Thanks for this day.. May God bless us everyone and everywhere..
Diberdayakan oleh Blogger.

Senin, 15 Agustus 2011

Terasi, Garam, Silet, dan Warung

Sudah lama sekali aku mempertanyakan hal ini : Mengapa warung selalu menolak para pembelinya jika hendak membeli terasi, garam, silet (pilih salah satu), saat mulai maghrib tiba?

Entahlah, apa alasannya sehingga warung (aku ga tau, apakah setiap warung memberlakukan hal itu atau tidak), yang pasti, warung kecilku memberlakukan hal itu :D 
Selalu bilang ga ada, jika pada waktu maghrib atau malem ada yang mau beli terasi atau garam, atau silet.

Mmhhh... Berasa lucu juga, menjalankan tapi ga tau alesannya. Tapi, aku pernah denger dari orang tua dulu secara turun menurun, katanya PAMALI kalo warung menyediakan atau menjual ketiga barang tersebut pada waktu malem (dimulai dari maghrib). Begitu juga pembelinya. PAMALI jika pada saat-saat maghrib membeli salah satu dari barang-barang itu. Tau sendiri kan, kalo orang tua jaman dulu melarang, hampir seratus persen ga ngasih alesannya kenapa. Seperti misalnya lagi ni, aku juga pernah mendengar bahwa wanita yang sedang haid, ga boleh keramas. Terus lagi misalnya pada wanita yang sedang hamil, banyak sekali larangannya.

Mitos itu dilakukan demi kebaikan kita semua. Itu, yang selalu dikatakan para orang tua. Tradisional. Konvensional. Tapi selama itu tidak melanggar agama, merugikan orang lain dan diri sendiri, aku pikir tak ada salahnya jika dituruti. Meski sampai saat ini aku masih mempertanyakannya, apa kabar dengan toserba yang tetep menjual terasi, garam, dan silet di waktu malam, ketimbang beli di warung yang selalu bilang ga ada jika ada pembeli yang membutuhkan terasi, garam, atau silet di malam hari? Mungkin kalo toserba mah beda lagi kali ya... :D

*Menurutku, hal ini merupakan salah satu kearifan lokal yang sebaiknya tetap dijaga sampai nanti. Biarlah ia tetap menjadi misteri tersendiri, yang memang merupakan bagian dari kehidupan ini... Meski jujur ya, aku masih ingin mengetahui alesannya :D

9 komentar:

Iskaruji dot com mengatakan... [Reply Comment]

Setuju Mbak..Mungkin memang ada hal yang dilakukan tanpa alasan. Biarlah itu jadi khasanah..atau tepatnya keasyikan tersendiri bagi yang punya warung dan pembelinya. Jauh lebih bagus dari sisi budaya ketimbang ada tulisan di etalase warungnya, "TIDAK JUAL MIRAS" + tanda smiley kedip...parah khan...haha. Nice post

nuel mengatakan... [Reply Comment]

@Iskaruji dot com

bener banget nih komentarnya dia. ehehehe

Ra-kun lari-laRIAN mengatakan... [Reply Comment]

saya juga penasaran sama pamali-pamali yang ada :D

ajeng mengatakan... [Reply Comment]

Ada apa enggak ya ditempat saya yg seperti itu? Sepertinya ada, mungkin sayanya saja yg tidak tahu..

Arief Bayoe Sapoetra mengatakan... [Reply Comment]

Sepertinya benda-benada tersebut mempunyai unsur-unsur magis yang berkaitan dengan hal-hal mistis, orang tau melarang pasti ada penjelasan dan mereka lebih tahu sebelumnya

narti mengatakan... [Reply Comment]

aku memang hampir tidak pernah beli terasi, garam, silet di warung setelah maghrib mba. Ternyata gitu ya? Iya bener ortu jaman dulu kalau melarang sesuatu tanpa ada penjelasan mengapa, kenapa, alasannya apa. Jawabnya cuma satu 'pamali'
orang Jawa bilang 'ora ilok'

takut deh kalau udah dibilang gitu :)

lavhalitya mengatakan... [Reply Comment]

wahh apa lasannya , aku juga pernah dengar kalo malem2 ga boleh beli silet atau jarum hehe ....

Sukadi mengatakan... [Reply Comment]

mungkin bagi sebagian orang benda-benda tersebut "menyimpan sesuatu" dan bisa digunakan sebagai "alat".. entahlah, aku juga nggak begitu paham mbak hehe

ketty husnia mengatakan... [Reply Comment]

kalo beli garam pas magrib: kan dah masuk malam mbak,.garam tuh akan berair jika malam tiba

kalo beli silet: karena dah gelap, maka bisa jadi kita kurang hati2 bawanya dan keiris nantinya

kalo beli terasi, malam2 ntar takut ga keliatan pas ngambil di warunganya jadi si penjual takut salah ambil, eh ternyata yg dipegang malah korek api xixixixixi..

itu hanya ilmu kira2 mbak secara mitos2 itu kan munculnya ketika manusia belum punya teknologi ataupun listrik masuk desa hehehehe

Poskan Komentar

[[ Form mobile comments ]]