Thanks for this day.. May God bless us everyone and everywhere..
Diberdayakan oleh Blogger.

Sabtu, 03 April 2010

satu kisah dari dusunku


Mendapati satu kenyataan yang sangat miris...

Berkisah tentang sepasang muda mudi yang terjebak dalam lingkaran kehidupan yang tanpa disadari oleh mereka...
Sepasang kekasih yang masih sangat belia ini, harus dihadapkan pada sebuah kenyataan yang belum seharusnya mereka hadapi.
Gelak tawa dan keceriaan yang seharusnya masih mereka alami bersama dengan teman sebaya lainnya, kebebasan berekspresi yang secara positif, sudah tidak bisa dirasakan dan dialami mereka.

Kini, remaja yang masih berusia belasan itu, harus dipaksa menjadi orang tua bagi anak mereka. Faktor pendidikan dan ekonomi menjadi alasan kuat mengapa mereka terjebak dalam situasi yang bernafaskan dilema.

Keadaan makin menghimpit mereka ketika mereka menyadari, betapa beratnya dunia yang harus mereka jalani. Betapa untuk makan saja sang ayah dari bayi itu harus mencari pasir di sungai kampung, yang dijual dengan harga dua ribu rupiah. Ini terjadi karena mereka harus putus sekolah, sehingga mereka tak punya pekerjaan yang layak untuk menghidupi keluarga kecilnya.

Sesaat, ibu bayi yang baru melahirkan ini tertegun sejenak melihat hasil yang diberikan oleh suaminya. Dua ribu rupiah...hanya bisa cukup untuk membeli mie instant dan telur untuk makan sekali itu saja.. Mereka membuat hidangan yang berbahan sederhana ini apa adanya...

Tak bisa dibayangkan, bagaimana keadaan mereka untuk hari-hari berikutnya. Mereka mengais rejeki dengan ala kadarnya, belum untuk bayi mereka.. Tak kuasa untuk membayangkannya, yang ada hanya rasa miris berkepanjangan. Beban, rasanya harus tetap menjadi beban, tanpa bisa terkurangi. Bahkan bisa jadi malah semakin bertambah saja. Apakah ini merupakan takdir bagi mereka?

Orang tua mereka sungguh tak bisa diharapkan untuk membantu kehidupan rumah tangga mereka. Orang tua mereka sendiri sudah punya masalah-masalah yang harus dihadapi, yang sama, atau mungkin lebih berat daripada mereka. Tak bisa ditimbang dan diukur.

Dari kisah ini bisa dilihat betapa sebuah perjuangan keras sangat benar-benar dibutuhkan untuk meneruskan kehidupan. Suatu kondisi yang sungguh membuat hati trenyuh.

Kehidupan memang tidak pernah tidak mengakui mereka, termasuk kita sendiri. Bukan hanya mereka, tetapi kita selalu eksis di dalam perannya. Kehidupan telah banyak memberi... Apakah balasan kita?

Kehidupan telah ikhlas menerima kita sebagai insan mulia dan berbudi luhur. Masih pantaskah kita mempersalahkan kehidupan ini?


Bandungku, hatiku penuh haru

0 komentar:

Poskan Komentar

[[ Form mobile comments ]]