Thanks for this day.. May God bless us everyone and everywhere..
Diberdayakan oleh Blogger.

Jumat, 23 April 2010

bumi



Bumiku, bumi kita bersama... Kau begitu sabar dalam menopang dan mengayomi seluruh isi yang hidup dan apapun yang berpijak di tubuhmu.
Segala makhluk Tuhan yang bernafas maupun yang telah mati, senantiasa membutuhkan keramahan dan keikhlasanmu.

Hamparan samudera raya, seluruh aliran-aliran sungai dari yang paling kecil hingga sungai-sungai yang paling besar dan terpanjang, dari yang tak bernama hingga yang benar-benar legendaris sekalipun.
Tak terkecuali seluruh hamparan sawah, kebun, dan ladang, padang belantara, dan segala jenis padang rumput. Semak belukar, rawa-rawa, hutan rimba, gunung-gunung, goa, dan gurun pasir yang maha luas, semua membutuhkan ruang darimu...

Betapa semua itu menuntut keagungan, kearifan, dan kebijaksanaanmu. Engkau, diciptakan oleh Yang Maha Pencipta dengan penuh kasih pada awal mula sebelum semuanya dijadikanNya. Dengan menghasilkan buah-buah manis, bunga-bunga yang cantik dan unik, pohon-pohon yang rindang sebagai peneduh jalanmu, tempat berlindung segala binatang yang hidup di darat, di udara, dan di air, yang terlihat maupun yang tidak terlihat, dan sebagai tumpuan milyaran manusia yang ditugaskanNya sebagai penguasamu. Engkau menyerap segala curah hujan dan salju, menampung lebihnya air dari langit.
Belum lagi, segala kekayaanmu yang terus dapat dikeruk oleh manusia, makhluk yang katanya paling mulia, dengan minyak bumi, aneka tambang yang melimpah ruah menantikan tangan-tangan yang bijaksana, penuh cinta kasih dalam menggunakannya.

Manusia adalah yang paling bertanggung jawab memeliharamu. Mencintaimu dengan sepenuh daya. Tak ada sedikitpun salah di dirimu, jika suatu saat, engkau ingin bergerak dan memuntahkan isi di gunung-gunungmu, menggoyangkan dasar di samuderamu yang luas. Karena telah bermilyaran tahun, engkau seperti dituntut untuk diam saja, meski semua menginjakmu dan membebanimu di sepanjang waktu demi kepentingan manusia. Tak ada yang salah di dirimu, jika ada banyak daerah yang longsor di dunia ini. Semua itu karena kerakusan manusia juga yang tidak bertanggung jawab atas tugasnya. Tak ada yang salah di dirimu, jika pada akhirnya engkau menjadi panas bagi para penghuninya. Telah banyak sekali, tak terhitung...berapa banyak pohon-pohonmu yang tercerabut demi kepentingan seluruh umat manusia dan makhluk hidup lainnya.
Engkau dilukai, engkau disakiti, engkau dizalimi, dianiaya, disiksa. Manusia biasanya baru tersadar, jika engkau telah marah, memporak porandakan semuanya. Karena engkau sangat paham betul dengan kerakusan, ketamakan, dan kesewenang-wenangan dari makhluk yang katanya paling mulia ini...

Bumiku, mungkin telah terlambat bagi kami untuk mencintaimukah? Setelah semuanya terjadi begitu memilukan bagi kami manusia, yang kurang - bahkan tak menghargaimu sama sekali. Menyepelekan kehadiranmu sebagai tempat yang maha agung untuk kami tinggali? Kami hanya mengeksplor terus-terusan tanpa memikirkanmu yang akhirnya merugikan kami sendiri. Terlambatkah kami sekarang untuk mengasihimu? Setelah lapisan ozon kian menipis...
Wahai bumiku terkasih...terlambatkah kami untuk peduli lagi padamu? Dengan berbagai gerakan penghijauan kembali yang kami lakukan... Go Green, Gerakan Sejuta Pohon, atau apapun namanya....yang sesungguhnya semua itu pada akhirnya adalah untuk kami sendiri...
Terlambatkah?

Masihkah kau mencintai kami, wahai bumiku tersayang?

Detik ini, aku menangis untukmu, menyadari segala kekhilafan dan segala bentuk 'penindasan' yang telah kami lakukan padamu. Meski aku tahu, bahwa air mataku tidaklah cukup untuk menggantikan segala bentuk lukamu.
Betapa kami membutuhkanmu...tetapi tak merawatmu dengan segenap cinta dan hati...
Kurang menyadari arti dan makna yang sesungguhnya dari penciptaanNya bagi kami sendiri. Menghargai setiap penyelenggaraanNya melalui engkau dalam setiap detik hidup kami...
Sekarang, kami hanya bisa menantikan sebuah konsekuensi logis dari apa yang telah kami lakukan padamu, apapun itu. Karena engkau telah lama terdiam ditelan deru kehidupan kami, seluruh dunia. Engkau tak membutuhkan kami semua, melainkan kamilah yang membutuhkan engkau.
Semoga, apa yang dapat kami upayakan sekarang-sekarang ini, dapat membuatmu tersenyum kembali, dan mampu memperbaiki keadaan yang telah lama rusak.



Bandungku, selamat hari bumi ya...terimalah cinta kasih kami, dan dengan rendah hati, pantulkanlah kembali segala kebaikanmu dengan kesegaran dan kesejukanmu...

0 komentar:

Poskan Komentar

[[ Form mobile comments ]]