Thanks for this day.. May God bless us everyone and everywhere..
Diberdayakan oleh Blogger.

Kamis, 15 Juli 2010

LUKA dan sebentuk penyesalannya


Sekian waktu berlalu setelah sekian lama pula aku tak mendengar kabar tentang Luka. Dia bagai tertelan bumi, dihempas angin gelombang pasang yang membawanya tak tentu arah.

Aku termangu di depan monitor komputer kerjaku, yang saat ini aku sedang entri data. Perasaanku suntuk, gerah, dan jenuh. Entah mengapa semua tiba-tiba kompak menyerangku sedemikian rupa, hingga ku tak tahu lagi harus berbuat apa.

Sesaat kemudian aku tersadar bahwa sang waktu sudah menyuruhku untuk pulang. Segera aku matikan komputerku, merapikan berkas-berkas yang berserakan di meja kerjaku, dan kabur. Aku ingin segera tiba di rumah. Merebahkan diri di atas kasurku dengan balutan selimut yang lembut, setelah air segar mengguyurku dengan penuh kasih.

Aku berjalan dengan langkah-langkah yang gontai. Benar-benar sebuah kondisi yang tak kumengerti, karena sebelumnya aku belum pernah merasakannya. Merasakan keletihan yang sangat letih.
Menjelang pintu gerbang kampus, tertegun aku melihat satu sosok di depan gerbang itu. Dia melambaikan tangannya. Luka? Luka kah itu? Batinku sambil mengernyitkan dahiku. Makin lama makin dekat, dan tampak jelaslah sosok itu. Benar, dia Luka. Aku tak menyangka, ternyata dia datang ke kampus, dan mungkinkah dia menjemputku?

"Hai...Luka, apa kabar? Tumben, kamu ke kampus," sapaku dengan senyum yang merebak di bibirku, sambil cipika cipiki.Jujur, dibalik sikap diamku padanya, ada sebersit rasa kangen.
"Kabarku baik Flo...iya ni, sengaja aku dateng ke kampus cuma buat ketemu sama kamu. Abis, kamu gitu...udah berapa ratus smsku ga kamu bales... Jadi kan aku bete... Tapi aku ngerti koq, kalo kamu ga benci sama aku..." ujarnya.

Aku hanya terus tersenyum mendengarkan celotehnya. Tak ada kata membantah dariku, karena memang, semenjak kejadian itu, aku ga pernah mau untuk membalas setiap sms yang masuk darinya. Saat itu aku benar-benar jengah dengan keputusan yang telah dibuatnya. Kehadiranku buat  Luka sungguh kuanggap tak diperlukan lagi. Tapi dasar sahabat, biar bagaimanapun pasti selalu ada benang-benang penghubung yang mengikatnya. Terbukti, detik ini Luka ada di depanku.

"Flo, kita ke kantin depan kampus itu bentar yuk... Aku pengen curhat sama kamu. Kangen juga udah lama ga makan bareng," ajak Luka.

Mmmhhh...bayanganku pudar sudah. Badanku yang letih seletih-letihnya ini ternyata tak bisa untuk segera direbahkan. Ketika kunikmati setiap tetesan air segar yang mengguyurku pun, musnah sudah. Demi Luka, aku harus mengulur waktuku untuk menikmati semua itu. Kembali egoku terkalahkan demi persahabatan ini.

"Oke, kita ke Racun aja Ka.." kataku, sementara kulihat Luka mengangguk menyetujuinya. Racun adalah nama warung tenda yang ada di depan kampus. Dia menggelar dagangannya mulai sore hingga larut malam.

"Flo, aku minta maaf karena aku udah ngecewain kamu. Aku ga nurutin apa yang kamu bilang. Janjiku juga ga terpenuhi demi mendengar kata-kata Aldo. Aku ga nyalahin kamu koq kalo tiap smsku ga kamu tanggepin. Dan penyesalan memang ga datang di depan. Aku nyesel banget udah melakukukan itu Flo... Nyesel banget..." papar Luka panjang lebar, memulai curhatnya.

Kulihat air mata itu hampir menetes di kedua kelopak matanya. Aku hanya bisa terdiam mendengar kata-katanya.

"Flo, tahu ga...ternyata bayi yang ada dalam rahimku itu kembar..." lanjutnya lagi.

Ini kali air matanya benar-benar menetes melebur bersama angin sore itu yang mulai beranjak senja. Sekali lagi aku hanya terdiam. Tak pernah satu kalimatpun kusuguhkan untuk Luka.

Kubiarkan dia terisak. Sementara makanan sudah tersaji di depan kami. Akupun tak menyentuh makanan itu. Begitupun dengan Luka. Dia hanya terisak lirih membiarkan air matanya berderai melewati wajahnya yang masih tirus, dengan tubuh yang tak kunjung gemuk.

Tak kubiarkan pula tangan ini menyentuh tubuh Luka, untuk sekedar memberi sedikit kekuatan buatnya. Air mataku juga tak pernah terbit. Entah ke mana dia perginya. Aku benar-benar diam bagai patung yang tak pernah bergeming, meski ada seseorang yang menangis di depanku, dan itu adalah sahabatku sendiri!

