Thanks for this day.. May God bless us everyone and everywhere..
Diberdayakan oleh Blogger.

Selasa, 11 Oktober 2011

Sebuah Keterpaksaan : Jika Cinta Bisa Dipaksakan, Pernikahan Apakah Namanya?


Membaca postingan Obrolan Blogger (Mas Satrio) tentang sebuah keterpaksaan di dalam pernikahan yang baru terungkap setelah sekian lama hidup dalam satu bahtera yang dinamakan rumah tangga. Disusul dengan postingan Sukadi dot net  (Mas Sukadi) yang menanggapi postingan dari Obrolan Blogger tersebut.

Berangkat dari sana, aku jadi ingin sedikit berbagi tentang sebuah keterpaksaan di dalam sebuah rumah tangga. Semoga apa yang saya share ini dapat menambah sebuah pengertian dan kebijaksanaan dalam menjalani kehidupan fana yang waktunya hanya sepeminuman teh ini.

***

JIKA CINTA BISA DIPAKSAKAN, PERNIKAHAN APAKAH NAMANYA?

Mulo bukane. Awal mulanya. Ada rasa ketertarikan pada lawan jenis yang membawa pada sebuah hubungan yang disebut pacaran. Namun sayang, keduanya; Agus dan Tari, dengan berbagai kesempatan dan suasana yang ada, pacaran pun akhirnya menjadi sebuah ritual yang memaparkan aura kebablasan. Agus telah menodai Tari yang dipacarinya itu. Atas dasar suka sama suka hal itu terjadi. Namun cinta Agus tak menetap pada satu hati milik Tari saja. Meski Tari sudah mengorbankan segalanya, juga materi yang dimilikinya, namun semua itu tidak membuat hati Agus terikat pada pengorbanannya.

Teror
Tari sudah mulai gelisah dengan kisah cintanya. Kesabarannya sepertinya telah habis. Menguap dibawa sang hawa yang bernama nafsu. Pikirannya tak jernih lagi. Ia mulai meneror keluarga Agus. Setiap saat Tari menelepon menanyakan kapan Agus menikahi dirinya untuk mempertanggungjawabkan perbuatan atas dirinya, atas selaput daranya. Seolah Tari ingin bilang, “Balikin dong selaput daraku!” Jika Agus tidak mau menikahinya, maka ia akan bunuh diri. Belum lagi ke teman-teman Agus, ia selalu meneror dengan cara menelepon satu persatu teman Agus. Agus berang. Tapi Tari tetap saja meneror Agus, kepada keluarganya, juga kepada teman-temannya. Agus makin membenci Tari. Semakin tak mau menjadi suami bagi Tari. Agus makin sibuk dengan dirinya sendiri.

Mencoba Bermusyawarah
Setelah teror yang dilancarkan Tari untuk kesekian kalinya, yang entah sudah berapa kali, tak bisa terhitung lagi. Maka terbentuklah pansus. Halah opo kuwi pansus – pinjem istilah SBY ketika ada permasalahan negara –  untuk bermusyawarah menyelesaikan permasalahan ini secara kekeluargaan. Maka, datanglah keluarga dari pihak Tari. Semua keluarga Tari, termasuk adik, kakak, sepupu, nenek, kakek beserta buyut-buyutnya, berkenan meluangkan waktu mereka untuk menghadiri acara musyawarah ini. Semacam bedol desa kali ya. Namun, hingga puluhan kali musyawarah, puluhan kali pula tak menemukan titik akhir yang melegakan di kedua belah pihak. Agus tetap tak mau bertanggung jawab, dengan menikahi Tari yang belum hamil itu. Masing-masing orang tua mereka sudah tak bisa menanganinya. Mereka sama-sama kisruh. Tari keukeuh ingin menikah dengan Agus. Tetapi Agus keukeuh tak ingin menikahi Tari. Saling berlawanan kan? Piyejal...? Kalo istilah bahasa sundanya mah pakeukeuh-keukeuh – bisa bacanya kan? :D Mereka saling bersikeras sesuai egonya masing-masing.

