, jika dia menggugurkan kandungannya? Dia yang kurus sekurus-kurusnya, masih harus kehilangan darahnya pula? Ngeri aku membayangkan hal itu. Aku tidak membenarkan dirinya. Tapi aku mencoba untuk memberinya sebuah pandangan untuk dia lihat dan pilih. Aku tak bisa berkata apa-apa lagi selain memeluknya untuk memberikan sedikit kekuatan buatnya. Aku juga berkata bahwa aku akan tetap menunggu janjinya untuk menuruti apa yang aku bilang padanya. Penentuan sikapnya tiga hari dari sekarang, untuk meyakinkan pendirian Aldo agar dia menikahi Luka.
"Aku akan tetep mencoba, Flo meski kemungkinannya kecil. Karena dia adalah anak sulung di keluarganya, dan merupakan cucu laki-laki pertama di keluarga besarnya. Dia idealis. Ga bisa menikah sebelum dia lulus, dan mendapat penghasilan sendiri." Jelas Luka.
Aku hanya mengangguk dan tersenyum buatnya. Senyum getir.
"Aku yakin, kamu bisa Ka...kumohon, pegang janjimu padaku ya," kataku lagi sambil mengusap air matanya.

Tiga hari bagaikan tiga abad buatku. Menantikan janji yang dikatakan Luka, apakah dia bisa menepatinya? Ada sebersit dugaan bahwa Luka ga bakalan bisa memenuhi janjinya buatku. Tiba-tiba ponselku bergetar. Ada sms masuk. Ternyata, baru dua hari telah ada keputusan darinya bahwa Luka hendak menggugurkan kandungannya. Luka lebih memilih menuruti omongan Aldo.
Tiba-tiba rasa kecewa menyelubungi seluruh hati dan jiwaku. Aku gagal!!! Aku ternyata manusia tak berguna!!! Aku putus asa!!! Aku sedih!!!

Aku tak bisa mendefinisikan perasaanku saat itu. Kupikir, inilah klimaks dari semua yang telah kulakukan buat Luka. Semua sia-sia!!! Benar-benar luka itu telah menjadi bagian dari hidupnya, juga hidupku, karena aku tak bisa mengubah pendirian Luka. Aku luruh...aku ingin tak mempedulikannya lagi. Aku hanya bisa terdiam tak membalas satupun sms dari Luka, bahkan saat sms itu bilang bahwa flek-flek darah telah keluar dari rahimnya...

Minggu, 06 Juni 2010

hancur : jeritan palestina

Serpihan kedamaian di genggamanku terlepas...terjatuh...terbawa oleh gravitasi bumi di tempatku berpijak

Sempurnanya merobek seluruh lembaran-lembaran yang pernah ada. Di sini, di balik kalbu yang dingin

Sungguh amat sempurna, play list lagu melow yang terputarkan untukku. Seolah mengerti dengan keluhanku, ratapanku...
Semua yang ada di dunia ini seolah akan berlaku sama dengan meneriakkan yel-yel yang sama persis : tidak adil!
Tak pernah kutemui sebuah keadaan yang adil dan bijaksana di sini...

Di tempat ini, kau hakimi aku bertubi-tubi. Kau telanjangi aku dengan sorot mata dan segenap ucapanmu.

Apakah kau tak mengerti apa yang begitu membuatku bergejolak?
Haruskah kutahankan air mata yang demikian ingin menghambur, meluncur melewati kelopak-kelopaknya dan mengalir di kedua pipiku?

Puaskah kau dengan apa yang telah kau buat padaku?
Setelah membuatku sedemikian terpuruk, jatuh, dan terhina...
Apakah kau pikir, bahwa sikapmu sudah benar?
Siapa yang akan menilaimu benar?

Di sini, di bumi yang kupijak, kelak kita akan ditanam.
Apakah kelak kita akan berbunga, atau bahkan berbuah?

Satu jengkal tanah hanya tampak di permukaannya, namun jika digali hingga ke lapisan-lapisannya nun jauh ke dalam sana... Tak terbayangkan betapa luasnya...!

Selasa, 27 April 2010

langitku masih sama




langit yang kutatap pagi ini, masih biru... sebiru yang kemarin aku tatap
udara yang kuhirup pagi ini, masih segar... sesegar yang kemarin aku hirup
senyum yang terukir pagi ini, masih manis... semanis yang kemarin aku ukir
wajah yang sumringah pagi ini... masih terpancar indah... seindah yang kemarin aku pancarkan
hari ini cerah, secerah hari-hari kemarin yang kujalani
angin yang menyapaku ramah, seramah penuh kasih
malam ini indah, seindah malam-malam kemarin yang menaungiku

tetapi

mengapa semua terasa ada yang berbeda
mengapa semua terasa ada yang lain
mengapa semua terasa asing bagiku
mengapa semua seperti sesuatu yang aneh.....
mengapa, mengapa..... dan .... mengapa....

adakah salah di jiwaku?
atau....
karena prahara yang sedemikian berat menghantamku?
dengan kuat, dia benar-benar menghujamku
sampai dia mencair, menyebar hingga ke seluruh tubuhku

aku tak percaya dengan apa yang aku lihat
aku tak percaya dengan apa yang aku baca
aku tak percaya dengan......... ahhh..........
semua itu telah berhasil membuatku lunglai, tak bertenaga.....

haruskah aku kecewa?
haruskah aku menangis?
haruskah aku marah?
T I D A K ! ! !

aku harus tegar menghadapinya
aku harus tetap memuliakannya
memuliakan semua yang terjadi atasku....

aku hanya memohon...
tolong kembalikan hari-hariku
kembalikan semua bersama kesamaannya
kesamaan yang persis sama

aku ingin kembali merasakan semua itu
yang telah hilang ditelan kepalsuan
yang telah rancu dengan keindahan alami
yang terbentuk bukan dalam waktu yang singkat

itu semua milikku.....itu semua milikku....
meski aku menyadari, bahwa itu semua tidak abadi
namun setidaknya, itu sangat berarti bagiku saat ini........



bandungku, tolong bantu balikin milikku dong....