Aku benar-benar membiarkan Luka larut dalam penyesalannya. Entah mengapa juga, aku kehilangan banyak kata untuknya. Sekian lama membisu...sepi dan senyap. Aku bagai berada di tengah hutan yang gelap. Tak ada cahaya setitikpun. Dingin dan mencekam, dibarengi dengan suara-suara hutan yang khas. Tak ada senandung yang terciptakan di sana. Hanya ada isak sedih yang kadang tertelan oleh suara alam di hutan tak berpenghuni manusia itu, kecuali aku yang tengah tersesat di sana.

Kembali kutersadar, bahwa isak itu adalah sebuah isak milik Luka. Aku pandangi wajah Luka dengan seksama. Sungguh lekat. Aku ingin menikmati setiap garis dari wajahnya yang dipenuhi rasa sesal yang menghebat. 

Bukan aku ingin memperlihatkan padanya bahwa aku puas dengan segala penyesalannya, namun entah mengapa aku bisa melakukan hal ini padanya saat itu.  Sampai kami keluar dari Racun, tak ada sepatah katapun yang meluncur dari bibirku, dan Luka tak menuntut itu. Agaknya dia mengerti akan sikapku padanya.

Bagiku kata-kata dariku sekarang ini tak akan pernah bisa mengubah keadaan itu. Mengubahkan sebuah rasa sesal yang ada di hati Luka. Maka, diam merupakan sikap bijak yang kupersembahkan untuknya, bukan aku mau lari dari tanggung jawab sebagai seorang sahabat. Entah benar atau tidak sikapku ini.  Entah  egois atau tidak. Tapi aku juga tak mau memaksakan diriku sendiri untuk berkata-kata, sementara aku hanya ingin diam.

Saat kami harus berpisahpun, aku masih terus terdiam. Aku hanya bisa berkata sambil tersenyum padanya, "Hati-hati ya Ka...sampai ketemu lagi..."
Dan dia hanya mengangguk sambil tersenyum lirih.

Perjalananku yang letih hari ini diselingi pertemuan singkatku yang dipenuhi sesalnya Luka. Aku tak menyangka atas pertemuan ini, dan meskipun pertemuanku dengan Luka teramat singkat, namun ada makna yang berarti di sana.

Aku telah berhasil menjadi seorang pendengar yang baik, dengan membiarkan Luka benar-benar larut dalam  luka dan bilur-bilur penyesalannya, yang entah sampai kapan rasa sesal itu melarutkan dan menghanyutkannya.

10 komentar:

Hdsence mengatakan... [Reply Comment]

salam sahabat,,,
Luka dan racun itu, hanya namakah,,?
atau hanya pengambaran dari prosa atau sebuah penyesalan dari cerita yg kamu alami...?

nice, sedih memang jika kita mengingt kembali cerita yg kelabu,,

salam,,
tetap semangat...

johan mengatakan... [Reply Comment]

kenapa penyesalan datangnya belakangan..

deasy mengatakan... [Reply Comment]

Biarkan Luka itu" ia akan sembuh dengan sendirinya.. mengering dan larut, life must go zone.. Hidup harus terus berlanjut apapun yang terjadi, Luka - luka itu akan berproses dan membuat qt lebih kuat untuk menghadapi apapun

AkuInginPulangDiKalaSenja mengatakan... [Reply Comment]

Luka akan bertahan karena lukanya, kuat sebab luka memberikan tenaga baru untuknya.

Nice story kak... Mungkin ada banyak "Luka" di luar sana yang sampai hari ini masih berjuang menyembuhkan lukanya..tapi dengan waktu, semua pasti sembuh.. :)

siroel mengatakan... [Reply Comment]

fiksi apa nyata nih mbak??? keren ceritanya...
semoga luka itu cepat sembuh...

etam grecek mengatakan... [Reply Comment]

tak ada luka yg tak sembuh jika kita mampu memberikan obat yg terbaik...

ternyata diam itu bijaksana....

Mpey mengatakan... [Reply Comment]

Sore mbak,
aku selalu setia mengikuti kisahnya luka ...

Aku tunggu kisah selanjutnya mbak ...:)

Halaman Samping-nya Inung Gunarba mengatakan... [Reply Comment]

aku membayangkan, meski liris tapi sahabat pasti tetap tersenyum qe3

jalan-jalan sore nih mbak ; salam dari Jogja-Jakarta PP (kayak bis malam qe3)

fatma mengatakan... [Reply Comment]

sahabat adalah tempat kita berbagi rasa, luka, derita dan kebahagian

Anonim mengatakan... [Reply Comment]

terlalu cepat rasa sesal itu, rasa sesal yg hny sesaat kulihat kmudian pergi, smua sesal itu kini tiada, aneh bgitu mudahx mbuat dosa kmudian mlupakanx tnpa ada keinginan unt mperbaiki, "LUKA", apapun yg terjadi dia sahabatku ...

Kakaku sayang, kau adalah hadiah terindah yg Tuhan berikan unt ku, bbicara dg mu mbuatku bny blajar, mngerti, seneng, mkasih y atas tulisan2 yg mnurut aq keren, bgs, pokox smakin sukses y mba, trz tingkatkan kualitas, aq akn sll mndukungmu

Poskan Komentar

[[ Form mobile comments ]]