Thanks for this day.. May God bless us everyone and everywhere..
Diberdayakan oleh Blogger.

Rabu, 24 Agustus 2011

Saat Rasa Itu Datang Tiba-tiba

Saat rasa itu datang tiba-tiba, tentu saja tanpa direncanakan. Ada gundah, ada selinap debar, ada semacam keindahan.
Ada percikan-percikan ingatan pada seseorang yang sempat mengisi relung hati, dengan seluruh permukaannya. Ada air mata yang menyiksa. Mengiris kedua belah pipiku. Bahkan lebih dari pada itu semua, air mataku bisa menghadirkan sembilu hingga ke dasarnya jiwa. Bayang-bayang senyumnya terasa merobek jantung!

Sejenak, tanpa aku sadari... Aku telah menengok jejalanan itu. Penuh canda tawa. Lagu Shania Twain, From This Moment, mengalun lirih dari bibirku dan bibirnya. Bernyanyi kecil sambil bergandengan tangan. Tak peduli hujan yang mengguyur. Indahnya cinta dua hati. Tanpa sentuhan fisik, tanpa pelukan, tanpa satu kali pun kecupan di bibir. Hanya ada jemari yang saling bertaut. Kecupan halus yang hanya sesaat di kening. Itu saja. Tidak lebih! Namun indahnya sanggup menciptakan dua sayap bagiku, membuatku melayang terbang menuju perjalanan ke bintang-bintang.

Cinta, inikah kabarmu saat-saat ini? Inikah yang ingin kau kisahkan padaku? Tentang sebuah jejalanan yang pernah aku tapaki bersamanya? Baiklah... Aku tak bisa menolak. Aku hanya bisa luruh dan pasrah. Aku nikmati semuanya! Aku..... Aku.....

Salahkah aku?
Bukan bentuk excuse dariku. Tetapi, aku juga sadari bahwa setiap manusia yang pernah memiliki pesona di jejalan yang pernah dilaluinya - sesuatu yang paling disayanginya - maka pasti akan merasakan hal itu, suatu waktu, dan dimana saat itu datang, ia tidak dapat diduga sama sekali. Aku pikir, itu sangat manusiawi.

Berjuang melawan arus rasa yang tetiba datang itu tidak gampang. Tapi aku harus berjuang dan berjuang. Agar hal-hal terbaik boleh aku alami. Berjuang untuk tidak membuat rasa itu kembali berkembang. Menyadari dengan sepenuh hati bahwa jejalan yang pernah dilalui hanyalah cukup sampai di situ. 
Menoleh sejenak wewangi kembang yang pernah aku hirup, rindangnya pepohonan yang dibawahnya dapat kuberteduh, kupu-kupu beterbangan berwarna warni di sekitarnya. Cukuplah aku menoleh hanya sejenak. Bolehkah?

Maafkan aku, embun pagiku... Maafkan aku, wahai rasa itu. Aku hanya ingin menjadi diriku sendiri, tanpa melukai kalian, termasuk melukai hatiku sendiri.
Maafkan aku, cinta. Maafkan aku, yang sejenak telah menengok seseorang yang pernah berkata, "Will you mary me?" sekaligus memberi pernyataan, "Biarlah, di surga kelak kita kan menjadi sepasang kekasih yang paling berbahagia; sebagai sepasang suami isteri...."


*Terima kasih, indahku...Kau tetap yang paling tabah singgah dan mengendap di hatiku, entah sampai kapan. Aku tak kan pernah bisa mengetahuinya, dan aku pun tak kan pernah berusaha untuk mengetahuinya.

7 komentar:

Iskaruji dot com mengatakan... [Reply Comment]

merinding gue bacanya Mbak..Mungkin bukan "ia' yang tetap tabah dan singgah dihati. Tapi memang kita tidak mau mengusirnya dari tempat yang pernah ia miliki di salah satu sudut ruang hati...nice post and happy blogging!

ketty husnia mengatakan... [Reply Comment]

hmm,..agak bingung aku mbak, ini pasangannya sedang kenapa mbak??? aku hang nih jadi buntu hehehe

Ferdinand mengatakan... [Reply Comment]

Gak salah dan sangat manusiawi kok Mbak, akupun gak pernah ngelupain semua sosok indah yg pernah ada dihatiku kok, yupz sampe kini... ngapain yg indah2 dibuang sayang2 haha.... lagian aku masih suka ketemu kok sama dia2 yg pernah jadi bagian indah itu haha...

Ra-kun lari-laRIAN mengatakan... [Reply Comment]

yang datang tiba-tiba, perginya biasanya juga tiba-tiba.

NuellubiS mengatakan... [Reply Comment]

iih so sweettt...

Senja Di Batas Cakrawala mengatakan... [Reply Comment]

dua jempol buat tulisan ini mbak, he he he

Sukadi mengatakan... [Reply Comment]

biarkan semua berjalan dengan sendirinya, hati memilih dalam waktu, menyisir bahagia dalam rangkain hari-hari... :) *nyambung ga ya? hehe

Poskan Komentar

[[ Form mobile comments ]]