Akhirnya Penghulu itu Didatangkan Juga
Malam itu, bedol desa kembali berulang untuk kesekian kalinya. Namun, kini jumlah personelnya lebih banyak daripada hari-hari kemarin. Banyak sekali motor yang diparkir di pekarangan rumah Agus. Belum lagi motor-motor yang diparkir di sekitar tetangga Agus. Sepertinya malam ini menjadi sebuah acara penting bagi keluarga Tari. Mereka akan menciptakan sejarah baru dengan membawa seorang penghulu, sesepuh di lingkungan keluarga Tari, dan tak ketinggalan seorang penasihat perkawinan yang juga seorang dosen.
Layaknya sebuah rangkaian acara, maka saat inilah puncak dari acara tersebut. Bahwa akan dilangsungkan sebuah pernikahan yang sangat super sederhana. Keluarga Agus bukan keluarga terpandang, tak ada yang mempunyai gelar akademik seperti dari pihak Tari. Standard saja. Dari pihak Agus  sudah hadir sepupu dan para keponakan dari orang tua Agus. Sedangkan paman Agus yang akan bertindak sebagai wakil orang tua Agus – yang sudah tak bisa berbicara apapun karena shock dengan bedol desa habis-habisan ini –  sudah duduk bersila.
Setelah berbasa basi sejenak, maka tibalah acara puncak itu. Diawali dengan pernyataan yang sekaligus pertanyaan disampaikan oleh paman Agus.
“Seperti yang telah kita ketahui, bahwa pernikahan tidak akan  sah, jika salah satu dari mereka ada yang tidak bersedia. Sementara, kita telah mengetahui bahwa Agus tidak mau menikahi Neng Tari. Sekarang, saya ingin bertanya kepada Bapak Penghulu dan kepada hadirin sekalian. Apakah mungkin perkawinan ini tetap akan dilaksanakan? Atau  mungkin hanya status yang akan dikejar oleh Neng Tari?” Ujar paman Agus dengan santun dan senyum yang tersungging. Maka pihak Tari menjawab  diwakili oleh bibi Tari, “Iya, betul pak. Sejujurnya, kami ingin menikahkan Tari karena status, agar dia mempunyai status yang jelas,”
“Baiklah, jika demikian saya sebagai wakil dari pihak Agus ingin mengajukan syarat sehubungan dengan apa yang telah dikatakan oleh ibu yakni perkawinan atas dasar mengejar status. Jika Neng Tari tidak keberatan dengan persyaratan ini, maka perkawinan akan dilangsungkan. Maukah Neng Tari menikah dengan Agus, tapi setelah ijab kabul ini, ia tidak tinggal serumah dengan Neng Tari dan tidak memberikan nafkah lahir dan batin?” Tanya paman Agus dengan tegas.
Tari yang ditanya demikian hanya bisa mengangguk. Mau bagaimana lagi, ia memang  ingin mengejar status itu. Cinta yang terlalu kuat memang tersembunyi dibalik keinginannya memiliki status menjadi isteri dari seorang Agus. Menjadi Nyonya Agus. Ia  mencintai Agus melebihi cintanya pada dirinya sendiri.
“Ya... dengan demikian, bapak ibu sekalian telah menjadi saksi dari kesepakatan ini. Jangan salahkan Agus  jika kelak ia mengajukan perceraian. Kita telah berusaha melakukan yang terbaik untuk Neng Tari dan Agus. Tak lama lagi Agus dan Neng Tari akan merasakan udara berumah tangga. Seandainya mereka bisa langgeng, ya alhamdulillah. Tetapi, kita tidak bisa mencegah jika kelak terjadi perceraian seperti yang sudah saya bilang tadi. Silakan Pak Penghulu, bisa dimulai....”
Maka upacara pernikahan itu berlangsung khidmat dan sederhana. Tak ada tumpeng. Tak ada malam midodareni. Tak ada acara walimahan. Tak ada makan-makan, karena acara ini adalah acara dadakan. Dan sesuai dengan permintaan Agus, maka upacara pernikahan ini tidak ada foto. Tak ada kenangan. Tidak ada manis-manisnya. Tidak ada senyuman di antara kedua mempelai. Dan  ketika  ada salah satu pihak Tari yang bandel ingin memotret upacara itu. Namun paman Agus melarangnya, karena tidak adanya acara pemotretan termasuk syarat agar ijab kabul ini bisa dilangsungkan.

***

Itulah sekelumit kisah dua anak manusia. Keterpaksaan yang membuat tidak nyamannya kehidupan. Satu sisi ada yang merasa terkabulkan keinginannya dengan keterpaksaan itu. Tetapi di sisi lainnya keterpaksaan selalu merugikan hal yang paling esensial dalam hidup. Cinta! Jangan menyalahkan cinta. Ia tak bersalah. Sekali lagi, ia tidak bersalah!

6 komentar:

narti mengatakan... [Reply Comment]

ini cerita aslinya ya mba?
yg di blog Kang Sukadi kayaknya beda.

sekarang mau menyalahkan siapa? cinta?
Jangan menyalahkan cinta => setuju mba :)

saidialhady mengatakan... [Reply Comment]

katanya cinta bisa timbul dari kebersamaan.. mungkin konsep ini masih dipakai pada sistem2 penjodohan.. :D

Elsa mengatakan... [Reply Comment]

hhm.....
apapun kalo dipaksakan pasti hasilnya gak mengenakkan ya Mbak...

Iskaruji dot com mengatakan... [Reply Comment]

entahlah..kenapa saya malah tidak menemukan apa yang gue anggap "cinta" dalam potongan cerita diatas. Yang ada cuma "Pernikahan" dalam pengertian bahasa, bukan dalam pengertian makna. Dan cinta yang saya maksud disini adalah seperti cinta saya dengan motor butut gue. Udah ngabisin duit buat maintenance, larinya lebih cepet dikit dari keong tapi saya tetap cinta. Gue dah bener2 berkorban buat motor butut itu dan gue tetap senang melakukannya..Happy blogging!

Ra-kun lari-laRIAN mengatakan... [Reply Comment]

ini cerita asli?
saya gak berani komen nih. cuma bisa berharap kita semua dapat yang terbaik..

Sukadi mengatakan... [Reply Comment]

Dari cerita diatas, saya kurang tahu dimana letak keterpaksaan dalam konteks rasa cinta, karena menurut saya apa yang dilakukan Tari tak lebih dari "kebodohan" semata, bukan atas dasar cinta.. hehe..

Poskan Komentar

[[ Form mobile comments ]]