Thanks for this day.. May God bless us everyone and everywhere..
Diberdayakan oleh Blogger.

Senin, 14 Juni 2010

kutukan siwa...?

Di dalam kesejukan pagi dengan udaranya yang khas, di antara warna warni kembang, di sini di tempat ini dia sempat berucap dengan lugas dan lantang namun ada suatu getaran yang tak bisa disembunyikannya...

"Kutukan Siwa masih ampuh... Tujuh panah Sang Arjuna berbalik ke 'bumi'... Tinggal tiga panah menunggu nasib. Tragis..."

Sejenak aku tertegun dengan segenap ucapannya. Ucapan yang tergambar di atas awan, di udara yang bertiupkan angin. Di tengah keindahan bak suargaloka ini, dia masih sempat berujar seperti itu. Kemirisan hatinya segera dapat kutangkap. Kegetiran di dalam langkahnya terasa seperti dawai yang sangat sumbang.
Tertegun untuk sebuah makna di balik ucapannya. Toh, dia telah sanggup menghadapi kekritisan di setiap suasana yang sempat tergambar di seluruh kehidupannya. Tersirat di dalam luka hatinya yang mendalam.

"Teruslah melesat, wahai tiga panah Sang Arjuna...! Melesatlah menembus setiap lapisan cakrawala yang tebal itu. Lapisan demi lapisan akan mengajarimu tentang banyak hal. Dengan keelokan alam semestamu yang maha indah ini, akan selalu menemani langkahmu yang terkadang letih dengan taburan segala doaku yang tulus. Melesatlah dengan segenap cinta dan sayangmu akan pilihanmu... Ketragisan, bukanlah sebuah pilihanmu bukan...? Kutukan Siwa tak akan berlaku bagi kalian... Kalian telah diruwat dan dirawat oleh sumber kasih Sang Maha Wenang itu sendiri..."

Kini, anginpun menderu di antara tuturku yang kadang tercekat, meski aku setengah berteriak mengucapkannya. Semakin membawa udara yang kian membeku. Sejenak kelam dan mencekam kian berhamburan. Di sanalah, tujuh panah itu berdebam. Luluh lantak...!

Kemilau di pagi hari ini, yang berhiaskan embun pagi yang melankolis, embun pagi dengan cahaya yang dibawanya, cahaya kerendah hatiannya membuat semuanya menjadi cerah kembali...
Senyum tiga panah Sang Arjuna kian merebak, di antara seluruh doaku saat ini. Satu di antara tiga panah itu, terlihat tersenyum penuh keanggunan padaku. Lebih indah dari yang lainnya. Karena sebuah senyum itu adalah milikmu. Penuh kemuliaan, dengan kedua  tangan terkatup di dada.

Satu panah, yang terindah yang pernah kulihat di sini. Di antara keheningan yang terindah pula. Ditemani embun pagiku, akupun tersenyum manis padanya. Suasana sakralpun hadir di sini. Segeralah kau menghambur ke langit luas. Jangan kau tengok lagi bumi ini. Meski air mataku sempat menghias di pipi, namun di baliknya ada sebuah kekuatan doa yang sangat ampuh, melebihi kutukan siwa...



* selamat, untuk kalian bertiga...khusus buatmu, doaku akan senantiasa hadir untuk sebuah ketetapanmu, di sini ditemani embun pagiku...hari ini dan sepanjang minggu ini adalah hari-hari bersejarah bagimu...sambutlah dengan penuh suka cita sebagai langkah awal dari semua karya pelayananmu untuk selamanya...!

0 komentar:

Poskan Komentar

[[ Form mobile comments ]]