Wew... Judulnya ga banget ya... Tapi itulah kenyataannya. Aku jadi bingung ni. Sebenernya yang punya rasa nasionalis yang tinggi itu siapa sih?
Masa harus anaknya duluan yang nyebrang ke sana buat "nyerbu" (dalam arti positif) trus baru diikuti bapaknya...? Ga kebalik ya...? hihi
Masa harus anaknya duluan yang nyebrang ke sana buat "nyerbu" (dalam arti positif) trus baru diikuti bapaknya...? Ga kebalik ya...? hihi
Saat malam yang mulai hening
Saat aku tunggu tutur kata yang akan disampaikan oleh pemimpin negeriku tercinta ini...
Aku sungguh telah menyimpan segenap kekuatan dan asaku di sana
Untuk mendengarkan (baca : bukan sekedar mendengar) kata demi kata dari Sang Jenderal yang memimpin sebuah Negara Besar ini...
Aku... Hanya bisa tercengang. Hah...? Cuma ini yang disampaikannya?
Betapa lembut dan menyejukkan bagi siapa saja yang mendengarnya.
Membuat bangsa ini makin landing saja... Ke tempat yang paling rendah di mata Sang Arogan (baca : Malaysia) itu...
*tercengang lagi* Hah...? Inikah rangkaian kata yang telah tersusun itu...?
Yang aku harapkan bisa menjadi doa-doa buat seluruh rakyatnya, ternyata hanya membuat hati rakyat menjadi semakin lembek, rapuh, dan mulai terbakar melepuh, terhina, terluka, terpuruk, dan sebangsanya...
Mana ekspresinya.....Mana.....?!!!!!!! (*clingak clinguk* Bisa tolong cariin ga...?)
Menurutku juga ni.. Sepertinya presiden kita yang terhormat ini sedang menggadaikan harga diri bangsanya. Pidatonya ga ada gregetnya sama sekali. Demi neraca perekonomian, Indonesia kehilangan Giginya (*clingak clinguk lagi* tolong cariin lagi dong, please....)
Aku yakin, Sang Proklamator, Bapak Soekarno kita yang telah beristirahat dengan tenangpun, pasti menangis denger ini...
Ah, sudahlah... Toh aku yang masih lugu ini *halah lebay* ga ngerti tentang masalah-masalah yang beginian.
Tapi, boleh dong aku punya pendapat...




























