Thanks for this day.. May God bless us everyone and everywhere..
Diberdayakan oleh Blogger.

Kamis, 03 Juni 2010

yo te amo : komitmen di antara bulan dan matahari


Lagu Yo Te Amo - Chayanne, mengalun dengan lirih di atas meja di kamarku. Lagu lembut yang menandai sebuah awal pertemuanku dengannya. It's so simple and easy listening.

Berawal dari sebuah pagi, dia menyapa, "Hola," kemudian berkembang menjadi sebuah hubungan yang sangat intens, yang sangat indah. Tak jarang, aku memintanya untuk mengajari bahasa yang dia pergunakan sehari-hari olehnya, selama dia tinggal di Mexico City.

Hari berganti hari, dan sebuah rasa yang damai dan nyaman sesaat hadir, jika aku berbincang dengannya. Kehidupannya sangat teratur dan terjadwal. Semua dia lakukan dengan rapi dan apik. Tak ada sesuatu hal kecil yang terbuang darinya. Kami menikmati kedamaian dan kenyamanan yang ada, seadanya, sesederhananya, dengan berbagai cerita dan pengalaman-pengalaman yang mengiringinya.

"Hola...buenos dias mi marido," godaku di malam itu. (halo...selamat pagi, suamiku).
"Hola...buenas noches, mi marida," jawabnya sambil tersenyum. (halo...selamat malam, isteriku).
Malamku adalah sebuah pagi buat dia. Kehidupan di 'dua dunia' yang berbeda.

Aku, menceritakan keadaan malam itu padanya. Bulan bersinar penuh dan utuh. Membuat suasana dingin tapi syahdu. Senyap, seolah yang ada hanya aku dan dia. Apalagi saat bisa berbincang dengannya. Ada debaran-debaran cinta yang sangat kuat di relung kalbu.

Dia juga menceritakan keadaan pagi berikut suasananya dengan antusias. Dengan penuh senyum, dia bercerita bahwa pagi yang dia alami sangat indah, matahari bersinar hangat dan sempurna. Matahari di awal musim semi.  Dia juga mengatakan meski suasana kita berbeda, tetapi biarlah hati kita sama. Dia selalu jogging di pagi hari, untuk menyeimbangkan kebiasaan dia merokok (mungkin hal ini adalah sebuah excuse buat dia agar aku tak menyalahkan kebiasaannya merokok - lagian, aku ga akan ngelarang dia koq, wew... heheh)

Beberapa saat kami saling terdiam. Tak ada kata yang terucap. Terasa sekali ada sebersit keraguan dan sedikit kaku di setiap helaan nafasnya yang sempat aku dengar. Tak seperti biasanya.

Aku hanya diam menunggu dengan sabar. Aku tahu, pasti ada sesuatu yang hendak dikatakannya kepadaku. Entah kesedihan macam apa yang ada di benak dan otakku, yang pasti ada sesuatu yang hilang dari dadaku saat dia bilang, bahwa ada satu panggilan - yang tak kalah mulianya - yang tak mungkin bisa terbantahkan lagi oleh dirinya sendiri. Dia, hendak jadi seorang pertapa. Seorang biarawan!
Aku bangga padanya, tapi aku sedih. Aku tak bisa berkata apa-apa lagi... Aku hanya bisa menghela nafas, dan meyakinkan padanya bahwa aku baik-baik saja. Aku hanya berani bilang padanya, bahwa semua itu adalah jalannya, dan kehendakNya tak akan pernah sia-sia. Selalu ada hal yang sangat istimewa di baliknya. Aku akhirnya hanya bisa berpesan padanya, untuk menjadi keinginannya dengan sebaik-baiknya, adil, bijaksana untuk semua kalangan. Jangan pernah goyah lagi. Jangan berubah hanya karena sesuatu yang tidak pasti.

Lagu yang sejak tadi membuatku menerawang jauh, ke musim semiku.... Satu musim yang indah dan mempesonakan bagi siapa saja yang merasakan dan melihatnya. Ada air mata mengalir di sana, di antara sungai-sungainya yang jernih. Saat ini perasaanku terasa kosong. Hampa dan tak bergairah. Satu titik yang membuatku menjadi sangat kecil dan ringan. Di hadapan Tuhan, debu ini senantiasa harus bernafas mengiringi hari-hari yang sudah tersedia baginya.
Aku tak bisa melawan setiap denyut yang berputar-putar di atas kepalaku. Aku pasrah... Tak akan ada lagi yang menyapa dengan ramah dan santun. Tak akan ada lagi yang bilang, "yo te amo, mi amor.." yang kemudian aku jawab, "yo te amo tambien...muchas gracias," "te extrano," dan selalu bilang, "hasta pronto," di setiap akhir pembicaraan kami.

Kuhela nafas panjang, sepanjang apapun yang terlintas saat itu. Kesedihan yang tak beralasan itu terkadang kembali datang menghampiriku, meski telah lama tertimbun oleh peristiwa-peristiwa lain yang melintas di kehidupanku. Peristiwa yang membahagiakanku, mendebarkanku, menjengkelkanku, dan menyedihkanku. Semua datang silih berganti dengan perannya masing-masing. 
Lagi-lagi karena lagu itu... Lagu kesayangan kami... Lagu kesedihan sekaligus lagu kebanggaan dan kebahagiaan murni, yang akan terus mengenangkan sebuah kemuliaan suci untuk selamanya. Mungkin, akan kuganti lagunya menjadi lagu No Me Ames agar selalu jelas terngiang di telingaku... Siapa yang bisa melawan kehendakNya?

Doaku buatnya, akan selalu ada, agar dia memang boleh 'menjadi' seperti yang seharusnya dia jalani, selamanya. Semoga dia akan setia dengan panggilannya, sampai Sang Ilahi memanggilnya. Tak apalah, tak ada kabar darinya, karena aku yakin bahwa dia akan selalu terlindungi dengan kasihNya yang tak pernah berujung.

6 komentar:

Miss Rinda mengatakan... [Reply Comment]

teteh ini crita asli or cerpen teh,abis sedih bgt aq bacanya T__T

windflowers mengatakan... [Reply Comment]

mmhh...itu realita neng rinda...:)

attayaya mengatakan... [Reply Comment]

numpang lewat
mo ke solo dulu ya

maaf tak bisa komen banyak neh

marya mengatakan... [Reply Comment]

termehek-mehek...

tfd mengatakan... [Reply Comment]

sedihnyoooo...

Anonim mengatakan... [Reply Comment]

Aq jg sk lagu Yo te amo, romantis bgt
wah dalem bnget mba, pst "Dia" akan slalu tsimpan dhati dan ta kan terlupakan slamax ya

Posting Komentar

[[ Form mobile comments ]]